
..."30 menit, tahan lagi 30 menit!"...
POV: Author
"Kenapa aku merasa ... jumlah mereka tidak berkurang ya? Malah semakin banyak," ucap Ken dengan nafas tersengal-sengal. Debu dan kotoran menempel di wajah serta tubuhnya. Hujan yang deras ini tidak menghilangkan rasa panas dan dahaga anak itu. Begitu juga dengan Ares dan Riot yang terlihat kepayahan.
"Peluruku sudah habis, dan chastku sudah hampir penuh, aku tidak bisa menggunakan kekuatanku lagi," ucap Ares sambil melihat isi peluru shotgunnya. Matanya melirik ke arah Riot, anak pengguna teleportasi itu segera mengangguk lalu mendorong skateboardnya untuk menjauh.
"Kalau begitu, kita berpencar! Bergerombol hanya akan menambah kerugian!" ucap Ares. Dengan sisa chastnya, Ares membuat dua buah skateboard lagi. Satu untuk dirinya, dan satu untuk Ken.
Ares melemparkan skateboard itu pada Ken, tapi Ken hanya diam sambil terlihat bingung.
"A-aku ... tidak bisa naik skateboard ...," ucap Ken dengan gugup. Ares spontan membatu, dia lupa tidak semua orang bisa pakai skateboard.
"Tidak apa-apa! Ayo ikut aku saja!" Riot dengan cepat menarik Ken untuk naik ke punggungnya. Lalu dia mendorong skateboardnya menjauh, jadi sekarang mereka terpisah jadi dua. Ares sendirian, Ken dan Riot bersama.
***
POV: Ares
Aku mendorong skateboardku sekuat tenaga, rasanya pusing dan berkunang-kunang. Nafasku sesak dan pandangku mulai buram. Tapi aku tidak boleh pingsan di sini, masih ada rencana yang belum selesai.
"Sepertinya gerombolan itu tidak punya lelah ya?!" ucapku sambil melihat ke arah belakang. Para anak kecil yang kehilangan akal itu mengejarku dengan brutal. Tidak peduli tiang atau apapun, mereka menabraknya, melindasnya, seolah yang mereka lewati adalah jalanan lurus.
"Sial ... bagaimana ya?" ucapku pelan sambil terus mendorong skateboard. Tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalaku.
"Benar juga ... bukankah di sekitar sini ... adalah tempat pertama kali kita dikejar oleh Ron?" ucapku saat melihat jalanan kota yang berlubang besar.
JDAR! ZRASSHH!
Hujan masih turun dengan lebat, membuatku jadi semakin sulit melihat jalanan. Aku berhenti tepat di tengah jalan, dengan lubar besar dan dalam yang mulai terisi air.
"Hm? Kenapa kalian berhenti? Majulah, aku siap kapanpun kalian maju!" tantangku pada mereka. Seolah menjawab tantangku, mereka mulai maju dengan ganas, saling mendorong satu sama lain sambil mengeluarkan suara yang membuat bulu kuduk merinding.
"GRAHH!"
JEBYUR! BYUR BYUR!
Aku tersenyum miring, sedikit demi sedikit, para anak-anak itu jatuh dan masuk ke dalam lubang. Aku berlari lagi tanpa menaiki skateboardnya.
Tidak aman menaiki skateboard saat cuaca hujan.
Suara gerombolan itu semakin berkurang, aku yakin mereka tidak bisa melihat lubang dengan baik.
"Kejar aku kalau kalian bisa! Bwee!" ucapku sambil menjulurkan lidah. Meskipun aku tidak tau apakah mereka akan merespon atau tidak.
"Dari sini sudah tidak ada lubang lagi ... lebih aku mulai mengarahkan mereka ke rencana utama!" ucapku lalu menaiki skateboard yang daritadi kusimpan di tangan kiri. Kuharap Riot dan Ken juga bisa tepat waktu.
***
POV: Riot
"Ugh ... untung saja kau tidak berat!" keluhku sambil menggendong Ken di punggung, kakiku teruh mendorong skateboard.
"Aku ... penasaran, apakah kekuatanku bisa bekerja pada mereka?" ucap Ken sambil menoleh ke arah belakang.
Benar juga, bukankah kekuatan Ken itu mengobati?
"Apa kau bisa menyembuhkan mereka?" tanyaku pada Ken. Dia terlihat terkejut dengan pertanyaanku, tapi raut wajahnya segera menjadi datar.
"Sepertinya tidak bisa, tapi aku bingung apakah aku bisa memberi mereka penyakit atau tidak?" ucap Ken serius. Aku tersentak saat mendengar ucapan Ken.
Dia juga bisa memberi penyakit?!
"Kau bisa memberi penyakit juga?" tanyaku. Ken menganggukkan kepala.
JDER!
"Semakin ke sini, hujannya semakin lebat," ucap Ken sambil menyibak rambutnya yang basah. Mataku melihat ke arah langit, penuh dengan awan gelap dan petir yang menyambar-nyambar.
Kekuatan Vani cukup mengerikan juga ternyata. Selama ini kukira dia hanya berperan sebagai penghidup suasana, tak kusangka dia bisa mengendalikan cuaca dalam skala sebesar ini.
JDER! DUAR!
BRUK!
