Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Rumah sakit.



POV: Ares


Kami sekarang sudah ada di rumah sakit, tempat Vani di rawat. Beruntung karena dunia ini sudah sepi ... maksudku ... yah kalian tau. Jadi kami tidak harus terlalu mengantri untuk bisa mendapat kamar untuk Vani. Dan sejujurnya kondisi Vani sekarang juga terlihat jauh lebih baik.


Sekarang dia saja sudah bisa bersenda gurau dengan Ken serta Riot.


"Ken! Kau memotong apelnya terlalu besar! Bisa tidak sih?!" ucap Vani dengan kesal karena Ken memotong apelnya terlalu besar. Sementara anak yang dimarahi hanya mengerucutkan bibirnya seolah mengejek Vani.


"Ken! Keu memeteng epelnye terlele beser! Bese tedek seh?! Sudah baik aku mau memotong apelnya! Kalau kau tidak sakit akan kumasukkan satu apel penuh ini ke mulutmu!" geram Ken lalu memaksa agar Vani memakan potongan Apel yang besar itu. Tentu saja Vani menolak dan menahan agar apel itu tidak masuk ke mulutnya.


"Ares! Lihat temanmu! Dia melakukan tindak kekerasan pada sahabat!" ucap Vani sambil berusaha menoleh ke arahku. Tapi hanya diam dan tertawa saat melihat tingkahnya bersama Ken.


"Makan saja Van, kan enak biar cepet sehat," ucapku setuju agar Vani memakan potongan apel yang besar itu. Tentu saja Vani malah semakin shock mendengar jawabanku yang setuju pada Ken.


"Ken! Kau apakan Ares hingga dia setuju denganmu?! Ngaku kau!" geram Vani sambil berusaha menahan agar apelnya tidak masuk ke mulut.


"Loh, kau tidak tau Van? Kemarin malam Ken dan Ares kan-," ucap Riot terpotong karena aku melemparkan sandalku ke arah wajahnya.


BUAGH!


"Lebih baik kau tidak usah buka mulut," ucapku kesal sambil berjalan untuk mengambil sandalku. Riot langsung terkapar, dan aku hanya membiarkannya berbaring di lantai yang dingin ini.


"Cepat bangun, nanti masuk angin loh," ucap Ken sambil menatap Riot yang pura-pura pingsan. Riot segera bangun lalu menggembungkan pipinya.


"Oiya, ngomong-ngomong ... bukankah kalian kemarin ikut Boni ke kantornya?" tanya Vani tiba-tiba, entah dia tau darimana.


"Tau darimana?" tanya Ken sambil memungut kulit apel yang jatuh.


"Kemarin para suster di sini ramai membicarakan itu, dan mereka juga sudah bercerita padaku tentang apa itu 'tittle' dan kelebihannya," ucap Vani lagi, kali ini dia berbicara dengan sedikit lebih semangat.


Aku tertawa kecil sambil menatap ke arah Vani. "Kau kelihatan bersemangat ya?" tanyaku saat Vani menoleh untuk menatapku. Dia segera menganggukkan kepalanya lalu mengepalkan tangannya.


"Karena ini adalah hal yang tidak aku ketahui! Aku selalu bersemangat saat tau sesuatu yang baru!" ucap Vani menggebu-gebu. Kami semua tertawa bersamaan, rasanya sudah lama juga kami tidak tertawa sebebas ini.


Aku segera berhenti tertawa karena teringat sesuatu.


"Bagaimana dengan pembayarannya?" tanyaku bingung. Aku langsung menatap ke arah Ken lalu Vani.


"Mereka bilang kita tidak perlu membayarnya. Umat manusia yang hidup tidak sampai 50%, dan belum lagi ada cukup banyak yang mati karena pertarungan kekuatan," jelas Vani sambil menengadahkan tangannya ke arah Ken. Tentu saja Ken jadi bingung apa yang hendak Vani lakukan.


"Kau mau apa?" tanya Ken jutek.


"Aku mau jeruk! Ambilkan dong!" titah Vani sambil cemberut. Ken langsung menunjukkan ekspresi kesal ke arah Vani, tapi pada akhirnya dia tetap mengambilkan jeruk untuknya.


