
(Satya &Teressa)
.
.
.
.
.
Bunda Citra menatap heran putranya yang nampak panik menuruni anak tangga sambil membenahi pakaiannya.
"Habis keramas ya? Masih basah rambutnya."
"Astagfirullah bundaku, cintaku, bikin kaget tau nggak!" pekik Satya sambil mengusap-usap dadanya.
"Mau kemana kamu, rapi bener sore-sore gini? Mantu bunda mana?" tanya Bunda Citra dengan tatapan menelisik tajam.
"Aduh bunda, my wife sama si bocil masih bobok. Jangan dibangunin dulu ya sampe Satya pulang, si bocil lagi pengen makan martabak nih soalnya. Mana belum Satya beliin, Satya nggak mau ya si bocil ntar ileran gara-gara emaknya nggak diturutin pas ngidam." cerocos Satya dengan pikiran yang berkelana kemana-mana. Jangan sampe nanti si bocil nggak cinta sama bapaknya dan nyuruh Tessa nyari bapak baru. Satya nggak mau itu terjadi! Tidak!
"Makanya jangan dijenguk terus, lama-lama eneg cucu bunda kalo kamu jengukin terus!" omel Bunda Citra.
Karena Satya malas berdebat dan mengulur waktu lebih lama, ia pun segera meraih tangan bundanya dan menciumnya singkat. Setelah itu pamit dan keluar dari rumah.
Martabak, Bang Sat is coming!
Tak membutuhkan waktu lama bagi Satya untuk mendapatkan martabak itu. Cukup menunggu dipinggir jalan saja, setelah itu akan ada orang yang mengantar makanan itu kepadanya.
Sebenarnya tadi Teressa memintanya untuk datang langsung ke penjual Martabak. Namun karena 90% jiwa Satya adalah jiwa mageran, ia memilih COD di suatu titik.
Tok
Tok
Tok
Seseorang nampak mengetuk kaca jendela mobil milik Satya. Ia pun segera membukanya.
"Martabaknya mas, spesial telor sama special manis."
"Oh iya mas. Berapa totalnya?" tanya Satya.
"lima puluh ribu aja, mas." Seperti biasa, kalo nggak sedekah nggak afdol hidup Satya. Bukannya mau sombong atau riya, Bang Sat cuma mau memotivasi manusia agar rajin sedekah, semampunya.
Ia mengeluarkan selembar uang pecahan ratusan ribu kemudian diserahkan kepada abang pengantar martabak tadi sambil berkata, "Kembaliannya buat beli bensin bapak aja."
"Tapi mas-,,," Rasa tak enak hati menyelimuti abang-abang pengantar martabak itu.
"Nggak papa pak, saya ikhlas dari lubuk hati paling dalam."
"Alhamdulillah Ya Allah, atas rejeki yang engkau limpahkan kepada hambamu ini."
"Semoga mas diberi kesehatan, kelancaran rezeki, selalu bahagia dengan keluarga sanak saudara. Semoga anak-anaknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Makasih banyak, mas."
Entah mengapa kali ini Satya benar-benar tersentuh mendengar doa-doa yang dipanjatkan pria itu. Bukan tentang nominal yang Satya beri, namun tentang keikhlasan dan ketulusan hati tentunya. Bagi Satya mungkin itu bukan nominal yang besar, namun bagi sebagian orang beda lagi.
Semoga saja doa bapak tadi didengarkan oleh Allah, dan bahkan dikabulkan di kemudian hari.
"Amin pak, Amin. Makasih banyak doanya. Semoga bapak juga dilancarkan rezeki nya. Saya pamit dulu kalo gitu pak, permisi."
"Iya iya mas, mari."
"Bocil, ayah pulang!"
Dengan semangat empat lima, Satya kembali menginjak pedal gas nya menuju rumah.
Cittt
"Astagfirullah,,,"
"Untung aja nggak kena." guman Satya was-was.
Dalam perjalanan menuju rumah ia terus merapalkan dzikir dan doa agar selamat sampai tujuan. Plis deh, Satya masih pengen liat bocil lahir ye! Takdir jangan ngadi-ngadi.
