
"Jangan khawatir, kami juga sudah menyiapkan panggung untukmu."
FUUT!
***
POV: Author
BRUK!
Seorang anak laki-laki dengan jaket hijau yang sudah sedikit sobek, terjatuh di area pembuangan sampah. Dia adalah Renox, salah satu bawahan Jake yang sudah dipindahkan oleh kekuatan Riot.
"Tck, sial! Aku lengah. Anak berambut biru itu ternyata punya kekuatan untuk memindahkan benda." Dia berdecak kesal sambil membersihkan lutut serta bagian belakang tubuhnya.
"Lama tidak bertemu, Renox."
WHUS!
Begitu mendengar suara seseorang, Renox dengan sigap membalikkan badan dan mengarahkan telapak tangannya ke arah sumber suara itu.
SRING!
DUUUAAARRR!"
Sebilah pedang bertemu dengan ledakan milik Renox. Ledakan super kuat itu membuat tanah bergetar dan mengeluarkan angin yang kuat. Debu-debu mulai berterbangan hingga menipiskan pandangan, Renox yang bingung siapa orang yang menyerangnya, baru bisa melihat setelah gumpalan debu ini mereda.
Itu adalah Rafleo.
Mereka berdua sama-sama berambut pirang, namun bedanya Rafleo memiliki mata hijau, sedangkan Renox berwarna kuning. Rafleo memegang sebilah pedang yang cukup panjang dan berkilauan cahaya.
"Rafleo! Apa kau merekrut orang lagi?!" teriak Renox dengan sorot mata kemarahan.
DUAGH!
Renox menendang pedang Rafleo, membuat keduanya terdorong mundur.
TRANGGG!!
Rafleo menahan dorongan di tubuhnya dengan menancapkan ujung pedangnya ke tanah, sedangkan Renox menahan tubuhnya dengan menggunakan kedua kakinya.
"Merekrut orang? Untuk apa aku melakukan hal itu?" Rafleo mencabut pedangnya dari tanah lalu bersiap untuk mengayunkannya lagi.
"... Mereka adalah anak-anak yang baru masuk ke kota ini bukan?" tanya Renox sambil memicingkan matanya.
"Ya. Kami akan ... mengembalikan apa yang seharusnya jadi hak kota ini." Rafleo menjawab dengan tatapan mata yang tegas.
"HAHAHAHAHA! BAGUS! TUNJUKAN PADAKU! KEADILAN TUMPUL MILIKMU ITU!" Renox langsung melesat maju kembali, kedua tangannya berubah menjadi merah dan mengeluarkan hawa panas yang luar biasa.
Seperti besi yang sengaja dimasukkan ke dalam perapian.
CRING!!
Di sisi lain, pedang Rafleo bersinar semakin terang. Rafleo juga sudah siap dengan posisi bertahan dengan pedang yang ada di depan tubuhnya.
SYUNGG!
Rafleo mengayunkan pedangnya saat Renox sudah berada 5 meter di depannya, ayunan pedang Rafleo menimbulkan sebuah efek kilatan cahaya yang membuat benda di depannya langsung terkena luka bakar dan sengatan listrik.
DUARRR!
Renox yang memang sudah gila bertarung, dengan akalnya dia menaruh tangannya di atas permukaan tanah sebelum kilatan cahaya itu mengenainya. Dari tempat yang disentuhnya muncul ledakan kuat yang membuat Renox terpental ke atas, hal ini membuatnya terhindar dari serangan Rafleo.
"Apa kau sungguh akan berada di atas?" Rafleo memposisikan ujung pedangnya seolah sedang membidik dengan tombak.
WHUNG!
Rafleo melemparkan pedangnya ke arah Renox dengan kecepatan tinggi, Renox dengan tenang menepuk kedua tangannya dan menghasilkan ledakan lagi.
DUARRR!
Karena ledakan itu, Renox bisa menghindar walaupun dia sedang melayang di udara.
Sial! Dia memanfaatkan kekuatannya dengan sangat lihai!,-batin Rafleo.
SRING! SRING! SRING!
Tiga buah pedang yang serupa muncul di sisi kanan, kiri, serta depan tubuh Rafleo. Ketiga pedang itu melesat maju ke arah Renox.
"Heh! Kau kira ini permainan anak-anak? Biar kutunjukkan bagaimana caranya bertarung yang benar!" Renox meletakkan kedua tangannya di tanah.
DUARRR!
Ledakan terjadi lagi namun tidak menimbulkan asap. Ternyata Renox sengaja meledakkan tanah itu agar permukaan tanahnya pecah dan bisa terangkat oleh ledakan.
Dengan cepat Renox mengangkat serpihan tanah yang cukup besar itu dan membuatnya sebagai tameng.
JREB JREB JREB!
Ketiga pedang itu menancap di tameng tanah yang Renox buat tadi.
"Ayo kita buat lebih seru~" dari balik bayangan, Renox terlihat menjilat bibir bagian atasnya, seolah menikmati pertarungan ini.
