
POV: Ares
Aku terdiam mematung saat mendengar cerita dari Ken, aku tidak menyangka bahwa mereka mengalami hal seperti itu. Aku segera menoleh ke arah Elly yang masih terbaring tidak sadarkan diri, begitu juga dengan Vani serta Riot yang terlihat sangat khawatir.
"Bukankah ... kita harus segera membantu Safa?" tanya Ken dengan ekspresi bingung. Aku ganti menoleh pada Ken, lalu menggelengkan kepalaku.
"Chast kita sudah hampir tidak tersisa, kalau kita ikut dalam peperangan, kita tidak lebih dari beban," jawabku dengan ekspresi yang lelah. Teleportasi Riot hanya bisa dipakai satu kali lagi, Vani sudah tidak bisa mengubah cuaca, kekuatan penyembuhan Ken juga sudah sampai pada batasnya, begitu juga diriku ... aku bahkan sudah tidak mampu membuat apapun lagi.
"Tunggu."
DEG!
Ene dan Eni tiba-tiba muncul di samping kami.
"AAAAAA!"
"AAAAAAAAAAA!"
"HAAAAAAAAAA!"
Aku, Vani serta Ken, berteriak terkejut karena kehadiran mereka. Ene dan Eni terlihat tenang, mereka bahkan tidak mengubah ekspresi datarnya.
"Kenapa kalian berteriak? Kalian membuat jantung kami hampir lepas," ucap Eni sambil mengusap dadanya perlahan.
"Hei! Harusnya kami yang lebih kaget! Kalau mau muncul kasih tanda dong?!" sembur Riot dengan ekspresi marahnya. Ene dan Eni hanya mengangguk tanpa menjawab perkataan Riot.
"Baiklah anggap saja begitu, kami datang untuk memberitahu sesuatu." Ene mengalihkan topik lalu mengeluarkan selembar kertas dari dalam tas anyaman yang dia bawa bersama Eni. Bersamaan dengan Ene yang mengeluarkan kertas, Eni mulai memberikan kami satu kukis kering.
"Ah?" Tatapan mata Eni berhenti pada Elly yang terbaring dengan satu kaki. Eni berjongkok dan mulai menyentuh balutan perban itu dengan lembut, tatapan mata datarnya menyiratkan sesuatu, kesepian dan rasa sedih.
"Kami ... tidak bisa menyembuhkan ini, ini diluar batas kemampuan kami," ucap Eni lalu mulai berdiri.
"Benar. Dan lagi, kami menemukan gudang senjata yang berada di sebelah Barat kota Ansorteri, ada beberapa senapan dan juga senjata api lainnya," ucap Ene serius. Aku menatap Ene dengan tatapan terkejut, sedikit tidak menyangka bahwa kota ini punya gudang senjata api.
Tapi memang benar juga, kota sebesar ini, bukankah malah tidak masuk akal jika tidak punya gudang senjata api? Ditambah lagi kota ini kelihatan sebagai kota yang maju, aku jadi tidak kepikiran sampai sana!
"Terimakasih! Informasi ini sangat menguntungkan! Riot! Kau masih bisa melakukan satu kali lagi teleportasi bukan?!" tanyaku dengan cepat. Riot menganggukkan kepalanya lalu tersenyum cerah. Dia mengulurkan tangan kanannya padaku, menatapku dengan tatapan penuh arti.
"Pertarungan kita ... tidak akan berakhir di sini bukan?" tanya Riot serius. Aku tertawa kecil, lalu menggenggam tangan Riot. Mataku kemudian melirik ke arah Ken, memberi kode bahwa dia harus ikut.
Meskipun awalnya terlihat sedikit enggan, tapi pada akhirnya dia ikut menggenggam tangan kiri Riot.
"Tunggu?! Kalian mau meninggalkanku?!" tanya Vani dengan ekspresi kaget.
"Kau harus menjaga Elly," ucap Ken dengan nada ketus.
"Kau tidak bisa memegang senapan bukan?" tanya Riot sambil tersenyum.
"Aku ingin kau menjaga Elly saja, karena aku yakin Elly akan aman bersamamu," ucapku sambil tersenyum. Vani langsung terdiam membisu, tatapan matanya sedikit sedih, namun dia segera menatap kami dengan tatapan membara.
