
(After pt 2)
.
.
.
.
.
"Bunda, sepatu Lala mana? Lala mau latihan ballet." Luna menghampiri bundanya dan menanyakan dimana keberadaan sepatu ballet nya yang biasa ia pakai untuk latihan.
"Emang di rak biasanya nggak ada, hm? Sebentar bunda cariin dulu." Teressa bergerak untuk mencari sepatu putrinya. Biasanya jika sosok ibu sudah turun tangan, pasti barang yang hilang akan ketemu juga.
"Ini nggak sepatunya?" Tanya Teressa sambil menenteng sepasang sepatu ballet yang ia temukan dibawah kolong tempat tidur.
Luna mengangguk antusias, sepatunya ketemu. "Makasih bunda." Seru anak itu.
"Sama-sama, sayang." Balas Teressa dengan mengusak puncak kepala putrinya.
Setelah jemputan datang, Luna dan teman-teman nya segera diantar ke tempat latihan ballet seperti biasa. Teressa bersyukur karena Lala sudah bisa beraktifitas seperti semula. Gadis itu kembali ceria setelah kepergian oma-nya beberapa bulan lalu.
Sedangkan disisi lain, ketiga putra Teressa dengan beradu mulut perihal ayahnya yang tak kunjung pulang. Padahal hari ini Satya berjanji akan pulang lebih awal untuk menemani mereka bermain play station dirumah.
"Bunda, telfonin ayah dong. Kok lama banget nggak pulang-pulang, Aakash sama kakak udah lama nunggu nih." Adu Aakash kepada sang bunda.
"Emang nggak bisa main bertiga aja?" Tanya Teressa.
"Enggak bisa bunda, harus ada pasangannya. Gimana kalo sambil nunggu ayah pulang, mainnya sama bunda dulu?" Ucap Aakash.
"Bunda kan nggak bisa, ganteng." Balas Teressa sambil menjawil pipi gembul putra bungsu nya. "Sebentar bunda telfonin ayah dulu." Sambung Teressa kemudian. Ia mengambil ponselnya di kamar, kemudian segera menelfon suaminya.
"Assalamualaikum, sayang. Ada apa?"
"Mas Satya pulangnya jam berapa? Ini ditanyain anak-anak, katanya mas ngajak main ps bareng. Aakash ngajak aku, tapi akunya yang nggak bisa. Gimana mas?"
"Oh iya mas lupa, yaudah mas langsung pulang aja. Kebetulan ini lagi diluar."
"Yaudah kalo gitu Tessa tunggu dirumah sama anak-anak. Hati-hati dijalan, assalamualaikum mas."
"Waalaikumsalam."
"Bunda, ayah kapan pulang?" Tanya Aakash untuk yang ke sekian kalinya.
"Sebentar lagi ayah pulang sayang, yuk main yang lain dulu bunda temenin." Ajak Teressa.
Aakash menganggukan kepalanya, kemudian menarik lengan bunda nya menuju tempat dimana kedua kakaknya tengah berkumpul.
Tak butuh waktu lama bagi Satya untuk sampai di rumah. Sopirnya yang sekarang adalah mantan pembalap internasional, jadi aspal adalah makanan sehari-hari baginya.
"Assalamualaikum, keluarga ku."
Deg
Satya teringat ia pernah menyapa anggota keluarganya yang dulu dengan seruan semacam ini. Kini keluarga nya tinggalah anak-anak dan istrinya.
"Waalaikumsalam, ayah!!!" Tubuh tegap Satya langsung diserbu oleh ketiga putranya.
"Bentar diabsen dulu. Bocil ep-ep hadir, bocil, em-el juga ada, bocil pub-ji ada, bocil pou ad- bocil pou kemana? Kok kurang sebiji ini?" Tanya Satya saat tidak mendapati putri semata wayangnya.
"Pou lagi les ballet, yah." Seru Allister memberi tahukan.
"O oh, okey. Kita main ps setelah ayah mandi, ganti baju, makan gimana? Setuju?" Tanya Satya.
Bukan maksud Satya untuk memanjakan anak-anaknya. Satya juga sadar perlu meluangkan waktu untuk keluarganya. Waktu bermain, mereka akan bermain. Dan jika sudah tiba waktunya belajar, mereka juga belajar seperti anak-anak yang lainnya.
Satya senang karena keberadaannya sangat dibutuhkan oleh anak-anaknya. Lebih baik seperti itu, dari pada anaknya berusaha payah mengerjakan suatu hal tanpa campur tangan dirinya. Rasanya kurang afdol saja jika dirinya tidak ikut andil dalam urusan anak-anak.
