AFTER

AFTER
Eps 25



(Satya & Teressa.)


.


.


.


.


.


"Jo!" seru Teressa memanggil temannya itu. Wanita itu sedikit berlari mengejar Jonathan keluar pintu keluar kantor.


"Haish kamu kenapa nyamperin aku, bisa-bisa Pak Satya marah entar, dia kan cemburu banget orangnya." gerutu Jonathan.


Memang benar selama ini mereka berdua dekat, namun keduanya menyadari bahwa semua itu hanya sebatas hubungan teman dan rekan kerja. Selain itu perbedaan keyakinan mereka juga terlihat jelas, jadi sedikit memungkinkan untuk bersama, apalagi Teressa adalah wanita yang beriman dan tak akan meninggalkan tuhannya demi salah satu hamba lain.


Jadi mereka ga ada hubungan apa-apa, untuk saat ini:)


"Aku mau balikin flashdisk kamu, makasih ya udah dipinjemin." ucap Teressa sembari menyerahkan benda kecil itu pada genggaman tangan Jonathan.


"Oke sama-sama." balas Jonathan.


"Yaudah aku naik lagi ke atas ya, makasih udah dipinjemin." seru Teressa.


"Eh bentar, kamu nggak makan siang didepan?" tanya Jonathan sembari mencekal pergelangan tangan Teressa.


"E-ee aku makan diruangan Jo, bawa bekal soalnya." jawab Teressa, ya walaupun sebenernya diajak mabar (makan bareng) sama Bang Sat juga tadi.


"Oh oke, aku keluar dulu kalo gitu bay." ucap Jonathan. Teressa menganggukkan kepala sebagai balasan, setelah itu tak lama ia kembali masuk kedalam kantor.


Sesuai permintaan Satya tadi, mereka akan makan siang bersama di ruangan Satya. Teressa segera mengambil bekalnya dan berjalan menuju ruangan Satya, ia tak mau bossnya itu terlalu lama menunggu dirinya sehingga telat makan.


Udah tumbuh rasa perduli ya bund.


Ada kemajuan, itu bagus.


Tok


Tok


Tok


"Masuk."


"Permisi pak." ucap Teressa.


"Eum bapak jadi makan siang bareng?" tanya Teressa, wanita itu masih berdiri didepan pintu sambil menenteng kotak makanan yang ia bawa dari rumah.


"Iya, masuk aja Tessa." balas Satya. Terlihat pria itu tengah membereskan barang-barang yang berserakan diatas meja kerjanya.


"Di?"


"Di sofa aja, meja kerja masih rame." balas Satya, Teressa mengaggukkan kepalanya kemudian mendudukan tubuhnya disofa dalam ruangan itu.


"Bos gua mau keluar dulu dah bentar, mau jemput si bocil." seru Marvin, jin Mpin baru saja keluar dari persembunyiannya.


"Nggak jadi makan bareng?" tanya Satya.


"Nggak dah, ntar mampir warteg aja gua." balas Marvin.


"Yaudah." ucap Satya.


Ini tak ada unsur kesengajaan dari Marvin maupun Satya, Marvin bener-bener mau jemput Maura ke sekolahnya. Sekarang Mpin udah ada tanggungan, jadi juga sibuk sendiri.


Karna Marvin ga bisa gabung, jadil tinggalah Bang Sat dan Teressa didalam ruangan Satya.


Yaudah gapapa, masih ditemenin sama malaikat dan lain-lain kok.


"Bapak belum pesen makanan?" Tanya Teressa.


"Hm udah sih, bentar lagi mungkin sampe." jawab Satya.


_____________


Walau ini bukan kali pertama mereka bertemu, tatap muka, mengobrol, dan berinteraksi tetap saja masih ada rasa canggung diantara keduanya, apalagi kini mereka hanya berdua, biasanya kan ada Bang Marvin juga.


Tapi tak apa, mungkin ini salah satu langkah untuk bisa lebih dekat.


Bisa kalem kan? ga usah ngegas?



"Kamu cuma makan itu, Tessa?" Tanya Satya.


"Hm iya pak, ini aja biasanya nggak abis. Sering saya bagiin ke Jo biasanya, kasian dia sering nggak sarapan kalo berangkat ke kantor. " jawab Teressa sembari menata bekalnya diatas meja supaya Satya juga bisa ikut menikmati makanan yang ia bawa dari rumah itu.


