AFTER

AFTER
Eps 96



(After pt 2)


.


.


.


.


.


“Bunda, Lala dapet boneka Doraemon.” Luna berteriak riang saat masuk ke dalam rumah. Boneka kucing yang ia dapat akan ia pamerkan kepada ayah dan bunda nya.


“Sayang jangan teriak-teriak.” Tegur Teressa kepada putrinya yang baru pulang jalan-jalan dengan saudara-saudaranya itu.


“Lihat bunda, bagus kan.” Seru Luna sambil memperlihatkan boneka yang ia dapat.


“Bagus kok, Lala nambah koleksi boneka lagi dong, ngalahin boneka ayah.” Kata Teressa.


“Sayang itu boneka anak-anak ya bukan boneka aku!” Elak Satya.


Setelah boneka yang ia beli terkumpul sebukit, dengan entengnya Satya tidak mengakui jika itu adalah boneka miliknya. Saat Satya merengek melihat boneka tayo model baru, pria itu selalu mengatasnamakan anak-anak mereka sebagai alasan. Padahal kenyataannya dirinya lah yang ingin menambah koleksi boneka.


“Yaudah aku sumbangin aja ke anak-anak panti, lagian juga udah nggak dipake sama anak-anak.” Balas Teressa. Ancaman itu sukses membuat Satya gelagapan. Satya menggeleng keras, menolak usulan sang istri. “Iya-iya itu boneka mas, udah ya jangan dibuang. Disimpen aja, siapa tau ntar ada bocil lagi.” Kata Satya.


“Nggak usah aneh-aneh, udah mau mantu.” Seru Teressa menatap tajam suaminya.


“Ayah, Aakash dapet emas tau.” Seru Aakash sambil memperlihatkan benda emas mengkilap berbentuk batangan.


“Widih calon mas-mas tambang nih senggol dong. Tapi ini nggak nyopet kan?” Tanya Satya sambil mengamati barang berharga yang didapat oleh putra bungsu nya itu. Tenyata benar-benar mas batangan asli, No imitasi.


“Menang main capitan.” Balas Aakash. Anak laki-laki itu naik ke atas sofa kemudian merebahkan kepalanya diatas pangkuan sang bunda.


“Awhh,,,” Teressa merintih pelan saat pahanya ditimpa kepada Aakash.


“Bunda kenapa?” Tanya Aakash dengan wajah penuh khawatir.


“Emm, enggak papa kok Sayang. Sini bunda usap.” Teressa mengulurkan tangannya untuk mengusap surai hitam kepunyaan putranya.


“Ini ganti bunda ya yang nggak enak badan? Ayah sembuh, gantian bunda yang sakit.” Ucap Luna dengan bingung. Wajah ayahnya sudah terlihat segar, tapi kini gantian bunda nya yang keliatan pucat dan lesu.


Para orang dewasa saling pandang memandang. Noah berdehem menetralkan suasana.


“Itu namanya transfer penyakit.” Ucap Satya asal.


“Emang bisa, yah?”


“Bisa lah, buktinya bunda sama ayah bisa.”


Disini yang waras hanya Noah, Allister, dan Arnesh. Yang lainnya ikutan gesrek karena menanggapi bualan Satya.


“Bunda kok mau ditransfer penyakit sama ayah. Ayah juga, kok tega transfer penyakit ke bunda? Lihat bunda kasian.” Seru Luna menyalahkan Satya atas kondisi Bunda nya yang memprihatinkan.


“Ya karena Bunda udah cinta mati sama ayah, ya kan sayang.” Jawab Satya sambil mencondongkan tubuhnya pada sang istri.


“Udah-udah, sekarang pada bersih-bersih dulu sebentar lagi mau maghrib kita sholat bareng-bareng.” Potong Teressa menyudahi obrolan sore itu.


Saat yang lain sudah melarikan diri dengan kegiatan masing-masing, Satya menghadang Noah dan menagih oleh-oleh makanan dari mall.


“Oleh-oleh nya ayah mana maszehh??” Todong Satya pada putra sulungnya.


Noah mengeryitkan dahinya, “Oleh-oleh yang mana, yah? Koin game?”


Satya menekuk wajahnya sebal, “Ya yang tadi, kamu nggak bawa balik makanan atau apa yang bisa ditelen tenggorokan gitu? Kacang kacang gitu juga nggak papa demi alek, No.”


