Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Awal Rencana Ares!



POV: Author


FLASHBACK!


Ares dan rekan-rekannya meninggalkan Elvon di area hutan tepi pantai. Dengan langkah penuh keyakinan, mereka berjalan ke arah sebuah gua kecil di tengah hutan.


BUGH!


Ares memukul gua berbatu itu dengan tangan kanannya, mata emasnya memicing tajam, menatap sesuatu yang tidak ada di sana.


"Apa-apaan tadi?! Apa maksudnya bahwa Ken dalam bahaya?" tanya Vani dengan panik saat sudah masuk ke dalam gua. Riot dan Elly masih diam dan hanya saling melirik. Mata biru Riot mencuri pandang pada Ares yang masih terlihat kesal.


"Ini ... pasti berhubungan dengan pembantaian itu. Karena Ken telah memilih untuk berhubungan dengan Civilian, pasti Ken juga dimasukkan ke dalam rencana mereka!" ucap Ares sambil meremas batu gua yang cukup pipih. Darah mulai menetes dari sela-sela jari Ares, tapi itu tidak membuat Ares sadar, dia malah menggenggam batu itu dengan lebih erat lagi.


"Tenanglah Ares! Kita haru berpikir dengan tenang sekarang!" ucap Elly sambil berusaha menyentuh pundak Ares. Tapi Ares segera menepis tangan Elly, dan memilih untuk berjalan ke tepi gua.


"Aku ... punya rencana," gumam Ares sambil menatap ke arah langit biru.


***


POV: Vani


Aku terdiam kaku sambil melihat ke arah kaca. Saat ini kami sedang berada di sebuah rumah kosong yang cukup luas, atas saran dari Elly, kami berteleportasi ke sini dengan kekuatan Riot.


Aku terdiam menatap rambut merahku yang terlihat mencolok, serta lensa mata yang berwarna hitam kini menempel padaku.


"Wah ... kau sudah tidak mirip Vani. Sepertinya penyamarannya berhasil ya?" tanya Riot dengan ekspresi yang bersemangat. Pupil birunya mengembang seperti melihat hal yang menyenangkan.


"Apakah ini benar-benar bisa berjalan? Rencana ini terlalu serampangan," ucapku gelisah sambil melirik ke arah Ares yang sedang memperban tangannya. Ares yang menyadari tatapanku, langsung menatapku dengan senyuman.


"Itu bagus, kau tidak akan dikenali sebagai Vani. Kita tinggal melakukannya sesuai rencanaku!" ucap Ares lalu dia segera berdiri, dan berjalan ke arahku.


Cring!


Ares membuat sebuah bola kecil yang mirip seperti kelereng, lalu menyuruhku menggenggam bola itu dengan erat.


"Ini adalah bom pelumpuh saraf. Saat kau bersama Ken, dan jika Elly memberi kode, ledakkan bom ini." Ares berbicara dengan senyuman. Aku sedikit tersentak saat tahu ini adalah bom kecil yang mematikan, pikiranku bertanya-tanya kenapa Ares menggunakan bom ini.


"Oh dan Riot, segera pakai penyamaranmu juga!" titah Ares sambil melemparkan jubah hijau gelap dengan wig bewarna emas serta lensa mata hitam. Riot segera memakai apa yang Ares berikan tanpa bertanya apapun.


"Nah bagus! Sebelum itu, apa kau bisa pastikan dimana lokasi Ken, Riot?" tanya Ares pada Riot.


Riot menganggukkan kepala. Lalu menghilang.


Fuut.


Ares membalikkan badannya dan menatap ke arahku serta Elly.


Cring!


Itu ... apa?


Muncul empat buah chip kecil yang berukuran super mini. Mungkin hanya setengah kuku orang dewasa. Ares membagikan satu chip untuk setiap diantara kami.


"Tempelkan itu di belakang daun telinga kalian, karena ini adalah alat komunikasi kita," ucap Ares sambil menempal chip itu di belakang daun telinga kanannya. Aku dan Elly segera mengikuti apa yang Ares lakukan.


Dzing!


Deg.


Wo-woah? Suara Ares dan Elly langsung masuk ke dalam telingaku. Jadi ini rasanya? Ares tau darimana teknologi seperti ini?


Fuut!


"Riot!" Ares menatap Riot yang baru saja sampai setelah berteleportasi.


PLAK!


