
(Satya &Teressa)
.
.
.
.
.
'SAYANG.'
Mendengar seruan itu Teressa langsung bangkit dari tempat duduknya. Tangannya menyambar bunga mawar yang sudah ia rangkai tadi, setelah itu berjalan keluar dengan bunga mawar yang ia sembunyikan dibelakang tubuhnya.
"Jangan lari!" Satya mendelik tak suka saat melihat istrinya hendak menghampirinya dengan langkah tergesa.
Teressa memelankan langkahnya, dan berjalan menuju Satya dengan senyum mengembang. Ia sangat suka menyambut kepulangan suaminya, apalagi saat Satya memeluknya. Itu sangat romantis, pikirnya.
Grep
Tubuh Teressa sudah berada didalam dekapan Satya. Keduanya berpelukan erat seakan sudah lama tak berjumpa. Namun kenyataannya mereka hanya berpisah beberapa jam saja.
"Mas kok udah pulang?" tanya Teressa penasaran. Saat ini jam masih menujukkan pukul dua siang, dan biasanya suaminya pulang jam empat sore.
"Kenapa, kamu nggak suka mas pulang cepet? Nggak kangen emang?" balas Satya.
"Suka kok! Tessa ada hadiah buat mas tau, mas mau lihat nggak?"
"Hadiah? Apa?"
"Tada!!!!" Penampakan bunga mawar warna merah muda itu yang Satya lihat.
"Buat mas?" Teressa menganggukkan kepala dengan antusias. Sebenarnya Satya tak terlalu menyukai kembang-kembangan seperti itu. Namun ia tetap menerimanya, karna bagaimanapun itu adalah hasil jerih payah istrinya. Terkesan sepele memang, namun Satya tak ingin melunturkan senyuman istrinya yang begitu bahagia saat menyerahkan hadiah sederhana untuk dirinya itu.
"Uluh-uluh so sweet banget sih, makin cinta deh." Satya membubuhkan kecupan manis secara beruntun pada wajah ayu Teressa.
"Mas suka?" tanya Teressa mendongak menatap wajah Satya.
Satya mengangguk cepat, "Sukak banget!"
"Kamu dirumah sendirian?'' tanya Satya sambil menuntun istrinya masuk ke dalam rumah.
"Iya, bunda tadi nyariin ayah belum pulang-pulang." jawab Teressa.
Otak Satya langsung menangkap insting-insting kesempatan dalam kelonggaran. Ayah dan bundanya tidak ada dirumah, Noah juga sudah mengungsi, tinggal dirinya dan Teressa yang ada dirumah.
Bukankah ini merupakan kesempatan emas bagi Satya untuk melakukan kegiatan enak dengan istrinya. Sudah lama juga ia tidak menyentuh istrinya.
"Sayang." panggil Satya lembut.
"Iya, mas?"
"Kamu udah makan siang?"
"Udah, mas bekalnya udah dimakan kan?"
"Udah dong."
"Gerah banget ya, nggak kayak biasanya." Teressa meneguk ludahnya kasar melihat suaminya yang tiba-tiba menggulung lengan kemejanya hingga bagian siku. Tak lupa Satya juga melepas ikatan dasi pada lehernya dengan gerakan lambat. Entah sengaja atau tidak, kancing kemeja Satya terlepas dua biji hingga dada bidang nya itu terekspos bebas.
Jangan kira Teressa tidak bisa terpancing! Tentu saja bisa, karna ia juga manusia normal yang memiliki hasrat/nafsu.
Orang disuguhkan dengan pemandangan yang menguji iman, gimana nggak tergoda.
"Sayang, kenapa diem? Ayo, mas mau berendam dulu deh kayaknya."
Teressa segera meraih tangan Satya dan menggandengnya, mereka berdua berjalan bersama menuju kamar.
"Mas, airnya udah." kata Teressa yang baru keluar dari kamar mandi.
"Iya sayang, bentar." Satya masih nampak sibuk dengan ponsel pintarnya itu.
"Mas Satya ih, chatan sama siapa sih?" Lantaran terlampau kepo, Teressa naik ke atas pangkuan Satya guna bisa melihat dengan siapa suaminya berbalas pesan.
"Astaga, pelan-pelan ih. Ntar kalo jatuh gimana." Omel Satya dengan salah satu tangannya yang kini menahan pinggang Teressa agar tubuhnya tidak jatuh.