😋😋😋
"Sayang, bangun dulu yuk. Martabak nya udah dateng nih." bisik Satya dengan suara pelan. Satya mengusap lengan polos istrinya dengan lembut agar tidak mengejutkan bumil itu.
"Bocil, bunda suruh bangun yuk. Martabak kamu udah sampe loh. Cup." Kini giliran bayi yang ada didalam perut Teressa yang ia ajak bicara.
"Eumhh,,,, mas." guman Teressa sambil menggeliat kecil. Penampilannya masih acak-acakan karena wanita itu masih enggan membersihkan tubuhnya usai ahik-ahik tadi.
Cup
"Martabaknya udah ready, sayang. Yuk bangun dulu, udah ditungguin bocil nih."
"Mau dimakan sama bunda sama ayah juga. Tapi mau mandi dulu." rengek Teressa dengan manja.
"Iya sayang, iya. Ntar kita makan bareng-bareng. Sekarang mas mandiin dulu ya, udah sore ini."
Teressa pun menurut patuh. Memberikan suaminya membantu dirinya membersihkan diri. Karna jujur saja tubuhnya sangat lemas untuk melakukan sesuatu.
Sebenarnya Satya juga tak tega melihat wajah lelah istrinya. Tapi mau bagaimana lagi, ia sudah terlanjur menjenguk bocil. Sebagai bentuk permohonan maaf, kali ini ia akan melayani emaknya bocil dengan sepenuh hati.
"Tessa kangen Noah tau." Satya berdehem sebagai balasan. Baru beberapa hari ditinggalkan oleh anak kulkas itu, istrinya sudah mengeluh rindu pada kulkas dua belas pintu. Huh, posisinya benar-benar tergeser. Ia berharap buah hati nya kelak adalah seorang bayi perempuan, ia tak ingin lagi menambah saingan. Cukup dengan Noah saja!
"Nanti sebelum tidur kita call Noah, okey."
"Okey!"
___________
"Lain kali tuh kalo beli jangan cuma satu kek. Beliin buat bunda sama ayah juga, dikira kita nggak doyan sama makanan kayak gini." Bunda Citra terus mengoceh kepada Satya sambil terus menikmati potongan demi potongan martabak yang Satya beli tadi.
"Ya mana Satya tau kalo bunda juga pengen." kilah Satya mencari alasan.
"Alah, kamu-nya aja yang nggak peka sama orang tua. Masa udah dari orok tinggal sama ayah bunda tapi nggak hafal selera kita." cibir bunda Citra terus menyindir Satya.
"Bunda udah, kasian mas Satya tau. Lihat deh mukanya udah ditekuk kaya baju kusut gitu. Mas Satya tuh aslinya peka, tapi kadang-kadang suka lupa. Kan sekarang mas Satya sibuk banget. Urusan kantor lah, urusan lain lain, belum lagi urusan Tessa sama adek kalo lagi rewel." ujar Teressa mencoba membela suaminya.
"Mas Satya tuh baik banget pokoknya." sambung Teressa lagi.
Jika diperhatikan, hidung Satya sudah kembang kempis karna terus mendapat pujian dari istri tercintanya itu. Ah, Satya makin cinta sama emaknya bocil.
"Nah loh udah mau terbang si calon bapak." celetuk Ayah Juan.
"Tessa pengen peluk dong, yang rame-rame gitu." ujar Teressa.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Satya segera menarik kedua Wanita yang amat ia cintai didunia ini kedalam dekapannya. Jika saja ada Ghea, mungkin akan Satya ajak ikut serta. Baginya mereka adalah segalanya.
"Sayang banyak banyak deh."
"Ayah sini ikutan, Tessa pengen pelik ayah juga." ucap Teressa mendongak menatap wajah mertuanya.
Mereka saling merengkuh satu sama lain. Sore itu benar-benar sore yang sangat mengesankan. Teressa dapat kembali merasakan kasih sayang dari orang tua melalui kedua mertuanya itu.
Ternyata Tuhan telah merencanakan hal baik untuknya.
"Tessa sayang semuanya, makasih ya buat selama ini. Udah nerima Tessa apa adanya. Tessa bersyukur banget bisa ketemu orang-orang baik kayak mas Satya, kayak bunda, kayak ayah juga."
___________
TBC