
..."Haaah! Dengarkan aku, kami tidak akan terlibat dalam konflik kota kalian."...
POV: Vani
Elly langsung terdiam membisu setelah mendengar pernyataanku, matanya menatapku dengan datar, tanpa kebencian ataupun kemarahan. Beberapa menit situasi canggung ini masih terus berlanjut, hingga akhirnya dia memutuskan untuk tersenyum dan berdiri.
"Kau benar, konflik kota ini ... harusnya kami sendiri yang menyelesaikannya. Maaf karena sudah membuatmu mereka tertekan," ucap Elly ramah sambil berjalan pergi. Ternyata Elly pergi ke arah dapur, tangannya mencari dua buah gelas kaca lalu di isi air hangat.
Tuk.
"Nah, untuk sekarang, minumlah air hangat dulu. Maafkan aku karena aku belum punya makanan untuk camilan malam. Lebih baik kau segera tidur setelah ini, agar besok kau tidak mengantuk," ucap Elly setelah menaruh segelas penuh air hangat di depanku. Setelah itu Elly pergi lagi ke arah lain, dan kulihat dia hendak masuk ke dalam kamar.
"Aku akan tidur dulu, kalau kau tidak nyaman tidur di sofa ... aku ada kamar kosong di sebelah sana, kau bisa menggunakan itu untuk tidur. Di sana juga ada kasurnya kok," ucap Elly sambil menunjuk ke arah sebuah pintu rumah yang terbuat dari kayu dan berwarna hijau. Setelah itu dia segera masuk ke dalam kamar, dan menguncinya dari dalam.
Tapi tetap saja ... walaupun aku sudah berkata seperti itu pada Elly. Perkataannya masih terngiang-ngiang di otakku.
FLASHBACK END.
***
Yah ... begitu ceritanya. Jadinya aku hanya tidur beberapa jam tadi malam. Dan sekarang aku masih sangat mengantuk, mungkin setelah ini aku akan lanjut tidur seperti Elly, dan bangun nanti saat matahari sudah cukup terik.
...
Itu kalau hari ini terik, tapi malah ... sepertinya akan hujan. Entah bagaimana hari ini akan berjalan, tapi ... angin sejuk pagi hari ini membawa sebuah firasat aneh di hatiku.
Alasan tadi malam aku menolak ikut campur konflik kota ini ... adalah karena kejadian yang sebelumnya. Ya ... saat di Kota Oner. Bukan hanya aku yang terkena luka parah, baik itu Ken, Ares, ataupun Riot. Kami berempat bahkan mempertaruhkan nyawa untuk menghadapi Ron.
Aku tidak ingin kejadian seperti itu terulang lagi. Aku tidak mau melihat rekan-rekanku terluka sekali lagi. Tapi kalau dipikir-pikir, lucu juga ya? Padahal tujuan kami adalah mencari jalan untuk mengembalikan dunia, tapi kami malah bertemu orang-orang gila yang begitu cinta dengan dunia yang tidak waras ini.
Cklek!
Suara pintu yang terbuka, membuatku tersadar dari lamunan. Saat aku menoleh ke asal suara, ternyata itu adalah Elly. Dia bangun dengan wajah yang masih mengantuk dan berantakan, sepertinya dia masih belum cukup tidur.
"Kalau kau mengantuk, tidur saja lagi," ucapku dengan senyuman kecil. Tapi Elly hanya tertawa sebentar lalu menatap tanganku yang sedang memegang spon cuci piring.
"Apa?! Tamu tidak boleh melakukan pekerjaan tuan rumah! Cepat singkirkan tanganmu dari wastafel!" ucap Elly panik sambil berlari ke arahku. Aku hanya tertawa sambil berusaha menyembunyikan spon penuh busa di tangan kananku.
"Tidak apa-apa El! Aku malah tidak enak jika hanya duduk diam dan makan saja di tempatmu," ucapku sambil tetap berusaha agar spon cuci piringnya tidak direbut oleh Elly. Dia terlihat kesal dan kecewa saat aku mengatakan itu, wajahnya ternyata imut juga kalau sedang marah. Sepertinya dulu dia adalah tipe anak yang menggemaskan, tidak peduli apapun yang dia lakukan.
