AFTER

AFTER
Eps 91



(After pt 2)


.


.


.


.


.


Keluarga besar Satya menatap sendu gundukan tanah yang baru ditaburi kembang itu. Keluarga Gavin, Keluarga Bagas, dan kerabat lain juga hadir.


Disisi lain Ghea tak dapat membendung rasa sedihnya karena ia kembali ditinggal oleh orang kekasihnya. Setelah ayahnya, kini bundanya juga turut dipanggil oleh sang pencipta. Ia berusaha menegarkan hatinya, ia yakin ayah dan bundanya kini tengah menikmati masa indah di syurga. Doanya tak akan pernah terputus untuk kedua orang tuanya.


"Mommy jangan nangis, ikhlasin oma disana. Gathan yakin, oma sama opa udah ketemu di syurga." Kata Gathan menenangkan sang ibu. Ghea mengusap sisa air mata yang membasahi pipinya. Ia menatap Satya dengan sedih.


Tangisnya kembali pecah saat ia dipeluk oleh Satya. Kini hanya tinggal mereka berdua, tak ada lagi yang memberikan wejangan tentang arti kehidupan didunia ini.


"Abang,,, sekarang Ghea cuma punya abang. Abang jangan pernah tinggalin Ghea, Ghea masih butuh abang." Ujarnya sambil terisak pilu didalam dekapan Satya.


Satya memejamkan mata sambil menghela nafas. Dunia ternyata secepat ini. Ia juga tak bisa mengelak dari kematian yang telah direncanakan Tuhan untuk semua umatnya. Pria itu menegarkan hati agar tak membuat yang lain ikut larut dalam kesedihan.


"Kita masih bisa sama-sama atas kehendak Allah. Doain abang biar panjang umur, supaya bisa jaga kamu dan doain ayah bunda dari sini." Kata Satya.


Satya menyuruh Gavin untuk menghibur Ghea agar adiknya itu tidak sedih.


Satya mengangkat tubuh putrinya yang masih bersimpuh dimakam bundanya. "Oma, Lala udah bisa ballet, oma. Lala udah bisa main piano, tapi oma belum pernah liat pertunjukan, Lala. Oma jahat udah ninggalin Lala."


Gadis kecil itu menangis meraung-raung saat mendapat kabar meninggalnya sang oma, karena memang sedekat itu hubungan antara keduanya. Dan Lala menyalahkan Satya karena ia tidak bisa melihat wajah Oma nya untuk terakhir kalinya.


Semua berasal dari Tuhan, dan akan kembali kepada-Nya.


___________


Malam ini hingga malam selanjutnya, akan diadakan tahlilan selama tujuh hari berturut-turut. Acara dilangsungkan dikediaman alm. Ayah Juan dan almh. Bunda Citra.


Lantunan ayat demi ayat begitu merdu didengar telinga. Satya juga turut mengundang tetangga sekitar untuk membantu mengirim doa kepada almh.Bunda Citra.


Acara selesai pukul sepuluh malam. Dan untuk sementara, Satya dan Ghea akan menempati rumah peninggalan kedua orang tuanya hingga beberapa hari ke depan.


"Mamah malem ini tidurnya ditemenin sama Tante ya. Biar papa sama om." Tante dan om yang dimaksud Ghea adalah kedua orang tua Bagas.


"Iya, nak." Ghea menuntun mertuanya menuju kamar tamu bersama sang tante. Mamah mertuanya juga sudah tua, tentu ia harus berlaku lembut agar tidak menyakiti fisik mamah Wina. Ghea juga sudah menganggap mamah Wina sebagai ibu kandungnya sendiri. Dengan adanya mamah Wina, rasa rindu Ghea terhadap seorang ibu sedikit terobati.


"Vin, anak-anak biar sama Noah. Kamu ajak Ghea istirahat, dia kecapekan banget kayaknya." Ujar Satya kepada adik iparnya. Gavin menganggukan kepalanya, kemudian segera menyusul istrinya.


"Glory nanti sama Lala ya tidurnya." Ujar Satya sambil mengusap lembut puncak kepala keponakannya itu.


"Iya, Uncle." Jawab gadis itu.


