AFTER

AFTER
Eps 67



(Satya and family)


.


.


.


.


.


Lupakan kejadian tempo hari karna kejadian itu, sampai sekarang Noah belum berani menampakkan batang hidungnya dihadapan, Alice.


Gheva benar-benar mengadu kepada Alice, tentunya dengan berita yang ditambah-tambahi. Parah sekali.


"Kenapa?" Teressa bertanya pada putra semata wayangnya yang sebentar lagi akanmemiliki adik itu. Tunggu, sudah memiliki adik bahkan, namun masih berada didalam perut bundanya.


Noah menggeleng, "Nggak papa kok, bund. Adek sehat bund?" Noah mengelus perut buncit bundanya, mengganti topik mungkin.


Teressa tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya. Ibu hamil itu ikut bergabung duduk bersama putranya.


"Kamu itu udah bunda rawat enam belas tahun lebih lamanya, jadi jangan bohong sama bunda. Walau bunda ini bukan bunda kandung kamu, tapi bunda paham betul sama yang Noah rasain. Cerita yuk."


Ah, rasanya Noah benar-benar rapuh saat ini. Maklum, mungkin karna pertama kali jatuh cinta.


Baru saja Noah akan menyandarkan kepalanya dibahu sang bunda, tiba-tiba saja ada Satya yang masuk dan menerobos duduk diantara dirinya dan bundanya.


Menghela nafas, cukup tau.


"Good night my family!" seru Satya dengan senyum merekah. Tangan besarnya terlebih dahulu mengelus perut buncit istrinya, seperti biasa. "Sehat-sehat ya kecebong papa, eh ayah."


Teressa menggeplak lengan suaminya, benar-benar merusak moment sharing bersama Noah. "Aww, kenapa sih sayang." Keluh Satya sambil mengusap-usap bekas pukulan Teressa.


Teressa menunjuk Noah menggunakan pandangan matanya.


"Noah? Noah kenapa emang? Galau ya, sini-sini cerita sama ayah."


Demi apapun Noah ingin menangis saat tubuhnya ditarik ayahnya. Kepalanya berada Di pangkuan bundanya, dan kakinya berada diatas pangkuan ayahnya. Tubuhnya? berada ditengah-tengah antara bunda dan ayahnya.


Sungguh, tubuh besarnya tak ada harga dirinya dihadapan kedua orang tuanya itu. Noah pasrah saat diperlakukan seperti seorang bocah.


Capek, pengen membelah samudera.


Teressa mengusap lembut surai hitam milik putranya itu, dan Satya memijat kedua kaki Noah bergantian.


Sangat menyenangkan bukan diperlakukan seperti seorang pangeran? Beruntung sekali Noah.


"Kenapa, ada yang niat ganggu kamu?" tanya Satya buka suara. Noah menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Pemuda itu malas membuka mulutnya, seperti biasa cosplay menjadi kulkas dua belas pintu.


"Kamu sakit, No?" Kali ini giliran Teressa yang bertanya. Tentu khawatir dengan kondisi putranya, apalagi kini Noah memiliki kegiatan yang padat kan.


"Enggak bunda." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya.


"Yang Noah rasain emang apa, ada Yang sakit barangkali." Teressa masih berasumsi jika putranya itu sakit namun tak sadar.


"Em, nggak sih. Tapi akhir-akhir ini dada Noah detaknya kecepetan." Jawaban yang tak terduga. Teressa dan Satya saling melirik tipis, keduanya semakin penasaran dengan cerita Noah. Karna jarang sekali anak itu berbagi cerita, kapan lagi kan.


"Terus, apa lagi yang Noah rasain."


"Ya gitu aja sih. Tapi sebelumnya Noah nggak pernah ngerasain, jadi bingung aja." jawab Noah.


"Dibarengi rasa kayak kesetrum listrik ribuan watt, nggak No?"


"Mas jangan bercanda, ah." seru Teressa.


Ya kali disamain sama aliran listrik ribuan Watt, dikata gundala apa.


"Noah lagi deket sama cewek ya?" tanya Teressa iseng-iseng.


"Deket sama cewe? Bunda maksudnya?" Entah benar-benar tak paham atau karna enggan membahas tentang hal seperti itu.


"Maksudnya bunda itu, kamu lagi deket sama gadis, atau cewe yang sebaya kayak kamu gitu nggak. Soalnya yang kamu rasain itu biasanya tanda-tanda jatuh lop." jelas Satya panjang lebar.


Satya tentu memiliki banyak sifat, salah satunya ya ini. Bisa menjelma sebagai sosok yang peka, perhatian, dan penyayang.


Kadang suka nggak nyangka kalo Bang Sat udah nikah dan mau punya baby. Fiksi aja secepet ini kan, dunia nyata apa kabar?


"Lopeee lopee, cinta No."


Noah bener-bener capek, ayahnya pake bahasa jamet. Mana ngerti dia.


"Orang seharusnya pake 'v' ayah pakenya 'p' . Ngeleg dulu lah Noah." guman Noah.


