
POV: Safa
Sudah 10 tahun semenjak aku berpisah dengan Boni. Tidak ada kabar, suratku tidak pernah sekalipun dibalas, pesanku tidak pernah tersampaikan ... aku selalu bertanya-tanya apakah dia mengganti nomor teleponnya? Semenjak aku lulus sekolah, aku langsung mencari pekerjaan dan mulai menggali informasi tentang Boni.
Tapi semuanya sia-sia, pada akhirnya ... aku tidak bisa menemukannya.
Karena itu akupun mulai fokus pada karirku sendiri, dan berhasil menjadi orang yang cukup sukses. Ya ... aku adalah influencer muda yang banyak diperhatikan di media sosial. Mungkin karena sejak dulu aku punya kebiasaan banyak berbicara, jadi aku bisa mengambil pekerjaan ini dengan serius dan hasil yang memuaskan.
Dan aku juga berharap ... bahwa semakin terkenal diriku, maka dia akan mendengar kabar tentangku, dan mulai mencariku.
Dan harapanku itu baru terkabul, setelah 10 tahun penantian. Yaitu saat aku pergi ke toko hewan karena ingin membeli seekor kucing. Hari itu ... aku masih mengingatnya dengan jelas, kami yang pertama kali bertemu setelah sekian lama.
***
"Eh ... Bo ... ni?" Aku bertanya dengan ragu-ragu pada wanita dewasa di depanku. Dia mempunya rambut hitam panjang lurus yang dibiarkan tergerai, memakai jas hitam dan celana hitam serta penampilan yang super rapi dan mengesankan. Dan yang paling kuperhatikan, adalah bola mata ungunya yang terlihat indah bagaikan kelap permata.
"Ah? ... Safa?" Perempuan itu menatapku sambil menggendong kucing kecil dengan warna bulu abu-abu yang lebat. Sungguh, jika aku masih seorang anak sekolah, aku ingin berlari dan memeluknya saat ini.
Tapi, 10 tahun bukanlah waktu yang singkat, itu adalah waktu yang sangat lama, waktu yang cukup untuk membuat seseorang menjadi asing satu sama lain. Boni segera meletakkan kucing kecil itu dan mulai membersihkan beberapa bulu kucing yang menempel di jasnya.
"Sudah lama ya? Bagaimana kabarmu? Sepertinya kita bertemu di tempat yang kurang pantas." Boni berbicara dengan nada yang sangat elegan. Aku sampai terkejut saat pertama kali mendengarnya.
Yah, tentu saja bukan ... kita sudah berubah.
"Iya, kau benar, sudah 10 tahun sejak kita terakhir bertemu. Apakah kau ada waktu luang setelah ini? Sepertinya takdir yang membawa kita untuk bertemu hari ini," ucapku dengan senyuman yang cerah, persis seperti yang kulakukan dalam pekerjaanku sebagai influencer.
"Hm, baiklah. Aku akan mereservasi restoran terlebih dahulu. Apa kau tidak masalah dijemput mobil?" tanya Boni sambil mengeluarkan ponselnya. Aku hendak protes karena dia bilang akan mereservasi restoran. Tapi aku juga memikirkan citranya nanti. Melihat dia yang memakai jas seperti ini, bisa kutebak bahwa dia telah mewarisi perusahaan ayah serta ibunya. Karena dia adalah anak tunggal, pasti kedua perusahaan itu dibebankan padanya.
"Aku tidak masalah, tapi selagi mobilnya belum datang, bagaimana kalau kita melihat-lihat kucing ini dulu?" tanyaku sambil menatap belasan kucing kecil hingga dewasa yang bermain-main di tempat ini. Boni tersenyum tipis lalu menganggukkan kepalanya, setelah itu, kami saling berjongkok dan bermain-main bersama kucing, sesekali kami juga saling berbincang tentang apa yang kami lakukan selama ini, dan apa saja yang telah kami lalui.
Tin tin!
Kami berdua menoleh ke arah mobil putih mewah yang datang menjemput kami.
