
(Satya &Teressa)
.
.
.
.
.
"NOAH YA ALLAH, DIMANA AYAH SAMA BUNDA MU!!" Bunda Citra menangis histeris saat tiba dirumah sakit. Putra dan menantunya juga sang cucu mengalami kecelakaan, tentu saja Bunda Citra shock.
"Oma, oma jangan gini. Ayah sama bunda udah dikasih penanganan, bunda kayaknya lahiran malem ini." Noah mencoba menenangkan Oma dan opa nya yang terlihat sangat cemas. Jujur saja Noah khawatir, apalagi kedua orang tua dari ayahnya itu sudah tua.
"Astagfirullah Ya Allah, apa dosa hamba sampai anak dan menantu saya mendapat musibah seperti ini."
BRUGHH
Tubuh Bunda Citra hampir merosot ke lantai, untung saja dengan sigap Ayah Juan menahannya agar tak sampai jatuh ke lantai.
"Astagfirullah , oma!"
"No, bantuin opa ngangkatin oma mu No."
"Iya, opa." Noah langsung membopong tubuh sang oma dan membawanya menuju ke IGD untuk segera diberikan penanganan medis.
Kini waktu menunjukkan sudah hampir dini hari atau tengah malam. Noah masih mondar mandir dengan perasaan cemas dan khawatir didepan ruang ayahnya, bundanya, dan sang oma. Ketiga pintu ruangan itu masih rapat tertutup, belum ada dokter maupun suster yang keluar memberikan kabar.
"Sebaiknya kamu pulang dulu, Alice. Udah tengah malem, kamu juga butuh istirahat." Setelah berdiaman cukup lama, akhirnya Noah buka suara.
Gadis itu menengok menatap Noah dengan ragu. Ia adalah orang pertama yang memberi kabar kepada Noah tentang kecelakaan Satya dan Teressa tadi. Dan Adi, benar itu adalah kakaknya. Ternyata dunia sesempit ini.
"Alice mau disini dulu, nungguin Kak Adi." ujarnya pelan. Alice meremat ujung baju yang ia kenakan lantaran ikut takut. Takut, karna hanya Adi yang kini ia miliki. Entahlah, entah kepada siapa doa ia panjatkan, yang pasti ia berdoa agar semua korban kecelakaan tadi selamat.
Bila kalian berpikir kenapa hanya mereka berdua yang menunggu? dimana Ayah Juan?
Mendapat kabar jika sang kakak dan kakak ipar mendapat musibah kecelakaan, membuat Ghea dan keluarga langsung datang ke rumah sakit. Dan mungkin saat ini Ayah Juan menunggu mereka.
"Ayah, gimana kondisi abang sama lainnya? Bunda gimana? Mamah sama papah belum Ghea kabarin, Ghea mau kabarin besok aja. Ayah nggak papa kan ditemenin sama kita dulu?" ujar Ghea.
"Nggak papa, ada kalian juga udah lebih dari cukup." Jawab Ayah Juan memaklumi.
"Noah!" Noah langsung bangkit dari tempat duduknya dan membalas pelukan menenangkan dari Ghea, aunty tercinta.
Disana juga ada Gathan yang menggandeng kedua tangan adiknya. Dan Gavin, pria itu menggendong baby Glory dengan menggunakan baby carrier didepan tubuhnya.
"Noah yang sabar ya. Ayah sama bunda mu pasti aman-aman aja, okey. Kamu tenang, doain yang terbaik buat mereka. Bunda kamu lahiran malem ini?" tanya Ghea.
"Iya tante, kata dokter ada benturan yang kena bagian perut bunda. Bunda bakal dioperasi, takutnya adek kenapa-napa. "
Tiba-tiba salah pintu salah satu ruangan terbuka, seorang dokter keluar dari sana. "Keluarga pasien?"
Semua menoleh, Noah segera angkat bicara. "Saya putranya dok, gimana keadaaan bunda sama adek saya?"
"Pasien sudah berhasil melahirkan dengan operasi. Sekarang masih dalam pengaruh obat bius, mungkin beberapa jam nanti pasien akan segera sadar. Dan adik anda lahir dengan jenis kelamin laki-laki." jelas dokter itu panjang lebar.
Noah masih diam menyimak, ada suatu hal yang ia khawatirkan. Ia belum mendengar tangis adiknya, kenapa?