"Tidak bisa seperti itu dong Van," ucapnya pasrah.
"Bisa. Stevani bisa melakukan apa saja!" ucapku tegas. Pada akhirnya, Elly menyerah dan membiarkanku mencuci piring kotor di wastafelnya. Setelah itu, entah Elly pergi kemana ... yang pasti aku jadi sendirian di dapur ini lagi.
Trak trak!
Aku segera merebahkan diriku di atas sofa, perlahan-lahan menutup mata. Rasa kantuk ini menguasai diriku, jadinya aku hanya pasrah dan tertidur saja.
***
POV: Ken
Aku masih sangat senang sekarang, aku bisa berduaan dengan Civilian saja! Aku bahkan tidak menyangka kalau dia yang akan mendatangiku duluan!
Yah apapun itu, yang pasti aku sangat senang sekarang. Tapi tadi aku sedikit tidak enak karena Ares terlihat marah dan kecewa padaku, padahal kan masih ada Riot. Mereka berdua bisa mencari Vani lebih cepat daripada aku.
Riot bisa berteleportasi dengan bebas, dan Ares yang bisa terbang di atas langit, tentu punya mobilitas yang lebih tinggi dariku yang hanya punya kekuatan penyembuh serta memberikan penyakit. Walaupun aku memang terkadang iri dengan kemampuan mereka yang keren, tapi aku juga tetap bangga dengan kemampuanku sendiri!
"Ken, apa kau suka puding?" Pertanyaan Civilian membawaku kembali pada kenyataan. Yah, sekarang aku ada di apartemen milik Civilian. Apartemen ini terlihat mewah dan berkelas, bahkan perabotannya saja berasal dari desainer yang terkenal.
Walaupun aku tidak tau sekarang desainernya sudah jadi mayat atau belum.
"Puding? Aku tidak membencinya," jawabku sekenanya, mataku melihat ke arah Civilian yang datang sambil memakai baju santainya, dengan kedua tangannya yang memegang satu piring puding mangga penuh.
Mangga lagi ... sejujurnya aku sedikit bosan dengan mangga.
"Kenapa? Wajahmu terlihat sedikit kecewa," tanya Civilian saat melihat ekspresi wajahku. Aku langsung menggelengkan kepala dan tersenyum lebar, tanganku mengambil sendok yang berada di tepi piring dan mulai mengambil sesuap puding.
"Hmm, ini enak!" ucapku ramah. Civilian hanya tersenyum simpul saat menerima pujian dariku. Walaupun aku agak bingung dengan sikapnya yang kadang tidak bisa ditebak, tapi sekarang aku tau bahwa dia memang orang yang sedikit kaku.
Tapi bukan berarti dia orang yang jahat! Hehe!
"Rasanya sedikit unik ya? Mangga jenis apa ini?" tanyaku saat merasakan sedikit rasa asin di dalam pudingnya. Civilian terdiam, sorot matanya hanya fokus menatap ke arah puding itu.
"Sepertinya aku memasukkan terlalu banyak garam tadi. Apakah harusnya puding tidak perlu garam ya?" gumam Civilian pelan, tapi aku masih tetap bisa mendengarnya.
Sungguh, rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak sekarang. Kenapa membuat puding harus pakai garam?
Yah, asalkan ini puding buatannya. Aku sih tidak masalah memakannya.
"Ngomong-ngomong, apa kau tidak pergi kerja?" tanyaku pada Civilian yang malah duduk bersantai di sampingku. Civilian menggelengkan kepalanya tanpa menoleh ke arahku.
"Bos ada acara hari ini. Dia tidak akan ada di kota sampai esok," jawab Civilian sambil terus bermain ponsel. Dan tanpa sengaja, mataku melihat pesan apa yang terkirim dari ponsel Civilian.
"Apa?"
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!