Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Perkembangan?



POV: Author


WHUNG! WHUNG!


Whus!


Fuut!


Riot tengah sibuk melarikan diri dari kejaran Thea. Berkali-kali Thea hampir membuat Riot menjadi manusia mini, tapi untungnya Riot bisa berteleportasi dengan cepat.


"Sampai kapan kau akan terus berlarian seperti ini? Apakah kau takut?" tanya Thea sambil menepuk bahunya pelan seraya membersihkannya dari debu. Riot kini duduk di atas sebuah gedung bertingkat, dengan jubah coklat yang dibuatkan oleh Ares khusus sesuai ukurannya.


"Hmm~ entahlah? Kenapa kau hanya bicara omong kosong? Aku tidak mau meladeni orang yang tidak bisa naik untuk menggapaiku di atas gedung ini~," ucap Riot sambil menjulurkan lidahnya. Thea menggeram pelan sambil mengepalkan tangannya, matanya menatap Riot dengan penuh amarah.


Kenapa mereka lama sekali? Apakah rencana Ares gagal? Harusnya sebentar lagi mereka sudah sampai,-batin Riot.


***


POV: Vani


Aku masih terus berlari, menyusuri perkotaan yang dipenuhi oleh hewan buas dan boneka yang menyeramkan. Sambil menghindari gedung yang jatuh, aku memikirkan sesuatu.


Apakah benar kekuatanku hanya memanggil hujan? Lalu kenapa saat melawan Ron, aku bisa memanggil badai petir? Walaupun memang setelah itu aku langsung terkena infik.


Tapi ... itu artinya aku bisa merubah cuaca yang lain! Tapi ... bagaimana?


Aku berhenti berlari sejenak, menatap sekeliling yang masih dipenuhi oleh pertempuran. Dadaku naik dan turun berusaha mengatur pernafasan, dalam perang skala besar, aku tidak pernah tau apa kegunaanku.


Jika aku membuat hujan, maka itu akan merugikan kedua belah pihak. Ada binatang yang takut air, dan mungkin granatnya juga tidak akan berfungsi dengan baik. Meskipun boneka yang terkena hujan akan menjadi lebih lambat karena berat, tapi kerugian di pihak para binatang juga sama beratnya.


Lalu ... cuaca apa yang harus kubuat?


Ayo berpikirlah Vani! Pasti ada! Pasti ada yang bisa dilakukan hewan-hewan ini tapi tidak bisa dilakukan oleh para boneka!


Aku terduduk lemas sambil menutup wajahku, mencoba berpikir dengan keras, apa yang harus kulakukan. Aku lalu menundukkan wajahku, dan tanpa sengaja aku melihat segerombol semut.


Semut?


...


BENAR! ITU DIA! PARA BINATANG PUNYA INDRA PENCIUMAN YANG TAJAM! Kalau begitu ...


Cuaca berkabut adalah yang paling tepat!


Aku langsung berdiri, dan mulai membuka tanganku ke kanan dan kiri. Sambil menutup mata, aku mencoba memanggil kabut seperti aku memanggil hujan.


Fyusss.


Perlahan angin mulai berhembus dengan pelan, aku bisa merasakan rambutku yang tergerak menggelitik di leherku. Perlahan dengan pasti, udara menjadi lebih dingin. Saat aku sudah membuka mata, kini Kota Ansorteri telah diselimuti oleh kabut yang sangat tebal.


Wah! Ini keren sekali hahaha! Bagus! Dengan begini, para boneka itu akan kesusahan untuk mencari para binatang! Sebaliknya, para binatang masih bisa bertarung dengan baik meskipun di dalam kabut.


Yap! Sekarang aku harus pergi untuk membantu Riot!


***


POV: Riot


Hah? Kabut apa ini? Sial ... aku jadi tidak bisa melihat apapun juga. Tapi kabut ini ... rasanya seperti embun? Padahal tadi masih sangat terik, sekarang jadi mendung.


Yah tidak masalah, Thea juga tidak bisa melihat apa yang akan aku lakukan.


Wrrrrr!


"Oh? Para capungnya sudah sampai?" Aku berbicara saat mendengar suara capung yang lewat samping telingaku. Setiap dari capung itu, dinaiki oleh sekitar 3 orang, dan mereka langsung menuju ke arah Thea.


TRING!


ZRASHHH!


