AFTER

AFTER
Eps 55



(Satya &Teressa)


.


.


.


.


.


Tak disangka, malamnya keluarga Satya mendapatkan sebuah surat dan dokumen pengalihan nama semua warisan yang seharusnya diterima oleh Faiz beralih menjadi atas nama Noah.


Aduh nggak ngerti lagi, masi bocil udah megang perusahaaan.


Noah Depresot nggak ya?


"Ini dari kakeknya Noah?" tanya Ayah Juan dan bunda Citra yang masih tak percaya dengan kenyataan asal-usul ayahnya Noah.


Horang kaya bun, bapaknya Noah.


"Iya yah, ya gitu Lah. Kan ayahnya Noah udah meninggal, dan sekarang cuma Noah penerus tinggal keluarga itu. Kalo bukan Noah siapa lagi?" balas Satya.


"Heh tapi nggak langsung diambil alih sama Noah sekarang kan, Noah masih anak-anak bang?" sambung Bunda Citra.


Sang oma khawatir jika masa kanak-kanak cucunya akan dirampas karna perihal warisan itu.


"Kalo pengalihan atas nama mah udah atas nama Noah bund, kalo urusan langsung dikantor Satya kurang tau. Mungkin nunggu Noah 17 tahun, atau sedikit lebih dewasa dikit. Tapi kalo Noah udah mampu, kita bisa apa." jawab Satya sambil mengedikkan bahunya.


"Sebenernya alhamdulilah Noah ketemu sama kakek dan neneknya, dan dapet hak waris. Tapi kenapa ketemunya sekarang sih, Noah aja masih anak-anak dingin banget. Gimana kalo besok tiba-tiba dia langsung terjun ke perusahaan dan jadi direktur, jarang ketemu kita pasti, ntar tambah dingin lagi." gerutu Bunda Citra yang sepertinya tak rela ditinggalkan cucu kulkasnya itu.


Bukannya apa, Gathan ama Noah jelas beda jauh. Gathan keliatan banget bocah aktif, sekali ngoceh jadi rame. Lah Noah? Udah dingin, jarang interaksi, ntar ditambah jarang ketemu gara-gara sibuk sama kerjaan tambah dingin, bukan kulkas dua belas pintu tapi udah kutub utara. Bunda kan sayang semua cucu-cucunya, jadi kayak nggak adil aja kalo cuma ngenal Noah sebentar.


Paham kan?


"Bunda nggak usah khawatir bakal kesepian dirumah, kan abang bakal bikinin adek banyak buat Noah. Ya kan sayang?" seru Satya tentunya dengan gaya tengil saat menggoda istrinya.


"Mas ih." guman Teressa sambil mencubit pelan paha suaminya.


Seharusnya di cubit kuat nggak sih kalo kayak modelan Bang Sat begitu? ntar di cubit pelan bukannya kesakitan malah desah.


"Hehe."


"Iya buat cucu banyak-banyak buat bunda, biar rumah ini nggak sepi." timpal Bunda Citra menambahkan.


"Udah bund, wajah mantu mu udah merah kayak tomat mateng tuh kalian godain." ucap Ayah Juan.


"Motivasi biar semangat ngadon nya Yah." ucap Bunda memberi alasan.


"Udah jam 10, sebaiknya kalian segera istirahat. Besok masih ada kegiatan lagi kan?" ucap Ayah Juan.


Satya dan Teressa nampak kompak menganggukkan kepala.


Perbincangan malam itu pun diakhiri sampai disitu.


Setelah itu mereka bubar dan masuk kedalam kamar masing-masing.


Sedangkan Noah? anak itu sudah mengurung diri didalam kamarnya.


Dan Noah tidur sendiri ya.


...__________________...


Ya namanya pengantin baru, ngapain lagi kalo bukan olahraga malam, atau ngadon, atau maen kuda-kudaan, atau projek membuat debay.


Terserah kalian mau nyebut nya apa, ya intinya ***-***.


Seperti Satya saat ini, tak mau melewatkan kesempatan sedikit pun, saat sampai dikamar ia langsung menerjang tubuh istrinya.


Kalem boy.


"Mas."


"Hm?"


"Pelan-pelan."


Sejenak Satya menghentikan kegiatannya, kemudian beralih menatap wajah istrinya yang nampak menunduk sambil memejamkan mata dan sesekali meringis kesakitan.


Eh? apakah Satya bermain kasar? No No No!


"Sayang sakit? mas udah pelan loh?" Satya juga bingung, padahal ia bermain lembut. Tetapi kenapa istrinya mengaduh kesakitan?


