
(Satya & Teressa)
.
.
.
.
.
Sudah kurang lebih setahun Satya dan Teressa membina rumah tangga bersama. Untuk saat ini, semuanya masih aman-aman saja walau keduanya belum dikaruniai seorang anak.
Sabar ya.
"Eh kadal!" pekik Satya terkejut.
Bukan hanya Satya, tapi semua pimpinan perusahaaan yang tengah melangsungkan acara rapat dengan Gavin mengelus dada karna terkejut tiba-tiba pintu didorong cukup kuat dari luar.
Tiba-tiba datanglah ketiga bocah laki-laki dibalik pintu sana, siapa lagi kalo bukan Gathan dan kedua adik tampannya.
"Daddy!!" seru Gathan.
"Halloo semua." sapa Gathan kepada orang-orang disana. Dengan santainya ia membawa kedua adiknya menuju sang ayah yang duduk diujung meja rapat itu.
Gavin menatap istrinya dengan tanda tanya, sedangkan Ghea hanya meringis melihat tingkah ketiga putranya yang begitu antusias untuk menemui sang ayah.
"Sorry." guman Ghea merasa tak enak hati.
"Its okey, ga papa. Kenapa nggak nunggu diruangan aku aja mom?" bisik Gavin.
"Anak-anak nggak mau dad, maaf ya." balas Ghea.
"Nggak papa sayang." ucap Gavin.
Dan akhirnya rapat tetap berlanjut dengan Gavin yang memangku kedua putranya di pahanya bagian sisi kiri dan kanan, sedangkan Gathan dipangku Ghea yang juga duduk disamping Gavin.
"Maaf atas ketidaknyamanannya, rapat bisa kita lanjut?" seru Gavin.
Semua hadirin menganggukkan kepalanya setuju.
Untunglah kedua bocil kembar itu anteng saat bersama ayahnya, tak rewel atau merengek ini dan itu. Mereka sama-sama sibuk memainkan pulpen yang sebelumnya diberikan oleh Gavin.
"Terus, ini Noah langsung terjun sendiri apa anda sediakan pendamping untuk masalah kantor?" tanya Satya sosok pria paruh baya yang tenyata adalah kakeknya Noah.
"Sebenernya sudah saya siapkan beberapa orang untuk menjadi pendamping Noah saat proses pengenalan dan pemahaman materi permasalahan kantor, tapi semua keputusan saya serahkan kepada cucu saya antara setuju dan tidaknya. Barangkali anda ada calon yang sekiranya bisa membuat cucu saya nyaman, dan bisa membuatnya mengerti dengan mudah, kita hanya perlu yang amanah." balasnya.
"Saya pribadi sih belum ada, soalnya saya juga butuh asisten sama sekertaris, adik ipar barang kali ada usulan?" ucap Satya.
"Gimana kalo anda keluarkan beberapa orang kepercayaan anda, setelah itu biar Noah sendiri yang menentukan." ucap Gavin.
"Kamu setuju No?" tanya Satya menatap putranya.
"Iya." sembari menganggukkan kepalanya.
"Yakin?" tanya Satya lagi.
"Yakin." jawab Noah dengan mantap.
Gathan tak henti-hentinya menyodorkan kedua jempol mungilnya kearah Noah saat anak itu tengah mempresentasikan suatu hal.
Hmm, terpukau ya?
__________
"Kak Noah keren banget!!" puji Gathan pada kakak sepupu laki-laki itu.
"Noah udah makan?" tanya Ghea pada sang keponakanan yang tengah asik bermain dengan kedua putra kembarnya.
"Belum tante." jawab Noah.
"Tante bawa makanan banyak, kita makan bareng-bareng ya." ajak Ghea, anak kulkas itu membalasnya dengan menganggukkan kepalanya.
"Kak Noah, itu grandpa nya kak Noah ya?" bisik Gathan bertanya.
"Iya." jawab Noah.
"Hai anak tampan, kau tidak ingin berkenalan dengan kakek hm?"
"Mommy!!!" Gathan malah merapatkan tubuhnya pada tubuh ibunya.
"Kenapa takut hm? itu grandpa nya kak Noah, salim dulu sana." ucap Ghea sambil mengusap lembut kepala putranya.
Tak biasanya Gathan takut kepada orang baru, namun akhirnya ia memberanikan diri untuk menyapa kakek dari Noah itu.
"Assalamualaikum grandpa, ini Athan anaknya mommy sama daddy, kakaknya dek Ghavi sama dek Gheva, adiknya Kak Noah, sama keponakannya Uncle Satya. " lengkap sudah Gathan memperkenalkan dirinya. Tak lupa, bocah itu juga mencium punggung tangan pria paruh baya itu.
"Waalaikumsalam, perkenalkan kakek ini grandpa nya kakak mu Noah." ucap Kakeknya Noah sambil mengusap kepala Gathan.
"Oooo." balas Gathan sambil menganggukkan kepalanya paham.
"Mamm...mamm..
"Mmmo..myyy..
"Iya sayang, yuk makan yuk." seru Ghea.
"Abang, tolong Noah sama Om nya dilayanin ya, Ghea ngurusin anak-anak nih." seru Ghea.
