AFTER

AFTER
Eps 20



(Satya & Teressa.)


.


.


.


.


.


Dengan sabar Satya menggiring Noah menuju mobilnya yang terparkir disana.


"Buruan jalan." Titah Satya pada Marvin yang masih asik menjilati es krim nya.


"Lah jadi? Tumben kaga gagal." Ucap Marvin.


"Ngeledek mulu gua tinggalin disini nih lu!" Gertak Satya.


Seketika Marvin langsung menelan bulat-bulat sisa es krim nya yang masih lumayan banyak kemudian membuang stik es krim itu sembarang arah.


Jangan ditiru ya, keselek ntar.


Ketiga pria beda generasi itu masuk kedalam mobil yang sama, kali ini Marvin benar-benar seperti menjadi sopir tuan muda. Gimana enggak, Satya milih duduk di jok belakang sama Noah.


Namanya juga pendekatan ya bang, harus totalitas jangan setengah-setengah.


"Noah, kamu mau minum?" Tanya Satya menawari anak itu dengan minuman dingin dengan berbagai rasa yang menggiurkan. Anak itu hanya menggeleng sambil menunjuk botol minuman yang tersemat didalam tas nya.


Anak rumahan lu tawarin begituan, ya kali mau. Kalo Gathan mah udah liar sama Bang Sat, gantian Noah nih yang harus mencicipi betapa nikmatnya jajanan luar, termasuk cilok dan pop ice.


"O-okey." Balas Satya.


"Eh ini punya kamu?" Tanya Satya sambil memperlihatkan selembar kertas putih yang ia duga milik Noah.


"Iya om." Jawab Noah seadanya.


Namanya juga Bang Sat nggak afdol kalo nggak kepo, ngintip dikit boleh lah ya.


"Liat bentar ya?" Ijin Satya, Noah menganggukkan kepalanya saja membiarkan apapun yang dilakukan Satya.


Pria itu dengan serius mengamati sepucuk surat resmi dari sekolahan Noah itu. Sesaat kemudian ia bisa menyimpulkan maksud dan tujuan surat itu diedarkan.


"Ini kayak lomba-lomba gitu nggak sih?" Guman Satya kemudian memperlihatkan surat itu kepada Marvin yang tengah menyetir.


"Mana liat." Balas Marvin.


"Iya kayaknya, yang kompak-kompakan amak emak bapaknya gitu, tapi ini versi ama bapaknya kan." Sambung Marvin lagi.


Kedua pria gabut itu diam melirik Noah, sedangkan yang dilirik tidak menampilkan ekspresi apapun.


Biasa aja.


"Itu kegiatan tahunan sekolah, setiap akhir semester om." Ucap Noah menjelaskan.


"Ooo kamu sering ikut?" Tanya Satya.


"Ikut, kalo pas sama bunda." Jawab Noah.


Udah jangan dikorek terlalu dalam ya bang Sat, takutnya nih anak terbawa suasana dan mengingat flash back yang sad.


"Emang acaranya kapan?" Celetuk Marvin dari depan sana.


"Weekend minggu depan." Jawab Satya.


"Mending lu ikut gabung aja, lu kan pasti nganggur. Ajakin bontot nya adik lu sekalian pasti rame." Usul Marvin.


"Emang boleh?" Guman Satya .


"Boleh kan No?" Tanya Marvin.


"Boleh, tapi Noah nggak ikut." Jawab Noah.


"Lah kenapa?"


"Ayah Noah kan udah tenang disana, jadi nggak bisa nemenin Noah ikutan lomba disini." Jawab anak itu dengan tenangnya, namun sebenernya hatinya bergetar mengungkapkan kalimat itu.


Kini suasana dalam mobil itu sunyi dan sepi tak ada yang kembali memulai pembicaraan lagi setelah Noah berucap tadi.


"Lu sih ah!" Gerutu Satya menyalahkan Marvin.


"Ya maap." Balas Marvin ikut menyesal.


Entah mendapat dorongan niat dari mana, Satya sedikit menggeser posisi duduknya agar lebih dekat dengan Noah. Tanpa banyak tingkah dan 'bac0t' Satya langsung meraih tubuh mungil Noah dan merengkuhnya sembari mengusap-usap kepala anak itu.


"Its okey, masih ada Om Satya sama Om Marvin disini, kamu tenang aja." Ucap Satya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Satya soft banget ya orangnya, pengen karungin dah.


"Tapi om bukan siapa-siapa nya Noah." Ucap anak itu sembari mendongak menatap wajah Satya.


