Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Masa Lalu Ron! (4)



...Apakah dia akan menamparku? ...


POV: Ron


Aku menutup mataku rapat-rapat. Sambil meringkuk, berusaha menghalangi tamparan yang akan ibuku berikan.


"Lebih baik anda berhenti sampai di sini, jika masih anda lanjutkan, saya tidak akan segan-segan dalam melaporkannya pada pihak berwajib," ucap pak dokter tiba-tiba. Karena perkataan dokter itu, akhirnya ibuku tidak melanjutkan aksinya, tapi sepertinya dia masih marah padaku dan si dokter.


"Bapak dari tadi banyak bicara ya? Ini anak saya, saya punya hak untuk melakukan apapun padanya!" ucap ibuku lagi. Semakin lama aku mendengar perkataannya, semakin aku sadar bahwa ibuku itu punya gangguan mental.


"Lebih baik ibu keluar. Aku sudah tidak mau bertemu ibu lagi," ucapku tegas. Sontak ibuku langsung menatapku kaget, ekspresi marah dan kecewa terlihat jelas di dalam matanya. Badannya bergetar, seolah menahan seribu bahasa yang akan segera dia muntahkan.


"Siapa yang mengajarimu jadi anak yang pembangkang?" tanya ibuku sambil menahan amarahnya.


"Siapa yang mengajariku menganggap manusia sebagai barang?" tanyaku juga pada saat yang bersamaan. Sontak atmosfer ruangan ini semakin panas, bahkan dokter sudah menyuruh para perawat bersiap jika terjadi keributan. Beruntung ini adalah ruang VVIP, jadi tidak ada pasien lain kecuali aku di sini.


"Apa?! Aku melakukan itu untuk mendidikmu! Agar kau menjadi anak yang sukses!" teriak ibuku tidak terima. Aku berusaha untuk duduk dan menatap ibuku nyalang. Aku melepaskan alat bantu pernafasanku dengan paksa, lalu menarik nafas dalam-dalam.


"Mendidikku? MENDIDIKKU KATAMU?! IBU MANA YANG MEMBERI OBAT PADA ANAKNYA HINGGA DIA KRITIS?! JANGAN MENJADIKANKU ALAT KESUKSESAN YANG BAHKAN TIDAK BISA KAU RAIH!" teriakku penuh emosi. Dadaku langsung terasa sakit dan nyeri, tapi aku hanya diam sambil menangis. Sementara ibuku, dia mematung tanpa kata, menatapku dengan tatapan aneh dan jijik.


"Terserah. Kau bukan lagi anakku." Ibuku lalu berbalik dan hendak pergi.


"Iya. Aku bukan lagi anakmu, dan jangan harap aku akan menganggapmu sebagai ibu." Aku menatap punggung wanita itu yang kian menjauh. Para perawat dan dokter itu hanya diam mengamati kami, atmosfer yang awalnya panas dan menegangkan, kini berubah menjadi dingin dan kaku.


"UHUK! UHUK UHUK!" Aku mulai batuk-batuk. Para perawat dan dokter itu langsung menuju ke arahku, menempelkan beberapa alat yang tadi kulepaskan saat marah. Mataku bahkan mulai menjadi buram.


"Tenanglah! Kamu akan baik-baik saja!" Begitulah kata pak dokter. Setelah itu aku mulai menutup mata, mencoba untuk percaya apa kata dokter. Hari esok, akan berbeda dari hari yang selama ini kulalui.


***


Tut ... tut ... tut.


Seperti biasa, suara dari komputer di sebelahku selalu jadi alasan aku terbangun. Dan aku yakin, pasti saat aku membuka mata, ruangan ini masih akan sama kosongnya.


"Hm? Kamu sudah bangun?" tanya seorang pria yang duduk tenang di sampingku. Saat aku melihat wajah kakunya, aku langsung tau siapa dia. Bahasa yang berusaha agar terdengar lembut, raut wajah seperti dinding yang terbuat dari baja. Serta gestur tubuh yang berwibawa serta penuh kharisma.


Dia adalah ayahku.


"Ada apa, Ayah?" tanyaku datar. Terakhir kali aku melihatnya, adalah saat aku berumur 2 tahun. Semenjak itu, aku tidak pernah melihatnya lagi.