"Ya intinya mah itu, No." Kekeh Satya tak ingin disalahkan.


"Nggak ada lah, Noah nggak lagi deket sama cewe manapun. Lagian Noah mau fokusin pendidikan sama karier." Ucap Noah.


''Ish ish ish, tak patut. Calon mantu bunda nggak diakuin sama Noah, PBL PBL Parah banget loh." Sepertinya Noah menangkap firasat jika kembaran dari Ghavi melaporkan sesuatu tentangnya kepada ayahnya.


"Calon mantu apa?! Noah masih muda nggak boleh nikah dulu sebelum jadi orang sukses, dan banggain ayah sama bunda. Bangun rumah tangga nggak segampang itu, yah."


"Jadi selama ini prestasi Kulkas nggak membanggakan ya?" guman Satya pelan, takut istrinya kembali mengomeli nya.


Satya menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal, istrinya kalo ngomel sekarang suka meledak-ledak. Mau di biarin tapi ntar pasti Teressa ngambek, karena cinta dan sayang akhirnya Satya hanya bisa pasrah mendengarkan ceramah istrinya.


"Noah kalo suka sama cewe itu boleh-boleh aja. Bahkan kalo mau pacaran bunda bolehin, walau pada dasar dan hukumnya nggak boleh. Tapi cewe mana yang mau berhubungan tanpa status jelas, bisa-bisa digondol sama yang lain kan. Kalo bener Noah mau pacaran, bunda harap yang positif-positif aja. Misal ajak Gathan atau twins kalo mau ngedate, yang penting nggak neko-neko. Tapi kalo untuk nikah, jujur bunda belum yakin. Ktp kamu aja baru dicetak, dan adek juga belum keluar loh."


Noah menghela nafas panjang, kenapa pemikiran bunda dan ayahnya sejauh itu? Padahal tadi hanya membahas jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya saja. Dan siapa yang mau menikah? Kepala Noah sepertinya akan benar-benar pecah.


"Lagian siapa yang mau nikah, yah, bund? Astaga, padahal Noah tadi Noah cuma cerita kalo jantung Noah detaknya kecepetan. Kok malah ngarah ke pernikahan dan rumah tangga segala, kejauhan kali." ujar Noah.


"Dan bisa aja kan jantung Noah detaknya kecepetan karena kurang istirahat, atau bahkan faktor lain." sambung Noah.


"Yaudah sekarang Noah istirahat ya, malem ini bunda sama ayah temenin tidurnya."


Noah segera menolak, jangan sampai tengah malam nanti ia terbangun dan melihat adegan uwuww-uwuww yang kedua orang tuanya umbar. Sungguh, ia adalah pemuda yang masih polos.


"Noah tidur sendiri aja deh, ntar kalo rame-rame takutnya sempit, terus adek kejepit." Alibinya yang sebenernya menghindari ajakan Bundanya untuk tidur bersama.


"Iya juga ya. Yaudah deh kalo gitu bunda temenin dulu sampe Noah tidur, ntar kalo Noah judah tidur bunda sama ayah pindah ke kamar." Ide ini lebih baik daripada ide sebelumnya. Noah mengiyakan saja permintaan bundanya.


"Tidur yang nyenyak ya." Kini mereka sudah berada diatas ranjang. Teressa menidurkan Noah sama seperti dahulu kala.


"Tapi ntar bener-bener pindah ya bund."


"Iya No iya, ntar ayah sama bunda pindah. Takut banget kamu kayaknya." Kini giliran Satya yang ikut gemas dengan kekhawatiran Noah.


"N-nggak sih yah."


"Merem, nggak tidur kamu ntar."


Noah segera memejamkan matanya dengan selimut tebal yang menutupi tubuhnya hingga batas dada, siapa lagi yang melakukannya kalo bukan Teressa dan Satya. Bagai sebuah patung hidup, Noah terbaring kaku diantara bunda dan ayahnya.


"Kita tidur dimana, mas?" tanya Teressa berbisik pelan.


"Disini juga nggak papa." balas Satya berbisik balik.


"Ayahhhh,,,," rengek Noah saat mendengar obrolan mereka.


Mereka cekikan mendengar rengekan Noah.


Setelah Noah benar-benar terlelap dengan pulas, Teressa dan Satya memutuskan untuk keluar dari kamar Noah. Mereka tak ingin mengganggu waktu istirahat Noah, dan memilih ke kamar Mereka sendiri.


"Akhirnya pindah juga." guman Noah bernafas lega saat mengetahui kedua orang tuanya telah keluar dari kamarnya.


Sebelum melanjutkan acara istirahat nya, Noah membaca doa terlebih dahulu seperti biasa.


",,,,,,,,,,,,, amin."


__________


TBC.


Kemaren signal tak mendukung karena mati lampu didaerah saya. Sebagai gantinya double up ya.


Jangan lupa like, koment, vote klo mampu.


Thnks u.


Babay.