"Hm iya Noah lupa, sekarang kita temenan ya?" Balas anak itu.


"Iya, sekarang kita sohib." Balas Satya.


"Jangan sedih lagi okey?" Sambung Satya pada Noah.


"Iya om." Jawab Noah.


"Tos dulu dong bro, kita kan temen." Seru Satya sambil mengarahkan telapak tangannya pada Noah, perlahan tangan Noah menyentuh permukaan kulit Satya dan akhirnya keduanya melakukan high five bersama.


"Pada tos nggak ajak-ajak." Sindir Marvin yang merasa terabaikan pada kedekatan Satya dan Noah. Tapi sebenernya dia ikut seneng karna usaha Bang Sat ada kemajuan juga.


Kalo namanya sahabat sejati tuh pasti selalu dukung dan ikut seneng kalo usaha temen berhasil ya bund, jangan mau punya sahabat yang deket pas kita seneng doang, pas kita down malah dihempas ke luar angkasa.


Assudahlah.


"Pak sopir tolong fokus nyetir aja ya." Seru Satya.


"Minta di sentil ya ginjalnya?" Seru Marvin.


"Baper!" Cibir Satya.


Pada akhirnya ketiganya tos bersama guna meresmikan circle yang baru mereka bentuk itu.


____________


Kini mereka bertiga sudah sampai didepan rumah Teressa. Namun bukan hanya mobil Satya yang sampai, disana sudah ada ojol yang sepertinya akan mengantar makanan pesanan Satya.


"Mas Satya ya?" Tanya Pak Ojol itu.


"Iya Pak, ini makanan pesenan saya kan?" Balas Satya.


"Iya mas ini, silahkan makanannya." Ucap Pak Ojol.


"Oiya makasih pak." Balas Satya.


"Sama-sama mas, kalo gitu saya duluan permisi." Pamit Pak Ojol.


"Pak pak." Panggil Satya.


"Iya kenapa mas?''


"Buat bapak." Ucap Satya sambil menyelipkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu pada saku jaket bapak Ojol tadi.


"Tadi kan mas udah bayar lewat aplikasi, mas. Bapak balikin lagi ya." Ucap Ojol itu menolak.


"Ini buat jajan es anaknya bapak dirumah." Balas Satya.


"Ini serius buat bapak?" Pria setengah abad itu menatap tak percaya pada Satya. Rezeki nganterin makanan ke Bang Sat ini mah.


"Iya buat bapak." Jawab Satya.


"Alhamdulillah, makasih Ya Allah, makasih mas." Ucap Pak Ojol itu bersyukur.


"Sama-sama pak, saya tinggal dulu pak kalo gitu." Pamit Satya.


"Iya mas silahkan, sekali lagi terima kasih mas." Balas Pak Ojol. Satya membalasnya dengan senyuman tipis, kemudian beranjak meninggalkan pria yang telah mengantar makanan nya itu.


"Lama bener, sekalian rapat lu?" Seru Marvin mencibir. Pria itu sudah terlalu lama menunggu Satya didepan teras Rumah Teressa.


"Yaelah nggak sabaran bener." Balas Satya.


"Noah mana?" Tanya Satya.


"Ganti baju dia katanya." Jawab Marvin.


Tak lama Noah pun keluar dari rumah dengan pakaian rumahan biasa yang melekat pada tubuhnya.


"Om mau Noah bikinin minum dulu?" Tawar anak itu.


"Enggak usah Noah, om mau langsung balik ke kantor aja. Ini ada makanan buat kamu, kamu ambil ya buat temen ngemil pas belajar. Ini juga ada hadiah dari om buat kamu, jangan tolak pemberian temen okey." Ucap Satya sambil menyerahkan beberapa barang kepada Noah dibantu oleh Marvin.


"Buat Noah?" Tanya Noah sambil menatap beberapa barang dan makanan yang Satya berikan padanya.


Masalahnya ntar kalo bundanya nanya Noah musti jawab gimana? ya kali bilang ngerampok.


"Udah ambil aja No, jarang-jarang temen kamu ini sedekah, orangnya pelit soalnya." Ucap Marvin.


"Mana ada!" Seru Satya.


"Eum, makasih om." Balas Noah menerima pemberian Satya tersebut.


Hadiah yang diberikan Satya pada Noah adalah bingkisan perlengkapan sepak bola lengkap dengan jersey tim sepak bola terkenal dunia.


Pengertian sekali bukan calon bapaknya Noah?


____________


Vote yuuuu