
(Satya &Teressa)
.
.
.
.
.
Masih dengan keluarga Bang Sat. Siang Teressa memutuskan untuk menemani suaminya bekerja, rencananya mereka akan pulang ke rumah bersama-sama nanti sore.
Karena Teressa juga gabut, akhirnya wanita itu memilih membantu suaminya memeriksa beberapa berkas kantor. Ia menjadi teringat awal kisah nya dengan Satya terbangun.
Untuk Noah, sebelumnya pemuda itu tadi menemani adiknya untuk tidur siang. Namun ketika sang monster cilik mulai bangun, mau tak mau ia harus beralih profesi menjadi baby brother . Saat ini diketahui mereka tengah jalan-jalan mencari jajanan keluar.
"Noah sama Al kok belum balik ya?" Guman Satya penasaran. Padahal tadi pamitnya cuma mau beli es krim loh.
Tenang Bang Sat, Noah itu anak lakik bukan anak perawan yang musti dipantau pergerakannya!
"Emang kenapa mas?" Ucap Teressa balik bertanya.
"Nggak sih, mas cuma pengen icip-icip jajan mereka aja." Jawab Satya dengan lempengnya. Teressa geleng-geleng kepala, kelakuan suaminya tak jauh dengan baby Allister.
...Pap dulu ke bunda~...
Yang dikatakan hanya membeli es krim tak benar adanya. Segala macam snack makanan ringan Noah angkut ke dalam keranjang troli karena keinginan adik nya.
"Udah ya, ini udah banyak loh dek." Kata Noah membujuk Allister agar bocah itu berhenti menunjuk rak-rak jajanan.
"Eess. "
Belanjaan terakhir jatuh pada pilihan es krim, Noah mengambil salah satu merek es krim dengan ukuran jumbo. Setelah mendapatkan semua makanan yang dibutuhkan, Noah memutuskan untuk kembali ke kantor ayahnya.
"Jangan lari-lari, nanti ja-"
Brughh
Tubuh kecil baby Allister langsung ambruk di tanah sebelum Noah meneruskan kalimatnya.
Sejak dari tempat belanjaan tadi, Allister begitu ngotot untuk membantu kakaknya membawa barang belanjaan nya tadi. Noah pun memasukan beberapa barang belanjaannya kedalam dua kantung plastik agar Allister tidak keberatan.
"Nggak papa kan?" Tanya Noah usai membantu Allister berdiri.
Baby Allister nampak menahan tangisnya dengan mata berkaca-kaca. "Atit No." keluhnya sambil mengusap pipinya yang habis mencium tanah.
Noah segera mengangkat tubuh mungil adiknya, pemuda itu menggendong baby Allister sambil menenangkan bocah itu nya agar tidak menangis. "Cup cup ya, jangan nangis nanti mamam es krim yang banyak."
"Yaa hiks,,,"
_______________
"Hei calon penghuni surga, kalian dari mana aja sih?" Tanya Satya saat melihat kedua putranya baru masuk ke dalam ruangannya.
"Jajan yah." Jawab Noah seadanya. Pemuda itu menurunkan tubuh adiknya diatas pangkuan sang bunda. Kemudian meletakkan belanjaan mereka diatas meja marmer disana.
Satya pun ikut nimbrung dengan istri dan anak-anaknya yang duduk disofa. Sebenarnya ada niat terselubung yang Satya rencanakan, yaitu mengeksekusi jajanan yang Noah bawa
"Ayah liat ya, belanja apa sih kalian."
Dengan terampil, tangan Satya mengobrak abrik isi kantung plastik itu. Ia dapat menemukan banyak sekali makanan ringan, dan minuman dingin disana. Ah, lidahnya sudah siap mencicipinya ternyata.
"Minta satu ya." Keripik kentang itu sudah meluncur ke mulut Satya. Dalam hitungan menit, satu kemasan itu sudah habis ia telan.
"Ini kayaknya rasa kerbau bakar deh, kalian pasti nggak suka. Ayah makan aja ya." Lagi-lagi Satya begitu menikmati snack itu dengan santai, bahkan saking nikmatnya rasa daging kerbau bakar itu, Satya sampai dibuat geleng-geleng kepala.
Satya bahkan tak sadar jika dirinya kini tengah menjadi tontonan istri dan anak-anaknya. Mungkin mereka heran, Satya kesambet apa sih?
"Hm, kamu mau No? Nih, aaaa,,," Satya memasukkan keripik kentang ke dalam mulut Noah, dan hal itu sukses membuat kulkas dua belas pintu itu bungkam.