“Noah nggak beli apa-apa yah, tadi dimakan di tempat semua. Lagian dirumah bunda kan masak banyak, ngapain nanyain makanan luar.” Jawab Noah panjang lebar, terdengar seperti sebuah omelan panjang.


“Ayah kan pengen jajan, tapi nggak boleh bunda. Nitip kamu malah nggak dibeliin, huh dasar nggak peka!” Keluh Satya.


“Lagian ayah aneh-aneh, dibilangin dirumah udah banyak makanan juga. Kalo mau request kan sama bunda juga bisa. Jangan bikin bunda sakit ati karena makanan doang, kalo bunda nggak ngebolehin ya itu takdir ayah.” Ujar Noah.


Satya memilih meninggalkan Noah dan menghampiri istrinya yang ada di dapur. Namun sebelumnya pria itu berteriak mengatakan sesuatu, “SAYANG, MAS DIMARAHIN SAMA NOAH. MARAHIN, YANG.” Adu nya dengan suara yang sengaja dibesar-besarkan agar didengar oleh Teressa.


Noah memperbanyak mengucap istighfar melihat tingkah ayahnya yang subhanallah.


 


“Kalian nikahnya kapan, udah lama ditunda loh. Bunda nggak sabar pengen ditemenin masak di dapur sama mantu bunda.”


Malamnya Alice dan kakaknya datang berkunjung ke rumah Kedua orang tua Noah.


“Secepatnya, ya kan Al.” Kata Noah.


Satya menyipitkan matanya mendengar panggilan Noah kenapa calon menantunya, “Dih nggak banget, masa sama calon istri manggil nya nama. Kayak Ayah dong, ayang.”


Sifat julid, dan nyinyir yang Satya  miliki memang udah permanen. Jadi nggak bisa dihilangkan, dan mohon dimaklumi.


“Diem!” Seru Teressa sambil memelintir daging tebal bagian paha Satya. Pria itu mencebikkan mulutnya kesal karena mendapat cubitan mematikan dari sang istri.


“Jangan kelamaan loh ya, lebih cepat lebih baik. Jangan sampe nanti Alice keburu bunda lamar buat Noah, kayak ayah Satya dulu.” Cerita Teressa pada calon menantunya itu.


“Sayang, jangan begitu dong.  Malu!”


“Kurang LAKIK, deh.” Ledek Noah kepada ayahnya.


Satya pasrah, tak ada yang membelanya sama sekali. Lebih baik diam daripada aib nya dibongkar semua oleh istri dan anaknya.


“Adi istri nya kok nggak dibawa?” Tanya Teressa kepada pria yang masih menjadi asisten suaminya itu.


“Rex lagi sakit, bu. Istri saya jagain dirumah.” Jawab Adi.


“Oh kasian ya lagi sakit. Semoga cepet sembuh ya.”


“Lala sama yang lain kemana bunda, kok sepi?” Tanya Alice kepada Teressa.


“Adek-adek kamu lagi belajar diatas, besok pada mau ulangan.” Jelas Teressa memberitahukan.


“Alice boleh liat nggak?” Tanya gadis itu kembali.


“Boleh dong, kamar Mereka diatas jadi satu. Pintunya ada ditempelin stiker kartun fovorit mereka pokoknya.”


“Yaudah, kalo gitu Alice pamit ke mereka dulu, permisi.”


Setelah ditinggal Alice pergi ke kamar bocil, yang lain melanjutkan obrolan sambil membahas hari pernikahan Noah nanti.


Ceklek.


“Halo, guys.”


Para bocil yang semula sibuk di meja masing-masing segera menolehkan pandangnya saat pintu kamar Mereka dibuka dari luar.


“Kak Alice!”


“Kangen banget loh.” Seru Aakash.


“Kakak juga, kalian lagi apa nih, belajar ya?” Tanya Alice.


Mereka kompak mengangguk.


“Bentar, kakak punya hadiah buat kalian.” Alice mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, tiga buah gantungan kunci sesuai dengan karakter kartun kesukaan masing-masing anak-anak itu.


Allister dan Aakash suka dengan tayo, Arnesh suka dengan si cumi-cumi squidward, dan Luna suka dengan doraemon. Mereka langsung memasang gantungan kunci itu pada tas sekolah masing-masing. Alice ikut senang, karena barang sepele yang ia berikan dihargai oleh mereka.


“Belajar bareng-bareng yuk, Kak Alice temenin.”  Kata Alice.


Mereka akhirnya belajar bersama-sama diatas karpet bulu yang mereka gelar diatas lantai.


_________


TBC