AFTER

AFTER
Eps 66



(Noah part)


.


.


.


.


.


Mobil yang dikendarai Noah masih melaju membelah jalanan kota yang suasananya sangat ramai.


"Kalian mau makan dimana?" tanya Noah pada ketiga tuyul Bu Ghea. Di jok belakang ada Alice yang duduk paling ujung dekat jendela, disusul Ghavi ditengah, dan diujung sisi lainnya ada Gathan. Untuk yang bertanya dimana bocah ajaib alias Gheva, bocah itu anteng dipangkuan Alice.


Yah sebenernya tulang Alice terasa remuk redam saat memangku tubuh bocah tujuh tahun itu. Gheva tujuh tahun kan? Seinget saya sih segitu.


Namun Alice tak mempermasalahkan hal itu. Selama bocil nyaman, ia pun tak melarang. Dengan posisi nemplok seperti koala, Gheva bisa terlelap dalam dekapan Alice.


Mau heran, tapi itu Gheva.


"Gheva? Gathan? Ghavi?" Noah mengancam ketiga adiknya yang tak memberikan sahutan.


"Molor, bro." kata Dio usai menengok ke belakang. Noah melihat dari kaca yang terletak diatasnya, mereka benar-benar terlelap.


Gathan terlelap dengan menyandarkan kepalanya didekat kaca jendela. Ghavi memejamkan mata dengan kedua tangan yang memegang erat cilok nya yang masih tersisa, juga es yang dibelikan Gathan tadi, dan anehnya anak itu tidur dengan tubuh tegak, jajan nya pun tak tumpah, tetap dalam genggamannya. Benar-benar diluar batas nalar!


Dan untuk Alice dan Ghavi, keduanya tidur dengan saling memeluk. Pintar sekali Gheva!


"Terus kita kemana, masa muter-muter dulu." ucap Noah.


"Ya jangan lah. Gue kebelet pipis ini, mampir ke mana kek yang ada kamar mandinya. Udah diujung soalnya." Dio meringis kecil menahan pipis yang terasa diujung anu.


Noah langsung menginjak pedal gas nya, melajukan mobilnya munuju suatu tempat yang ada kamar mandinya.


"Mommy,,,,,"


Rengekan itu langsung membuat semuanya menatap pada sang pemilik suara. Terlihat Gheva seperti menggeliat kecil didalam dekapan Alice.


"Gepa mau mimi,,, hiks,,,,"


Cittt


Astaga demi molor ijo ayah Juan, Noah nggak salah denger kan? Pemuda itu mengerem mobilnya secara mendadak membuat penumpang mobilnya terkejut, bahkan sampai terbangun semuanya.


"Kenapa sih, No?" seru Dio sambil mengusap-usap dadanya karena ikut terkejut.


"Nggak. Kalian nggak papa?" tanya Noah pada penumpangnya Di jok belakang. Gheva dan Gathan kompak menggelengkan kepalanya, sedangkan Alice masih mengumpulkan nyawanya.


"Mommy aaaaaaa,,,,, mau mimi hiks,,,"


Dan Alice mengeryit saat merasakan tangan kecil itu meraba kancing bajunya. "Eh?"


"Itu bukan mommy, GHEVA!" Seru Ghavi mencegah kelakuan brutal adiknya.


"Bukan mommy ya? yaudah nggak jadi." Gheva menghentikan aksinya, kemudian kembali menyandarkan kepalanya didada Alice, bocah itu kembali tidur!


Astaga bocah ini! Jantung Noah terasa akan meledak tadi.


Eh kenapa Noah yang panik? Oh mungkin,,,,


"Ghavi, kamu mau makan dimana?" tanya Noah lagi.


Bocah itu hanya menjawab 'terserah'


"Mekdi ya! Gepa pengen makan paha kak Ghavi!" Tidur saja masih bisa berbicara, Gheva memang beda dari yang lain.


Oke kita pergi ke Mekdi.


__________


Disinilah mereka berada, ditaman bermain anak-anak. Usai dari tempat makan tadi sebenarnya mereka akan langsung pulang. Namun ditengah perjalanan Gheva merengek saat melihat banyaknya wahana anak-anak disebuah taman yang tadi mereka lewati.


"Oke kali ini boleh main, tapi jam empat harus udah selesai. Ini udah sore, nanti kalian dicariin tante Ghea." Pesan Noah sebelum tiga tuyul itu melarikan diri ke tempat permainan.


"Nggak mau sama kakak Ghavi, mau sama kakak cantik aja." seru Gheva yang membuat Ghavi menggerutu sebal. Alhasil ia meninggalkan permainan jungkat-jungkit itu, beralih pada ayunan yang ada disana.


"Kenapa nggak sama kak Ghavi aja, nanti kamu mental kalo lawan kak Alice." tegur Gathan pada adik keduanya itu.


"Yaudah sama kak Gapi sini!" Gathan menyuruh Ghavi untuk ikut bergabung bermain dengan Gheva. Dengan malas Ghavi menghampiri adik bawelnya itu. Kalau saja bukan Gathan yang menyuruh, malas sekali ia bermain dengan Gheva si biang rusuh.