"Tadi awalnya bayi kesusahan dalam menghirup oksigen karena terlilit tali pusar. Setelah kami tindak lanjuti, bisa kami pastikan semua aman-aman saja. Tidak ada cacat atau hal lain yang kurang. Bila mana ingin mengadzani bayi, anda bisa masuk ke dalam."
"Baik dok, saya mau masuk."
Dokter tersebut mempersilakan Noah untuk masuk ke dalam ruang bersalin Teressa.
Dengan tangan gemetaran, Noah mengangkat tubuh mungil adiknya yang masih merah. Bayi tampan itu bergerak kecil saat disentuh oleh kakaknya. Walau tidak memiliki hubungan darah sama sekali, Noah sangat menyayangi adik kecilnya itu. Terlebih lagi malaikat kecil itu adalah hasil penantian panjang dari kedua orang tuanya.
Dengan suara rendah Noah mulai melantunkan adzan tepat didekat telinga kanan kecil adiknya.
"Adek sehat sehat ya. Ayah lagi berjuang biar bisa ketemu sama adek." lirih Noah sambil mendekap bayi mungil itu.
"Bunda, bunda cepet sadar. Adek udah lahir, adek nunggu asi dari bunda." Noah menatap sendu wajah bundanya yang masih setia memejamkan matanya.
"Sus, tolong kasih kain atau apapun biar adik saya nggak kedinginan." Suster disana pun segera mengambil alih tubuh adik Noah. Memberikan kain untuk penghangat.
Usai bertemu bunda dan adiknya, Noah juga ingin tau perkembangan kabar dari ayahnya. Setelah ini mungkin bundanya akan dipindah ke ruang rawat biasa.
Diluar nampak sangat ramai, dan Noah melihat jika sang oma sudah sadar. "Oma, oma udah enakan?" tanyanya masih dengan nada khawatir.
"Udah sayang, gimana kondisi Bunda sama adek mu? Mereka baik-baik aja kan?" Noah mengaggukan kepalanya. Dirinya menjelaskan sedetail-detailnya tentang kondisi Bunda dan adiknya.
"Alhamdulillah Ya Allah, cucu hamba sudah lahir dengan selamat." Lantaran tak bisa lagi membendung rasa bahagianya, Bunda Citra sampai melakukan sujud syukur dilantai rumah sakit. Bunda Citra benar-benar bersyukur kepada Allah.
"Keluarga pasien Adi?"
"Saya, dok." Alice segera menampakkan dirinya.
"Silahkan ikut ke ruangan saya." Alice segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mengikuti dokter yang menangani kakaknya menuju ruangannya.
"Noah nggak nemenin dia? Itu temen Noah kan?" Ucap Ghea yang ikut kasian melihat Alice datang sendiri menemui dokter.
"Tapi kan tan-"
"Noah temenin gih. Ayah biar tante yang urusin." Noah akhirnya mengangguk pasrah. Dengan terpaksa ia menyeret kakinya menyusul Alice dan dokter tadi.
"Jadi begini, saya rasa kecelakaan ini memang terjadi karena kondisi pengemudi yang kurang baik. Setelah saya check hasilnya memang pengemudi positif mengalami rabun jauh, dan mungkin puncaknya adalah kejadian tadi. Tapi sebelumnya apakah pasien Adi juga gemar mengonsumsi kopi?"
Alice mengangguk,"Benar, kakak saya suka minum kopi."
"Saya sarankan agar pasien mengurangi aktivitas mengonsumsi kopi terlalu sering. Karena kadar kafein nya lumayan tinggi, dan bisa menyebabkan sakit kepala atau bahkan sampai pembengkakan pembuluh darah diotak." Ujar dokter lagi.
Alice kembali mengangguk paham. Yang ia takutkan saat ini adalah, apakah kakaknya akan dituntut setelah peristiwa ini? Gadis itu gelisah, cemas dengan pikirannya sendiri.
"Pasien sudah siuman, dan kalian bisa menjenguknya. Bicarakan dengan tenang, karena juga terdapat luka dibagian kepala pasien. Jika terlalu berpikir keras, rasa sakit dikepala bisa datang lagi." Ucap Dokter itu lagi.
"Baik dok, terima kasih atas waktunya. Kami pamit terlebih dahulu, permisi."
"Baik, silahkan."
__________
TBC.
Jika terdapat info, tempat, atau lainnya yang salah mohon dimaklumi. Saya juga dapet info dari baca2 di internet. Kalo mau menyuarakan isi hati silahkan koreksi aja, biar saya perbaiki.
Lope U sekebon toge♡