Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Upaya terakhir.



..."Lihatlah, dia sudah bangun."...


POV: Ares


Memang ledakan itu cukup berefek. Tidak, ledakan tadi memberi efek yang besar pada lendir itu. Tapi jika kita harus membuat ledakan sebesar itu lagi ... seluruh jalan bawah tanah bisa hancur meledak juga. Karena itu, aku tidak bisa menggunakan metode ini sekali lagi.


Tapi setidaknya, aku sudah tau bagaimana menghilangkan lendir itu.


"Vani, kita bisa membereskannya hari ini. Ayo kita lanjutkan rencananya!" ucapku sambil tersenyum. Mendengar perkataanku, Vani segera bangun lalu berdiri tegap.


"Baiklah! Ayo kita meluncur lagi!" ucap Vani dengan senang. Aku hendak memeluk Vani seperti tadi agar bisa terbang, tapi otakku menolak untuk melakukannya. Lebih tepatnya, aku baru sadar bahwa daritadi aku memeluk Vani.


"Tidak Van. Aku ada ide yang lebih bagus," ucapku lalu mulai membayangkan sesuatu.


Apa ya ... nama olahraga yang terkenal itu ... apa ya? Gan ... gan ... Gantole! Benar! Olahraga udara yang memanfaatkan rangka mirip pesawat dengan bahan metal itu kan!


Cring!


"A-apa ini?" tanya Vani dengan gugup. Aku hanya tersenyum sambil memegang alat gantole yang aku buat.



"Nah kau akan terbang dengan ini!" ucapku lalu menaruh benda itu di depan Vani. Entah kenapa, Vani malah menatapku dengan tatapan kesal. Beberapa kali dia menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


"Kenapa kita tidak terbang saja seperti tadi?" tanya Vani dengan tatapan datar. Aku menggaruk leherku yang tidak gatal, bagaimana menjelaskannya ya?


"Um, itu cukup melelahkan untukku karena harus terbang sambil membawamu ... dan juga, karena kita tidak masuk lewat celah sempit lagi ... kupikir kita bisa terbang sendiri-sendiri," jelasku tanpa menatap wajah Vani. Dia malah mengembuskan nafasnya dengan kesal lalu langsung naik dan terbang.


Aku jadi langsung loncat dan terbang untuk menyusul Vani.


"Van! Kau berputar-putar saja dulu! Aku akan menarik perhatian lendir itu!" ucapku lalu terbang menukik ke bawah. Sebenarnya aku agak tidak enak hati membiarkan Vani terbang sendiri, tapi jantungku tidak tenang setiap kali terbang sambil memeluknya begitu.


Ah, lupakan soal percintaan. Aku tidak pernah beruntung dalam hal itu.


Mataku fokus menatap ke arah lendir yang mulai bergerak lagi. Mereka mulai berkumpul dan membentuk menjadi suatu lendir yang cukup besar, tapi tidak sebesar tadi. Aku segera memelankan kecepatan terbangun saat sudah semakin dekat dengan lendir itu.


Srrt! BWOOSH!


"HAH?! ASTAGA!" ucapku panik sambil terbang sejauh mungkin. Tiba-tiba lendir itu menjadi lebih agresif! Dia bisa bergerak dengan cepat saat aku berada beberapa meter di dekatnya. Bahkan saat aku terbang dengan kecepatan yang cukup tinggi, lendir itu masih bisa menyusulku.


Mataku menatap ke arah Vani yang berada di atasku. Dia memang kusuruh agar terbang berputar-putar saja, selain itu juga agar tidak ada lendir yang bisa menjangkaunya.


Seperti tadi, aku terbang dengan ketinggian yang cukup rendah tapi dengan kecepatan yang tinggi. Ini kulakukan agar lendir itu terus mengikutiku. Aku harus membuatnya mengikutiku kalau ingin rencana ini berhasil.


Aku yakin Riot dan Ken sudah menunggu di sana. Di pusat tenaga listrik kota Oner.


Aku terus terbang sambil berkelok-kelok menghindari tiang atau mobil. Sesekali aku juga melihat ke arah chast milikku. Untung saja tidak terisi banyak setelah membuatkan gantole untuk Vani tadi.


BLURP! CRAT!


PLAK!


"HIYY?! KENAPA DIA BISA MENYEMBURKAN LENDIR SEKARANG?!" teriakku jijik saat lendir besar itu bisa menembakkan beberapa lendir yang seukuran bola basket.


