Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
S2 - Awal serangan!



Secara bersamaan, Vani, Riot, dan Endo datang kembali ke ruangan ini. Aku tersenyum ke arah mereka lalu berkata, "Bersiaplah, ayo kita sadarkan para manusia itu dengan tamparan penuh cinta!"


***


POV: Author


2 hari telah berlalu, ini adalah hari dimana rencana Ares dan Rafleo dilaksanakan. Sebuah hari yang cerah di dalam sebuah kota yang busuk. Saat ini, matahari masih belum terlalu tinggi, dan cahayanya juga belum terlalu panas.


Dari sinilah semuanya bermula.


GLUDUK GLUDUK!


WHUSSHHHHHH!


Segerombol awan hitam mulai datang dari arah Utara, mereka menuju ke arah kota dengan kecepatan tinggi bersama dengan angin.


JDERR! JDERR!


Kilat mulai menyambar-nyambar, seisi kota mulai ditutupi awan hitam serta gemuruh yang luar biasa.


Dari dalam sebuah gedung, beberapa anak kecil memerhatikan keadaan luar dengan tatapan datar. "Sepertinya hari ini akan hujan, langitnya saja sudah sangat gelap," ucap anak perempuan dengan rambut pink dikuncir di kiri dan kanan.


"Benar juga ... ah sial, gagakku tidak akan bisa terbang kalau begini," keluh seorang anak laki-laki dengan kacamata bulat yang duduk di tepi jendela.


"Andro, Kira. Pikiran kalian terlalu sederhana. Apa kalian lupa kalau sekarang ini musim kemarau?" Seorang anak laki-laki dengan jaket hijau yang kini berbicara. Anak laki-laki berkacamata, Andro terdiam sejenak dan mengerjapkan matanya beberapa kali.


"Apa maksudmu ... ini hujan buatan seseorang?" Kira, gadis rambut pink yang dikucir di kedua sisi yang kini bertanya. Anak laki-laki dengan jaket hijau menganggukkan kepalanya, dan menoleh ke arah anak laki-laki lain yang duduk di atas sebuah kursi, dia memakai hoodie ukuran anak kecil dengan lengan kanan yang sudah sobek.


"Aku sudah menduga sejak kemarin karena firasatku tidak enak. Jadi aku sudah meminta agar Lydia mengumpulkan para bawahan." Anak laki-laki berbicara dengan penuh wibawa dan kharisma.


JDER!


Kilatan cahaya yang muncul, kini menampakkan wujudnya secara jelas. Dia memiliki rambut berwarna biru seperti langit di siang hari, serta warna mata abu-abu yang tajam seperti sebuah belati.


"Bersiaplah juga, Andro, Kira, Dan Renox." Perintah anak itu mutlak.


"Dimengerti, Jake."


***


Sementara itu di lantai pertama, ada Lydia, si gadis yang membawa tongkat pemukul bisbol di punggungnya, serta memakai pakaian anak laki-laki yang membuatnya terlihat seperti gadis tomboy, sedang mengumpulkan para bawahan yang berjumlah lebih dari 1000 orang.


DUAK!


Lydia memukul tongkatnya ke atas lantai, membuat seluruh perhatian kini berpusat padanya. Lydia memiliki warna rambut serta mata yang hitam legam, kulitnya berwarna coklat agak keputihan.


"Dengarkan aku! Dua hari yang lalu! Ada sekelompok orang asing yang masuk ke dalam kota ini!" Lydia berbicara dengan suara tegas, dan para bawahan yang mengenakan jubah bertudung hijau itu mendengarkan dengan seksama.


"DAN HARI INI! MEREKA TELAH BERANI BERBUAT SEENAKNYA DI KOTA YANG KITA KUASAI! KITA HARUS MEMBUKTIKAN SIAPA YANG BERKUASA DI SINI!" Setelah suara lantang Lydia, suara sorak para bawahan bergemuruh memenuhi lantai 1 ini. Lydia mulai mengepalkan tangan kanannya dan mengangkatnya ke atas.


"AYO BANTAI MEREKA! LEMPARKAN MAYAT MEREKA KE KUBANGAN, BIARKAN TUBUH MEREKA DIBUAT SARANG BELATUNG DAN MAKANAN GAGAK!"