The real hot dedih.
"Besok Kakak mau pergi sama kak Alice, siapa yang mau ikut?" Jika kebanyakan orang menghindari membawa orang lain saat sedang pdkt, Noah malah sering membawa salah satu adiknya saat dirinya ngedate dengan alice. Ia selalu menghindari yang namanya fitnah, dan menghindari orang ketiga yang disebut setan.
Untuk hubungannya dengan Alice, Teressa maupun Satya menyerahkan semua keputusan kepada Noah. Karena Noah yang akan menjalani, mereka yakin Noah bisa menentukan mana pilihannya.
"Ikut!!"
"Al, daftar es krim."
"Aa, juga ikut. Mau beli topeng monyet."
Uhukk uhuk
Satya tersedak telur puyuh mendengar ucapan putra bungsu nya.
"Muka mu udah kayak monyet, ngapain beli topeng monyet?! Buang-buang duit aja!" Seru Arnesh pada adiknya.
"Sayang nggak boleh ngomong kayak gitu. Itu ciptaan Allah loh." Tegur Teressa dengan lembut agar tidak melukai hati Arnesh.
"Maaf bunda." Ucap Arnesh mengakui kesalahannya.
Setiap kali ada teguran dari bundanya, mereka tak ada yang membantah sama sekali. Jika memang perbuatan mereka salah, dengan kesadaran diri masing-masing, mereka meminta maaf secara langsung.
"Maafin Arnesh." Kata Arnesh sambil menyodorkan telapak tangannya kepada sang kembaran.
"Oke." Balas Aakash nerima uluran tangan kembarannya untuk dijabat. Si bungsu memang gampang memaafkan, dan terlalu cuek dengan ucapan orang lain yang terkadang nylekit di hati.
"Heran, sih. Ayah bener-bener heran." Kata Satya tiba-tiba.
Allister memiringkan kepalanya menatap sang ayah, "Kenapa heran, yah?"
"Nih ya dengerin ayah mau cerita. Dulu itu ayah sama aunty kalian kalo baru bangun tidur aja nggak afdol kalo nggak gelud dulu. Dulu sering tuh aunty kalian ayah sleding di ubin. Keren kan ayah, nggak kayak kalian. Masa belum berantem udah maaf-maafan, sangat tidak LAKIK." Kata Satya.
Ini salah satu cerita sesat, jadi jangan ditiru.
"Nggak jadi keren, masa lawan cewek. Seharusnya lawan cowok, ayah kurang LAKIK ah." Kata Aakash.
"Ih keren lah, yang penting berantem ayah yang menang."
Semua anaknya kompak menggelengkan kepalanya tak setuju dengan pendapat ayahnya.
"Yang namanya berantem nggak ada yang keren. Kecuali kalian berantem di arena tanding, kalo menang sekali aja, pasti udah dibilang keren sama orang-orang." Seru Teressa.
"Dan cerita ayah tadi jangan dicontoh, kalian cowok-cowok nggak boleh main fisik sama cewe ataupun cowo. Selain dosa juga bisa buat nyawa orang lain melayang, kalian paham?" Sambung Teressa.
Triple dan Allister mengaggukan kepalanya paham mendengar ceramah bundanya. Dimeja makan itu hanya Bundanya yang normal, ayahnya sepertinya tengah oleng hingga mengajarkan hal sesat kepada anak-anaknya.
"Ingat ya bocil-bocil, jangan ditiru." Kata Satya. Pria itu menelan ludahnya kasar saat ditatap tajam oleh sang istri.
"Tadi tuh cuma pengalaman aja sayang, nggak usah ditiru dan dicontoh. Yang dicontoh dan ditiru omongan bunda aja ya, ayah mah perbuatannya nggak ada yang bener. Jangan dicontoh pokoknya." Ucap Satya lagi. Istrinya selalu mengingatkan agar mengajarkan hal-hal baik untuk anak-anak, tapi kadang Satya suka keceplosan dan berbicara aneh-aneh membuat Teressa ingin menyentil jantungnya.
"Tapi Lala pengen bisa berantem kayak yang di tv-tv, bunda. Ntar keren bisa bantuin orang yang dijahatin sama orang jahat." Ucap Luna.
"Yang ini baru keren, boleh. Tapi belajar buat jaga diri sendiri dulu, kalo udah pro nanti bisa bantuin orang lain juga." Luna mengangguk antusias mendapat dukungan dari sang bunda.
___________
TBC