
(Satya &Teressa)
.
.
.
.
.
"Bunda sama ayah yakin mau pulang jam segini? Ini udah malem banget loh, nggak mau nginep aja emang? Nemenin Noah semalem gitu, lumayan sepi sih kalo tinggal sendiri kayak gini." Noah melirik singkat jam dinding yang menunjukan pukul sepuluh malam. Ini sudah lumayan larut, sebagai anak yang baik tentu nya ia khawatir jika ayah dan bundanya pulang malam-malam seperti ini.
"Kek bocil aja kamu. Dulu ditemenin sama ayah bunda aja nggak mau, sekarang malah minta ditemenin." seru Satya.
"Nggak papa sayang, bunda sama ayah pulang aja. Lagian besok ayah kan ke kantor, kasian ntar kalo nginep kejauhan lagi." celetuk Teressa menambahkan.
"Emm yaudah deh, terserah kalian aja. Yang penting hati-hati dijalan, kalo ada apa-apa kabarin Noah. Tadi kesini nyopir sendiri atau sama Mas Adi?" tanya Noah.
"Sama Adi, tapi katanya dia nggak mau masuk. Lagi keluar mungkin mampir ke cafe dia, ini ayah kabarin kalo mau pulang." jawab Satya.
Dan akhirnya malam itu pukul sepuluh lebih seperempat, Satya dan Teressa memutuskan pulang dari hunian baru Noah. Rasa rindu Teressa sedikit terobati setelah bertemu dengan kulkas dua belas pintu itu.
"Mata masih aman kan, Di? Masih berapa watt nih." Ujar Satya kepada sang asisten yang merangkap menjadi sopir pribadinya.
"Aman pak, sudah saya charger tadi." jawab Adi dengan mantap.
"Yaudah langsung aja, anterin pulang ke rumah. Hati-hati dijalan, nggak udah ngebut, pelan-pelan aja. Perut ibuk udah gede ini."
"Siap Pak."
Mobil itu mulai membelah jalanan kota yang tak terlalu ramai. Sesuai permintaan sang atasan, Adi melajukan mobil dengan kecepatan sedang dan hati-hati.
"Sayang kalo ngantuk tidur aja ya, nanti mas bangunin kalo sampe rumah." Ujar Satya kepada sang istri. Teressa pun menganggukkan kepalanya dengan patuh. Setelah itu mencari posisi nyaman untuk bersandar pada tubuh Satya.
"Mas Satya, AC-nya matiin aja, terus jendelanya dibuka dikit." pinta Teressa.
"Iya sayang. AC matiin aja, Di." Titah Satya.
AC telah dimatikan, kini angin berhembus pelan dari kaca jendela mobil. Aroma jalanan begitu menyeruak di dalam indra penciuman mereka.
"Lewat jalan yang sepi aja, Di. Biar ibuk nggak keganggu tidurnya." Ujar Satya pada Adi.
"Iya, kamu bisa kan? Yang penting hati-hati aja."
"Bisa pak."
Malam ini terasa berbeda. Jalanan nampak sepi dan hawa dingin mampu menusuk hingga tembus ke tulang manusia.
Satya terus mengeratkan pelukannya pada tubuh Teressa, dan juga menyematkan jaket tebalnya untuk bumil itu agar Teressa tidak kedinginan dan merasa nyaman.
Semula berjalan dengan lancar sebelum mereka melewati tikungan cukup curam dengan minim pencahayaan.
Adi terus memfokuskan penglihatannya pada jalanan didepannya itu. Ia tak boleh lengah, atau bahkan lalai. Jika terjadi sesuatu, bukan hanya nyawanya yang terancam namun dua orang lainnya di bangku penumpang juga.
Tikungan terakhir sudah ada didepan mata. Namun tiba-tiba ada cahaya teramat terang yang membuat pandangan Adi sedikit goyah. Dan naasnya cahaya yang diduga juga dari kendaraan besar itu datang bersamaan dengan pandangan mata Adi yang mulai buram serta rasa sakit yang tiba-tiba menyerang bagian kepala Adi seperti ditusuk-tusuk jarum.
BRAKK
"ARGHHH,,,,, "
Tentu tak ada yang tau rencana Tuhan. Mobil yang mereka tumpangi terjun bebas menabrak pembatas jalan. Hantaman keras itu mengenai bodi mobil bagian samping tepat tempat duduk Adi dan Teressa. Namun beruntung lah Teressa selamat karna tubuhnya terlebih dahulu ditarik oleh Satya kesisi lain dan menggantinya dengan dirinya.
"Mas Satya."
"Adi, suami saya. Tolong!!" Teressa berteriak histeris saat mendapati suaminya tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir cukup banyak dari bagian kepalanya.
"Mas Satya bangun! MAS SATYA BANGUN!"
Sedangkan dibangku pengemudi, Adi berusaha mengumpulkan kesadarannya dengan rasa sakit yang masih bersarang di dalam kepalanya. Banyak darah keluar dari bagian tubuhnya. Dengan susah payah ia meraih ponselnya dan menekan nomor untuk dihubungi.
"H-halo,,,,,,," Bagai dihantam sebuah batu, Adi langsung tak sadarkan diri setelah mengucapkan satu kata itu.
"Halo kak, kenapa?"
"Kak? Kakak kenapa telpon?"
"Kakak jangan diem aja, kak."
"TOLONG SAYA DAN SUAMI SAYA KECELAKAAN, ARGHH,,, PERUT KU,,,!"
____________
TBC.