"Mainnya bareng-bareng jangan berantem, kakak liatin disana. Kalo ketahuan berantem, bakal kakak aduin ke mommy biar kalian nggak boleh keluar dan main lagi." Seketika Ghavi dan Gheva bermain jungkat-jungkit itu dengan akur. Seperti sangat menikmati permainan tanpa ada perasaan dongkol satu sama lain.


Biasanya yang Alice temui adalah kakak kakak yang malas mengurus adiknya. Dan biasanya lalai dan teledor itulah memicu faktor hal yang tak diinginkan.


"Gathan, nggak ikut main?" tanya Alice yang kini ikut duduk diayunan ganda disamping Gathan.


Anak itu menggelengkan kepalanya, "Nggak, jagain adik aja ntar kalo kenapa-napa."


Sedangkan disana ada yang memperhatikan Alice dan anak-anak, siapa lagi kalo bukan Noah dan Dio. Kedua remaja laki-laki itu memantau mereka dari lapangan basket.


"Yakin nih, dipendem doang perasaanya." ledek Dio menggoda sahabatnya.


"Ck! berisik." ketus Noah.


Sebenarnya Dio tau kalo sahabatnya itu suka dengan gadis bernama Alice itu. Tunggu, bukan suka. Tapi lebih ke feeling yang berbeda saat menyangkut perihal Alice.


Pintar, polos, mandiri, sopan, baik, apa lagi? Cantik?


Bukan karna tak berani mengungkapkan isi hatinya, tapi Noah juga belum pandai mendeskripsikan apa yang ia rasakan. Bingung dengan hatinya.


Haruskah ia berguru pada sang ayah?


Tapi tunggu. Ia bahkan masih berusia tujuh belas tahun, rasanya sangat aneh jika ia jatuh cinta.


Bukan karna tak percaya dengan adanya cinta, ia tentu percaya akan hal itu. Noah tentu berbeda dengan pemuda lainnya, usia produktif ia gunakan untuk melakukan hal yang berguna bukan?


Untuk sekarang, Emm,,,, mungkin tidak?


Yah, dia akan fokus pendidikan dan karier dimasa mudanya. Jodoh sudah ada ditangan Tuhan, bukan.


"Buat lo aja lah, kayaknya kriteria lo banget ." celetuk Noah dibumbuhi candaan.


Ntar nyesel loh:)


"Nggak lah, yakali gue ngembat inceran sohib. Lagian gue juga udah ada inceran." balas Dio. Tentu paham dengan apa yang dirasakan Noah.


"Siapa, yang temboknya tinggi banget itu?" tanya Noah dan Dio nampak menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.


"Lo yakin? Tuhan kalian aja beda."


"Kalo dia ikut gue, gimana? bisa aja kan."


"Jangan ngambil dia dari tuhannya, atau bahkan sebaliknya. Mereka bisa aja ninggalin Tuhan, apalagi ninggalin lo?"


Dio terdiam mendengar penuturan dari sahabatnya. Ada benarnya juga, terkadang cinta membuatnya sesat.


"Lo juga beda nggak sih sama Alice?" Ucap Dio kemudian.


"Alice? Bukannya dia belum punya keyakinan? Lagian gue sama dia juga nggak ada hubungan apa-apa." jawab Noah dengan tatapan menerawang ke arah gadis itu.


"Kalo kalian satu keyakinan, gue dukung banget sih." tutur Dio.


"Kalo beda?"


"Ya kayak yang lo bilang tadi, jangan ambil dia dari tuhannya atau bahkan sebaliknya. Kita lebih baik mundur aja hahaha." Mereka larut dalam obrolan sampai tak sadar ada sepasang telinga yang mendengar obrolan mereka.


"KAKK ALISS!! KAK NOAH SUKA KAK ALISS!" Gheva memegangi bola dan berlari terbirit-birit menghampiri Alice.


Noah dan Dio menatap tak percaya, obrolannya tenyata didengar oleh bocah ingusan itu.


"Bro? Yakin selamet nih sampe rumah?" Wajah Noah pias, nafasnya tercekat. Kenapa sampai kecolongan sih? Astaga kalau sampai Gheva mengadu, bisa tamat riwayatnya.


"Aduh celana Gepa copot! Burung jangan terbang!" Anak itu segera menarik celana pendeknya yang melorot karna efek berlari tadi. Setelah itu kembali berlari menghampiri Alice. Sepertinya akan ada acara nggibah time disana.


Diujung sana ada Ghavi yang menatap datar kembarannya. Sangat memalukan, bahkan ia bisa melihat dengan jelas boxer kecil milik Gheva yang bergambar tayo itu! Mungkin setelah ini ia tidak akan bermain lagi dengan kembarannya.


"Gheva kamu kenapa?"


Kalian ingat kejadian Satya dan Gathan? Mungkin hal itu akan terulang oleh Noah dan Gheva, berdoa saja semoga anak ajaib itu tak buka suara.


__________


TBC.


Jangan ngehujat ye, gue sambit ntar.


Ga deh, candak .


Jangan lupa vote dan like, itung-itung sedekah.


Dan sorry kalo nggak nyambung.


Babay.