Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Pertemuan dengan Safa!



..."Namaku Safa." ...


POV: Ares


Aku dan Riot terdiam membisu, mata kami menatap ke arah mata kuning cerah milik Safa. Sorot matanya begitu yakin dan percaya diri, tidak aku temukan kebohongan dari ucapannya tersebut.


Dan aku juga langsung sadar, kalau dia adalah anak yang waktu itu kuajak untuk mencari buah.


"Hah? Kau Safa? Penjahat yang ingin meruntuhkan kota?" tanyaku dengan nada yang dingin, Safa terlihat kaget setelah mendengar ucapanku. Tapi dia segera tenang dan menghirup nafas perlahan.


"Baiklah, anggap saja aku memang penjahatnya. Lalu, memangnya kenapa? Apa yang aku lakukan juga tidak ada urusannya dengan kalian," ucapnya dengan nada yang sombong sambil tersenyum miring. Aku melirik ke arah Riot yang tampak marah, dia jadi sensitif kalau ada sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan manusia.


Cring!


Aku membuat sebuah senapan laras panjang, dan langsung membidik ke arah kepala Safa. Aku tidak akan ragu-ragu kali ini, aku tidak ingin mengulangi kenangan pahit saat berhadapan dengan Ron.


"Woah~ kupikir kekuatanmu itu terbang. Ternyata bukan hanya itu ya? Hmmm, ini akan jadi sulit kalau kau jadi musuhku. Baiklah ... bagaimana kalau kita membuat penawaran?" Safa berjalan mendekat ke arahku tanpa rasa gentar, dia benar-benar berbeda dengan anak yang kuajak mencari buah waktu itu.


Rambut pirang panjang sepunggung yang tergerai bergelombang, sorot mata percaya diri dari mata kuning cerah miliknya. Membuat hatiku sedikit ragu untuk menarik pelatuk senapanku.


"Penawaran apa?" tanyaku dingin.


"Kalian harus segera meninggalkan tempat ini, atau kalian akan berada dalam bahaya," ancam Safa dengan sorot mata tajam. Aku dan Riot saling bertatapan, dalam hati kami saling menduga tentang apa yang akan terjadi.


"Apa yang mau kau lakukan pada kota ini?!" Riot sudah tidak tahan dan akhirnya bersuara, Safa melirik Riot mulai dari kaki sampai wajahnya, lalu berdecih meremehkan.


"Aku akan menghukum para penipu itu," ucap Safa pelan tapi masih terdengar oleh kami. Aku langsung terpikirkan oleh Boni saat dia menyebut kata penipu.


"Siapa penipu?" tanyaku sambil menurunkan senapanku.


"Siapa lagi kalau bukan gadis kecanduan boneka yang duduk di kursi wali kota?" ucap Safa dengan nada sinis. Aku langsung membuka mulutku tidak percaya, Boni berbohong apa sampai Safa sebenci ini dengannya?


"Memangnya apa yang Boni lakukan? Dia melakukan tugasnya dengan baik! Menjaga kedamaian kota, mengurus keperluan kota ini juga! Dan kau! ... Bukankah kau yang selama ini merusak kota?!" tanya Riot sambil berteriak. Mungkin karena sikap Riot yang tidak sopan, Safa jadi menatap Riot dengan tatapan marah.


Ctik!


Safa menjentikkan jarinya, spontan dua beruang besar datang dan menerjang ke arah kami. Aku yang sudah memegang senapan langsung mengarahkan senjataku ke kepala beruang itu. Tapi sebelum aku menembak, Riot sudah lebih dulu memegang tanganku.


Fuut.


BUAGH!


Beruang itu saling bertabrakan karena aku dan Riot berteleportasi ke atas pohon. Walaupun sepertinya Safa sudah sadar keberadaan kami, tapi dia tidak berniat melanjutkan pertarungan. Dia hanya menggaruk kepalanya pelan dan menghela nafas.


"Kau mau tau salah satu kebohongannya?" tanya Safa dengan nada yang terkesan jijik oleh sikap Boni.