"Chatan sama Adi, nih liat sendiri. Banyak yang males-malesan kerja kalo aku nggak dikantor." Jelas Satya.
"Gimana nggak males-malesan, orang bosnya aja sering korupsi jam kerja." cibir Teressa menyindir.
"Ya kan aku bosnya. " guman Satya terselip nada sombong.
Sesaat kemudian Satya meletakkan ponselnya diatas nakas karna urusannya telah selesai. Kemudian memfokuskan dirinya terhadap istrinya yang masih duduk diatas pangkuannya.
"Apa?"
"Apa?" Teressa mengeryitkan dahinya.
"Ya, apa?"
"Kamu pengen apa, sayang." Gemas Satya melihat wajah malu-malu istri nya.
"Ih mas Satya kok nanya gitu." Sumpah demi apapun Teressa malu sendiri mendapat pertanyaan seperti itu dari Satya. Padahal biasanya ia biasa-biasa saja. Ah, apakah wajahnya terlihat sangat bernafsu saat ini? Entahlah, tapi yang Teressa rasakan memang ingin nganu. Padahal setiap hari ia bertemu dengan suaminya. Namun kenapa kali ini Teressa merasa jika Satya lebih menggoda? Pesona Satya bertambah berkali-kali lipat saat ini.
"Mas mau jenguk adek, boleh kan sayang?" Step pertama sudah ia lakukan, yaitu merayu dengan alibi meminta izin.
Teressa masih diam menatap lekat wajah tampan suaminya. Diamnya itu karena terbuai dengan ketampanan suaminya, kenapa baru sadar sih? Suami mu itu benar-benar tampan mbak!
"Sayang." Suara berat penuh permohonan kembali menembus indra pendengaran Teressa.
"Emm. " Tanpa menunggu lama keduanya segera menyatukan diri. Diawali dengan silaturahmi bibir. Satya sempat kewalahan saat istrinya melumatt rakus bibirnya. Kenapa istrinya seperti kucing liar? Astaga, Satya benar-benar terkejut.
"Ganas banget sih buk." Teressa menunduk malu mendengar ledekan dari suaminya. Tawa Satya langsung menggelegar melihat ekspresi menggemaskan yang dibuat Teressa.
"Lucu banget sih." seru Satya sambil menggigit gemas pipi Teressa.
"Mas ih, Tessa malu tau." lirih Teressa dengan wajah yang ia sembunyikan pada lipatan leher Satya.
"Bunda malu dek, haha."
Dan siang itu terjadi adegan ahik-ahik antara keduanya. Mungkin Satya telah melupakan air dikamar mandi yang sudah disediakan Teressa tadi. Sekarang yang terpenting adalah menjenguk bocil terlebih dahulu.
Sungguh, nikmat mana yang engkau dustai tuhan?
"Mas Satya?" panggil Teressa usai menyelesaikan pergulatan panas tadi.
"Iya sayang, kenapa hm? Mau dijenguk lagi ya, bocil?" tanya Satya. Astaga baru saja mereka menyelesaikan itu, Satya ingin lagi? Hei apakah bapak hendak membuat bocil kembung? Sebenarnya Teressa ingin mengumpat suaminya. Namun niatnya ia urungkan karna ia adalah istri sholehah dan sholehot tentunya.
"Bukan ish! Martabak spesial adek mana!" Tagih Teressa dengan galak.
Gleg
Sial, ingatan istrinya tenyata tajam.
Alamak, setelah ini ia terancam tidak akan dapat mendapat jatah sampai bocil lahir nanti.
"Eee nganu, tadi kata orang disana abang yang jual martabak udah gulung tikar sayang. Jadi mas nggak dapet martabak, si bocil nggak bakal jadi anak yang suka ngiler kan?"
"Tau deh, Tessa sama adek ngambek! NGGAK MAU NGOMONG SAMA MAS SAMPE ADEK LAHIR!"
Satya kelabakan mendapat ancaman mengerikan dari istrinya itu. Bagaimana bisa ia tidak menyentuh istrinya selama itu? Bahkan berjauhan beberapa jam saja Satya tak sanggup. Fiks, Satya bucin banget sama emaknya bocil!
__________
TBC.