
(After pt 2)
.
.
.
.
.
“Siapa disini yang cita-cita nya pengen jadi CEO kayak Nono?” Tanya Satya kepada keempat anak-anaknya.
Sesi tanya jawab ini berlangsung saat keluarga kecil nya tengah berkumpul diruang keluarga setelah sholat isya tadi.
Ketiga putranya maupun putrinya sepertinya tak ada yang berminat dengan profesi yang ayahnya tawarkan.
“Nggak ah, Aakash mau jadi tukang gali tanah aja.” Kata Si bungsu.
“Bentar-bentar, gali kubur maksud bocil pub-ji?” Tanya Satya bingung.
Terkadang suka heran dengan Satya. Sejak lahir anaknya sudah dibuatkan nama-nama yang bagus dan keren, bahkan Satya rela browsing di gogel demi bisa mendapatkan nama yang pas. Namun ujung-ujungnya anak-anaknya dipanggil bocil ep-ep, bocil em-el, bocil pou, dan bocil pub-ji. Dan sekarang Satya ikut-ikutan memanggil Noah dengan sebutan Nono, nama panggilan yang disematkan para bocil nya kepada Noah saat dulu mereka masih bayi.
“Bukan tukang gali kubur ayah, tapi Aakash mau cari emas banyak-banyak biar cepet kaya.” Seru Aakash menjelaskan. Enak saja impiannya disebut jadi tukang gali kubur, huh ayahnya memang tidak cerdik.
“Oo tambang, bilang dong. Good good, nanti ayah dibawain permata yang harganya mahal ya!” Seru Satya.
“Yang lain mau jadi apa? Ayo suarakan impian kalian, jangan sampe nanti anak-anak ayah ada yang jadi pengangguran. Ish ish ish, tak patut.”
“Kalo Al sih mau jadi sopir pesawat.” Celetuk kakak dari si kembar.
Untuk yang ini pasti Satya tau jika putranya ingin menjadi seorang pilot.
“Pilot ya?”
“Iya ayah."
“Keren juga sih, yang penting nggak takut tinggi aja.” Ucap Satya menambahkan.
“Kalo Arnesh, mau jadi apa? Pasti mau nerusin perusahaan ayah ya?”
Ternyata harapan tak sesuai dengan yang ia inginkan, bocah itu menggelengkan kepalanya. “Mau jadi orang sukses.” Terdengar sangat singkat dan simple.
“Ini serius yang LAKIK nggak mau nerusin kekayaan ayah? Parah banget, masa ayah disuruh kerja sampe kakek-kakek.” Ujar Satya menggerutu. Ketiga anak laki-laki itu tak memberikan respon apapun terhadap ocehan ayahnya.
“Bocil pou, pasti pianis kalo nggak ballerina ya kan? Nggak salah dong dugaan ayah ganteng ini.”
“Lala mau jadi tukang bedah manusia.” Jawabnya dengan suara mengecil.
“Bisa nggak sih kalian itu pake istilah yang umum dan mudah dimengerti, ayah dengernya ngeri-ngeri sedap tau. Yang gali tanah lah, tukang bedah manusia lah. Apa sih susahnya bilang tambang sama dokter, heran ayah.”
“Biar estetik yah.” Celetuk Aakash yang cita-cita nya ingin menjadi tukang gali tanah.
“Ayah, kita nanti mau tidur sama ayah sama bunda, boleh yaa???” pinta Si cantik sambil menampakkan puppy eyes nya dihadapan sang ayah.
“Boleh sih kalo muat, ntar kalo kasurnya nggak muat paling ayah selipin di kolong tempat tidur. “ jawab Satya.
“AYAH!!”
___________
“Sayang.” Teressa yang semula tengah membersihkan peralatan makan di dapur menoleh saat dipanggil suaminya.
“Mas kenapa, anak-anak udah tidur?” Tanya Teressa.
Satya hanya berdehem sebagai balasan, pria yang usianya hampir menginjak kepala lima itu memeluk tubuh istrinya dari belakang. Satya menjatuhkan dagu nya disalah satu bahu Teressa.
