AFTER

AFTER
Eps 68



(Satya & Teressa)


.


.


.


.


.


Kini usia kandungan Teressa sudah masuk sembilan bulan. Setelah melakukan check up, dokter mengatakan jika hpl nya masih sekitar beberapa minggu ke depan.


Teressa dan Satya begitu senang saat mengetahui perkembangan buah hati mereka yang nampak aktif didalam sana. Sepertinya sudah tak sabar ingin melihat indahnya dunia.


"Capek ya?" Satya sedikit memijat pelan bagian pinggang belakang istrinya.


"Capek dikit, tapi seneng banyak." jawab Teressa dengan senyum merekah. Rasanya tak menyangka sekali sebentar lagi ia akan melahirkan dan akan menjadi seorang ibu.


Satya ikut tersenyum mendengarnya. Lengan kekarnya itu mulai merangkul pinggang sang istri, kemudian menuntun Teressa dengan hati-hati.


Sebenarnya bisa saja Satya menggendong istrinya atau bahkan mendorongnya dengan kursi roda. Tapi Teressa menolak keras hal itu. Dan lagi pula kata dokter ibu hamil dianjurkan untuk aktif bergerak, apalagi mendekati waktu persalinan.


Mereka berjalan melewati lorong demi lorong rumah sakit itu. Suasana tentu ramai dengan para pengunjung rumah sakit itu, ada yang check up, ada yang mengunjungi sanak saudara, ada juga yang menjalani pengobatan.


"Harap menepi, beri ruang untuk pasien."


Teressa yang awalnya berjalan santai langsung dibuat terkejut saat tiba-tiba ada tim medis dan perawat mendorong brankar pasien dengan tergesa-gesa. Untung saja ada Satya yang sigap meraih tubuhnya agar tak oleng atau bahkan tertabrak.


"Astagfirullah,,,"


"Sayang, kamu nggak papa kan? Aman kan? Ada yang lecet nggak?" Satya memberondong pertanyaan saat tau wanitanya kaget.


Teressa hanya menggeleng, wajahnya sedikit pias mungkin karena masih shock.


Jantungnya terasa seperti copot melihat pemandangan itu. Bagaimana tidak, dengan bola matanya sendiri ia bisa melihat perjuangan seorang ibu untuk anaknya.


Pasien dalam brankar tadi adalah seorang ibu hamil, yang sepertinya akan segera melahirkan. Mungkin ia akan berekspresi biasa aja jika itu tadi adalah pasien melahirkan biasa. Yang membuat dirinya risau adalah wanita tadi mengeluarkan darah banyak sekali. Ditambah lagi dengan luka di sekujur tubuhnya yang membuat Teressa semakin gelisah.


Kenapa? Apakah kecelakaan? pikirnya.


'Dokter, tolong selamatkan anak-anak ku!!'


Demi apapun mendengar jeritan itu membuat hati Teressa terasa ngilu.


Pasien itu lenyap dibalik pintu ruang persalinan.


"Sayang, kamu kenapa? Kok gugup gini?" tanya Satya dengan nada khawatir. Ia merasa Teressa tak bisa mengontrol pernapasan nya membuat wanita itu susah menghirup oksigen.


"Enggak." Teressa menggelengkan kepalanya pelan, dan salah satu tangannya mencengkeram erat jas yang dikenakan suaminya.


"Kita pulang ya mas." ajak Teressa. Satya pun menuruti ucapan istrinya. Dengan hati-hati ia kembali menuntun istrinya keluar dari rumah sakit itu.


Sampai didalam mobil, Satya dibuat gelagapan saat istrinya tiba-tiba terisak. Astaga, disiang bolong dan tak ada angin tak ada hujan. Kenapa istrinya menangis, pikirnya.


Terpaksa Satya kembali membuka safe belt yang sudah ia pasangkan pada tubuhnya. Pria itu keluar dari mobilnya, beralih menghampiri istrinya dari pintu samping.


"Sayang, kenapa hei? Cerita sama mas." Satya merengkuh tubuh bergetar itu dengan erat, seolah enggan melepaskan. Jujur saja ia masih bingung, ada apa dengan istrinya. Yang ia pikir, mungkin hormon kehamilan pemicunya.


"Ayo cerita sama, mas." bujuk Satya sambil mengusap-usap punggung Teressa dengan gerakan lembut.


"Takut,,,,hiks." Hanya itu yang mampu diucapkan Teressa.


"Takut kenapa, disini ada mas. Jangan bikin mas sama baby khawatir." ucap Satya begitu lembut dan halus.


Namun bukannya memberi jawaban, Teressa hanya menggelengkan kepalanya sambil terus sesegukan.


Disinilah kesabaran Satya diuji.


Ia tak boleh gegabah, emosi, atau bahkan melakukan hal-hal yang tak diinginkan.


Walaupun Satya dikenal sebagai orang humoris dan lawak, tentu saja pria itu memiliki sisi serius.


Oke, kali ini harus lebih sabar. Sejenak menghela nafas panjang, Satya kembali berkata," Yaudah kalo nggak mau cerita, gimana kalo kita pulang dulu terus cerita dirumah. Mau?"