"Sudahlah, lebih baik kalian segera meninggalkan kota ini dalam 10 hari. Kalau kalian tidak mau terlibat dalam pembantaian yang akan dilakukan," ucap Safa lalu duduk di tepi danau, dia mencelupkan kakinya ke dalam danau dan memainkannya perlahan.


"Apa? Pembantaian?! Kau yang akan melakukan itu?!" tanyaku dengan sedikit kaget karena dia berbicara hal seperti itu tanpa rasa kemanusiaan.


"Kenapa? Apa kau peduli pada mereka? Kau sungguh polos ya?" ejek Safa dengan senyum meremehkannya. Aku hendak menerjang ke arahnya secara langsung, tak Riot menahan lenganku. Saat kutatap matanya, dia menggelengkan kepalanya.


"Jangan sekarang, kita kembali saja. Lagipula perkataannya benar, apapun yang terjadi di kota ini ... bukan tanggung jawab kita. Lebih baik kita kembali saja," ucap Riot dengan tangan yang bergetar. Aku terdiam sesaat sambil memikirkan perkataan Riot.


Yah, yang dia katakan memang benar. Apapun yang terjadi di kota ini, bukan tanggung jawab kami lagi. Sepertinya lebih baik kalau kami segera pergi dari tempat ini.


"Ayo kita pergi saja," ucapku pada Riot. Dia mengangguk lalu menutup matanya.


Pandanganku mulai kabur, sepertinya aku dan Riot akan berteleportasi sekarang.


Yah ... Safa Arno. Gadis berambut pirang dan mata kuning. Kemampuannya aku masih belum yakin, tapi ... aku juga tidak tau dia kawan atau lawan.


Fuut.


Aku langsung sadar bahwa sekarang kita sedang berada di taman kota. Aku juga tidak tau kenapa Riot memilih tempat ini sebagai titik teleportasinya. Riot segera menarik lenganku yang belum dia lepaskan, dan mengarahkanku untuk duduk di sebuah kursi di sana.


Riot juga ikut duduk di sampingku, di tengah siang hari yang terik ini, kami hanya saling diam dan melamun. Vani yang entah kemana, atau juga Ken yang entah harus diapakan agar sadar. Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi sekarang.


"Ares," panggil Riot pelan. Aku menoleh ke arahnya dengan tatapan lemas, Riot menatapku dengan wajah khawatirnya.


Grep!


"Hah? Kau sedang apa?" tanyaku bingung karena tiba-tiba Riot memeluk leherku. Sekarang badanku jadi tertarik condong ke samping, ke arahnya. Riot masih memelukku erat, telapak tangannya yang hangat mengusap lengan kiriku beberapa kali.


"Semuanya akan baik-baik saja, aku yakin itu. Kita akan menemukan caranya setelah ini, walaupun yang tahu kebenarannya hanya kita berdua, tapi kita pasti bisa.


Mungkin aku tidak terlalu bisa diandalkan seperti Ken ataupun Vani, aku juga tidak mengalami begitu banyak pertarungan seperti yang telah kalian alami. Bahkan jika aku kembali ke umur asliku, aku hanyalah seorang remaja yang baru memasuki emosi pubertas.


Tapi ... tapi ini pertama kalinya. Aku begitu percaya pada orang lain selain orangtuaku. Aku mempercayaimu Ares, lebih dari mempercayai Ken ataupun Vani. Karena diantara kalian semua, hanya kau yang paling aku yakini tidak akan meninggalkan aku sendirian.


Karena itu ... karena itu jangan terlalu sedih dan banyak pikiran. Apapun yang akan kau lakukan, aku selalu siap mendukungmu." Riot berucap dengan tenang di sebelah telingaku. Mendengar setiap kata yang keluar dari mulutnya, membuat hatiku terasa geli dan sedikit perih. Rasanya ingin menangis.


Aku tidak tahu, bahwa Riot mempercayaiku sedalam ini.


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!