AFTER

AFTER
05



Aku terbangun dari tidur malam. Saat ini mungkin masih jam empat pagi, yang kulihat dari jendela hanya pemandangan malam. Sepi dan sunyi, sesuatu yang sudah sering terjadi, saat kesepian itu membawa kebahagiaan, apakah mungkin semuanya bisa terjadi? jika saja bisa aku akan mengharapkannya.


Aku mengikat rambutku kebelakang, menuju ke dapur untuk minum air terlebih dahulu. Setelah meneguk air dalam gelas sampai habis, aku duduk di kursi sejenak untuk menenangkan pikiranku. Sebenarnya aku sendiri mungkin masih sedikit memikirkan hal itu, jika aku tak ada mungkin harusnya tak seperti ini.


Semua barang sudah siap, berapa lama ya aku pergi? Satu tahun,dua tahun, tak ada yang tahu. Bahkan, mungkin saja aku tak pernah kembali lagi kan? Hanya benang takdir yang akan menentukannya. Aku keluar dari rumah, pergi menuju kandang kuda di belakang rumah kami.


Yang terlihat hanyalah sebuah kandang, tak terlalu besar namun cukup untuk dua ekor kuda. Yang satu bernama Orias, dan yang satu lagi bernama Bella. Kalau tidak salah, paman dan bibi sudah lama memelihara mereka berdua.


Hm ... mengapa jadi membahas kuda? Padahal saat ini aku harus mandi dan bersiap-siap dengan barang bawaan yang sudah menumpuk. Mungkin saja aku akan melamun lagi jika itu memungkinkan, lebih daripada itu aku malah ingin kembali jika memang akan seberat ini bawaannya. Ya, meski begitu ini sudah menjadi keputusanku juga untuk mencarinya.


Matahari sudah menyingsing, aku sudah mandi dan juga sudah bersiap untuk hari ini. Benar-benar hari yang cerah, matahari bersinar seolah harapan baru akan muncul. Tapi harapan itu memang tak pernah diduga kan? Meski kau sendiri, mungkin harapan itu juga terdapat dalam kesendirian.


Ya ... mungkin aku harus lebih bersemangat lagi, karena aku akan memulai pencariannya lagi. Sejak pertemuan dengannya kemarin, aku mencarinya ke seluruh desa dengan penuh rasa penasaran. Bahkan aku menanyakannya pada banyak orang, namun sepertinya ia bisa meninggalkan jejak dengan baik.


Semua perbekalan juga sudah dipasang pada Orias. Kuda yang akan kukendarai untuk perjalanan ini. Namun, daripada aku memikirkan kuda aku malah lebih memikirkan tentang wajah penasaran penduduk desa.


"Paman, bibi kalian tak perlu seperti itu," ucapku pada mereka berdua yang terlihat asyik mengurus barang-barangku.


"Mana bisa kami mengandalkan tukang lamun sepertimu," tegas paman padaku.


"Benar, bisa-bisa kau membawa baju kami dalam barang mu itu," hardik bibi.


"Ternyata kalian juga sama saja ... bahkan sekarang aku disebut tukang melamun," keluhku pada mereka berdua.


"Itu kenyataan, dan kau tak perlu merasa sedih jika wajahmu masih saja bisa tersenyum...," sindir bibi padaku.


"Ya, mungkin itu juga termasuk pujian," ujarku yang tersenyum tipis.


"Itu lah kenyataannya," timpal paman ikut masuk dalam pembicaraan.


"Ya mungkin saja begitu, benar-benar kalian semua."


"Lina!"


Panggilan yang bisa ku tebak dari suaranya. Itu adalah Iris, salah satu temanku yang cukup cerewet jika sudah mencakup suatu hal yang menurutnya perlu sangat detail. Mungkin ini akan menjadi perjamuan suara penuh dengan pesan jangan melamun jika itu terjadi.


"Wah, kau sudah siap rupanya," puji Iris padaku.


"Tak perlu memujiku seperti itu. Lagi pula sekarang ada penggeledahan di sini...," sindirku pada dua orang yang masih sibuk itu.


"Ya, mungkin tukang lamun kita bisa saja membawa sesuatu kan," sindirnya padaku.


Entah mengapa ini malah menjadi jamuan sindiran untukku. Aku hanya bisa bingung melihat mereka seolah tidak ada rasa sedih saat aku akan pergi. Lebih baik aku percepat saja kalau begitu.


