
..."Ares ... apakah kita masih bisa kabur?"...
POV: Ares
"Jangan bertanya padaku, aku juga tidak tau," ucapku sambil menelan ludah dengan kasar. Bagaimana tidak? Di depanku sudah terpampang lendir yang sebesar stadion untuk sepak bola.
Sebenarnya apa yang dia makan hingga sebesar ini?! Padahal aku yakin makhluk hidup di kota ini sangat terbatas. Hewan-hewan? Tumbuhan? Apapun itu, yang pasti sekarang ukurannya tidak main-main.
GREB.
Aku menggenggam tangan Vani dengan erat, saat lendir itu mulai berada tepat di atas kepalaku. Bisa kudengar detak jantungku yang berpacu.
Tes.
"ARES!" teriak Vani. Dalam hitungan detik, aku langsung menarik tangan Vani agar terbang bersamaku. Lendir yang awalnya berada di atasku, berjatuhan seolah ingin menerkam kami.
"Maaf, Vani. Dengan begini akan lebih mudah," ucapku lalu memeluk pinggang Vani dan mendekatkan tubuhnya padaku. Aku terbang di ketinggian yang rendah, mungkin hanya sekitar 3 meter diatas tanah. Sambil berkelok-kelok, aku menghindari tetesan lendir yang jatuh.
Bahkan tetesan yang dia jatuhkan, ukurannya tidak main-main. Mungkin seukuran bus kecil? Yang pasti, sekali aku menyentuh lendir itu. Mungkin aku tidak bisa keluar dari dalam sana.
"Ares! Kita harus terbang lebih tinggi, aku tidak bisa melihat jalan dari ketinggian seperti ini!" ucap Vani sambil menarik baju di pundakku. Aku mengangguk, tapi meskipun begitu. Aku tidak bisa terbang lebih tinggi dari ini untuk sekarang. Lendir itu masih menutupi langit di atasku, seolah dia sendiri yang berubah menjadi langitnya.
"Sabarlah, kalau kita terbang ke atas sekarang, aku yakin kita akan tinggal nama saja," ucapku sambil masih terus menghindari jatuhnya lendir-lendir merah itu.
"Maaf, kekuatanku tidak berguna di situasi ini," ucap Vani dengan tatapan sedih.
"Tidak apa-apa. Kita masih punya lebih dari seribu cara," balasku sambil tersenyum. Aku masih terus terbang hingga mataku melihat sebuah saluran air yang terbuka.
Kalau tidak salah, ini adalah tempat kumpul kita yang sebelumnya kan?! Bagus! Aku bisa mengarahkannya lewat sini!
"Tahan Van! Kita akan turun sekarang!" ucapku lalu memeluk kepala Vani. Aku langsung terbang turun menikung tajam, langsung ke arah bawah.
Whungg!
Suara dari derasnya air bawah tanah sudah memasuki Indra pendengaranku. Benar, aku masuk ke dalam saluran air untuk menghambat lendir itu dalam mengejar kami.
Plung! Plung! Plung!
"Seperti dugaanku, mereka tidak akan bisa langsung masuk ke dalam saluran air ini," ucapku sambil menurunkan Vani di tepi sungai saluran air. Lorong ini memang pengap dan bau, tapi ini bisa jadi salah satu percobaan tentang kelemahan lendir ini.
"Vani, kita lakukan rencana itu!" ucapku lalu mengeluarkan pemantik api yang sudah aku buat kemarin. Ini adalah pemantik api jenis gas, jadi cukup mudah menyalakannya.
"Baiklah!" ucap Vani lalu membuka sebuah saluran air yang lainnya. Lebih tepatnya, saluran kotoran. Begitu Vani membuka saluran itu, bau busuk langsung memenuhi tempat ini.
"Ini bukan bau busuk biasa tentunya, ini adalah gas yang dikeluarkan dari kotoran yang menumpuk ini," ucapku lalu bersiap menyalakan pemantik api. Vani melihatku yang siap menyalakan api, dia langsung menggenggam tanganku dan menurunkan pemantik apinya.
