
(Satya & Teressa)
.
.
.
.
.
Petang itu, Satya benar-benar mengajak Teressa pulang kembali, tentunya tanpa anak-anak. Dan apakah acara ngambil jatah nya akan kesampaian? atau akan di cancel seperti tadi sore?
Mari kita lihat.
"Kamu masuk dulu, mas mau ngunci pintu dulu." ucap Satya pada Teressa. Teressa pun mengangguk, kemudian segera melangkah masuk kedalam rumah terlebih dahulu.
Jujur ia gugup, apakah benar Satya akan meminta hak nya saat ini juga?
"Mas mau makan malem dulu? biar Tessa siapin?" tawar Teressa saat suaminya sudah masuk kedalam rumah. Ini adalah salah satu trik menghambat waktu ala Mbak Teressa, semoga Pak Satya nggak curiga.
"Udah deh sayang, nggak usah memperlambat proyek ngambil jatah nya. Aku juga masih kenyang, tapi kalo makan kamu mah masih sanggup akunya." ucap Satya.
Pria itu langsung meraih tangan lembut istrinya kemudian menuntunnya menuju kamar.
Otw kamar nih jiakhhh.
"Mau maghrib mas, sekalian sholat dulu ya?" ucap Teressa.
"Tadi ashar, sekarang maghrib, ntar apalagi sayang? isya?!" seru Satya sambil mengunci pintu kamar nya. Sepertinya pria itu benar-benar bertekat untuk mengambil jatah nya.
Setelah itu Satya pun berjalan sambil meregangkan otot-ototnya sambil menghampiri Teressa yang tengah duduk di pinggiran kasur.
"Kenapa ngeliat mas kayak gitu? terpesona ya sama ketampanan haqiqi mas?" tanya Satya dengan pe-de nya.
Yang penting pede ye kan.
Teressa hanya membalasnya dengan gelengan kepala. Jika dipikir-pikir, selain suka ngomel suaminya itu juga memiliki rasa pede tingkat dewa.
"Nggak usah panik gitu, mas nggak akan makan kamu sekarang." ujar Satya sambil melinting lengan kemeja nya hingga batas siku.
Ucapan Satya barusan tentu membuat Teressa menghembuskan nafas lega, setidaknya ada waktu baginya untuk menyiapkan mental jasmani dan rohani.
"Tapi kalo abis sholat magrib, nggak ada penolakan sayang. Karna hukum seorang istri menolak suaminya adalah-
"Dosa." cicit Teressa pelan.
Hatinya Teressa yang semula lega kini kembali gelisah dan gugup tentunya.
Eh tapi bukannya dia sudah pernah memberikan hak nya pada ayahnya Noah? bukannya ia sudah pernah menikah sebelumnya? seharusnya rasa gugup dan takut itu lenyap bukan?
Ah tak tau lah.
"Istri pintar." ucap Satya sambil mengusap lembut puncak kepala Teressa yang masih tertutup jilbab.
"Ayo wudhu dulu." ajak Satya. Teressa Hanya bisa menurut saat Satya menuntunnya menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Mereka berdua akhirnya menunaikan ibadah sholat maghrib secara berjamaah, tentunya Satya yang menjadi imam nya. Sholat dilaksanakan dengan khidmat dan khusyuk.
"Assalamualaikum warahmatullah."
"Assalamualaikum warahmatullah."
Usai salam, Satya pun menengok ke belakang mendapati istrinya tengah menengadahkan tangannya. Satya pun menerima telapak tangan Satya, dan membiarkan istrinya mencium punggung tangan nya.
Adem banget ya.
Setelah itu, Satya pun membalasnya dengan mengecup kening istrinya.
Setelah itu mereka melanjutkan untuk berdoa sebentar. Saat tengah berdoa usai sholat, Satya menyelipkan doa agar acara ngambil jatah nya lancar tanpa ada gangguan sedikitpun.
Berharap boleh kan sodara.
Sedangkan Teressa, tak ada doa khusus yang ia panjatkan. Hanya meminta untuk diberikan keyakinan hati untuk langkah kedepannya.