"Yoi, kuy makan." balas Satya.
__________
Setelah pertemuan tadi, mereka pun kembali pada kegiatan masing-masing. Dan Satya memilih untuk pulang kerumah dulu, entah kenapa setiap hari ia merindukan istri tercinta nya itu.
"Assalamualaikum." ucap Satya dan Noah bersamaan.
"Gimana rapatnya lancar mas?" tanya Teressa seusai menyalami suaminya.
"Lancar sayang." jawab Satya.
Mereka bertiga masuk kedalam rumah. Rumah agak sepi karna bunda dan ayah sedang keluar rumah. Lebih tepatnya ikut mengantar pesanan ikan ke beberapa resto dan rumah makan yang sebelumnya memesan ikan pada ayah.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Teressa kembali kedepan dan membuka pintu rumah mertuanya itu.
Ayah dan bunda sudah pulang.
CEKLEK
"Bunda sama ayah udah pulang." ucap Teressa sambil bergantian menyalami tangan kedua mertuanya itu.
"Iya nih, haduh diluar tuh panas banget ya ternyata. Bunda nggak mau lagi deh ikut-ikutan nganter ikan, panas banget kalo siang-siang gini." keluh Bunda Citra.
"Ayah bilang juga apa, mending dirumah aja masak ikan sama menantu." timpal Ayah Juan.
"Tessa bantuin bun." ucap Teressa yang merasa kasian melihat mertuanya membawa banyak barang belanjaan.
"Makasih ya sayang." balas Bunda, wanita itu menyerahkan beberapa kantung belanjaan kepada menantunya.
"Si abang udah pulang ya?" tanya Bunda Citra.
"Iya bun, mas Satya udah pulang."
Kini mereka sudah sampai di dapur, dan Teressa juga sedang membongkar belanjaan mertuanya.
Guys jangan salah sangka ya, ntar kalian ngiranya Teressa nggak ngapa-ngapain. Teressa seharian udah beberes, depan, dalem, belakang rumah udah ready semua. Makan siang udah tertata rapi dimeja makan, dan belom lagi tadi pagi udah nyuci baju serumah.
Strong kan.
Perihal bunda belanja, itu cuma kebetulan aja. Soalnya tadi bunda bilang mau sekalian belanja bulanan, pas nganter ikan tadi.
"Bunda beli jamu?" tanya Teressa sambil memegang botol kaca berisikan minuman tradisonal itu.
"Iya itu rekomendasi dari temen bunda, katanya biar cepet punya momongan." jawab Bunda Citra.
"Buat Tessa ya bun?" guman Teressa.
"Iya buat kamu sayang, buat si abang juga bunda beliin. Kamu jangan mikir yang aneh-aneh ya. Bunda cuma ngasih tips aja, nggak ada salahnya kan kita ikhtiar sambil usaha." ucap Bunda Citra sambil mengusap punggung Teressa.
"Ada apa nih?" tanya Satya yang tiba-tiba ikut nimbrung obrolan mertua dan menantu itu.
Pertanyaannya belum sempat dijawab, Satya sudah melayangkan pertanyaan lagi.
"Ini jamu apaan bund?" tanya Satya.
"Jamu apaan sayang?" tanya Satya beralih pada istrinya.
"Sayang." seru Satya membuyarkan lamunan istrinya.
"Eh? i-ini jamu buat awet muda mas, bunda yang beliin. Iya kan bund?" seru Teressa beralasan. Bunda tertegun mendengar alasan menantunya, pasti Teressa tak ingin suaminya bertengkar lagi dengan bunda perihal 'momongan'
Ya namanya juga emak-emak ye kan, apalagi anak-anaknya udah pada nikah semua. Apalagi yang diharapin kalo bukan cucu yang banyak? Paham sendiri lah.
Rejeki udah ada yang ngatur diatas, walau kita udah berencana ini itu, tetep aja yang ngehendaki ya yang maha kuasa.
Tapi nggak ada salahnya kan kalo usaha?
"Bentar-bentar, kayak pernah liat ni jamu?" guman Satya.
"Bunda beli jamu-jamuan kayak dulu lagi? biar apa sih? Kalaupun Satya punya anak, Satya nggak mau ya anak Satya dicampur-campur sama jamu ginian. Pokoknya harus ori buatan Satya dan Tessa." ucap Satya.
"Mas Satya ngomongnya jangan gitu." tegur Teressa.
"Nggak papa kok bun, nanti Tessa minum." ucap Teressa yang tak ingin membuat harapan mertuanya pupus.
Bunda hanya tersenyum membalas ucapan menantunya.
___________
Babay.
Ehemm, part selanjutnya mungkin agak ngebut ya kawan.
Di MY DUDA juga ngebut, mungkin beberapa tahun kemudian.
Tapi bakal dibuat senyambung mungkin kok.
Soalnya aing mau persiapan ujian.
Doain lancar ya.
Dadahh.
Oh iya dulu ada yg minta visual Satya ama Teressa ya? kalo yang baca my duda pasti udah tau, buat yang belum tau othor kasih tau lagi ya.
Visual Noah belum nemu, ntar gede sekalian ya😊😊