Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Masa Lalu Ron! (2)



POV: Author


Tiit tiit tiit.


Sekarang Ron sedang terbaring lemas di dalam ruangan serba putih ini. Dengan infus yang menancap di tangannya, serta alat bantu pernafasan di mulut dan hidungnya. Ruangan ini terasa begitu sunyi dan sepi, karena hanya ada Ron seorang di dalamnya. Seperti biasa, ayah Ron hanya sibuk untuk mencari uang. Sementara ibunya sibuk mencari perhatian orang lain.


Bunyi mesin pendeteksi detang jantung itu masih berbunyi normal. Menandakan bahwa Ron masih hidup, hanya saja dia tidak sadarkan diri.


Cklik!


Pintu ruangan itu terbuka, memunculkan seorang dokter pria dan beberapa perawat perempuan di belakangnya. Dokter itu segera menyentuh pergelangan tangan Ron, dan menulis beberapa data di lembar dokumen yang perawatnya bawa.


"Segera beritahu saya jika pasien sudah sadar," ucap si dokter lalu berjalan pergi.


"Oh tunggu, dimana walinya?" Sebelum keluar dari ruangan itu, si dokter berbalik dan bertanya pada sang perawat.


"Saya juga kurang tahu dok, tadi ada orang yang mengaku sebagai ibunya dan membawanya ke sini, tapi setelah itu dia tidak kembali lagi," jelas si perawat dengan ekspresi iba pada Ron. Mendengar ucapan sang perawat, dokter hanya bisa ikut kasihan pada Ron.


"Baiklah, terimakasih. Dan mungkin ... lebih baik jangan mengabari walinya," ucap si dokter lagi.


"Loh, kenapa dok?" Sang perawat kebingungan mendengar ucapan dokter. Wali untuk pasien itu penting, apalagi jika pasien masih berusia dibawah 10 tahun seperti Ron.


"Saya takut, jika kondisinya yang jadi begini, justru adalah ulah keluarganya sendiri. Karena itu, saya mohon jangan hubungi keluarganya lebih dulu, ataupun jika mereka datang ke sini, bilang saja bahwa kondisi anak mereka masih parah." Si dokter memberi penjelasan pada perawat. Perempuan itu hanya menganggukkan kepala lalu kembali fokus pada Ron yang tertidur lelap.


Akhirnya, hari ini terlewati lagi dengan Ron yang berada seorang diri di ruangan itu.


***


POV: Ron


Dimana ... ini? Kenapa ... sangat gelap di sini?


Rasanya tubuhku juga berat ... aku ingin membuka mulut, tapi tidak bisa. Apakah ada seseorang di sini?


Ayah?


Ibu?


Kalian dimana? Aku takut ... keluarkan aku dari tempat gelap ini. Ibu ... kepalaku jadi semakin sakit setiap aku minum susu buatanmu, tapi aku menyukainya, karena itu artinya ibu peduli padaku.


Tapi sekarang ibu dimana?


Bu ... aku takut ... Ibu dimana? Kenapa ibu tidak menjemputku?


"Bu ... ibu ..."


DEG!


DEG!


DEG!


"Halo dokter! Pasien nomor 467 sudah sadarkan diri, tolong segera kemari!" Samar-samar aku mendengar suara orang lain. Dia bukan ibuku, aku tau suara ibuku.


Perlahan aku berusaha untuk membuka mata, sedikit demi sedikit. Sambil menyesuaikan cahaya yang masuk, aku berusaha agar bisa melihat secepatnya.


Hah? Dimana lagi ini? Ini bukan kamarku ... ini bukan di rumahku! Dimana ini?


"Di ... mana ... Ibu?" tanyaku pada seorang wanita dengan pakaian serba putih. Wanita itu langsung menatapku dan berjalan cepat kemari. Sebelum duduk di sampingku, terlihat dia beberapa kali mengecek layar komputer yang menyala di samping ranjang tempatku berbaring.


"Halo adik manis! Bagaimana rasanya? Apakah ada yang tidak nyaman?" tanya wanita itu dengan lembut. Aku ingin bertanya lagi tentang dimana ibuku, tapi aku ingat bahwa ibuku dulu pernah berkata ... menjawab seseorang yang bertanya padamu adalah bentuk sopan santun.


"Tidak ... ada ... yang sakit ... kok," ucapku sambil berusaha untuk tersenyum. Wanita itu mengulum senyum cantiknya lalu duduk di sampingku.


"Lima ...," ucapku tidak sanggup melanjutkan. Rasanya mulutku sudah sulit untuk dibuka. Seolah paham denganku yang kesulitan bicara, wanita itu lalu pergi dan mengambilkanku beberapa mainan.


