Ares: Never Grow Up

Ares: Never Grow Up
Sebuah misteri!



POV: Ares


Aku dan Riot saling bertatapan, kami memandang satu sama lain dengan tatapan bingung dan heran.


"Tunggu, mereka dulunya teman?" tanyaku penasaran. Riot menganggukkan kepalanya, lalu dia segera menggenggam tanganku.


"Kita pindah tempat dulu, di sini bisa di dengar orang." Riot berucap sambil melirik ke kiri dan kanan.


Fuut.


Kami berpindah tempat, sekarang kami ada di hutan. Entah ini di hutan sebelah mana, aku tidak tau. Hanya Riot yang tahu ini berada di daerah mana.


"Jadi! Cerita seperti apa yang kau dengar?!" tanya Riot antusias sambil menatap mataku. Dia mendekatkan wajahnya ke arahku sambil menatapku dengan mata berbinar.


"Begini, dari cerita yang kutahu ... mereka hanya mengatakan bahwa Boni dan Safa hanyalah orang asing yang kebetulan punya perbedaan pendapat, begitu," ucapku menjelaskan pada Riot, dia menganggukkan kepalanya beberapa kali lalu ganti bercerita.


"Kalau aku ... ini dari cerita orang yang menculikku. Dia bilang bahwa Boni dan Safa dulunya adalah teman dekat, mereka bahkan bisa dibilang sahabat. Tapi karena salah satu dari mereka punya sifat serakah akan kekuasaan dan kekuatan, jadi ada pertikaian," jelas Riot padaku. Aku terdiam sesaat untuk mencerna perkataan Riot. Jika kudengarkan lagi, sepertinya ada bagian yang janggal.


"Penculikmu? Apa dia tidak menyebutkan nama siapa yang haus kekuasaan?" tanyaku untuk memastikan. Riot menggelengkan kepala sambil tersenyum.


"Sudahlah ... ini tidak akan terselesaikan jika kita hanya diam dan berpikir. Kita harus melengkapi petunjuknya," ucapku pada akhirnya. Mataku melihat ke arah langit pagi yang biru, dengan sedikit awan gelap yang mulai berkumpul. Bau udara yang basah juga masih tercium, dalam hati ... aku menduga bahwa hari ini akan turun hujan.


***


POV: Vani


Trak trarak! Tring!


Aku sedang menginap di rumah orang tak kukenal sekarang. Yah ... aku bersyukur bahwa dia adalah orang yang baik. Maksudku, dia bukanlah orang yang perhitungan. Dia membiarkanku tidur di sini, bahkan menyiapkan makanan untukku.


Sekarang aku sedang membantunya untuk mencuci piring, bekas kami makan tadi. Anak yang menolongku tadi malam ... dia bernama Elly. Kekuatannya mirip dengan Ares, yaitu terbang. Mungkin sekarang dia masih tertidur setelah sarapan, jadi aku terjaga seorang diri di sini.


Walaupun aku masih mengantuk, tapi aku tidak bisa tidur. Percakapan kami tadi malam, memberi kesan kuat di otakku. Bahkan sampai sekarang aku masih kepikiran hal itu.


***


FLASHBACK


Aku dibawa terbang oleh Elly, setelah dia mengajakku untuk menginap di rumahnya. Tentu saja pada awalnya aku menolak, dan memilih untuk duduk di sini, menunggu hingga Ares dan yang lainnya kembali. Tapi Elly bersikeras untuk membawaku pulang, dia berkata ... ada sesuatu yang ingin dia ceritakan padaku.


"Kau tidak kelihatan takut saat kubawa terbang, apa kau sudah pernah merasakan hal ini sebelumnya?" tanya Elly saat melihatku yang biasa saja walaupun terbang di atas langit. Aku tersenyum kikuk lalu menganggukkan kepala, karena Ares bahkan sudah pernah mengajakku terbang seperti roket di udara.


"Kau benar, kemampuanmu ini mirip dengan temanku. Jadi aku sudah terbiasa dibawa terbang olehnya," jelasku sambil melihat atap-atap rumah yang gelap. Elly hanya tertawa kecil lalu segera terbang lebih rendah. Sepertinya kita akan segera sampai di rumahnya.