"Sudah datang, ayo." Boni mengajakku. Aku segera berdiri dan mengikuti Boni dari belakang.
Uwah ... ini sedikit memalukan. Padahal Boni memakai pakaian formal, tapi aku hanya memakai pakaian bebas saja ... hari ini aku tidak ada pekerjaan, jadi aku hanya memakai kaos pink lengan pendek serta celana dengan warna putih tulang.
"Tunggu, apakah pakaianku tidak masalah? Aku tidak ada pekerjaan hari ini, jadi aku mengenakan pakaian bebas ...," ucapku dengan sedikit ragu-ragu.
Krrt.
Kaca mobil itu turun dan menunjukkan wajah sang supir yang tidak asing.
Ya. Dia adalah pak Hiro. Aku tidak menyangka dia masih terus bekerja untuk Boni hingga di umurnya yang kesekian.
"Pak Hiro benar, jangan khawatir tentang pakaianmu. Aku sudah menyewa satu restoran penuh untuk kita. Jadi kita tidak perlu memikirkan pakaian.
Atau jika kau masih canggung, bagaimana jika aku juga berganti pakaian santai? Kupikir ini akan lebih adil, lagipula aku juga sudah sesak memakai jas ini dari tadi." Boni mulai melepaskan dasinya dan jas hitamnya, menyisakan kemeja putih serta celana hitam, dan dia juga menguncir rambutnya ke belakang.
Persis seperti kebiasannya di masa lalu.
"Nah, ayo?" Boni membukakan pintu untukku, aku langsung masuk dengan malu-malu. Padahal dulu aku juga sudah pernah masuk ke mobil milik Boni, tapi kenapa rasanya canggung sekali sekarang?
Brak!
Boni menutup pintu mobilnya, dan Pak Hiro segera menjalankan mobil untuk pergi ke restoran yang sudah Boni reservasi tadi.
Sungguh ... walaupun aku pikir pendapatanku sudah tinggi sekarang, tapi pendapatan Boni lebih besar lagi ternyata. Dia bahkan sanggup menyewa restoran mewah seperti ini untuk dirinya sendiri?!
Aku menatap ke arah bangunan mewah dengan gaya klasik di depan kami parkir mobil. Pak Hiro tidak ikut turun dan lebih memilih untuk diam di dalam, sedangkan Boni sudah mengajakku untuk masuk ke dalam restoran.
"Ini ... aku tidak harus memesan menunya bukan?" tanyaku gugup. Karena sungguh ... aku tidak paham apa-apa tentang menu di restoran.
"Ah jangan khawatir. Aku sudah pesan masing-masing satu porsi. Jadi kau bisa cicipi semuanya," ucap Boni dengan senyum tanpa beban miliknya. Seketika aku iri jadi kaya.
Tak lama kemudian makanan mulai datang ke meja kami, satu persatu makanan mewah dihidangkan di depanku, yang bahkan mungkin ini hampir tidak pernah kumakan. Tapi Boni terlihat tenang seolah sudah biasa.
"Jangan khawatir, kau tidak perlu menerapkan table manner di sini, karena semua pelayan akan keluar dan hanya sisa kita saja." Boni berbicara sambil mengambil cupit lobster dengan tangan kanannya. Aku mulai melihat sekeliling, dan benar saja ... semua pelayan telah menghilang, menyisakan kami berdua di sini.
Aku mulai mengambil beberapa makanan yang menarik perhatianku di awal, dan mencicipinya satu persatu.
"Apakah hidupmu baik-baik saja? Karena kita hampir tak pernah bertukar kabar selama ini."
DEG!
Aku tidak menyangka bahwa Bonilah yang akan membawa topik ini terlebih dahulu. Padahal aku sudah menghindari topik ini sejak tadi. Aku menelan makananku dengan susah payah, lalu menatap ke arah Boni.
"Ya ... aku juga baik-baik saja. Tapi ... kenapa kau tidak pernah membalas pesanku? Nomormu juga tidak aktif," ucapku dengan nada yang sedih.
"Aku ... mempunya alasan lain.".
TBC.
Jangan lupa likenya ya guys!