"Mas, Lala belum makan dari tadi. Aku suruh makan nggak mau anaknya, takutnya nanti dia kena maag gara-gara telat makan." Kata Teressa mengutarakan ke kekhawatirannya kepada sang putri.


"Biar mas yang bujuk, kamu temenin anak-anak makan dulu. Lala nyusul." Ucap Satya. Pria itu lalu bergegas masuk ke dalam salah satu kamar yang dulu ditempati triple saat masih tinggal disini. Namun ternyata kamar itu kosong. Satya pun beralih ke kamar seberang, yang tak lain adalah kamar bundanya.


Ceklek


"Sayang." Panggil Satya begitu lembut, sambil menyentuh lengan putrinya


"Kamu nggak laper, hm? Yuk turun, makan bareng-bareng sama kakak- kakak mu dibawah." Bujuk Satya.


Tak ada jawaban jelas, hanya isakan keras yang terdengar pilu pada indera pendengar Satya. Diamnya Luna malah membuat gadis itu kembali terisak, hingga bahunya naik turun karena sesegukan.


Satya membalik tubuh putrinya menghadap dirinya. Ia menyibak rambut Luna yang tergerai bebas menutupi wajahnya. Diusaplah lelehan bening yang membasahi wajah putrinya.


"Maafin ayah udah ngelarang kamu ketemu oma. Ayah khawatir kamu jadi sedih lihat kondisi oma. Lala juga harus tau, ayah ngelakuim itu juga karena permintaan oma yang nggak mau bikin Lala sedih. Stop nangisnya ya, oma pasti ikut sedih lihat Lala nangis." Jelas Satya pada putrinya.


"T-tapi ayah jahatt hiks,,!"


"Shtt,,, maafin ayah, okey." Satya mengusap-usap punggung Luna dengan kasih sayang.


"Sekarang makan dulu ya, nanti tidur disini lagi juga nggak papa." Kata Satya, kembali pada tujuan utama nya yaitu membujuk Luna agar mau makan malam.


Luna menggeleng, "Lala nggak mau, Lala kenyang." Ucapnya menolak.


"Lala tega lihat bunda sedih? Bunda udah masak makanan kesukaan Lala. Bunda pasti sedih banget kalo makanannya nggak Lala makan. Makan ya, dikit aja nggak papa kok." Bujuk Satya mengatasnamakan sang istri.


Dengan segala bujuk dan rayuan yang Satya katakan, akhirnya Luna menganggukan kepalanya ia, mau diajak makan malam.


"Mau ayah gendong apa jalan sendiri, nih?" Tanya Satya menggoda putrinya yang hobi sekali minta digendong, padahal sudah besar.


"Jalan sendiri."


"Yaudah."


Satya menggandeng tangan putrinya menuruni anak tangga menuju ruang makan. Dibawah masih ramai dengan anak-anak. Dan Satya membawa Luna untuk bergabung dengan Glory dan Teressa.


"Makan sayang, yang banyak." Ucap Satya.


Luna berdecak kesal, "Dikit aja bunda."


Teressa melipat bibirnya menahan senyum, akhirnya ayah dan anak itu kembali rukun. Rumah menjadi sepi kalau tidak ada perdebatan antara keduanya.


"No, adek dibawa kesini semua. Makan bareng-bareng sini, Alice sama Dio juga sekalian diajak makan." Seru Teressa kepada putra sulungnya.


____________


Untuk acara mengenang kepergian bunda selama seratus hari, Satya kembali mengadakan tahlilan dan mengundang anak panti asuhan untuk ikut memberikan doa terbaik mereka kepada Bunda Citra. Sebagai balasan, Satya juga memberikan santunan kepada anak-anak itu.


Ia berharap, semoga semua yang ia lakukan didunia berguna untuk bundanya yang saat ini berada diakhirat.


"Semoga bunda sama ayah ditempatkan disisi terbaik-Nya. Jauh dari pintu neraka, dan diberikan kebahagiaan disana. Amin."


"Amin."


Kehidupan baru akan dimulai. Dimana Satya telah berpisah dengan kedua orang tuanya. Kehidupan dimana Satya bisa melihat anak-anaknya tumbuh dewasa.


___________


TBC


Untuk typo dll, mohon saya bisa diingatkan🙏