"Baiklah! Aku akan menjaga Elly! Kalian juga! Kembalilah dengan selamat!
Ingat! Nyawa kalian hanya satu! Chast kalian sudah habis! Jangan melakukan hal nekat!" Vani berbicara dengan nada yang keras dan cepat. Kami bertiga mengangguk, lalu mulai menutup mata.
"Kalau begitu, kami pamit dulu. Vani." Suara Riot adalah suara terakhir yang kudengar saat itu.
Fuut!
"Nah bukalah mata kalian, kita sudah sampai. Bukankah benar di sini? Tapi aku tidak tau dimana lokasi pastinya ... jadi aku membawa kalian ke daerah umumnya saja," ucap Riot sedih. Aku membuka mataku, mendapati Riot yang tengah gugup sambil mengusap tengkuknya.
Aku mulai berlari, di-ikuti oleh Riot serta Ken yang mengejarku dari belakang. Kami segera memasuki gang kecil yang aku tunjuk tadi, alasan kenapa aku yakin tempatnya ada di sini? Karena yang Ene tunjukkan padaku tadi adalah sebuah peta.
Dan jalan yang digunakan untuk menuju lokasi gudang senjata bukanlah jalan besar, melainkan jalan kecil seperti lubang tikus di dalam tanah.
Harusnya ada di sekitar sini ... gang yang lebih kecil untuk bisa masuk ke dalam gudang! Tapi dimana ya?
"Ares ... apa kita kelewatan?" tanya Riot tiba-tiba. Aku berhenti mendadak, Riot dan Ken jadi ikut berhenti mendadak dan hampir saja menabrak tubuhku.
"Kele ... hah ... kelewatan?" Aku bertanya dengan nafas yang terengah-engah. Riot mengangguk pelan, dia lalu menunjuk ke arah mesin minuman kaleng otomatis di depan sebuah dinding.
Tunggu, kalau dilihat-lihat, hanya aku dan Ken yang kelelahan. Riot bahkan masih bisa bernafas dengan baik?! Sebenarnya waktu dia kecil dia makan apa?! Baterai?!
Hah ... lupakan.
"Memangnya kenapa ... dengan mesin minuman itu?" tanya Ken penasaran. Riot lalu berlari kecil menuju mesin minuman itu, lalu mulai menekan beberapa tombol secara acak.
"Sebentar ... sepertinya aku salah tekan, tunggu ya," ucap Riot sambil sibuk menekan-nekan tombol itu lagi.
CKLING!
DRRRK!
Bagian perut mesin minuman itu terbuka, di dalamnya, menunjukkan sebuah jalan gelap yang mengarah ke bawah tanah. Aku dan Ken hanya bisa melongo, lalu menatap Riot dengan tatapan tidak percaya.
Orang yang ditatap, hanya tersenyum canggung sambil membersihkan jarinya.
"Aku pernah membaca sebuah buku tentang detektif ... cara memecahkan sandi di mesin minuman itu hal yang mudah. Kita hanya tinggal mencari minuman apa yang paling tidak enak, lalu minuman apa yang paling disukai, dan minuman apa yang paling mungkin untuk dikonsumsi.
Dengan tiga angka itu, kita bisa mengotak-atiknya, yah ... belum tentu 3 angka sih, tapi kebetulan tadi aku berhasil di percobaan angka yang ke 3," ucap Riot menjelaskan pada kami. Setelah itu dia melenggang masuk, di-ikuti oleh Ken serta aku yang berjalan di belakang.
BLAM!
"LOH! PINTUNYA TERTUTUP! BAGAIMANA INI?!" Riot langsung panik setelah bunyi pintu yang tertutup dengan keras.
"Loh? Bukankah kau bisa membukanya lagi?" tanya Ken.
"AKU HANYA TAU CARA MASUKNYA! KELUARNYA AKU TIDAK TAU!" teriak Riot frustasi.
Deg.
"RIOT BODOHHH!"
***
POV: Vani
Semoga mereka baik-baik saja.
Dan semoga ... mereka lebih cepat.
Kondisi kota ini ... semakin memburuk.
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys! Dan jangan lupa komen ya!