"Kudengar kamu bertengkar dengan ibumu, ada masalah apa?" tanyanya dengan nada yang tenang. Inilah yang kubenci dari ayahku, wajahnya yang datar tanpa ekspresi, membuatnya sulit ditebak.


"Tanyakan saja pada psikopat yang menaruh obat di dalam minuman susuku," ucapku cuek. Bahkan setelah mendengarku, dia tidak bergeming sedikitpun. Seolah dia tidak terkejut, atau bahkan tidak peduli.


"Hoo begitu ya? Sepertinya dia memaksamu agar belajar siang dan malam," ucap ayahku lagi.


DEG!


Kupikir hanya ibuku saja yang tidak waras, tapi ayahku juga sama.


"Jangan salah paham. Aku juga menikah dengannya bukan karena cinta," jelas ayahku, dia mengambil satu kantung putih yang ternyata berisi buah-buahan. Sepertinya dia membelinya saat akan ke sini.


"Karena bagiku, tidak ada yang bisa dipercaya selain aku. Dan tidak ada yang lebih penting dari tujuanku," ucapnya serius. Ayahku adalah seorang pengusaha yang sukses, di depan layar tv dia adalah orang yang ramah dan berkarakter. Padahal aslinya sangat brengs*k dan baj*ngan begini.


"Kalau kamu merasa terancam saat tinggal di sisi ibumu. Kamu bisa pindah ke apartemen dan tinggal denganku. Asalkan kamu mampu bertahan dari cara mengajarku," ucap ayahku lagi. Dia menyodorkan apel yang sudah terkelupas padaku.


"Aku tidak memberi obat apapun, makanlah. Kamu sudah melewati masa kritis bukan? Harus makan makanan yang bergizi," ucapnya dengan senyum yang kaku. Akhirnya aku juga memakan apel yang dia kupas. Mungkin memang dia tidak menaruh apapun di apel ini.


Bukankah lebih baik aku hidup dengan ayahku? Daripada dengan wanita itu. Waktu dimana aku bisa saja kehilangan nyawaku, bisa terjadi kapan saja.


"Aku akan pindah," ucapku setelah menelan apel yang ku kunyah. Mendengar jawabanku, dia hanya tersenyum dingin dan mengusap pucuk kepalaku.


"Kamu tidak akan menyesal. Akan kubuat kamu jadi orang yang sukses." Begitulah ucapnya.


***


POV: Author


Apa yang dikatakan oleh ayah Ron bukanlah omong kosong. Semenjak Ron pindah dan tinggal bersama ayahnya, dia telah dididik dengan keras. Membuatnya menjadi anak yang tangguh dan mental yang kuat.


Tapi seperti sang ibu yang memberi tekanan secara fisik dan emosional menggunakan kasih sayang, sang ayah memberi pengajaran baik secara fisik dan psikologis sang anak. Menjadikannya orang dengan pemikiran dewasa tapi tidak menganggap hak manusia itu ada.


***


"Ayah, aku sedang bingung tentang sesuatu," ucap Ron sambil duduk diam di kursi sofa. Matanya hanya fokus melihat ke meja kaca di depannya. Sang ayah yang merasa namanya disebut, segera menoleh ke arah putranya.


"Ada apa?" tanya sang ayah dengan nada datar.


Ron telah memasuki masa SMA, dia tumbuh menjadi remaja laki-laki yang sehat dan punya fisik yang sempurna. Sekarang adalah tahun terakhirnya saat masa SMA ini, tapi dia dibingungkan oleh sesuatu.


Yaitu tentang fakta bahwa ada anak perempuan yang menyukai dirinya.


"Kemarin ada seorang gadis yang menyatakan cintanya padaku," ucap Ron lagi. Ayahnya yang awalnya sibuk denga dokumen di meja kerjanya, langsung berdiri dan duduk di samping Ron.


"Lalu? Bukankah kamu memang sering mendapat pernyataan cinta? Kenapa baru bingung sekarang? Lakukan saja seperti biasa, tolak dia," ucap ayahnya datar. Memang benar bahwa Ron selalu menolak pengakuan cinta yang dia dapat. Dengan alasan bahwa dia akan mengikuti apa yang ayahnya katakan.


..."Tapi ayah, bukankah mereka yang mencintaiku, lebih bisa dimanfaatkan?"....


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!