“Mas ngantuk ya? Tunggu sebentar ya, ini Tessa udah mau selesai kok cuci piringnya.” Kata Teressa masih terus melanjutkan kegiatan nya mencuci piring. Wanita itu membiarkan suaminya bermanja padanya.
“Mas kangen sama bunda.” Guman Satya lirih. Teressa menghentikan kegiatannya sejenak mendengar ucapan Satya. Suaminya itu memang lemah jika menyangkut tentang mendiang sang bunda.
Dipeluk lah tubuh kekar itu dengan penuh kasih sayang. Teressa tau betul bagaimana rasanya ditinggal oleh sosok ibu, karena ia juga pernah merasa di posisi seperti Satya.
“Nggak papa kangen, masih bisa kirim doa. Bunda juga pasti seneng dikangenin sama anaknya yang paling ganteng. Mas yang kuat ya.” Kata Teressa menenangkan perasaan sang suami.
Teressa tak menyangka rasa rindu Satya terhadap bunda sangat besar. Bahkan pria itu sampai meneteskan air mata nya di bahu Teressa.
“Heum...” Balas Satya.
“Kita tidur aja yuk, udah malem. Ini aku lanjutin besok pagi aja sekalian.” Ucap Teressa menunjuk cucian piringnya.
Satya benar-benar tak mau melepas Teressa sedetik pun. Ia selalu menempel kepada sang istri. Beruntung ia memiliki istri seperti Teressa, wanita yang sabar, pengertian, dan selalu memberikan dukungan terbaik untuknya.
___________
“ Bunda, ayah kok nggak turun ke bawah? Ayah kesiangan ya?” Tanya Luna saat tidak mendapati keberadaan sang ayah di meja makan.
“Ayah lagi nggak enak badan sayang, jadi nanti bunda yang nganterin sarapan ayah ke kamar.” Jawab Teressa menjawab pertanyaan putri semata wayangnya.
“Mau lihat ayah.” Luna berlari menaiki anak tangga menuju kamar ayahnya disusul ketiga saudaranya yang lain.
“Adek pada mau ngapain bun?” Tanya Noah yang baru saja ikut bergabung ke meja makan.
“Pada jenguk ayah kamu, ayah lagi nggak enak badan.” Jawab Teressa.
“Parah banget emang?”
“Enggak kok No, Cuma meriang biasa.” Noah mangut-mangut mendengar penjelasan dari sang bunda.
“Ayah, Lala mau berangkat sekolah dulu. Nanti kalo Lala pulang sekolah Lala temenin Ayah lagi, okey.” Seru Luna saat akan berangkat ke sekolah.
“Okey girl. “ Balas Satya dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.
Kini gantian Aakash yang membisikkan sesuatu pada telinga sang ayah.
“Really?” Tanya Satya menatap putra bungsu nya.
“Hooh serius, ntar kalo menang Aakash traktir cilok, tapi ayah harus sembuh oke!” Katanya dengan antusias.
“Okey, promise ya.”
“Kalian nggak lagi bahas tentang lotre kan?” Tanya Teressa sambil menatap ayah dan anak itu dengan tatapan penuh selidik.
“Enggak bunda, suer.” Jawab Aakash menampik tuduhan dari bundanya.
“Semuanya boleh cari uang, tapi harus halal supaya barang yang kita beli berkah manfaatnya.” Pesan Teressa. Keempat anaknya mengangguk patuh. Sebelum mereka berangkat ke sekolah, satu persatu dari mereka memberikan kecupan perpisahan kepada sang ayah terlebih dahulu.
“Dadahh ayah, lope ayah.”
“Bay ayah.”
“Ayah tungguin cilok dari Aakash ya!”
“Assalamualaikum.”
Saat semuanya telah pergi, kini tinggalah Teressa seorang yang menemani Satya di kamar. Noah pergi mengantar keempat adik-adiknya ke sekolah.