"Wah, enak ya jadi gratis! Kau harus sering-sering sakit Van! Mumpung masih gratis!" Riot dengan mudahnya asal bicara, membuatku geram ingin menjitak kepalanya.


"Udah ya, daripada ngelantur mending kau makan anggur saja," ucap Ken sambil menjejalkan satu buah anggur ke mulut Riot. Dia awalnya tampak kebingungan, tapi akhirnya juga tetap menguyah anggur di dalam mulutnya.


"Kapan kau bisa keluar dari rumah sakit Van?" tanyaku sambil duduk di ranjang pasien yang kosong. Sebenarnya di ruangan ini masih ada sekitar 4 sampai 5 ranjang yang kosong, seolah dibiarkan tidak ditempati. Mungkin ini juga akan jadi tempat tinggal kami sementara.


Gini amat ga punya rumah.


"Aku juga tidak tau kapan bisa keluar dari sini, padahal tadi aku melihat ada toko baju yang bagus, jadinya aku tidak bisa pergi cari baju deh," ucap Vani dengan kesal. Aku dan Ken hanya saling bertatapan, kami bahkan tidak sadar ada toko baju saat kami masuk ke kota ini.


"Astaga Riot! Itu untuk Vani! Kenapa kau habiskan semuanya?!" teriak Ken kesal sambil mengguncangkan tubuh Riot.


Aku dan Vani hanya tertawa saat melihat Riot yang pusing seperti orang mabuk. "Tidak apa-apa Ken, lagipula aku tidak terlalu suka anggur. Untung saja Riot menghabiskannya," ucap Vani membela Riot. Ken langsung diam dan menatap kami dengan kesal, setelah itu dia memutar badan Riot hingga Riot terpelanting ke sofa.


Bruk!


Riot terjatuh dengan posisi kepala yang menghadap ke sofa.


"Tidur dulu, jaga Vani ya. Aku ingin mengajak Ares kencan," ucap Ken lalu menarikku keluar dari ruangan ini.


"Semoga lancar kencannya! Jangan lupa belikan aku baju yang bagus!" teriak Vani sambil melambaikan tangannya.


Ini sebenarnya hubungan kita seperti apa sih? Sepertinya dulu hubungan kita tidak seaneh ini deh, ditarik Vani, ditarik Ken. Berasa punya suami sama punya istri.


BRAK!


Ken menutup pintu dengan cepat dan masih menarikku. Setelah beberapa meter dari ruangan itu, barulah Ken melepaskan pegangan tangannya.


"Jadi, ada apa?" tanyaku saat melirik mata Ken yang terlihat gelisah.


"Bau diruangan itu sangat tidak enak," ucap Ken sambil menghela nafas panjang. Jujur, aku setuju dengannya. Sepertinya tidak ada yang menyemprotkan pengharum ruangan di sana.


"Jadi kita akan beli pewangi?" tanyaku lagi.


"Iya, sekalian beli bunga," ucap Ken tanpa menoleh ke arahku. Aku langsung menatap Ken dengan bingung, buat apa dia beli bunga?


"Bunga untuk siapa?!" tanyaku dengan cepat. Ken langsung menatapku datar, dia melirik ke arah beberapa suster anak-anak yang lewat di samping kami.


"Mereka itu?".


"Iya kayaknya itu."


Seperti itulah mereka berbisik-bisik tentang kami.


"Makanya jangan bikin salah paham!" geram Ken sambil menjauhkan tanganku darinya.


"Kau duluan yang tiba-tiba bilang mau beli bunga!" ucapku ikut geram. Ken terlihat ragu untuk sejenak, lalu mendekatkan wajahnya ke arahku.


"Itu buat ...," bisik Ken padaku.


Aku masih terdiam saking terkejutnya. Ternyata itu alasannya, tapi tetap saja aku masih sulit untuk percaya.


Aku menatap Ken dengan kaget, sangat tidak menyangka bahwa dia bisa seperti ini juga.


..."Jadi kau suka ...?"....


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!