"ACK! KENAPA PETIRNYA MENYAMBAR KITA?!" teriakku saat terjatuh dari skateboard. Mataku sedikit sakit karena cahaya kilat yang tiba-tiba jatuh di depanku. Tentu saja aku jadi kaget dan spontan terjatuh!
"Tidak ada waktu! Ayo cepat berdiri!" Ken sudah berdiri, dia mengulurkan tangan padaku. Dengan sigap aku menerima uluran tangannya, mataku mencari dimana skateboard yang kunaiki tadi.
"... Skateboardnya ... putus jadi dua," ucapku saat menatap skateboard yang tidak lebih dari rongsokan sekarang.
Greb!
Mataku sambil mengamati daerah tempat kami berlari. Aku melihat sebuah gang sempit, sekelibat ingatan berputar di otakku.
"Tunggu! Kita lewat gang itu saja!" ucapku pada Ken sambil menunjuk gang itu, Ken mengangguk tanpa bertanya apapun. Dia berlari sambil menarikku ke arah gang.
Begitu berbelok, aku segera menutup mataku, berteleportasi ke atas gedung.
Fuut!
"TUNGGU?! APA?!" Ken yang tiba-tiba berpindah jadi terkejut dan hampir jatuh dari atas gedung. Aku ganti menggenggam lengannya, menahan agar dia tidak jatuh.
"Hati-hati, gang itu menuju langsung ke sungai, jadi itu bisa menjebak mereka agar tercebur ke sana," ucapku sambil menunjuk gerombolan The Ants yang jatuh ke sungai seperti daun. Mereka tidak sadar dimana mereka berpijak, hanya terus berlari mengikuti insting.
JDER!
"Bukankah itu Ares?" tanya Ken sambil memicingkan matanya, dia melihat ke arah jembatan yang putus. Ares berselancar di tepi jembatan itu, membuat gerombolan yang mengejar jatuh dari tepi jembatan.
"Hei! Bukankah itu jalan buntu?!" teriakku saat melihat Ares sudah sampai di ujung jembatan.
"Bisakah kau teleportasi ke sana dan membawanya ke sini?!" ucap Ken panik sambil mengguncang pundakku, kepalaku jadi berkunang-kunang rasanya.
"Bisa saja, tapi itu tidak akan membuat mereka jatuh ke sungai! Kita butuh sesuatu untuk mengalihkan perhatiannnya!" ucapku dengan sedikit berteriak. Aku dan Ken terdiam, kami sama-sama berpikir. Tapi kami tetap panik saat melihat Ares yang berjuang sendirian sambil memukul gerombolan itu dengan papan skateboard.
"Oh ... aku ada ide! Tunggu di sini!" ucapku pada Ken. Aku segera menutup mataku, lalu berteleportasi ke arah Ares.
Fuut!
"ARES!" ucapku saat sudah ada di sampingnya. Dia sedikit terkejut, tapi masih tetap fokus saat memukul gerombolan The Ants.
"Pegang tanganku! Percayalah!" ucapku sambil mencekal pergelangan Ares dengan kuat. Dia menatapku dengan bingung.
"Apa rencana-" ucap Ares terpotong.
Karena aku menjatuhkan diri ke sungai bersama dengan Ares.
"KAU GILAAAA?!" teriak Ares sambil memelukku. Telingaku berdenging karena teriakannya.
"Tidak! Percaya saja!" Mataku menatap yakin pada sungai yang dalam ini, tepat satu meter di atas permukaan air. Aku berteleportasi.
Fuut!
"AAAAAA!" Ares masih berteriak sambil menutup matanya.
"Kita di atas gedung bodoh!" ucap Ken sambil menepuk pipi Ares dengan cukup kuat. Ares berhenti berteriak, dia mengintip pelan-pelan sambil memelukku.
"Kita sudah aman, dan kita juga berhasil menipu The Ants," ucapku sambil tersenyum. Ares menghembuskan nafas lega, kemudian tersenyum saat menatapku.
BUAK!
"APA?! KENAPA MEMUKULKU?!" teriakku sambil memegang pipi.
"Lain kali ... jika kau ada rencana seperti itu ... KASIH TAU AKU DULU SIALAN!"
BUAK!
"KENAPA KAU JUGA MEMUKULKU?!" teriakku pada Ken dan memegang pipiku satunya.
"Kau membuat jantungku jatuh ke lambung, sepertinya kau harus diberi pelajaran?!" ucap Ken sambil tersenyum.
Sial ... VANI! TOLONG AKU!
BAMM!
Aku, Ares dan Ken sontak menoleh ke arah suara. Mataku melihat air darj bendungan yang mulai hancur.
Ya, inilah rencana kami. Menyapu bersih The Ants dengan mengirim mereka ke laut lepas. Dengan skala hujan sebesar ini, serta bendungan yang penuh. Bahkan mereka sekalipun, tidak akan bisa meloloskan diri.
Dari atas gedung, aku melihat Vani yang kelelahan. Dia langsung duduk bersila, menikmati terpaan hujan di wajahnya.
Dia cantik juga ...
Aku segera mengalihkan pandanganku, detak jantungku berdegup kencang, hingga aku melihatnya. Ares yang berdiri sambil tersenyum ke arah Vani.
Sepertinya bukan hanya aku yang jatuh cinta ya?
"Yah entahlah! Yang pasti, kita berhasil!" ucapku senang sambil memeluk Ken dan Ares.
Tinggal 4 cabang lagi!
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!!