AFTER

AFTER
Eps 31



(Satya & Teressa.)


.


.


.


.


.


Maap ya macet2 upnya, bukannya males, emng ada kreperluan dikit akhir2 ini.


Sorry bestie.


_______________


"Ini acara apa sih yah?" seru Satya.


"Lamaranmu."


"HAA?!"


________________


"Jadi kedatangan kami kesini bawa maksud baik, nak Teressa. Seperti ucapan saya tadi, niat kami datang kemari untuk melamar nak Teressa buat putra saya Satya."


Terkejut? Pasti dong.


Bukan hanya Teressa, Satya pun mengalami hal yang sama. Pria itu sedari tadi masih diam tak berkutik ditempatnya.


"Bang lanjutin!." bisik Bunda penuh penekanan.


"N-ngapain bund?" balas Satya gugup.


Jujur Satya ngebug dikit.


"Awwwww!!!" ringis Satya mengaduh kesakitan sambil mengusap-usap pahanya yang dicubit kecil oleh bunda Citra.


"Buruan!"


"Bundaaaa." rengek Satya seperti anak kecil.


"Abang buruan dilanjutin, Teressa mau denger lanjutannya!" ujar sang bunda dengan suara lemah lembut.


Kini semua tatapan tertuju pada Satya, dan Satya hanya bisa meneguk ludah dengan tatapan merinding. Terutama Noah, tatapan dinginnya sedari tadi tak lepas dari bola mata Satya.


Huffttt....


"Tessa."


"Iya?"


"Eum, sebelumnya maaf acaranya dadakan. Jujur saya juga nggak tau soal ini, tapi berhubung semua udah terlanjur kumpul, saya pikir ini waktu yang tepat buat ngutarain ini semua."


"Bukan karna tuntutan orang tua saya, ini pure keinginan saya. Sejak awal saya emang ada rasa beda pas ketemu kamu, bahkan sampe sekarang. Dan maaf udah pernah bikin kamu nangis, tapi kalo kamu berkenan, tolong izinin saya jadi pendamping kamu, dan Noah."


"Tapi saya nggak maksa, cuma memperjelas maksud dan tujuan saya aja. Semua keputusan ada di kamu dan juga Noah, maaf atas kelancangan saya sebelumnya."


Lancar ya bang.


optimis ya Bang!


Jeng jeng jeng...


Sebelum memberi keputusan, Teressa beralih menatap putranya terlebih dahulu. Walau Noah masih anak-anak, tapi Noah berhak tau bukan? ini menyangkut bundanya juga.


"Noah gimana?" tanya Teressa menatap dalam mata Noah.


Sekedar memberi penyemangat, Bu RT mengusap lembut tangan Teressa.


Diamnya Noah membuat suasana menjadi tegang, bukan jawaban Teressa yang dinanti, tapi jawaban Noah.


Itu bundanya, dan ia berhak atas bundanya bukan.


"Terserah bunda."


Dua kata itu lah yang terlontar dari mulut Noah, terbilang ambigu dan mengambang.


"Sayang, kalo Noah nggak suka bilang aja. Asal Noah bahagia, bunda juga ikut bahagia."


Kalimat itu seolah memupuskan harapan Satya untuk memiliki Teressa, jika Noah berkata 'tidak' semua tak akan berlanjut.


"Noah bahagia kalo bunda juga bahagia." balas anak itu dengan lugu nya.


Kalimat itu membuat siapapun terharu termasuk Bunda dan Bu RT, kedua wanita paruh baya itu tak lagi dapat membendung air mata nya. Disaat banyak anak memikirkan kebahagiaannya sendiri, di sisi lain Noah memikirkan kebahagiaan bundanya.


wow emejing.


"Jadi keputusannya gimana, diterima nggak nih." biar nggak tegang pak RT pun menengahi.


Noah menganggukkan kepalanya pelan menatap tenang Teressa. Dan finally.....


"Eum i-iya Tessa mau."


Semuanya pun tersenyum lega mendapat jawaban dari Teressa, termasuk Satya. Pria yang awalnya menunduk lemas itu kini sudah duduk tegak dengan tatapan senang,bahagia, dan ra karuan mboh pokok e.


"Alhamdulillah, ya ampun sampe deg-degan ih bunda." seru Bunda Citra dengan senyum yang senantiasa menghiasi wajahnya .


"Makasih ya Tessa udah mau nerima lamaran anak bunda." ucap Bunda Citra sambil mengusap-usap bahu calon mantunya itu. Teressa hanya mampu membalasnya dengan anggukan kepala saja, masih canggung mungkin.


"Eh cincin nya dipakein dong bang!"


Tapi tunggu!


Wait....


Dugh!!!!


"HUAAA PALA ATHAN BENJOLL, MOMMYHHH!!"


"Astaga sayang, ayo berdiri."


Gathan segera bangkit dan berlari masuk kedalam rumah Teressa, walau kepalanya benjol bocah itu tetap masuk menghampiri calon sepupu nya.


"Kak Noah, Athan punya es krim buat kakak!"


_______________


Babay