
(Satya & Teressa)
.
.
.
.
.
Lanjut nih .
"Terus kita lanjut atau gimana nih?" tanya Satya sambil menggaruk tengkuk belakangnya.
"Eumh, terserah mas." balas Teressa kikuk.
Suasana kini malah canggung usai perbincangan tadi.
"Lanjut aja deh." ucap Satya.
Cup
"Mas!! Jangan cium-cium Tessa ah." protes Teressa saat Satya terus saja mencuri ciuman bibirnya.
"Kenapa, udah halal sayang." kilah Satya.
"Tessa masih malu." cicitnya pelan.
"Yaelah yang, masih aja malu. Kapan ngadon adeknya Noah kalo masih malu-malu." Laki-laki itu langsung mengangkat tubuh Teressa dan merebahkannya diatas ranjang.
"Tessa berat mas?"
"Ringan banget, kayaknya aku harus bikin berat badan kamu naik deh, yang." timpal Satya.
"Masa sih mas? Tessa nggak diet-diet padahal, rajin makan." guman Teressa.
"Maksudnya bikin perut kamu melendung sayang, adeknya Noah." ucap Satya tanpa filter. Spontan dan reflek Teressa pun menggeplak lengan kekar suaminya, suaminya kalo bicara suka ceplas-ceplos sekali.
"Mas juga pengen bayi kayak punya Ghea, kita bikin 3 ya?" pinta Satya sambil membelai lembut perut datar Teressa yang masih dibalut gaun terusan itu.
Lu kata sekali ngadon langsung nyetak banyak kek bikin donat? Ya kagak lah elah ngadi-ngadi emang si Satya.
"Harus 3 ya langsung ya mas? mas nggak takut kalo-
"Eh nggak jadi deh, satu dulu aja ntar yang dua nyicil lagi juga nggak papa. Yang penting kamu sama baby nya sehat dan selamat semua." ralat Satya. Sepertinya Laki-laki itu teringat dengan cerita tentang ibu kandung Noah tadi.
"Bunda...
Suara kaku itu terdengar memanggil ibunya. Teressa yang saat itu berada diatas ranjang bersama Satya, spontan langsung menolehkan kepalanya pada pintu kamar milik Satya itu.
Pintunya sudah terbuka setengah, dan menapakkan kedua sosok bocah-bocah tampan keluarga itu. Lebih tepatnya Noah berdiri didepan sana sambil menggandeng tangan Gathan.
"Mas? katanya pintunya mas kunci?" guman Teressa ketar-ketir sendiri. Bukannya apa, selama ini ia belum buka suara kalo Noah bukan anak kandungnya. Dan selama ini yang Noah tau, ayah kandungnya adalah Faiz dan ibu kandungnya adalah Teressa. Bagaiamana perasaaan anak itu jika mendengar semuanya?
Hm..
"Perasaan tadi udah yang? Astaga mas cantolin doang lupa mas ceklekin." timpal Satya.
Terlalu bersemangat MP jadi lupa kunci pintu, cuma dicantolin doang kan!
"Mas mah."
Kedua pasutri itu segera beranjak dari ranjang, dan turun menghampiri Noah dan juga Gathan. Namun sebelumnya,Teressa kembali mengenakan jilbabnya lagi untuk menutupi kepalanya.
"Adek udah bobok Uncle, Athan sama Kak Noah disuruh bobok juga sama momny." jawab bocil.
"Ooo."
"Noah sama adek udah lama disini?" tanya Teressa ikut mendekati kedua anak tampan itu.
"Udahh/baru." jawab Gathan dan Noah bersamaan. Gathan bilang 'sudah' dan Noah bilang 'baru'
Hm fiks anak kulkas itu mendengarkan perbincangan emak dan bapaknya.
Nah kann yang dikhawatirkan Mbak Teressa terjadi juga, anak itu sekarang mengetahui semuanya namun memilih diam.
"Oh iya kalian pulang sama siapa? dianter kakek sama opa ya?" Tanya Satya memecah keheningan sesaat itu.
"Sama opaa sama kakekk, tapi opa sama kakek nggak ikut pulang mau beli maem buat oma, nenek, mommy, sama daddy." jelas si kecil Gathan.
"Eum..yaudah yuk kita makan malem dulu, bunda buatin masakan." ucap Teressa.
"Yeay makan!!! Athan udah laper aunty." seru anak itu.
"Noah ikut makan ya sayang?"
"Hm."
________________
"Noah kenapa yang?" tanya Satya berbisik pelan pada istrinya yang tengah mencuci piring di dapur. Saat itu ia melihat Noah tengah menuntun Gathan menaiki anak tangga. Rencananya setelah makan, Noah akan mengajari Gathan belajar.
"Tessa juga nggak tau mas, apa Noah denger ya tadi?" balas Teressa cemas-cemas. Usai kejadian pintu lupa dikunci tadi, sikap Noah agak beda walau tak secara drastis.
"Terus gimana?" tanya Satya.
"Tessa takut, ntar kalo Tessa cerita yang sebenernya Noah malah marah sama Tessa karna bohongin dia dari awal. Tessa belum pernah singgung mbak melody didepan Noah selama ini." walau usia melody lebih muda darinya, Tessa tetap memanggilnya 'mbak' guna menghargai istri pertama ayahnya Noah itu.
Berbudi pekerti sekali bundaa.
"Ya gimana lagi, lambat laun Noah bakal cari tau sendiri pasti. Kita jelasin aja pelan-pelan, mas yakin Noah pasti bisa ngerti, dia kan anak pinter bisa nerima kenyataan pastinya ." timpal Satya.
"Kamu udah selesai nyuci piringnya?" tanya Satya. Tanpa rasa sungkan, laki-laki itu memeluk tubuh Teressa dari belakang dan melingkarkan kedua tangan kekarnya pada pinggang ramping Teressa. Jangan lupakan, dagu Satya sudah bertengger di salah satu bahu Teressa.
Posisi ini sangat intim sekali!
"Bentar lagi selesai mas, ini masih Tessa bilasin." jawab wanita itu. Sebenarnya ia agak terganggu dengan keberadaan tangan Satya yang melingkar di perutnya karna hal itu membatasi pergerakannya. Namun apa daya, itu suaminya sendiri. Sepertinya mulai sekarang ia harus membiasakan diri untuk biasa saja saat Satya menyentuhnya.
Saat tangan halusnya asik mengusap-usap perut datar Teressa, tak sengaja tangannya terpeleset dan malah menyentuh bagian sensitive Teressa hingga membuat wanita itu terpekik kaget.
"Mas Satya ih!" protes Teressa.
"Sumpah yang, aku nggak sengaja. Tangan aku kepleset serius deh, baju kamu licin banget soalnya, suerr yang nggak bohong." kilah Satya memberikan pembelaan pada dirinya.
"Mana ada kepleset keatas!" gerutu Teressa berdecak kesal.
"Kayak gini nggak sih?" tanya Satya sambil menggerakkan tangannya didepan tubuh Teressa.
"Ahh MAS SATYA!!!!"
____________
Nah kan udah ahh uh ahh uh
positip thinking aja, mungkin mbak Tessa kepedesan:")