Aku tersentak seketika saat merasakan belasan kaca tajam lewat di depan wajahku. Aku tidak tau ini kekuatan siapa, tapi ... dia membuat sebuah labirin kaca di sini. Tentu saja ini tidak masalah bagiku, aku bisa langsung berteleportasi pergi, tapi ini pasti cukup untuk menghambat Thea.


WHUSS!


BRUAKK!


Hembusan angin kencang tiba-tiba menyapu bersih seluruh kabut di area ini. Hal ini membuatku bisa melihat dengan jelas.


Tunggu ... angin super kencang ini ... jangan-jangan ... Civilian?!


***


POV: Author


Riot terdiam mematung sambil menatap Civilian yang terbang di atas sana. Mata coklat Civilian memandang Thea dengan tatapan murka, bahkan Riot sendiri tidak tau kenapa Civilian seperti itu.


"Apa yang kau lakukan pada Ken? Dasar sialan!" umpat Civilian sambil menyerang Thea dengan angin kencangnya. Riot yang merasakan bahaya, langsung berteleportasi ke tempat yang jauh dari labirin kaca.


Begitu juga dengan para capung yang langsung membawa pergi para manusia super kecil di punggung mereka.


WHUSSS! CRANG! PRANG PRANG!


Dalam hitungan detik, labirin kaca itu runtuh. Serpihan kaca yang tajam berterbangan di udara, berputar dengan Civilian sebagai porosnya. Dari kejauhan, Riot masih mengawasi di atas pohon.


"Konflik antar rekan? Sebenarnya ada apa?" gumam Riot yang menonton konflik itu seolah film drama yang seru.


"Ini karena Bos Ares yang mengadu domba mereka." Ene tiba-tiba muncul di samping Riot.


"AAAAAAA!" Riot yang terkejut, spontan berteriak keras sambil memeluk seseorang.


"Maaf, bisakah anda menjauh? Telinga saya sakit karena teriakan anda." Eni berada di samping Riot, yang kini menjadi objek yang dipeluk oleh Riot.


"AAAAAAA!(2)" Riot kaget sekali lagi lalu langsung memeluk batang pohon. Mata biru Riot menatap Ene dan Eni dengan tatapan marah.


"Kalian jangan membuatku kaget dong! Sejak kapan kalian di sini?!" tanya Riot dengan marah.


"Kami sudah di sini sejak tadi, kami juga kaget karena anda tiba-tiba berteleportasi ke atas pohon ini," jawab Eni sambil menyodorkan kukis kering. Riot mengambil kukis itu lalu memakannya perlahan.


Meskipun aku sudah tau bahwa kemampuan penyembuhan mereka itu hebat, tapi aku tidak menyangka efeknya sekeren ini. Bahkan rasa kantuk serta lelahku juga sudah hilang!,-batin Riot.


"Karena kukis kalian enak, jadi kumaafkan. Ayo kita lihat saja drama mereka," ucap Riot sambil menunjuk ke arah Civilian yang sedang bertarung dengan Thea.


Terlihat bahwa Thea tengah terdesak oleh angin yang membawa serpihan kaca milik Civilian. Tentu saja, jika dilihat dari kekuatan mereka, Civilian lebih unggul karena memiliki kontrol yang tinggi terhadap angin.


Tapi.


Itu jika Thea belum mengeluarkan kekuatannya 100%.


"Ken? Aku menjadikannya manusia kecil, kenapa? Apa kau marah? Bukankah katamu dulu kau hanya berpura-pura suka padanya?" tanya Thea dengan nada yang meremehkan. Civilian hanya diam tidak menjawab, dia langsung membalas perkataan Thea itu dengan tekanan angin yang tinggi.


WHUSS!


BUGH!


Thea menghantam tembok dengan keras, pecahan kaca terlihat beberapa kali menembus kulitnya. Tapi gadis kecil itu kembali berdiri sambil tersenyum lebar.


"HAHAHAHAHA! MENARIK! AYO KITA BERTARUNG CIVILIAN! SEJAK DULU AKU PENASARAN SIAPA YANG SESUNGGUHNYA LEBIH KUAT DI ANTARA KITA!" Thea berteriak sambil mengusap rambutnya ke belakang. Setelah itu suasana hening, Thea menggigit jempolnya hingga mengeluarkan sedikit darah.


..."[Miniatur Domination]"....


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!