
(Satya & Teressa)
.
.
.
.
.
Seharian ini Teressa hanya menyibukkan dirinya dengan bunga-bunga segar yang sengaja ia petik dari pekarangan rumah. Rencananya ia akan menghias beberapa sudut rumah dengan beberapa bunga yang akan ia taruh didalam vas bunga nanti. Dan untuk sisanya, mungkin akan ia rangkai menjadi buket untuk diberikan kepada suaminya. Sedikit terbalik tapi tak apa, tak ada larangan bagi wanita memberikan bunga kepada pria-nya bukan?
"Tessa."
Teressa menolehkan kepalanya pada sumber suara itu, mertuanya memanggilnya tenyata.
"Iya, bund?" Terlihat mertuanya itu tengah berjalan menghampirinya sambil membawa segelas susu khusus ibu hamil, tentunya untuk Teressa.
"Susunya jangan lupa diminum, sayang." Ucap bunda Citra sambil menyerahkan gelas kaca itu kepada Teressa.
Itu bukan lah yang aneh bagi mereka, karna sejak Teressa hamil satu keluarga itu sepakat untuk saling mengingatkan satu sama lain, terlebih menyangkut perihal janin yang tengah Teressa kandung.
Teressa pun menerima susu hangat itu, kemudian meneguknya hingga tandas. "Makasih, bunda." Bunda Citra pun menganggukkan kepalanya sebagai balasan.
"Ayah kemana, bund?" tanya Teressa. Ia tak melihat keberadaan ayah mertuanya sejak selesai sarapan tadi.
"Ini bunda lagi mau nyariin ayah ke depan, kamu nggak papa kan dirumah sendiri? Bunda tinggal sebentar buat nyari ayah, kayaknya main catur sama pak RT. Dari pagi nggak pulang-pulang heran." dumel bunda Citra pasalnya suaminya itu pergi sedari tadi pagi hingga sekarang dimana matahari sudah berada tepat diatas kepala.
"Iya nggak papa kok bund, lagian Tessa juga nggak kemana-mana. Mau rangkai bunga aja dirumah." jawab Teressa.
"Yaudah bunda keluar dulu, kamu hati-hati dirumah. Makanannya juga masih dimeja makan, kalo laper langsung makan ya nggak usah nunggu bunda." Lagi-lagi Teressa kembali menganggukkan kepalanya dengan patuh.
Teressa sangat bersyukur, karena ia merasa memiliki orang tua lagi. Dan beruntunglah ia mendapatkan suami seperti Satya dan lengkap dengan keluarganya yang sangat baik padanya.
"Adek kalo laper bilang ya, bunda belum laper soalnya, hehe." guman Teressa sambil mengelus lembut perutnya yang besar itu.
Teressa mulai menata vas bunga mawar tersebut dibeberapa titik rumah. Salah satu nya ia letakkan ditengah meja makan, ada juga yang ia letakkan diruang tamu, sisanya ia letakkan dikamar dan kamar mandi sebagai hiasan dan pengharum ruangan alami.
"Sekarang gampang banget capek ya, padahal cuma buat naik turun tangga." guman Teressa sambil mengusap peluh yang keluar dari dahinya.
Setelah urusan dengan bunga selesai, Teressa segera membersihkan sisa-sisa sampah dari bunga mawar tadi.
Setelah itu Teressa memilih untuk bersantai dipinggir kolam dan bermain air disana.
Terkesan sangat membosankan bukan? Maka dari itu Teressa sangat antusias menanti kehadiran malaikat kecil dalam hidupnya. Ia akan lebih bersabar, karena sedikit lagi yang Ia nantikan akan segera hadir menemuinya.
Sedangkan ditempat lain, disebuah perusahaan yang baru didirikan. Adi dibuat heran karna bos nya sedari tadi uring-uringan tak jelas dan berdampak pada dirinya yang terus mendapat omelan tanpa sebab.
Kalau saja ia tidak sedang menghadiri jamuan makan siang dari rekan bisnis nya itu, mungkin Satya akan segera pulang dan menanyakan pada istrinya kepada tidak membalas dan mengangkat pesan juga panggilan darinya.
"Pulang sekarang bisa nggak sih?" tanya Satya dengan nada sedikit ketus dan terdengar tak bersahabat.
