AFTER

AFTER
02



"Lina, kau tidak apa-apa?" tanya seorang pria yang baru saja datang ke toko.


"Aku baik-baik saja," jawabku singkat


Ia langsung duduk dikursi yang ada dengan wajah khawatir. Aku hanya berjalan mendekati pria yang bernama Derris itu. Setelah menjamunya, aku pun ikut duduk dihadapannya.


"Apa kau punya masalah?" tanyanya langsung tanpa basa-basi.


"Tenang saja, lagipula aku hanya terlalu banyak pikiran disini," jawabku.


Ia hanya mendengus kesal, "Sudah kubilang untuk mencari teman lain agar kau lebih baik, tahunya malah begini," kesal Derris.


"Daripada itu, lebih baik kau minum dulu teh ini," tawarku sambil menyodorkan teh kepadanya. "Selain itu, aku baik-baik saja kok." ucapku sembari tersenyum.


"Baik? Kau sampai melamun terus seperti tadi apakah kau bilang baik?" tanya Derris bertubi-tubi tanpa pendahuluan.


"Itu ... mungkin hanya kesalahanku saja ...." elakku karena tak mau menyusahkan.


"Kau pikir yang seperti itu baik? Aku ragu kalau kau tadi tidak melamun juga. Kau juga sudah kusuruh untuk mencari pekerja lain kan? Memang apa susahnya sih untukmu, bahkan sampai begini. Kau tahu, banyak yang khawatir padamu akhir-akhir ini karena kau terlalu bekerja keras. Sekarang, kau malah sering melamun seperti ini apa yang kau pikirkan? Kau tahu kan kami sangat khawatir padamu...," belum sempat ia mengeluarkan lebih banyak lagi ocehannya, ada seseorang yang membuka pintu tokoku dan itu adalah salah satu temanku, Harith.


"Permisi sebentar ya," aku segera berdiri sambil menuju meja kasir sembari bersiap-siap. "Selamat datang, Harith. Kau tidak lupa kan soal yang kemarin?" tanyaku.


"Ah ... tidak kok, aku akan bekerja disini mulai besok kan?" jawabmu dengan wajah penuh semangat.


"Tapi, jangan lupa kalau kau masih punya sedikit hutang sebanyak dua puluh perak," kataku yang mungkin sedikit memberi peringatan.


"I-iya ... hehe, ngomong-ngomong kak Lina di sini sendiri?" tanya anak berumur sepuluh tahun itu padaku.


"Ya ... bisa dibilang begitu," jawabku sambil tersenyum tipis.


Aku pun kembali duduk berhadapan dengan Derris. Dia masih kesal karena aku harus selalu menanggung beban ini sendirian. Padahal, bukan aku saja yang menanggungnya tetapi tubuh ini juga.


"Tapi ... kau tidak apa-apa kan?" tanyanya memulai pembicaraan kembali.


"Aku baik-baik saja, kau tak perlu begitu khawatir Derris," jawabku setelah meminum teh.


"Saat kau bilang baik, yang ada malah kau menanggung bebanmu seorang diri lagi. Aku pun tak pernah melihatmu menangis karena beban itu," dengusnya kesal padaku.


"Apakah karena semua masalah itu aku harus menangis?" tanyaku.


Dia hanya terdiam tanpa suara sedikit pun. Raut wajahnya menunjukkan dia sedikit khawatir, namun ia tak mau mengakuinya. Mungkin juga, ini hari terakhirku ada disini.


Aku hanya meminum sedikit tehku. Secara letak, tempatku dan Derris duduk tepat di sebelah meja kasir. Selain itu, ada kalanya aku sedikit beristirahat setelah pekerjaanku ini baru saja selesai.


"Hey ... aku tahu mungkin ini terlihat tidak baik untukmu, tapi aku yakin kau bisa di sini tanpa ku karena kau juga akan bekerja di toko ini kan?" tanyaku padamu,ntah berapa kali aku sudah bertanya padanya.


"Kau tahu, mungkin kau benar. Bisa saja aku dan yang lain membuat sesuatu yang berbeda," jawabnya dengan suara seolah dia sudah menerima semuanya.


"Maaf ya, mungkin ini terlalu gegabah. Namun, aku juga harus mencari seseorang ...." Kataku sambil berdiri dari meja, dan menatap jendela," jadi, aku harap kalian bisa bekerja satu sama lain."


"Baiklah," Ujarnya.


Setelah itu ia pergi dari sini, yang tersisa hanyalah aku dan Harith. Anak ini, dia tampak tak lelah sama sekali. Padahal, pekerjaannya terlihat sedikit. memberatkan tubuhnya.


Sebenarnya Iris dan Ricky sudah pergi, dan sekarang sudah jam tiga sore. Meski begitu, saat mereka akan berangkat seakan-akan mereka berdua gugup. Ntah apa yang ada dipikiran mereka berdua,aku hanya bisa bingung melihat dua orang itu.


Kalau kulihat, sikap mereka berdua sejak tadi pagi hanyalah terlihat gugup. Mereka mungkin punya rencana, ya bisa saja begitu. Daripada memikirkan hal seperti ini, lebih baik aku membuat teh lagi untuk Harith.


Aku menepuk pundaknya, ia berbalik dengan wajah penasaran. Aku hanya menunjuk ke arah kursi kayu yang sudah terdapat teh di mejanya. Ia hanya menggelengkan kepala seolah dia masih belum lelah.


"Apa kau tak lelah?" tanyaku padamu karena sedikit kasihan.


"Kakak tak perlu membuat bikin teh seperti itu. Lagipula aku kuat kok," jawabnya yakin dengan sambil tersenyum.


"Betul, tapi kalau orang kuat tidak istirahat juga pasti lelah.Jadi, kau istirahat dulu saja, aku yang akam menggantikanmu," cakapku sambil mengatur beberapa sayu mayur.


Ia hanya mengangguk, lalu segera menuju kursi itu sambil meminum tehnya. Ia kelihatan nikmat sekali waktu meminumnya, padahal teh ku tak seenak buatan orang itu. Pintu toko terbuka, seorang wanita berkacamata yang memakai dress warna kuning dengan gaya rambut twin tail yang terlihat.


"Apa ada yang bisa saya bantu?" tanyaku yang sedang menyambutnya.


"A-apa ada kertas di sini?" tanyamu gugup.


"Ada, mohon tunggu sebentar," aku segera menuju laci untuk memgambil beberapa kertas.


"Berapa kertas yang anda butuhkan?" tanyaku.


"Hanya ... lima saja," jawabnya.


Aku mengambil lima kertas dan memberikannya pada orang itu. Dia terlihat seperti tokoh yang menjadi korban jika ada drama. Ia mengambilnya dengan cepat seolah sedang terburu-buru.


"Berapa yang harus kubayar?" tanyamu.


"Hanya sepuluh krill," jawabku.


Ia langsung membayar dan segera pergi tanpa sepatah kata pun. Aku dan Harith hanya saling bertatapan seolah tak tahu apa yang terjadi. Mungkin, setiap oramg punya hal penting untuk dijadikan sebuah catatan kehidupannya.