Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Awal Rencana Ares! (3)



POV: Ken


FLASHBACK END


"Yap ... hanya itu saja yang aku tahu, setelah itu ... aku kembali ke rumah 2 hari kemudian, dan rumah itu sangat sepi. Esoknya, barulah ada Riot dan Vani yang datang bersamaan, dan Ares baru datang pada hari ke 3 saat malam hari," ucap Elly sambil mengusap bola kaca itu dengan hati-hati.


Mendengar perkataan Elly, sepertinya Ares sedang melakukan sesuatu diam-diam ... tapi apa?


"Oh! Dan saat kami kembali, rumah itu sudah dipenuhi oleh granat. Sepertinya Ares menghabiskan seluruh chastnya selama 2 hari untuk membuat semua granat itu," tambah Elly dengan bola mata yang melebar.


"Baiklah, aku paham ... lalu, aku penasaran sebenarnya apa fungsi bola itu?" tanyaku sambil menatap bola kristal yang tampaknya dijaga dengan sangat hati-hati. Elly tersenyum cerah sambil melirik ke arahku.


"Bola ini, adalah strategi dari Ares untuk mengembalikan motivasi penduduk yang ditangkap!" Elly mengangkat bola kristal itu tinggi, setelah itu dia langsung menurunkan lagi tangannya dan berlari ke luar dari rumah mini ini.


"Ken! Bantu aku mengumpulkan semua penduduk!" gumam Elly sebelum terbang menjauh dariku.


"Apa?"


***


Atas perintah Elly, aku mulai mengunjungi tiap rumah dan meminta mereka untuk berkumpul di padang rumput. Kebanyakan dari mereka hanya diam dan menatapku dengan tatapan putus asa, tapi aku tidak boleh menyerah untuk membujuk mereka.


Aku menggunakan kekuatanku untuk mengobati setiap penduduk yang terluka. Mulai dari patah tulang, luka bakar, dan beberapa luka sepele lainnya. Tujuanku mengobati mereka hanya satu, agar mereka percaya padaku setidaknya satu kali.


Sisanya, aku serahkan pada Elly.


***


"Aku sudah membawa para penduduk. Lalu ... apa yang akan kau lakukan?" tanyaku sambil melihat gerombolan penduduk yang datang mendekat. Elly menutup matanya, membiarkan semilir angin menerpa wajah dan rambutnya.


"Ini adalah bagian paling penting. Bersiaplah!" gumam Elly sambil melihat ke arahku.


Srek srek srek.


Para penduduk itu mulai berdiri di depan kami, ekspresi mereka terlihat penasaran, antara bingung dan juga ketakutan. Aku menatap ke arah Elly, betapa kagetnya aku saat melihat dia hendak memecahkan bola kristal itu.


"Hei! Apa yang kau laku-."


PRANG!


WUSHH!


Sebuah proyektor muncul dari bola kristal yang telah dipecahkan. Seperti sebuah film tentang peperangan. Tapi jika kalian melihatnya dengan lebih jelas ... itu adalah perang antara pasukan Ares melawan boneka Boni.


Pasukan yang terdiri dari sisa warga yang telah Vani bujuk, mereka bertarung tanpa ragu bersama dengan para binatang yang Safa bawa.


Semua penduduk yang melihat siaran proyektor itu, menatap layar seolah terpaku. Mata mereka tidak bisa lepas dari gempuran bom dan dahsyatnya pertempuran.


"Kalian melihatnya bukan? Para warga yang berada di luar sedang mempertaruhkan nyawa, mengambil kembali apa hak mereka. Tidakkah kalian merasakan sesuatu setelah melihat siaran ini?" tanya Elly dengan suara yang lantang. Para penduduk itu terdiam, mereka menunduk dan menatap hamparan padang rumput palsu ini.


"Aku tidak percaya jika kalian tidak merasakan apapun setelah melihat ini. Bukankah kalian juga ingin hak kalian kembali? Bukankah kalian juga ingin diakui sebagai manusia lagi?!" tanya Elly lagi dengan suara yang lantang.


"APAKAH KALIAN AKAN DIAM SAJA, MEMBIARKAN DIRI KALIAN DIJADIKAN BONEKA MAINAN DARI PEREMPUAN SIALAN ITU?!" teriak Elly dengan nada yang marah.


"KAMI JUGA TIDAK MAU!" teriak anak laki-laki yang lengannya baru saja kuobati, sepertinya dia adalah anak dengan lengan yang patah tadi.