Satya meringkuk di dalam pelukan istrinya, dan menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Teressa. Dengan lembut Teressa mengusap punggung lebar suaminya itu. Bisa ia rasakan dengan jelas deru nafas Satya yang terasa hangat menerpa lehernya.
“Mas yakin nggak mau di chek ke rumah sakit aja?” Tanya Teressa ke sekian kalinya.
Pria itu menggeleng lemah, “Nggak perlu. Dipeluk sama ayang juga sembuh.” Jawabnya.
Teressa mengeratkan pelukannya pada tubuh Satya, dalam kondisi sedang tidak enak badan Satya masih sempat-sempatnya menggoda dirinya. “Gemes banget sama imam ku ini.” Kata Teressa sambil menghujani wajah Satya dengan kecupan manis bertubi-tubi. Satya terkekeh kecil saat mendapatkan hadiah manis dari istrinya.
“Kayaknya kalo pake metode skin to skin, panas mas bakal cepet turun deh, yang.” Kata Satya tiba-tiba.
“Maksudnya?” Tanya Teressa tak paham.
“Nganu yuk.” Ajak Satya.
Setelah berpikir keras akhirnya Teressa paham dengan apa yang dimaksud suaminya. Wajahnya bersemu saat diajak nganu suaminya.
“Nggak ah, masih pagi juga.” Tolak Teressa malu-malu.
“Justru itu, lebih enak kalo pagi ntar sekalian mandi. Lagian mumpung anak-anak pada ke sekolah.” Kata Satya lagi. Jangan sampai bujuk dan rayuan yang ia berikan gagal. Ini kesempatan emas baginya agar bisa nganu dengan istrinya.
“Kan ntar Noah pulang mas.” Ucap Teressa mencari alasan.
“Masih lama itu mah, orang baru keluar. Mau ya, pliss mas pengen tau.”
Teressa bertambah malu saat Satya berkata terus terang seperti itu. Dari pada Satya kembali mengucapkan hal-hal yang membuat dirinya bertambah malu, akhirnya Teressa mengiyakan ajakan Satya untuk nganu Dipagi hari.
Setelah mendapat persetujuan dari sang istri, Satya bergerak begitu lincah untuk mengunci pintu dan menutup tirai kamarnya. Setelah itu ia mengaktifkan peredam suara didalam kamarnya.
Teressa yang melihatnya pun heran, tadi saja Satya menampilkan wajah lesu dan lemas. Tapi kenapa sekarang terlihat lebih segar dan bugar? Secepat itu kah efek nya?
“Mas udah enakan ya?” Tanya Teressa.
“Enakan apanya, ini SJ ikutan sakit. Yuk mulai yukk.” Seru Satya.
“Sampe demam mas turun ya?” Teressa hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
Dan adegan bercocok tanam pun terjadi pagi itu.
Satya benar-benar melakukannya hingga demam nya turun. Namun karena suhu tubuh Satya tak kunjung menurun, Teressa terlihat kewalahan mengimbangi permainan suaminya.
“Mas Satya udah turun belum sih?” Tanya Teressa dengan nafas tersenggal-senggal.
“Makin panas Mas.” Ucap Teressa.
“Yaudah berarti harus lebih lama lagi.” Kata Satya dengan santainya.
“Mas ih, anak-anak hari ini pulang pagi. Buruan ah, ntar dicariin.” Seru Teressa.
Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Dan hari itu anak-anak memang dijadwalkan pulang pagi.
Dan ternyata diluar sudah ramai dengan keempat bocil Satya yang berlarian menuju kamar ayahnya. Mereka sibuk menggedor-gedor pintu kamar ayahnya tanpa tau ada kegiatan panas didalam sana.
“Kak Noah, kok pintunya nggak dibuka sama ayah. Telfonin ayah, Lala mau ketemu ayah.” Adu Luna kepada kakak tertuanya.
Noah juga heran kenapa ayahnya sampai tak mau membukakan pintu untuk adik-adiknya. Dan saat ditelpon, tak ada jawaban sama sekali dari ayah maupun bundanya.