Lagi-lagi hanya gelengan kepala yang Ia dapat. Bahkan Satya bisa merasakan bahwa istrinya memeluk tubuhnya semakin erat.


"Kamu tunggu disini sebentar ya, mas mau kesana dulu." kata Satya sambil mencoba melepas pelukan Teressa.


"Enggak, enggak mau. Jangan tinggalin Tessa sendiri hiks,,,," Wanita itu meraung-raung saat Satya mencoba melepaskan dirinya.


Teressa terus menatap kepergian Satya yang semakin menjauh dari pandangannya dengan menangis tersedu-sedu.


Jahat sekali suaminya itu!


Tapi tunggu, Teressa menarik ucapannya barusan. Suaminya ternyata menyetop taksi dan mengarahkannya ke samping mobil yang ia tumpangi.


"Tunggu sebentar, pak." ucap Satya kepada sang driver tersebut.


"Sayang, ayo kita pulang." Satya meraih tangan Teressa dengan lembut membantu ibu hamil itu untuk berdiri.


Satya mengajak Teressa masuk ke dalam mobil taksi itu.


Ia tau dan ia peka jika istrinya itu tak mau lepas ataupun berjauhan darinya.


Lantas bagaimana caranya untuk menenangkan Teressa jika ia sendiri harus menyetir mobil? Maka dari itu Satya memilih taksi. Dengan begitu ia akan leluasa memberikan kenyamanan untuk istrinya.


Persamaan Satya dan gula saat ini, sama-sama sweet:)


"Ke jalan ,,,,,, pak."


"Iya mas."


Dalam perjalanan menuju rumah, Teressa masih enggan buka suara dan hal itu membuat Satya kembali menghela nafas. Sangat gemas dengan tingkah istrinya itu.


Teressa masih nyaman menyandarkan kepalanya pada dada bidang Satya, apalagi tangan Satya juga sibuk mengusap kepalanya yang dibalut jilbab itu.


"Kamu takut kenapa, ayo ngomong sama mas." Mungkin ini adalah pernyataan kesekian kalinya yang Satya lontarkan.


Teressa mendongak menatap wajah Satya yang kini berhadapan langsung dengan wajahnya.


"Astaga sayang, ayo ngomong jangan liatin mas mulu, ih." Satya sangat gemas, hingga tanpa sadar menggigit pipi Teressa yang kenyal seperti bakpau itu dan berakhir membuat sang empu memanyunkan bibirnya kedepan. "Sakit!" katanya.


"Makanya ayo cerita sama mas, sayangkuu, cintakuuu!"


"Tessa kasian, dan Tessa juga takut." ucap nya lirih, namun Satya masih mampu mendengarnya.


"Relaks, nggak usah panik, pelan-pelan cerita sama mas." tutur Satya kembali.


"Tessa kasian sama ibu-ibu tadi, kayaknya kena musibah kecelakaan."


"Tessa takut, Tessa takut kalo nanti Tessa sama adek ,,,,,,"


"Shuttt, tenang aja itu nggak akan terjadi. Dan nggak usah ngomong kayak gitu. Inget, ada mas sama Noah yang siap jagain kamu. Mas bakal jagain kamu sampe adek bener-bener lahir nanti, jangan takut lagi okey."


"Mas nggak akan ninggalin Tessa kan?" Pertanyaan bodoh apalagi ini. Ya pasti kagak lah!


"Nggak, nggak akan dan nggak akan pernah." Jawab Satya dengan ketegasan.


"Tapi Tessa takut kalo-,,,,,,,,"


Selesai sudah. Mulut itu berhenti mengoceh kala bibir Satya membungkam nya dengan ciuman. Bahkan Satya tak memberikan celah bagi Teressa untuk bersuara, ia benar-benar menguasai bibir Teressa. Entah trik apa yang digunakan Satya sehingga tak terdengar bunyi decapan lidah disana.


Tenang saja, sopir taksi tak akan melihatnya karna Satya melakukannya dengan sangat rapi.


Teressa benar-benar dibuat sesak nafas karna Satya semakin memperdalam ciumannya.


Astaga, Suaminya itu benar-benar rakus! Bisa dipastikan bibirnya akan bengkak setelah ini.


"Mash,,,,!"


Keduanya sama-sama tengah mengatur nafas dengan kening yang menyatu.


"Jangan ngomong kayak gitu lagi, mas nggak suka." ucap Satya dengan tatapan serius.


Seolah tersihir dengan ucapan Satya, Teressa segera menganggukkan kepalanya dengan patuh.


Untuk mobilnya Satya tenang aja, dia sudah punya asisten baru namanya Adi. Usianya mungkin tak beda jauh dengan Noah, karna anak itu baru lulus sekolah menengah atas tahun lalu. Sebenarnya Adi juga merupakan pemuda yang pintar sama seperti Noah, namun sayangnya ekonominya kurang mendukung dirinya untuk bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.


Berkat kejujuran dan ketekunannya, Satya mempercayai pemuda itu untuk menjadi asistennya.


________________


TBC.


Bestie jangan lupa like dan komen ya.


Jangan jadi pembaca ghaib.


Bay.