"UWOOOO!" Sorakan yang begitu luar biasa.


Sementara itu di sisi lain ...


Sebuah kilat mulai menyambar berbagai sisi.


JDUARRR! JDERRR!!


BLARR! BLARR!


Kobaran api yang awalnya membesar, langsung menjadi kecil lagi karena air hujan, tapi kilat juga tidak berhenti turun, area yang hangus makin lama semakin banyak. Petir ini seolah mengabsen tiap bangunan tinggi yang ada di kota ini.


Tapi di antara banyaknya gedung tinggi yang disambar petir, ada satu gedung yang bahkan tidak tersentuh oleh petir. Di atas gedung itu, ada seorang gadis kecil yang memegang tangannya seperti berdoa pada dewa, dan di kepalan kedua tangannya itu, muncul sebuah kilatan listrik.


Gadis itu adalah Vani yang memanggil badai halilintar.


Whus!!


Gelembung itu semakin dekat, hingga saat gelembung itu hampir mengenai Vani ...


Fuut!


Riot muncul lalu membawa Vani pergi dengan teleportasi.


Fuut!


BLEP! CRATTT!


Permen karet itu mengenai gedung tempat Vani tadi berdiri dan langsung meledak, membuat seluruh tempat itu lengket dengan permen karet.


JDER!


Dari arah gelembung itu berasal, ada Kira yang ternyata melemparkan gelembung permen karet itu. Kira berdecak kesal karena Vani berhasil lolos, bahkan dia kehilangan jejak Vani.


DDRKKKK!


Tiba-tiba gedung yang terkena permen karet itu mulai runtuh, gedung itu rubuh ke arah Kira dengan permen karet yang masuk menempel di bagian atap gedung.


"Apa?! Kenapa gedungnya?!" Kira terdiam menatap gedung yang hendak menimpanya.


"Menyingkir."


Whus!


Dari belakang Kira, muncul Renox, anak laki-laki dengan jaket hijau dan rambut pirang bergelombang pendek, dia langsung melompat dan menerjang ke arah gedung yang rubuh itu.


Renox menyentuh dinding gedung bagian luar dengan telapak tangannya, dan dalam sekejap, gedung itu langsung meledak menjadi serpihan kecil.


DUAR DUAR DUARR!


Prull ... fyush.


"Hampir aja aku jadi mayat penyet," gumam Kira lega sambil menghela nafas, sedangkan Renox hanya memandang Kira dengan tatapan aneh dan heran.


"Apa kau sudah melihat kemampuan mereka?" tanya Renox langsung pada intinya. Kira mengangguk mantap lalu berkata, "Gadis dengan rambut sebahu yang berwarna hitam, dialah yang memanggil badai ini. Dan ada anak yang bisa berteleportasi, sesuai dugaan Lydia," ucap Kira sambil mulai membuat gelembung permen karet lagi.


"Oh! Tapi ngomong-ngomong, kenapa gedungnya bisa tiba-tiba rubuh tadi?" tanya Kira heran. Saat Renox hendak menjawab pertanyaan Kira, tiba-tiba sebuah tangan kecil menutupi mata Renox.


Itu adalah tangan Riot yang tiba-tiba muncul.


"Rencana pertama, culik kekuatan penghancur mereka."


FUUT!


Kira kaget karena Renox tiba-tiba menghilang, dan kini hanya tersisa Riot serta Kira saja. Kira mundur beberapa langkah, dia sedikit gentar jika harus melawan pengguna teleportasi.


"Kemana kau membawa Renox?" tanya Kira sambil membuat sebuah gelembung permen karet sebesar bola voli di tangannya. Riot hanya diam sana dan tidak menjawab. Karena kesal diabaikan, Kira langsung melemparkan gelembung itu ke arah Riot.


Tapi Riot malah tidak menghindar, dia sengaja diam di tempat, menunggu gelembung hanya berjarak 4 sentimeter di depannya, barulah dia berteleportasi.


Fuut!


Dalam sekejap mata, telapak tangan Riot sudah ada di depan wajah Kira.


"Jangan khawatir, kami juga sudah menyiapkan panggung untukmu."


FUUT!


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!