"Apa kau bodoh?! Kita akan ikut mati kalau kau menyalakannya sekarang!" geram Vani. Aku terdiam beberapa saat. Benar juga, bukankah aku juga masih di dalam area gas ini?
"Oh! Tunggu sebentar!" ucapku lalu memberikan pemantik apinya pada Vani. Membayangkan sebuah granat dengan segel yang masih tertancap.
Cring!
"Granat? Untuk apa?" tanya Vani.
Tring!
Granat itu bercahaya sebentar.
DUAR!
WHUSSH!
Dampak dari ledakan itu seperti menyebar di seluruh lorong ini. Pasti karena gas hasil kotoran tadi yang membuat apinya menjalar lebih jauh. Aku terus terbang sambil menggendong Vani, hingga mataku sudah menemukan titik terang. Yaitu ujung pembuangan saluran air, sungai.
Aku terbang keluar dari lorong itu, disusul oleh api yang menjalar keluar seperti tornado. Setelah sampai di daratan, aku menaruh Vani di tepi sungai, sambil melihat apakah itu bisa membunuh si lendir atau belum.
"Apakah kita berhasil?" tanya Vani sambil menelan ludah gugup. Aku juga jadi ikut gugup menunggu hasilnya.
"Kita tidak bisa melihatnya dari sini, ayo kembali ke sana!" ucapku pada Vani.
"Tunggu! Daritadi kau terbang terus! Bukankah chastmu akan cepat penuh?!" tanya Vani. Aku langsung tersadar, benar juga! Aku tidak memperhatikan chastku dan malah terus terbang! Mataku langsung melihat ke arah chast di tangan kananku.
"Apa? Belum ... sampai setengah loh?" tanyaku kagum.
Padahal daritadi aku terbang ke sana ke sini, tapi chastku hanya terisi sedikit. Kalau begini, aku bisa terbang lebih lama lagi! Kira-kira kenapa ya? Padahal dulu cepat sekali penuh.
"Hmm, sepertinya teori Ken benar! Semakin sering kau menggunakan kekuatan, maka daya tahan chastmu akan semakin baik!" ucap Vani dengan senyuman. Aku mengangguk pelan, lalu menggandeng tangan Vani.
"Ayo?" tanyaku pada Vani.
"Ayo!" ucap Vani.
Kami langsung terbang lagi dan menuju ke arah tempat yang sebelumnya. Dari ketinggian yang setara dengan gedung pencakar langit, aku dan Vani memperhatikan dari atas. Lendir itu diam tak bergerak, ada beberapa lendir juga tak terlihat mengering.
"Apakah efek ledakan itu mempan?" gumamku.
"Itu mempan! Lihatlah! Lendir yang mengering sudah tidak bisa kembali lagi ke tubuh asalnya!" ucap Vani sambil menunjuk lendir kering yang hanya diam dan mulai menguap. Karena efek ledakan tadi, yang awalnya lendir itu berukuran satu stadion. Sekarang tinggal setengah dari stadion.
"Dan sepertinya, lendirnya juga pingsan?" tanyaku saat melihat lendirnya tidak lagi bereaksi. Dia hanya diam seperti jeli merah yang menggunung di tengah kota.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Vani. Aku menatap Vani sejenak lalu memutuskan untuk menurunkannya di tepi gedung tinggi. Lelah juga menggendongnya ke sana ke sini.
"Kita tunggu dulu sampai dia bereaksi," ucapku lalu duduk di tepi gedung. Angin di sini cukup kencang, ditambah udara yang panas karena ini adalah siang hari. Tidak, udaranya sudah tidak terlalu panas. Mungkin karena aktifitas manusia yang berkurang drastis, jadi memberi alam kesempatan untuk memperbaiki diri.
"Aku jadi mengantuk karena angin ini," ucap Vani lalu menyandarkan kepalanya di tangannya.
"Jangan mengantuk, kita akan terbang lagi setelah ini," ucapku lalu segera berdiri. Vani menatapku dengan bingung.
..."Lihatlah, dia sudah bangun."...
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!