Kalau begini, bukan hanya kecepatannya yang bertambah! Tapi variasi serangannya juga berubah!


Apakah dia monster yang punya kecerdasan?! Tapi kan dia tidak punya otak! Tubuhnya saja hanya lendir merah yang sedikit transparan! Tunggu, atau jangan-jangan ... dia benar-benar punya organ? Tapi organnya juga transparan?


CRAT!


"TIDAKKK! LENDIR ITU MENYENTUH KAKIKU! AAA PERGII! KAU MENJIJIKKAN SIALAN!" teriakku panik. Karena aku tenggelam dalam pikiranku sendiri, tanpa sadar kecepatan terbangku melambat! Dan si lendir sialan itu langsung menembakkan lendir ke arah kakiku!Aku mengibaskan kaki yang terkena lendir dengan cepat, untung saja aku pakai sepatu. Jadi lendir itu tidak mengenai kulitku.


BANG!


Aku terdiam mematung.


Babi hutan, kenapa aku terbang mundur sih? Aku jadi menabrak ... tiang listrik. Punggungku sangat sakit!


Bruk!


Aku langsung terjatuh saat merasakan punggungku perih dan panas. Mataku menatap ke arah tiang yang aku tabrak tadi. Serius, tiangnya saja sampai sedikit penyok.


"Siapa yang menaruh tiang di sini sih?!" geramku sambil berusaha mengusap punggungku. Tentu saja tanganku tidak sampai!


BLURP!


Sial! Aku lupa bahwa aku sedang dikejar lendir menjijikkan itu! Ack! Bagaimana ini?! Dia sudah semakin dekat! Dia hanya beberapa meter di depanku! Aku harus menutup mataku!


"Ares!"


Apakah aku berhalusinasi? Kenapa aku mendengar suara Riot di sini?


GREB!


Aku tersentak kaget, ternyata itu benar-benar Riot. Dia datang dengan skill teleportasi miliknya. Dengan cepat dia memegang tanganku lalu berteleportasi ke tempat lain.


Ternyata ini di atas bangunan tempat pembangkit listrik tadi. Dari atas sini, aku masih bisa melihat bahwa Vani ganti yang memancing agar lendir itu mengikutinya.


"Dasar bodoh!"


BUAGH!


"Aduh! Kenapa kau memukulku?! Riot!" teriakku sambil menutupi kepalaku agar tidak dipukul lagi. Riot terlihat kesal, sudah jelas dari sorot matanya.


"Bisa-bisanya kau malah melamun!" Riot menyubit pipiku dengan cukup keras. Tentu saja aku berteriak kesakitan.


"AAAAA MAAF-MAAF!" Aku berusaha menjauhkan tangannya dari pipiku.


"Ssst! Aku sedang membantumu! Kau tidak lihat Ken sudah datang sambil membawa tongkat baseball?! Kalau kau tidak mau kena pukul tongkat baseballnya, biarkan aku yang menyubitmu saja!" bisik Riot sambil melirik ke arah Ken. Aku langsung ikut melirik ke arah Ken, dan benar saja. Ken sudah berdiri di belakangku dengan ekspresi galak khas miliknya.


Sepertinya dia lihat kecerobohanku tadi ... astaga naga.


"Baiklah, siksa saja aku, Riot! Aku tidak mau dipukul tongkat baseball!" balasku dengan berbisik juga.


"HEI KALIAN ANAK-ANAK KURANG AJAR! AKU SEDANG BERUSAHA KERAS KALIAN MALAH BERMAIN-MAIN?!"


Aku dan Riot menghentikan kegiatan kami. Mataku langsung tertuju pada Vani yang sudah cukup dekat, di belakangnya ada lendir yang mengikuti dengan ganas. Seperti apa ya? Mungkin kalian bisa membayangkan siput yang bersifat seperti harimau. Benar-benar mirip seperti itu.


Aku langsung terbang ke atas membawa Riot yang bergelantungan di tangan kananku. Sedangkan Ken sudah bersiap menyalakan beberapa generator yang kemarin aku siapkan.


"Hehe, itu bukan generator biasa," ucapku dengan senyuman miring.


"Generator apa itu?" tanya Riot dengan wajah polos.


..."Itu? Generator yang bisa meningkatkan arus listrik hingga 100 kali lipat!"...


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!