"Mas itu punya adek loh, jangan dihabisin. Ngambek sama kamu ntar." Tegur Teressa dengan lemah lembut.
"Sini, kamu aaakk juga sini."
"Bocil mau sekalian nggak? Eh nggak boleh ya, kan giginya baru tumbuh satu." Satya memang menyatakan kebenaran, tapi nadanya juga seperti tengah meledek baby Allister.
"Esyu."
Semua terdiam mendengar satu kata terucap dari bibir suci baby Allister.
Satya membelalakan matanya, "Hii bocil siapa yang ngajarin ngomong kayak gitu, hm? Bocil tau dosa nggak, kalo dosanya banyak ntar masuk neraka. Astagfirullah bocil, ish ish ish. Jangan begitu ya lain kali, berdosa men!"
"Esyu ndaa."
Satya melirik istrinya, antisipasi kalau dirinya akan disalahkan oleh istrinya. "Aku nggak tau apa-apa loh ya, jangan sebut-sebut nama aku."
"Maksud adek bukan itu yah, dia nanya es krimnya mana. Orang adek bilang es ku." Kata Noah menerjemahkan bahasa adiknya. Allister mengangguk-angguk, kemudian memeluk tubuh kakaknya dengan bangga.
"Oh kirain, es krim bocil yang mana? Yang seember ini? Apa yang kecil-kecil ini? Pasti yang kecil-kecil ya, yang gede pasti buat ayah, ya kan." Sebelum Satya mengangkut ember es krim tersebut, baby Allister sudah memeluknya terlebih dahulu. Seolah berkata bahwa itu adalah es krim miliknya!
...Tenang, cuma 8 liter kok. Paling ntar lambung beku....
"Ganteng bagi dikit ya, ayah icip-icip doang kok. Yuk sini yuk ayah bukain." Bujuk Satya dengan semua rayuan maut nya. Namun baby Allister tetap keukeuh mempertahankan hak miliknya.
"Yah nii." (Ayah ini) Allister menyerahkan satu bungkus es krim stik kepada ayahnya. Walaupun Satya masih tak terima, ia tetap memakan es krim itu sambil mengoceh.
Setelah itu Allister juga memberikan es krim lainnya kepada Bunda dan kakaknya, namun rasa dan ukurannya lebih baik daripada punya Satya.
"Nggak enak ah, pait. Mau nyoba yang ini aja deh, dikit aja. Boleh ya."
Allister merengut, ayahnya itu benar-benar tak tau diri. Sudah dikasih jantung malah minta hati.
"Ndaaa."
Allister mengadu pada sang bunda karena ayahnya terus mengusik es krim miliknya.
"Mas Satya udah ih, jangan rebutan sama adek." Tegur Teressa.
"Mas belum pernah coba yang ini tau, yang. Icip dikit aja, dikit aja itu loh sepucuk sendok juga nggak papa demi alek."
"Aaaaaaa,,,," Allister menjerit saat es krimnya mencoba direbut oleh ayahnya. Dan terjadilah adegan tarik menarik yang tentu sudah diketahui siapa pemenangnya.
"Damai aja gimana, auranya udah beda soalnya." Kata Satya yang sebenarnya ketakutan melihat tatapan tajam dari sang istri.
"Amai, al mam uyu." (Damai, Al makan dulu) Satya mengangguk, dengan sabar ia menunggu gilirannya makan es krim setelah Allister menyendok pada suapan pertama.
Ah, gerakan bocah itu sangat lambat, dan Satya sudah tidak sabar.
Teressa akhirnya menyuapi Allister dengan porsi sedikit, bahkan sangat sedikit. Seharusnya Allister belum boleh makan es krim, tapi karena terlampau ingin mencoba, akhirnya Teressa memperbolehkan nya, namun dalam jumlah sedikit. Kandungan gula pada es krim begitu banyak, dan bisa jadi ada pengawet nya juga.
"Agi ndaa." (Lagi, ndaa)
"Es krim nya udah ya, buat besok lagi. Sekarang mending mamam biskuit aja biar sehat." Kata Teressa pada putranya.
"Hat ndaa." (Sehat, ndaa)
"Iya sehat sayang, anak ganteng harus sehat ya."
"Yah eyek!" (Ayah jelek!)
"Hooh, Ayah tuh jelek, burik, duh pokoknya jangan ditiru deh. Orang jelek mau makan es krim nih!" seru Satya. Yang terpenting Satya bisa mengeksekusi es krim itu tanpa gangguan apa pun. Ia akan berterima kasih kepada istrinya setelah ini, karena istri nya lah ia bisa makan es krim banyak-banyak.
______________
TBC.