AFTER

AFTER
15



Masih disituasi dan kondisi yang sama.Yang terlihat dilangit hanyalah bintang yang sedikit. Entahlah, aku jadi memikirkan waktu itu.


"Kau, matamu hanya membawa kesedihan," celetuk William yang sedang menatap bintang juga.


"Begitukah?"


"Bahkan bisa dibilang, raut wajahmu seperti menyembunyikan sesuatu.Terlebih setelah aku menyebutkan kata 'beban' waktu itu,matamu langsung membulat seolah pernah mengalaminya," ujarnya menjelaskan bahkan secara tidak langsung aku merasa sedikit tertohok.


"Begitulah, pantas kau menyebutku bermuka dua ya? Aku juga tahu bahwa tak selamanya aku bisa menyembunyikan kesedihan ini. Satu hal yang pasti, menurutku melihat orang lain bahagia pun rasanya sama seperti meluapkan beban yang telah ku bawa ini.Jadi,kau tak perlu khawatir," ucapku yanga tersenyum padanya.


"Topeng yang kau kenakan itu, suatu saat pasti akan terlepas."


"Tak perlu khawatir, aku bukan orang yang pantas untuk kau beri hal seperti itu.Selain itu,kau punya tantangan yang lebih besar dari yang kau duga."


"Apa kau ... tidak menderita?" Dia yang bertanya seperti itu membuatku sedikit kaget.


"Bohong kalau aku tidak merasa sakit. Banyak yang dilewati dengan tubuh kecil ini, bahkan terlalu banyak untuk dipendam seorang diri. Meski begitu, melihat diriku yang hanya figuran ini rasanya aneh kalau mengeluh, akhirnya aku bisa memendam semua itu bahkan untuk diriku sendiri.Saat melihat orang yang dibantu figuran sepertiku ini rasanya aku bisa menyalurkan bebanku dalam hal yang positif. Aku juga tak berpikir untuk menjauh dari kenyataan bahwa aku adalah tokoh utama dalam kehidupanku, kau pasti berpikir bahwa aku egois atau mungkin takut untuk nengambil keputusan. Kau salah ...," William yang sibuk memperhatikan sementara aku hanya menatap bintang itu penuh harapan, kemudian kedua tangan ini saling bersentuhan dan mengepal seperti berharap." ... Aku hanya mengalah pada diriku sendiri, pada akhirnya aku bisa mengambil keputusan terakhir dan menjalaninya dengan damai."


"Kau ... aneh," ucapnya yang menatapku.


Aku hanya mengangguk. Kalau dia sadar, aku mungkin sedang membuka sedikit topengku padanya.Itulah kesempatan yang aku incar untuk mengungkapkan sedikit dari diri ini, hanya sedikit karena memang tak ingin berkoar-koar seolah merasa paling menderita.


Kalau mereka tahu, mungkin banyak orang yang berpikir aku ini plin plan dan terlalu dalramatis saja. Padahal, yang kupikirkan hanyalah segala kemungkinan yang ada di depan mata. Penilaian yang dangkal itu bisa saja bermasalah bagi orang lain, bahkan menyebabkan perselisihan diatas perbedaan itu.


Pada akhirnya, semua itu pasti pergi. Meninggalkan kenangan yang dengan mudah dilupakan.Lagipula, Mereka pasti akan berjalan menuju apa yang mereka inginkan. Dan aku, hanya bisa melihat mereka berjuang sambil menenggelamkan keinginanku.


"Terimakasih."


"Untuk apa?" tanyaku yang menaikkan sedikit alisku.


"Kau, sangat membantu," balasnya yang menatap padaku.


"Bukan padaku.Berterimakasihlah pada dirimu sendiri yang berani mengambil keputusan."


"Kau ini senang sekali merendah."


"Bukan merendah, tapi itulah yang dilakukan oleh figuran sepertiku.Selain itu, kalau kau berpikiran lain dan tetap memendam itu pasti apa yang terjadi sekarang sudah berbeda," aku yang tersenyum padanya.


Ia hanya berdiri seolah ingin menunjukkan bahwa kalau tanpanku dia tak bisa bangkit. Itu bohong, kau bisa bangkit sendiri sama sepeeti yang lain.Figuran ini hanya menjalankan apa yang ia jalani dengan damai.


"Kalau begitu, aku pamit," ucapnya sambil berjalan menuju pagar.


Aku pun berdiri, lalu menunduk sebagai tanda perpisahan lalu masuk ke dalam rumah.Akhirhya, malam ini diisi oleh ungakapanku yang sedikit ini. Mungkin saja, di luar sana masih ada yang lebih menderita.


Aku lelah sekarang.Persiapannya telah selesai dan waktunya untuk tidur. Aru, maaf kalau kau lebih menderita dariku ....