"Adik main sama mereka dulu ya! Sambil nunggu pak dokter ke sini," ucap wanita itu sambil menaruh boneka bebek di samping bantalku. Aku tersenyum kecil melihat boneka bebek berwarna kuning cerah yang duduk di samping bantalku.


"Kak ... Ibuku ... dimana?" tanyaku pada akhirnya. Wanita itu sedikit tersentak, ada sorot mata yang kebingungan dari dirinya.


"Ehh? Tadi dia sedang keluar sebentar, katanya ingin membelikan makanan kesukaanmu!" ucap wanita itu pada akhirnya. Terkadang aku benci fakta bahwa aku terlahir jenius.


Karena aku tau bahwa dia sedang berbohong sekarang.


Pupil mata yang bergetar dan ragu-ragu dalam menatapku. Sorot mata tidak tega dan rasa iba di dalam cahaya matanya. Kalau aku anak biasa, pasti sudah tertipu omong kosongnya sekarang.


"Iya ... Kak ... makasih," ucapku pasrah. Aku kemudian lanjut berbaring dan hanya menatap plafon langit-langit. Tak perlu menunggu lama, akhirnya dokter itu datang juga.


Cklik!


Dia membuka pintu, wajahnya yang awalnya serius dan kaku, langsung berubah jadi wajah yang ceria dan ramah. Rumah sakit ini tahu betul bagaimana mengurus anak kecil ternyata.


"Halo dik, bagaimana kabarnya?" tanyanya untuk basa-basi, ingin rasanya aku menjawab bahwa aku tidak baik-baik saja. Benarkan? Mana ada orang yang baik-baik saja tapi masuk rumah sakit?


"Ya ... seperti yang ... bapak lihat," ucapku sekenanya. Pak dokternya tampak terkejut dengan apa yang aku katakan. Mungkin dia berpikir, bagaimana mungkin anak usia 5 tahun punya keberanian bicara seperti ini.


"Tunggu sebentar ya, dokter mau cek kesehatan kamu dulu," ucapnya lalu menaruh ujung stetoskopnya di dadaku. Matanya juga sibuk melihat layar komputer yang tak pernah mati semenjak aku membuka mata tadi.


"Adik susah tidur ya? Sering mimpi buruk?" tanya dokter itu tiba-tiba.


"Saya ... tidak bisa ... tidur dok. Karena itu ... saya tidak ... pernah mimpi," ucapku jujur. Dokter itu hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala, tangannya mulai menulis beberapa kata di lembar kertas yang dia bawa.


"Tolong kasih ini ke apotik, dan segera bawa ke sini," ucap si dokter pada salah satu perawat.


"Baik dok." Perawat itu menerima kertas yang tadi diberikan oleh dokter dan segera pergi ke luar.


Greek!


Dokter itu duduk di sampingku, menggantikan wanita yang sedari tadi mengajakku mengobrol. Dia seperti memberi isyarat pada perawat lain untuk meninggalkan ruangan, dan jadilah hanya ada aku dan dia di ruang ini.


"Adik suka gak berada di sini?" tanya sang dokter sambil mengambil boneka bebek yang diletakkan di samping bantalku.


"Gak suka ... ga enak," ucapku jujur. Mendengar jawabanku, tentu saja si dokter hanya bisa tertawa kecil.


"Cepat sembuh ya! Biar bisa cepet pulang!" ucap sang dokter untuk menyemangatiku. Raut wajahnya yang ceria dan hangat, tiba-tiba berubah jadi ceria dan suram. Atmosfer ruangan ini juga mulai jadi lebih berat.


"Ada apa ... dok?" tanyaku bingung. Si dokter masih diam, sepertinya dia masih memikirkan sesuatu.


"Kamu di rumah suka makan apa?" tanya dokter.


"Aku makan semua ... buatan ibu," jawabku jujur. Tapi dia bertanya lagi padaku.


"Semua? Kalau begitu, apa minuman kesukaanmu?" tanyanya lagi.


"Aku paling suka ... susu buatan ibu! Walaupun ... rasanya agak aneh," ucapku sambil tersenyum pahit. Mendengar perkataanku, barulah ekspresi dokter itu berubah menjadi kaku.


"Apakah kamu sering meminumnya?" tanya dokter lagi.


"Iya, lumayan sering ... tidak, lebih tepatnya ... setiap malam," ucapku jujur. Sang dokter langsung menunduk dan mulai menangis, bisa kulihat dari gerakan tangannya yang mengusap air mata di wajahnya.


"Adik janji ya? Mulai sekarang ... jangan pernah minum susu buatan ibumu lagi."


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!