“Kalian ganti baju dulu, nanti kesini lagi pasti ayah sama bunda keluar.” Kata Noah kepada keempat adiknya.
Keempat anak itu pun menuruti ucapan kakaknya. Mereka akan ganti baju terlebih dahulu setelah itu kembali ke kamar ayahnya.
Disisi lain Noah yang mencoba menghubungi bunda nya malah mendapat pesan dari ayah nya.
Ayah.
“No, tolong urusin adik-adik mu dulu. Makanannya udah ready di meja makan. Ayah sama bunda masih ada urusan, Lala kamu kasih alesan apa terserah. Minta tolong ya anak ganteng, hehe.”
Noah mengeryitkan dahinya membaca pesan dari sang ayah. Urusan apa pikirnya didalam kamar. Bukannya tadi ayahnya sedang tidak enak badan?
Apa sepenting itu sampai tak bisa membuka pintu sebentar saja?
Akhirnya Noah memilih untuk menelfon ayahnya lewat panggilan telepon.
“Yah, kok nggak turun? Bunda dicariin adek nih.” Ucap Noah.
“Iya-iya entaran abis dzuhur. Masih nangung No.”
“Yaudah buruan, GPL yah.”
“Iya Nooo, ahhh,,,”
“Astaghfirulllah.” Noah langsung memutus panggilan telepon dengan ayah nya saat mendengar suara mengerikan itu.
Akhirnya ia paham urusan apa yang dilakukan ayah dan bunda nya didalam kamar.
Astaga, ayahnya benar-benar menyebalkan. Bisa-bisanya lagi sakit malah minta jatah ke bunda nya. Mana anak-anak dititipkan ke dia lagi.
“Kak Noah udah telpon ayah?” Tanya Allister.
“Udah, kalian abis ini langsung makan. Terus abis itu kita keluar, jalan-jalan ke mall. Kakak traktir kalian sepuasnya.” Ucap Noah.
“Serius nih?” Tanya salah satu dari mereka.
“Serius.”
“Asik jalan-jalan!”
Keempat anak itu langsung turun ke ruang makan untuk segera makan. Mereka sampai lupa jika kedua orang tuanya masih belum keluar dari kamar.
“Ayah belum keluar.” Tunjuk Luna pada pintu kamar ayahnya.
“Udah biarin aja, sekarang kita siap-siap jalan-jalan. Kalian belum pernah naik rollercoaster kan?”
Keempat anak itu kompak menggelengkan kepalanya.
“Nanti Kakak ajak kalian naik wahana itu.” Ujar Noah.
“Asik mau naik rollercoaster.”
Mereka menghabiskan waktu berada di pusat perbelanjaan hingga sore hari. Noah sengaja melakukan itu agar adik-adiknya tidak curiga dengan kegiatan dengan kegiatan yang dilakukan kedua orang tuanya.
“Halo, No.”
“Iya yah, kenapa?”
“Kamu sama adik-adik mu dimana?”
“Lagi main.”
“Jangan pulang kesoren, dicariin bunda.”
“Ya yah.”
“Oke, titip oleh-oleh jangan lupa ayah tunggu dirumah, bay!”
Tutt,,,,
Noah menghela nafas. Kasian sekali bunda nya.
“Kalian masih mau main sampe jam berapa?” Tanya Noah kepada adik-adiknya.
“Lala mau boneka dulu.” Tunjuk gadis itu pada boneka beruang incarannya didalam mesin pencapit disana.
“Wih ada hp booba nya juga.” Seru Aakash ikut menunjuk.
“Beli koin dulu baru main, abis itu pulang ya.”
“Ayay kapten!”
Sudah hampir setengah jam mereka bermain tapi tak mendapatkan apapun. Sedangkan Lala tak mau pulang jika belum mendapatkan boneka dengan karakter kucing tanpa telinga berwarna biru itu. Siapa lagi kalau bukan sahabat dari Nobita, yaitu Doraemon.