"ADUH! APA INI?! KENAPA KAU MEMUKUL TELINGAKU!" teriak Riot yang telinganya baru saja ditampar oleh Ares. Walaupun aku tau bahwa Ares menamparnya dengan pelan, mungkin tujuannya adalah untuk menempelkan alat komunikasi di telinga Riot.


"Oh? Ternyata ini alat komunikasi ya? Ehe, terimakasih~," ucap Riot sambil memeluk Ares. Orang yang dipeluk malah hanya menghela nafas dan tersenyum.


"Ayo mulai rencananya."


***


POV: Riot


Sekarang aku sedang berada di atas pohon, mengamati Civilian yang sibuk mengerjakan beberapa dokumen. Kalau dari rencana yang Ares bilang, harusnya sekarang Ken sedang bertemu dengan Vani yang menyamar sebagai Negan.


Yah, ini bukan hal yang sulit. Aku tinggal memberikan surat peringatan atau aku bisa langsung membuatnya berteleportasi ke sana. Tapi sepertinya lebih baik kalau kuberi surat peringatan saja.


Aku sudah duduk di atas pohon ini selama lebih dari 3 jam, untuk menunggu Civilian pulang kerja. Bahkan aku sampai hampir jatuh beberapa kali karena mengantuk.


Oh? Apa akhirnya dia selesai?


Aku menatap ke arah Civilian yang mulai membereskan dokumen di atas mejanya. Dengan segera aku menekan chip di belakang telingaku, lalu menunggu untuk terhubung.


"Aku akan mulai, bersiaplah, Vani."


Fuut.


Aku berteleportasi ke depan Civilian. Wajah gadis kecil itu tampak sedikit terkejut dengan kemunculanku yang tiba-tiba, tapi dengan cepat dia bereaksi. Sambil membawa map kertas di tangan kirinya, dia menghempaskan tangan kanannya ke arah wajahku.


WUSSHH!


BRAK!


Aku langsung terpental karena gelombang angin yang sangat kuat. Seluruh kertas di ruangan itu melayang terombang-ambing di atas udara. Dan di tengah-tengahnya, ada Civilian yang dikelilingi hembusan angin yang kuat.


"Jadi kemampuannya itu mengendalikan angin? Ini sedikit merepotkan," gumamku pelan sambil mencoba berdiri. Tapi baru saja aku berpegangan ke dinding. Lagi-lagi aku dihempaskan oleh gelombang angin.


WUSH!


BRAK!


"Argh ...," rintihku pelan.


Fuut.


Dengan cepat aku berteleportasi ke belakang Civilian.


Anak ini tidak akan membiarkanku berbicara. Lebih baik aku beritahu sekenanya saja.


"Ken akan diserang hari ini. Dia ada di jalan nomor 43 distrik 5."


Fuut.


Setelah mengucapkan itu, aku berteleportasi kembali ke atas pohon. Rasanya punggungku sangat nyeri karena dibanting beberapa kali oleh hembusan angin.


PRANG! BRAK!


WUSH!


Aku terdiam melongo saat melihat bagian gedung tempat Civilian bekerja tiba-tiba meledak. Bukan karena api, tapi karena angin. Sepertinya Civilian menggila dan langsung meledakkan ruangan tadi dengan tekanan angin.


Setelah itu dia langsung melesat terbang tanpa memedulikan sekitarnya.


Yak, kalau begitu, aku harus menjemput Vani.


Fuut.


Aku berteleportasi tepat ke samping rumah kosong. Mataku melihat Vani yang sedang memberikan bom pelumpuh itu pada Ken.


DUAR!


Sekarang.


Fuut.


"Ayo kita pergi," ucapku sambil menepuk pundak Vani. Karena tebalnya gas pelumpuh ini, aku yakin Ken tidak akan bisa melihatku membawa Vani pergi.


Maaf Ken, pingsanlah dulu untuk 5 hari.


Fuut.


Aku berteleportasi ke tempat Elly bersembunyi.


"Ayo kita kembali ke markas," ucap Elly setelah menyadari keberadaanku dan Vani. Aku melirik sebentar ke arah Ken yang pingsan. Tak lama kemudian, Civilian datang dan menghempaskan seluruh gas pelumpuh itu.


Dia menggendong Ken di punggungnya, lalu terbang menjauh.


...Tahap pertama, selesai....


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!