"Kalian ini memang bisa saja kalau urusan membicarakan ya...," ledekku sambil tersenyum, karena sudah terbiasa juga mendapat hal seperti itu.


Kebetulan sebentar lagi musim gugur, jadi aku memakai jaket berbulu sebagai penghangat badan. Selain itu, celana panjang dan sepatu menjadi pelengkap untukku. Selain itu, aku melihat Derris dan Harith yang datang menuju ke arahku.


"Pagi, Lina," sapa Derris dengan tatapan yang seperti biasanya, kesal.


Sementara itu, Harith melambaikan tangannya padaku. Aku membalas mereka berdua dengan lambaian dan senyuman. Ya ... bisa saja itu sebagai peruntungan untukku.


"Begitulah, bagaimana kabarmu hari ini?" tanyaku padanya.


"Biasa saja. Kuharap kau tidak melamun sembarangan saat pergi," sindirnya padaku.


"Ternyata kau juga sama dengan mereka."


"Karena itu kenyataannya, bodoh!" tegasnya padaku tanpa basa-basi.


"Kak Lina akan pergi kemana saja?" tanya Harith padaku.


"Ke berbagai tempat, mungkin kakak akan belajar banyak hal juga," jawabku sambil tersenyum.


"Tapi, kau perlu hati-hati. Karena perang antara negara timur dan barat masih terjadi. Dan aku tak mau kau melamun saat ada masalah dengan mereka, apalagi sampai ditangkap karena melamun," pesan Derris yang sebenarnya sudah tak berlaku bagiku.


"Ya, bisa saja seperti itu. Hanya takdir yang akan menuntunku, jadi kalian harus berusaha untuk bahagia," pesanku balik sambil tersenyum.


"Kak Lina sendiri bagaimana? Kakak akan selalu bahagia kan?" Tanya Harith sambil menabrakkan jari telunjuknya.


"Tenang saja, kakak akan berusaha untuk selalu bahagia. Lagi pula, mungkin banyak hal baru untukku." Aku yang mengusap kepala Harith agar ia senang.


"Hey anak kecil! Urusan kita belum selesai." Iris yang menatap kesal pada Harith, sementara aku tak tahu apa-apa diantara mereka berdua.


"Lebih baik kau diam ya ...." Tangan Iris yang menarik telinga Harith tanpa aba-aba.


"Apa kau sendiri tak kepanasan Lina?" tanya Derris dengan wajah datarnya.


"Lagipula sebentar lagi musim gugur, kau sendiri bahkan memakai syal yang tebal," celetukku yang mungkin menohok baginya.


"Dasar kau, bahkan kau sendiri pun aneh. Orang mana yang akan memakai jaket seperti itu disaat musim panas ini. Syal ini kupakai karena aku memang menyukainya. Memang kau tahu apa soal gaya berpakaian, ini sedang menjadi trend kan...," ocehannya yang tanpa batas waktu dan ruang.


Aku menarik syalnya secara perlahan hingga berada ditanganku. Ia tiba-tiba menjadi sedikit kedinginan, padahal dia yang berkata aku aneh. Derris langsung mengambil. kembali. syalnya sementara aku hanya tersenyum puas.


"Bagaimana tuan hangat?" tanyaku wajah tersenyum.


"Dasar! Setidaknya aku sudah tak melamun sepertimu." Derris yang sibuk memakai syalnya dengan benar,"Namamu juga aneh, Lina itu nama yang jarang sekali dipakai. Bahkan jika kau mau, kau bisa menemukan seratus orang bernama Grace jika kau mencarinya."


"Benar, namamu sendiri saja sudah cukup membingungkan, Apalagi orangnya," timpal bibi yang sudah selesai penggeledahan.


"Baiklah jadi sekarang aku bisa pergi kan?"


"Tak pergi pun tak masalah, karena pada akhirnya kau akan melamun," ledek Derris.


"Kalau begitu, sampai jumpa semua ...," ucapku sambil menaiki Orias dan menungganginya.


"Jangan lupa untuk kembali ke sini," pesan bibi yang terdengar olehku, senyuman itu terimakasih bibi.


Aku akan berusaha, untuk semuanya. Sebuah harapan yang terungkap dari hati mereka, mungkin menjadi penyemangat hidup saat aku sendiri. Aru, tunggu aku di sana ....