"Masuklah, anggap saja rumah sendiri!" ucap Elly dengan sangat ramah. Aku tersenyum lalu mengangguk, walaupun aku agak ragu untuk melangkah masuk ... karena kakiku yang sangat kotor. Seakan paham dengan raut wajahku yang agak ragu, Elly segera menggandeng tanganku dan menarikku masuk ke dalam rumahnya.


"Tidak apa-apa! Kalau kotor aku masih bisa mengepelnya nanti!" ucap Elly sambil menuntunku ke arah sofa. Aku duduk di sofa dengan perlahan, lalu menatap ke arah Elly yang sibuk membereskan barang-barangnya.


"Ngomong-ngomong ... rumah-rumah di sini masih banyak yang utuh ya?" tanyaku sambil mengingat bahwa masih ada cukup banyak rumah yang utuh. Berbeda dengan kota yang selama ini kami lewati, pasti banyak gedung yang hancur atau bahkan sudah tidak berbentuk.


"... Dulu juga ... banyak yang hancur. Tapi sekarang sudah dibangun kembali," ucap Elly dengan tatapan yang sulit diartikan. Setelah cukup lama dia berberes rumah, akhirnya dia selesai lalu duduk di depanku.


"Jadi ... apa kau mau mendengar ceritanya?" tanya Elly dengan ekspresi serius. Aku mengangguk dengan semangat, walaupun aku sekarang sangat mengantuk sampai ingin tertidur saja rasanya, tapi hatiku sangat penasaran sampai rasa kantukku terkalahkan.


"Kau pasti sudah pernah dengar nama Boni bukan? Atau bahkan kau sudah pernah bertemu dengannya," ucap Elly dengan tatapan mata yang sendu. Aku mengangguk perlahan, menyimak apa yang akan dia katakan selanjutnya.


"Banyak orang yang menganggap Boni sebagai pahlawan, karena dia menyelamatkan kota ini dari kehancuran oleh Safa.


Padahal menurutku tidak seperti itu.


Kalau memang Boni adalah penyelamat kita semua ... kenapa dia malah membohongi kita tentang apa itu 'tittle'? Kalau memang Boni itu baik, apa ada alasan dia harus menempatkan banyak boneka di setiap sudut kota ini?


Semua tindakannya memang masuk akal jika dibilang untuk keamanan. Itu pasti yang orang lain pikirkan, tapi aku tidak seperti itu. Boneka yang dia taruh di setiap sudut kota, bukan hanya berfungsi sebagai pengaman jalan saja.


Bonekanya juga berfungsi sebagai mata dan telinga Boni, karena semua yang boneka itu dengan dan lihat. Maka Boni juga akan tahu tentang apa yang terjadi di tempat itu.


Tapi kebanyakan orang hanya menganggap hal ini sepele, dan malah berkata 'dia melakukan hal ini demi keamanan, agar tidak ada pemberontakan di dalam kota ini'. Entah mereka bodoh atau bagaimana, tapi hal ini sudah tidak normal.


Dengan mengatasnamakan keadilan, Boni merusak privasi masyarakat. Mungkin kau tidak tau karena kau adalah pendatang baru, tapi Boni selama ini juga selalu,-" ucapan Elly kupotong, aku menutup mulutnya dengan tangan kananku. Mataku menatapnya tajam, karena aku curiga padanya.


"Aku ke sini untuk sepakat mendengar ceritamu. Bukan mendengar hasutan omong kosongnya," kecamku dingin pada Elly. Aku tau ini terdengar kejam, tapi aku tidak ingin terlibat dalam konflik pemberontakan internal kota ini.


Aku yakin Ares dan yang lainnya juga sependapat. Kami di sini hanya ingin numpang lewat, begitu juga tentang apa yang seharusnya kami lakukan.


Yaitu tidak ikut campur terhadap konflik kota ini.


"Apa? Tapi ini sungguhan!" Elly masih bersikeras untuk menghasutku.


"Haaah! Dengarkan aku, kami tidak akan terlibat dalam konflik kota kalian."


TBC.


Jangan lupa likenya ya guys!