“Aakash mau coba sekali lagi.” Dengan serius ia mengendalikan capitan itu. Incarannya adalah hp dengan booba keluaran terbaru, namun yang ia dapat adalah emas batangan.
“Kok emas, Aakash kan mau booba.” Gumannya merasa tak puas dengan apa yang ia dapatkan.
Maklum, itu mesin capitan untuk kalangan menengah ke atas. Jadi hadiahnya no kaleng-kaleng.
“Kamu kan calon mas-mas tambang, dapet nya ya emas. Kalo nggak mau kasih ke ayah aja biar dilelang.” Seru sang kembaran, Arnesh.
“Lala gimana? Bonekanya belum dapet.” Keluh gadis itu.
Sedangkan dibelakangnya ada beberapa orang mengantri ingin bermain mesin capitan itu.
“Kakak beliin aja gimana, boneka teddy bear yang besar. Ntar bisa dipeluk Lala kalo tidur.” Tawar Noah. Namun gadis itu menggelengkan kepalanya menolak.
“Mah, mau main juga.”
“Iya sayang, antri sebentar ya.”
“Silahkan bu putranya kalo mau ikut main. Adik-adik saya udah selesai kok mainnya.” Ucap Noah mempersilahkan wanita yang mengatri dibelakang nya.
“Makasih ya mas.” Noah tersenyum tipis membalasnya.
Bukannya pulang, Lala malah begitu serius mengamati aksi anak tadi saat tengah menggerakan capitan didalam mesin itu.
Saat capitan itu berhasil menangkap sebuah boneka, Lala berseru heboh hingga membuat dirinya menjadi pusat perhatian.
“Buat Lala buat Lala.” Tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu, Lala langsung merampas boneka itu saat baru keluar dari mesin pencapit.
“Lala itu bukan punya kamu, itu punya orang lain. Balikin.” Seru Arnesh menasehati adik kembarannya.
“Tapi Lala pengen ini, Kak Noah ganti pake uang ya.” Pinta Lala.
Noah menggaruk kepala bingung, boneka nya sudah dirampas adiknya, dan ia sungkan untuk berkata.
“Emm, boneka biar diambil adeknya kakak nggak papa kan, dek? Kamu kakak ganti pake uang.” Ucap Noah dengan tak enak hati
“Nggak usah diganti, kak. Buat adeknya kakak aja.” Jawab anak laki-laki itu.
“Mah, ayo pulang.”
“Kakak nggak main lagi?”
“Enggak, tadi koin nya tinggal satu. Abi Cuma iseng main aja.”
“Yaudah kita pulang duluan mas, mari.”
Noah menatap kepergian ibu dan anak itu dengan tak enak hati. Karena niatnya untuk mengganti boneka tadi malah ditolak, rasanya ia telah memiliki hutang kepada seorang.
Kembali pada adik-adiknya, ”Lala lain kali jangan begitu ya, kalo nggak dikasih sendiri kita nggak boleh ambil hak orang lain. Paham?”
Sambil memeluk boneka nya, Lala mengangguk paham mendengar teguran dari sang kakak.
“Nanti kalo ketemu lagi Lala ganti es krim. “ Kata gadis itu.
“Cie-cie ada yang cinta monkey nih.” Ledek Aakash kepada kakak kembarannya.
“Anak kecil nggak boleh cinta-cintaan ya, harus fokus belajar.” Seru Noah mengingatkan.
“Aakash pacarnya banyak, kak.” Adu Luna kepada Noah.
“Yang paling banyak kak Arnesh tau.” Kata Aakash.
“Kak Arnesh itu diem juga banyak yang nempelin, nggak kayak kamu tiap ke sekolah ngapelin cewe-cewe mulu.” Seru Luna membongkar kelakuan adik kembarannya saat disekolah.
Entah menurun dari siapa sifat play boy itu. Padahal ayah mereka adalah tipikal orang yang setia, setiap tikungan ada.
TBC.