"Syukuran syukuran syukuran! Dari tadi aja nggak kelar-kelar pidatonya!" gerutu Satya. Pria itu membuka kotak makanan yang ia bawa dari rumah. Tak peduli jika orang mengomongkannya dibelakang, ia dengan mudah menyelesaikan masalah seperti itu. Dan jangan lupakan, Satya juga ikut andil dalam proses berdirinya perusahaan baru itu, makanya ia bisa bertingkah seenak udel.
Dengan lahap Satya memasukkan makanan yang sudah dingin itu kedalam mulutnya. Rasanya sangat lezat, terlebih itu adalah masakan istrinya. Bahkan rasanya bisa mengalahkan makanan-makanan mewah yang ada disana.
"Pak." panggil Adi.
Satya tak menghiraukan panggilan asisten mudanya itu, lebih fokus kepada makanannya itu.
"Wah Pak Satya hebat ya, masih mau makan bekal dari rumah. Padahal kan disini makanannya nggak kalah enak."
"Beruntung ya yang jadi istrinya pak Satya, bekalnya selalu habis. Nggak kayak kamu! Dibawain bekal sama istri bukannya bersyukur malah dikasih ke pegawai lain!"
Satya memelankan proses mengunyah makanan didalam mulutnya itu. Ia menoleh ke arah arah kerumunan orang yang membicarakan tentang nya tadi. " Jangan lupa bersyukur, brodi!" Setelah itu Satya kembali melanjutkan acara makan siangnya.
"Pak." panggil Adi sekali lagi.
Kali ini Satya menggubris nya, namun bukan melalui ucapan. Pria itu menatap tajam Adi bahkan bola matanya melotot seperti akan keluar, Satya benar-benar tak suka kegiatannya diganggu.
"Kamu dari tadi pak pak terus, heran saya! Kalo mau makan ambil sana, jangan ganggu saya. Nggak tau orang lagi laper apa gimana sih!" omel Satya dengan nada kesal.
Adi menelan ludahnya kasar, memberanikan diri untuk tetap melanjutkan ucapannya. "Maaf pak mengganggu, bapak diminta naik keatas podium untuk memberikan motivasi atau masukan pada tamu undangan."
"Bilang kek dari tadi, pak pak mulu mana paham saya!" Dengan cepat ia membersihkan mulutnya dan segera berjalan dengan penuh kewibawaan menuju ke depan.
"Kita berikan tepuk tangan yang meriah untuk direktur perusahaan JAYA GROUP, Bapak Erlangga Satya Eka Putra!"
Suara tepuk tangan riuh memenuhi gedung itu. Semua itu ditujukan kepada Satya seorang.
Image Satya benar-benar tinggi diantara jajaran pengusaha-pengusaha. Satya memang pecicilan saat dirumah, tapi ketika sudah menyangkut pekerjaan atau karier, ia sangat serius dan selalu menunjukan keprofesionalannya dihadapan orang-orang besar.
Sangat mudah bagi Satya untuk memberikan motivasi dan inspirasi untuk orang-orang yang baru akan merintis usaha dari bawah. Dan kebanyakan ucapan yang disampaikan itu manjur. Maka tak heran banyak perusahaan lain yang ingin bekerjasama dengan perusahaan Satya. Tak hanya itu, Satya juga sering memberikan bantuan kepada perusahaan kecil yang baru berdiri, atau investasi.
__________
"Sekarang bisa pulang, kan?" tanya Satya yang mungkin ke sekian kalinya.
"Bisa pak, sekarang kita bisa pulang. Bapak ingin kembali ke kantor atau ke rumah langsung?" balas Adi bertanya.
"Saya mau pulang deh, kamu bisa anterin kan?"
Adi mengangguk, "Bisa, pak." jawabnya.
Adi segera melajukan mobil itu menuju kediaman bosnya itu.
"Kamu pulang seperti jam biasa, jangan lupa awasi karyawan lain. Saya percayakan semuanya sama kamu, Adi." Pesan Satya sebelum asistennya itu kembali ke kantor.
"Baik pak, kalo gitu saya permisi dulu. Selamat siang." pamit Adi.
"Siang."
Saat mobil yang dikendarai Adi sudah melaju jauh, Satya baru teringat sesuatu. Sial, ia lupa membelikan martabak untuk istrinya!
"SAYANG."
______________
TBC.