"LALU BERTARUNGLAH! JANGAN HANYA DIAM DAN MENUNGGU NASIB SEPERTI ORANG-ORANGAN SAWAH!" bentak Elly sambil menatap wajah anak itu. Anak laki-laki itu mulai menundukkan wajahnya lagi, tubuhnya sedikit berguncang dan perlahan ... isak tangis mulai terdengar.


"Kami ... hiks ... juga ingin mem-membantu! Tapi ... hiks ... dengan tubuh seperti ini ... apa yang bisa kami lakukan?!" tanya anak itu dengan isak tangisnya. Elly tersenyum puas mendengar jawaban anak itu, dia mulai melangkah maju lalu membelai rambut anak tadi.


"Bisa! Aku punya rencana! Apakah kalian mau mendengarkan?" tanya Elly dengan semangat. Para penduduk itu memandang satu sama lain, kemudian mereka bergerumbul untuk berkumpul ke arah Elly.


"Jadi begini ..."


***


POV: Ares


WHUS!


"Woah ... dia benar-benar tidak bercanda ya," gumamku sambil berusaha untuk berdiri. Saat ini aku sedang melawan Civilian, sang pengendali angin yang paling merepotkan. Aku bahkan tidak bisa mendekatinya kurang dari 5 meter.


Klek.


"AH!" Aku menatap ke arah pergelangan kakiku, warna kulitnya sudah berubah menjadi ungu kebiruan.


Jangan-jangan patah?!


Aku berteriak dalam hati sambil terus menatap ke arah luka di kakiku. Rasanya sangat sakit bahkan hanya untuk sekedar melangkah.


Tapi aku tidak bisa membuat obat penyembuh sekarang, aku harus menghemat chast semampu yang kubisa.


WHUS!


Aku langsung menatap ke arah depan, baru saja menoleh, wajahku langsung disambut oleh tornado lurus yang menghantam wajahku.


JDAGH!


Bruk.


Lagi-lagi aku dihempaskan ke dinding rumah. Bahkan dinding yang kutabrak langsung hancur dalam satu kali hantaman.


Bukannya aku tidak punya cara untuk menghadapi Civilian, tapi ... dia adalah perempuan yang disukai oleh Ken. Aku tidak mungkin setega itu melukai perempuan yang disukainya, membayangkan Ken melukai Vani untuk balas dendam ... aku jadi tidak berani untuk membalas Civilian.


Whus.


"Apa kau menyerah?" Civilian datang sambil terbang, kakinya melayang dan tubuhnya diselimuti angin tipis. Aku membuang darah yang tersimpan di dalam mulutku, lalu menatap matanya.


"Kalau aku menyerah ... maka Ken tidak akan selamat," ucapku dengan senyuman yang tenang.


WHUNG!


"URKH!" Civilian mengarahkan udara untuk menekan leherku, membuatku kesulitan bernafas. Ini sama saja dengan mencekik seseorang tanpa menggunakan tangan.


"Apa maksudmu?! Kau apakan Ken?!" tanya Civilian dengan penuh amarah. Aku menutup mataku sejenak, berusaha untuk tidak membuang udara di paru-paruku.


"Ta ... nya ... saja ... pada Thea!" ucapku dengan nafas yang hampir habis.


Bruk!


Civilian langsung melepaskan cekikan anginnya, dia memandangku dengan tatapan tidak percaya.


"Kau ... tau kekuatan Thea?" tanya Civilian.


"Aku tau kekuatan kalian semua, hanya kalian saja ... yang tidak tau kemampuan kami," ucapku dengan seringai.


WHUS!


Civilian langsung terbang menjauh, meninggalkan diriku dengan puing-puing bangunan yang roboh. Rasanya sangat sakit untuk berdiri, mungkin tulang punggungku retak.


"Bos! Apa kau tidak apa-apa?!"


Aku menatap ke arah dua anak perempuan yang datang sambil membawa keranjang kue. Mereka berlari kecil ke arahku, dan mulai menyuapiku dengan sebuah kukis coklat kering.


Ngiiiing.


Perlahan tubuhku sembuh, bahkan aku kini bisa berdiri dengan normal.


"Terimakasih, Ene dan Eni." Aku tersenyum tipis ke arah dua gadis kembar di hadapanku.


"Bagaimana dengan persiapannya?" tanyaku sambil menatap ke arah asap hitam di udara.


"Kami siap bergerak kapanpun perintah anda dikeluarkan."


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!