TAP!
DUAR! DUAR DUAR! DUAR!
Renox mendekat ke arah Rafleo dengan kecepatan tinggi berkat kekuatan ledakannya. Dia bergerak layaknya binatang merangkak dengan kedua tangan yang menyentuh tanah dan langsung meledak.
Rafleo yang tidak bersiaga, hanya bisa membuat satu pedang tidak sempurna untuk menahan serangan Renox.
SRING!
DUUAAAR! TRANGG! DUAR DUAR DUAR!
Tanpa ampun Renox mengayunkan telapak tangannya ke arah tubuh Rafleo, yang untungnya Rafleo masih bisa menangkisnya dengan pedang.
PRAAANGGG!
Pedang dari Rafleo patah karena masih belum terbentuk sempurna dan gempuran tanpa ampun dari Renox.
"Hihihi~ game over~."
Telapak tangan Renox sudah ada di depan wajah Rafleo, sekali wajah Rafleo tersentuh, maka Rafleo akan mati.
FUUT!
"Game over? Ini baru saja dimulai."
CRINGGGG!
DUUUAAAGHHH!
Sebuah cahaya terang tiba-tiba muncul dari tubuh Rafleo. Cahaya itu mendorong Renox yang hampir menyentuhnya hingga dia terpental ke belakang.
Brukk!
Renox yang terjatuh segera berdiri lagi, matanya menatap ke arah sesosok anak laki-laki dengan rambut pirang ... tapi dengan warna mata yang berbeda.
Mata kanannya berwarna hijau, dan mata kirinya berwarna merah.
"Kekuatanku adalah Wanderer of Justice, sang pengembara keadilan.
Sisi buruk, satu per empat, mata kehancuran."
Rafleo berjalan maju memecah cahaya yang mulai meredup, mata kirinya yang berwarna merah memancarkan aura merah kegelapan. Pedangnya yang awalnya penuh dengan cahaya, kini dipenuhi dengan aura itu bahkan bentuknya berubah menjadi menyeramkan.
"Nah. Kau benar, ayo hentikan permainan anak-anak ini. Majulah!"
SRING!
Rafleo sudah siap dengan pedangnya. Di sisi lain, Renox tengah menyeringai penuh semangat, dia meregangkan otot bahu dan lehernya hingga menimbulkan bunyi layaknya ranting yang patah.
TAP!
DUAR DUAR DUAR DUAR!
Seperti sebelumnya, pergerakan Renox jadi lebih cepat karena dia menggunakan tenaga dorong ledakan dari tangannya. Kalau begitu ...
Ayo kita hancurkan pijakannya!,-batin Rafleo.
Rafleo mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ke udara.
"Kekuatan mata kehancuran, energi iblis!"
BLARRR!
Tiba-tiba pedang Rafleo menjadi sangat besar, 5 kali lebih besar daripada tubuh Rafleo. Dalam hitungan detik, Rafleo mengayunkan pedangnya itu ke atas permukaan tanah.
DDDUUUUUAAARRRR!
KREK KRETEK KRETEK KRAKKK!
Ledakan super kuat terjadi! Bahkan seluruh tempat ini rasanya terkena gempa! Pijakan tanah yang harusnya rata, kini jadi bergejolak tak imbang akibat tekanan dari pedang Rafleo.
Whyutt!
Pedang Rafleo menyusut lagi, kini pandangannya tertuju pada Renox yang masih berjongkok pada salah satu serpihan tanah yang miring.
"Hihihi! Kau cukup pintar! Tapi bagaimana kau bisa mengatasi yang setelahnya?" Renox mencengkram erat pecahan tanah yang sangat besar di depannya lalu melemparkannya ke atas.
TAP!
Renox langsung ikut melompat dan memegang pecahan tanah itu.
DUAR!
PRULLL!
Pecahan tanah itu pecah lagi menjadi serpihan yang lebih kecil dan sangat banyak. Tidak berhenti sampai di situ, Renox melakukan hal yang sama setiap kali dia bergerak, membuat area ini seperti terkena hujan pecahan tanah.
Aku tidak bisa melihatnya!,-batin Rafleo.
WHUS!
"Di belakang?"
SYUTT!
Rafleo spontan membungkukkan tubuhnya untuk menghindari tangan Renox yang tiba-tiba sudah ada di belakangnya.
Srek.
Rafleo tidak menyerah. Dia mengeratkan pegangannya pada pedang miliknya, lalu mengayunkannya secara horizontal ke belakang dari posisinya yang masih membungkuk.
Renox juga masih memiliki reflek yang bagus, dia langsung mendongak dan membengkokkan tubuhnya agar tidak terkena ayunan pedang Rafleo.
BLAR!
Rafleo menyalakan kekuatannya lagi.
WHUSS!
Pedangnya langsung berubah menjadi besar, karena hal ini Renox mau tidak mau harus menyentuh pedang Rafleo.
BZZZT!
DDUUUUAAAARRR!
TBC.