Setelah acara beribadah telah selesai, Satya kembali menengok istrinya yang duduk di shaff belakangnya, kemudian berucap, "Sekarang ya?"
Cup
Satya langsung mengecup bibir ranum istrinya, kemudian ia bangkit dan segera melepas baju koko juga sarung yang ia gunakan untuk sembahyang tadi.
Dan saat ini Satya hanya mengenakan kaos oblong dipadukan dengan celana kolor pendek, karna sebelum sholat pria itu tadi mengganti pakaiannya.
"Mas bantuin lepas ya, mukenanya?" ucap Satya yang kini tengah berjongkok didepan Teressa.
Teressa pun menganggukkan kepalanya, membiarkan apapun yang akan dilakukan suaminya padanya.
Tangan terampil Satya mulai menanggalkan mukena yang dikenakan Teressa, bagian atasnya sudah berhasil Satya lepas, sedangkan bagian bawahan mukenanya, Teressa memilih melepasnya sendiri sambil berdiri.
"Mas pengen liat kamu lepas jilbab, boleh ya?" ucap Satya.
"Eum.., boleh mas." balas Teressa.
Saat yang dinanti-nanti pun tiba, Teressa membuka jilbabnya didepan Satya. Sedangkan Satya, masih setia mengamati kegiatan istrinya melepas jilbabnya.
Dan woolaaa, helaian anak rambut Teressa menutupi wajah cantik nya saat wanita itu menarik jilbabnya. Satya nampak terdiam menikmati pemandangan cantik didepannya, bagaiamana pun penampilannya jika wanita cantik akan tetap cantik.
Walau rambutnya hanya dicepol asal, tetap saja terlihat cantik. Ditambah lagi wajah cantik Teressa yang natural tanpa polesan make up, yakali mau sholat make up dulu.
"Istri mas cantik." guman Satya. Teressa yang mendengarnya menjadi tersipu malu, wajah cantiknya langsung berubah merona.
"Tau gini mas mending ngenal kamu dari dulu, kamu cantiknya luar dalem tau. Beruntung banget mas ini." ucap Satya sambil merapikan anak rambut Teressa kebelakang daun telinga wanita itu.
"Makasih mas." balas Teressa atas pujian suaminya.
Kedua tangan Satya menggenggam tangan Teressa, tatapan mata keduanya saling mengunci. Entah apa yang ada didalam pikiran mereka, tentunya yang tau hanya diri mereka masing-masing.
Cup
"Strawberry."
Cup
Cup
Cup
"Manis, kayak stroberi."
Satya terus saja mengecap bibir manis istrinya, kegiatan ini masih didominasi oleh Satya. Awalnya memang hanya sebatas kecupan saja, tapi kemudian Satya memberanikan diri untuk memberikan hal lebih berupa luma-tan kecil pada bibir Teressa.
Dan saat itu Teressa pun tak menolak atau menghindar, wanita itu lebih memilih diam menerima perlakuan suaminya.
"Sayang, dibuka dong mulutnya, mas mau absen nih." ucap Satya.
Mendengar itu, Teressa reflek langsung membuka sedikit mulutnya, dan saat itu juga lidah satya langsung masuk mengambil kesempatan menjelajahi mulut istrinya.
Teressa hampir saja terhuyung kebelakang Jika tangannya tidak mencengkeram baju Satya. Bayangkan saja, Satya terus menekan tubuhnya saat tengah berciuman dengan Teressa hingga hampir membuat wanita itu hilang keseimbangan.
"Maaf sayang."
"Nggak papa mas." balas Teressa sambil menampilkan senyum manis dihadapan Satya.
"Mas." panggil Teressa.
"Hm, kenapa sayang?"
"Eum sebelumnya Tessa mau jujur sama mas." Ucap Teressa pelan.
"Jujur? emang kamu pernah boong apa sama mas? coba sini ngomong." Balas Satya.
"Sebenernya Tessa
__________________
Iklan dulu kali ye.
Babay!
nggak jadi malem jumat nih wkwk.