
(Family time)
.
.
.
.
.
.
Khusus hari ini Satya sengaja memboyong keluarganya untuk berjalan-jalan ke pusat perbelanjaan. Entah hal apa yang membuat suasana hati Satya terlihat cerah.
PLAK
"Aduh, kenapa sih bunda? Sabar dong, bentar lagi makan nih." Gerutu Satya.
"Heh, bunda nggak kamu kasih makan juga bodo amat. Masih ada cucu bunda yang kaya raya, masih mampu beliin makan bunda!" Seru Bunda Citra begitu senang membanggakan cucunya.
"Ya yaudah, terus ngapain nimpuk punggung Satya." Sewot Satya.
Bunda mengusap dadanya dengan sabar, "Istri mu digandeng Satya!! Jangan tebar pesona ditempat umum, astaghfirullah nggak ngerti perasaan istri sendiri heran!!!" Omel Bunda tak karuan.
Satya menengok ke belakang, menoleh pada istrinya yang berjalan sejajar dengan Noah. Satya yang semula berjalan hanya menggendong putranya, kini turut menggandeng tangan istrinya.
Emang suka kumat orangnya.
"Sayang, masa mas dikatain tebar pesona sama bunda. Padahal enggak loh, yang." Adu Satya dengan nada dibuat-buat menjadi seorang sad boy.
"Nggak tebar pesona tapi jadi pusat perhatian cewe-cewe!" Ketus Teressa menyindir. Agaknya wanita itu ikut kesal saat suaminya dan anaknya menjadi pusat perhatian pengunjung mall.
"Enggak sayang, mas nggak tebar pesona. Emang dari sananya udah sempurna kayak gini." Ucap Satya memberi pembelaan kepada dirinya sendiri. Teressa tak merespon, wanita itu melengos begitu saja. Untuk kali ini sepertinya Teressa benar-benar merajuk kepada suaminya.
"Bibit ayah tuh." Celetuk Ayah Juan yang membuat Satya memutar bola matanya malas.
"Au No-no." (Mau Nono) Celoteh Baby Allister sambil merentangkan kedua tangan kecilnya minta digendong oleh sang kakak. Sepertinya bocah itu peka dengan situasi dimana orang tuanya sedang adu mulut. Ia sadar ia masih kecil, jadi cari jalan aman saja.
Saat tubuh Allister sudah berada dalam gendongan Noah, Satya pun akhirnya bisa leluasa melingkarkan salah satu tangannya pada pinggang ramping istrinya. Ingat, ramping dan cungkring itu berbeda.
"Abis makan kayaknya bunda mau nonton deh." Kata bunda Citra.
"Nonton apa, bund?"
"Hidayah seorang anak durhaka!"
"Kok melotot nya ke Satya sih? Satya ini anak baik, sholeh, baik, dan tidak sombong."
__________
"Mas yakin, mau jadiin adek brand susu formula?" Tanya Teressa yang heran melihat Satya begitu antusias menjadikan putranya sebagai model iklan.
"Serius lah sayang, lumayan kan dapet stok susu gratis sampe bocil umur lima tahun. Biar jatah aku makin lancar." Seru Satya.
Baby Allister nampak pasrah saat Satya mengatur gaya posenya dengan beberapa produk yang akan di iklan kan.
"Noah jangan lupa ya, kamu udah ayah daftar in jadi brand susu juga. Tapi yang bikin otot gede itu loh, badan kamu kayaknya juga mendukung. Nanti pose yang keren ya, jangan lupa kontraknya sama kayak adek mu, 4 tahun." Ujar Satya.
"Tapi kan yah-"
"Udah kamu tenang aja, kalo butuh manager ntar calling ayah aja. Semua persoalan bakal clear." Sela Satya mendahului.
Para gadis berteriak histeris saat Noah diharuskan membuka pakaian atasnya sehingga menampakkan perut sixpack idaman para gadis.
"Yah,," Rengek Noah frustrasi.
Satya melotot tajam, "Pose LAKIK, No. Semakin cepet kamu pose, makin cepet juga acara ini kelar." Seru Satya.
Sorakan bertambah riuh, buru-buru Noah mengambil pakaiannya dan mengenakannya kembali setelah ia memperlihatkan gaya paling hot tadi.
"Gila, keren banget boy." Puji Satya sambil menepuk lengan Noah. Pemuda itu mendengus pelan, masih kesal dengan permintaan ayahnya.
