
(After pt 2)
.
.
.
.
.
"Kiw kiw udah nggak jomblo nih ye." Goda Dio kepada sahabat dekatnya itu. Dio lah yang tau bagaimana usaha Noah mendapatkan Alice. Bahkan Dio sering menjadi mak comblang antara kedua manusia beda jenis yang kini telah resmi menjadi sepasang suami istri.
"Nggak usah ngeledek deh. Lo kapan nyusul?" Balas Noah.
"Belom tau, nungguin adeknya Gathan aja dah gue." Jawab Dio sambil mengedikkan bahu.
"Ha? Yang bener aja, serius adiknya Gathan?" Seru Noah tak percaya. Ia tak menyangka jika diam-diam sahabatnya itu menaruh hati kepada adik sepupunya.
"Hehe, ya gimana ya. Tu anak udah sukses memporak porandakan hati mungil gue, haha. Anaknya juga kalem, sukak deh." Ucap Dio. Tatapan pria itu tertuju pada seorang gadis manis yang tengah duduk bersenda gurau dengan teman-teman sebayanya yang turut menghadiri acara.
"Umur kalian lumayan jauh juga jaraknya, yakin nih?" Balas Noah mencoba menguji kesungguhan Dio.
"Brother, umur itu cuma angka, plis deh." Jawab Dio memutar bola matanya malas.
"Suka nih yang kayak gini, lakik sekali." Ucap Noah sambil tertawa kecil.
"Dah lah gue mau nyari asupan. Btw langgeng ya buat kalian berdua, semoga sakinah mawadah warahmah. Untuk kado, ini khusus untuk pengantin pria hehe." Dio nampak menyelipkan sesuatu dibalik saku jas yang Noah kenakan.
Yang tau diem.
___________
"Capek?" Tanya Noah penuh perhatian sambil memijat tungkai kaki Alice. Wanita itu menganggukan kepalanya membenarkan ucapan suami nya.
"Nanti malem langsung istirahat aja ya." Kata Noah lagi.
"Emang ntar malem masih ada acara, ya?" Balas Alice bertanya.
Seketika lidah Noah langsung terasa kelu untuk menjawab pertanyaan Alice, pria itu menggaruk kepala bingung dengan apa yang ia katakan. "Emm, enggak ada sih. Makanya aku bilang, ntar malem langsung tidur aja." Katanya. Alice kembali menganggukan kepalanya sebagai balasan.
"Nonoo, mau foto lagi sama kakak yang lain." Pinta Luna yang kini telah duduk diantara kedua mempelai pengantin.
"Lagi?" Luna menganggukan kepalanya dengan antusias. Tak lama setelah itu para sepupu dan saudara-saudara mereka ikut merapat untuk melangsungkan sesi foto bersama pasangan pengantin baru.
"Ih Aakash mau duduk ditengah loh, lala gantian dong." Protes si bungsu dari tiga kembar bersaudara anaknya Pak Satya dan Mbak Teressa.
"Enggak, Lala mau duduk ditengah biar kecantikan Lala kelihatan di kamera." Tolak gadis itu.
"Bunda, mau duduk ditengah bun." Adu Aakash kepada sang bunda sambil menunjuk kakak kembarannya.
"Adek duduk dimana aja, yang penting kelihatan sayang." Ucap Teressa.
"Udah sini, duduk sama Lala. Kalian kan saudara, jangan berantem ya." Lerai Noah sambil menarik tangan adiknya agar mau duduk ditengah-tengah bersama Luna.
"Satu, dua, ti,,,"
Cekrek
Cekrek
___________
Waktu terus berlalu, siang telah menjadi malam. Acara resepsi pernikahan Noah juga telah usai sore tadi. Kini kediaman Satya masih ramai beberapa sanak saudara dekat.
"Nande nande."
"Gambare-gambare."
"BAKA."
"Rawrrr."
Rumah besar itu terdengar sangat ramai dengan anak-anak yang tengah berkumpul dan bermain bersama. Rasa penat mereka sepertinya lenyap setelah mereka bisa bermain bersama dengan puas.
"Capek, laper, pengen makan bunda." Adu Aakash kepada sang bunda. Teressa menggelengkan kepalanya pelan, si bungsu memang sangat aktif. Diusaplah peluh yang membanjiri kening anak itu.
"Tunggu sebentar ya, Kak Noah sama Kak Alice belum turun sayang." Ucap Teressa.
Aakash memanyunkan bibirnya, "Sebel deh bikin orang nunggu lama."
"Mau lihat anaknya Mas Adi ah." Ucap Aakash. Anak itu menghampiri keluarga kecil Adi yang turut hadir disana. Bayi tampan bernama Rex itu menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Kamu ganteng sekali, tapi lebih ganteng aku sih." Ucapnya dengan pede. Tangan jahilnya sibuk menjawil pipi bulat anak Adi tersebut. Tak disangka bayi gembul itu malah menangis kencang karena perlakuan Aakash. Panik, itulah yang dirasakan Aakash saat ini. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, sekarang ia menjadi tersangka!
"Eee, tbl tbl. Takut banget loh." Guman Aakash pelan.
Tak lama setelah itu anak itu memilih kabur dan berlari terbirit-birit menjauh dari sana sebelum bunda nya mengomelinya habis-habisan.
"Anakmu mas, kelakuannya." Decak Teressa mengadu pada suaminya.
"Anak kita sayang." ralat Satya. Teressa mendengus kesal, wanita itu memilih mendekat pada istri Adi dan turut serta menenangkan bayi tampan yang menangis karena ulah putranya.
Sedangkan didalam kamarnya, Noah masih sibuk bersiap-siap dengan sang istri.
"Ayo turun kak." Ajak Alice.
"'Sebentar, rambut kamu masih basah. Keringin dulu, nanti baju kamu ikut basah terus masuk angin lagi." Ujar Noah menahan istrinya
"Tapi ntar kelamaan ditungguin yang lain dibawah." Ujar Alice merasa tak enak.
"Sebentar doang, nggak ada sepuluh menit." Dengan gerakan lincah Noah mengambil hairdryer dan membantu mengeringkan rambut Alice.
"Udah, Kak?" Tanya Alice.
"Mau digerai apa diiket?" Tanya Noah.
"Diiket aja, biar simple." Tak hanya membantu Alice mengeringkan rambut nya, Noah juga membantu Alice untuk mengikat rambutnya.
"Udah." Kata Noah. Keduanya memperhatikan hasil ikatan Noah melalui pantulan cermin. Noah menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, menurutnya tidak terlalu buruk untuk pemula.
"Jelek ya?" Dengan cepat Alice menggelengkan kepalanya, "Bagus kok udah." Jawab Alice.
"Makasih ya." Ucap Alice dengan tulus.
"Sama-sama." Balas Noah.
Keduanya segera turun ke bawah dan ikut bergabung anggota keluarga yang lain untuk melangsungkan acara makan malam bersama.
____________
TBC
Halo, btw anyway busway sekedar info. When saya ngasih pengumuman tapi menurut kalian g terlalu penting, kalian bisa skip n saya g maksa buat baca. Saya orangnya memang suka ngusut info sampe detail, jadi untuk selanjutnya kalian nggak usah herman,kaget,tekejot, apalagi sampe semaput.
Terima kasih.
Salam kenal, ciloklovers.