"Iya mas pelan, tapi pas didalem mas tabrakin kan sakit mas! Punya mas itu nggak kecil!" seru Teressa merengut kesal dengan tingkah suaminya itu.


Emang suka ngadi-ngadi suami mu itu, jadi nggak usah kaget:)


"Biar ada sensasi baru sayang, mak jleb gitu kan endol." balas Satya.


Tak lagi merespon ucapan suaminya, Teressa lebih memilih diam karna Satya melakukan hal itu lagi dan membuat Teressa kembali seperti itu lah.


Permainan terus berlanjut hingga waktu kurang lebih 2 jam an.


Saat permainan selesai, tubuh Satya ambruk menimpa tubuh istrinya. Keduanya nampak masih mengatur nafas masing-masing dengan dada naik turun.


"Makasih sayang." bisik Satya tepat di telinga istrinya.


Terdengar sangat manis bukan?


"Hm." balas Teressa.


Baru beberapa kali melakukan 'itu' dengan Satya, tapi bisa dipastikan setiap akhir permainan pasti ia akan lemas dan kehilangan semua tenaganya.


"Mas turun dulu, berat." ucap Teressa.


Satya menggulingkan tubuhnya ke samping dan juga menarik tubuh Teressa kedalam dekapannya dengan posisi yang sama-sama miring.


"Dilepas dulu mas, keluarin." seru Teressa.


Selalu saja seperti ini, pasti Satya tidak akan mengeluarkan batangnya dari dalam 'milik Teressa' dengan alasan akan merasa kedinginan saat malam hari.


Bukannya apa, kalo semaleman nggak dikeluarin punya Mbak Teressa paginya langsung nyut-nyutan ditambah lagi biasanya tiap malem punya Satya sering bengkak didalem.


Buset dah.


"Nggak mau, gini aja sayang anget." ucap Satya.


"Punya Tessa sesek mas."


"Yaudah ganti ini aja." Tanpa meminta persetujuan Teressa, Satya langsung meraup gunung kembar milik Teressa dan menyedotnya seperti seorang bayi kehausan.


Hmm bayik gedee!


Tak apa, lebih baik seperti ini daripada yang dibawah tadi.


Posisinya berubah, Satya yang tidur dalam dekapan istrinya dan menjadikan lengan Teressa sebagai bantalan tidurnya.


Teressa hanya mendiamkan kegiatan suaminya sambil mengelus kepala Satya dengan lembut, dan tentu hal itu membuat Satya lebih cepat tidur.


Cup


"Selamat malam, mas." bisik Teressa pelan usai mengecup kening suaminya.


"Eumh..." Satya menggeliat kecil dalam dekapan istrinya. Pria itu terus mencari kehangatan didalam pelukan istrinya.


_____________


"Kamu nggak usah kerja dikantor lagi ya, dirumah aja nemenin bunda." ucap Satya saat istrinya tengah mmengikat dasi pada kerah kemejanya.


"Tapi barang-barang Tessa belum Tessa beresin, Tessa hari ini ikut mas ke kantor ya?" balas Teressa.


"Kan bisa diberesin sama karyawan lain sayang."ucap Satya.


"Emang mas udah dapet pengganti Tessa?" tanya Teressa.


"Belom sih, mana Si Marvin mau keluar lagi." ucap Satya.


"Kenapa pak Marvin keluar? Bukannya udah nyaman banget ya selama jadi asisten mas." seru Teressa.


"Kebobolan, disuruh nikah sama si Rara."


"Hah? astagfirullah mas serius?" pekik Teressa terkejut.


"Serius, kemaren dia bilang. Surat pengunduran dirinya lewat email, dia harus nerusin perusahaaan milik daddy nya sendiri karna dia udah nikah." jelas Satya.


"Kasian ya Maura masih kecil padahal, pasti trauma." ucap Teressa.


"Yang penting kan udah di sah in." balas Satya.


Sedangkan ditempat lain, lebih tepatnya dirumah emaknya Marvin. Disana nampak ramai dengan keributan emak-emak.


"Cil." panggil Marvin pada Maura.


"Apa!" ketus gadis itu.


"Jangan ngambek elah, udah gede juga." seru Marvin. Mereka dibiarkan tinggal seatap, toh udah gituan kan gimana lagi.


"Cil ngen yukk."


"MOMMYYY RARA MAU DI NGEN KAKK MARPINNN!!!"


_______________


Babay.


nggak nyangka Si Mpin bisa kelepasan.


Saya kira udah tobat loh Si Mpin.


Ish-ish tak patottt.


Maap Mpin nggak kuat iman🙂


Penonton kecewa.