Di sudut lain ada Bunda Citra dan Ayah Juan yang ikut serta menjadi penonton kegiatan yang dilakukan cucu cucunya tadi. Merka geleng-geleng kepala, terlihat jelas jika Satya memanfaatkan kedua cucu tampan nya itu.
Malang sekali.
"Anak-anak emang mahal sih." guman Satya. Satya memang golongan orang menengah ke atas, tapi terkadang ia juga bersikap norak seperti tak pernah melihat nominal yang seharusnya biasa saja menurutnya.
"Jangan lupa barangnya dikirim satu truk ya, saya tunggu dirumah." Seru Satya.
"Siap, pak."
"Oke."
Satya segera menghampiri keluarganya disana. "Udah bisnis nya?" Seru Bunda Citra.
"Itu tadi namanya strategi marketing bun. Sebentar lagi followers Noah pasti membludak, gara-gara fans nya tadi." Kata Satya.
"Ah, bocil bikinin medsos juga ah biar bisa open endors juga. Lumayan kan."
Ngawur. Satya benar-benar ngawur. Bunda pun nggak bisa kasih saran apalagi. Putranya memang memiliki sifat seperti bunglon, selalu saja ada idenya.
"Mas jangan gitu, adek masih kecil loh." Saran Teressa tak ingin putranya bergabung dengan di dunia maya sebelum cukup usianya.
"Kan kita yang kendaliin." Kata Satya.
"Jangan gitu, bang. Lihat anak-anak kamu pada tertekan." Seru Ayah Juan sambil menunjuk cucu-cucunya yang terlihat tak senang, dan wajahnya cenderung suram.
"Enggak deh, cuma ini doang. Jangan nangis dong, No." Seru Satya sambil merangkul bahu putranya.
"Tenang, abis ini ayah beliin cilok."
___________
"Sayang, kok lama banget dikamar mandi? Ayo tidur, mas mau kelon sama kamu." Seru Satya diluar kamar mandi kamarnya.
"Iya, sebentar mas."
Tak lama kemudian pintu kamar mandi dibuka dari dalam, memperlihatkan Teressa yang sepertinya baru cuci muka.
"Ayo tidur ah, udah malem." Seru Satya.
"Kenapa?" Tanya Satya saat Teressa tak kunjung beranjak dari tempatnya berdiri.
"Emm,,," Teressa terlihat ragu mengungkapkan suatu hal kepada Satya.
"Ada apa sayang? kamu sakit, kok kayak gelisah gitu?" Tanya Satya kembali.
Teressa menggeleng pelan, "Tessa kayaknya telat datang bulan deh, mas."
"Emm, mungkin bulannya dateng besok." Kata Satya menimpali. Namun Teressa malah diam sembari tertunduk.
"Kamu kenapa sih, ada yang kamu sembunyiin dari mas ya? Ayo jujur sini."
Dengan menghela nafas panjang, akhirnya Teressa mengeluarkan benda kecil yang ia sembunyikan pada genggaman tangan nya.
Kali ini nggak pake nanya lagi Satya langsung konek. Udah ada tulisan sejelas itu Satya langsung paham.
Pria itu menutup mulutnya tak percaya. Istri nya kembali mengandung kecebong yang ia tanam? Astaga, baru saja Satya mendapat stok susu agar tidak berebut dengan monster kecilnya itu.
"S-sayang? kamu hamidun adeknya bocil ep-ep????"
Teressa menganggukkan kepalanya, ekspresinya terlihat seperti orang bingung.
"Mas, ini gimana?" Tanya Teressa.
"Gimana apanya?"
"Adek masih kecil, masa udah punya adek lagi." Kata Teressa bingung.
"Hei-hei, jangan aneh-aneh. Kamu tenang aja, semua bakal berjalan dengan lancar. Yang mas khawatirin itu gimana nanti kalo mas nggak kebagian jatah dari kamu?" Kata Satya seolah berpikir keras.
"Mas ih!"
Satya menarik tubuh Teressa ke dalam dekapannya. "Nggak papa, bocil juga pasti seneng ada temen main. Daripada nunggu kelamaan, ntar nggak jadi-jadi kan. Lagian juga udah terlanjur jadi, mau diapain lagi, orang itu titipan dari Allah. Inget kan gimana dulu susahnya kita dapetin satu bocil, sekarang syukurin aja, okey." Teressa mengangguk setuju mendengar penjelasan suaminya.
___________
TBC