"Oh Jo." balas Satya. Namun didengar dari nada bicara dan tatapannya agak beda, tau lah kenapa. Mungkin He's jealous.


"Bapak mau nyoba?" Tanya Teressa mengalihkan pembicaraan.


"Enggak Tessa, makan kamu aja, atau kasih ke Jo barangkali dia belom sarapan." balas Satya.


Teressa langsung menatap Satya yang juga tengah menatapnya dengan tatapan lembut.


"Bapak kenapa?" Tanya Teressa bingung.


"Saya?" Teressa menganggukkan kepalanya.


"Saya cemburu." jawab Satya dengan menampilkan senyum tipis yang menghiasi wajah tampannya guna menutupi rasa sesak didada yang membuncah.


Nih posisinya mereka lagi lesehan dikarpet bulu dilantai ya guys, terus duduknya jejeran gitu.


"Kenapa bapak ngomong gitu, saya nggak ada hubungan apa-apa sama Jo, cuma temen kerja aja." lirih Teressa menatap dalam manik mata Satya.


"Entahlah saya juga bingung sendiri, mungkin karna saya masih baru kali ya dihidup kamu, jadi agak susah buat kamu nyaman. Ditambah sikap saya yang suka seenak jidat ngatur kamu, kamu nggak ilfeel sama saya?" Ucap Satya.


Pria itu menyadarkan tubuhnya pada sofa dibelakangnya, kemudian disusul memejamkan kedua matanya dan menghirup nafas panjang.


Selain pekerjaan kantor yang cukup menguras tenaga dan pikiran, percintaan Satya juga makan ati.


"S-saya....


"Saya mundur?" sela Satya.


Dengan cepat Teressa menggelengkan kepalanya, wajahnya yang putih bersih kini berubah menjadi memerah disertai kedua mata cantiknya yang sudah berkaca-kaca.


"Kenapa, masih mau ngasih harapan buat saya?" Teressa menggeleng.


"Udah ada rasa sama saya?" Teressa diam.


"Ya kalo nggak bisa diterusin ya udah, saya juga nggak maksa kamu, mumpung perasaan saya belom dalem banget kan." jelas Satya dengan tenang.


"Jangan nangis, saya suka nggak tega kalo liat kamu nangis." ucap Satya sembari mengulurkan salah satu telapak tangannya guna menghapus lelehan bening yang sudah banjir di pipi Teressa. Wanita itu menangis dalam diam, namun Satya tetap mengetahuinya.


"Maafin saya, saya nggak ada maksud buat ngasih harapan ke bapak. S-saya juga ada rasa sama bapak, tapi saya takut...Maafin saya hiks..." Tangisnya semakin keras hingga wanita itu sesegukan, tentu hal itu membuat Satya tak tega melihat wanita yang ia cintai bersedih.


Dengan tekat dan segenap keberanian, Satya mendekat kemudian menarik tubuh Teressa kedalam pelukannya. Dengan sabar ia mengusap punggung Teressa, dan membiarkan wanita itu menangis dalam dekapannya.


"Its oke, saya nggak maksa Tessa, kamu nggak usah sedih." bisik Satya. Namun Teressa masih tetap menangis dan mengucapkan kalimat 'maaf' kepada Satya.


"Kamu tenangin diri kamu dulu kayak gini, ntar kalo udah tenang baru lepas nggak papa."


______________


CEKLEK


"Yuhuu i'm back epribadeh!"


Kalian tentu tau siapa itu, yaps Bang Marvin.


"Eh buset! nih anak malah pada kelon disini anjir!" guman Marvin pelan, pria itu masih mengamati kedua manusia lawan jenis yang terlelap dengan posisi duduk dan saling mendekap.


Lebih tepatnya Satya yang menaruh Teressa dalam dekapannya.


Mungkin karna kelelahan menangis ditambah dengan pelukan hangat Satya yang membuatnya nyaman malah membuat Teressa terlelap. Sedangkan Satya, mungkin pria itu juga kelelahan dan pening kepala hingga ia tak sadar bahwa kini ikut terlelap.


"Harus diabadikan dan disebar luaskan kepada keluarga Bapak Erlangga terhormat nih." guman Marvin.


CEKREK


"Duh send ke bunda nggak ya? tapi kan asik kalo heboh gitu?" Ucap Marvin bimbang.


Nggak rame nggak asik dong.


"Assalamualaikum."


_________


bentar lagi jadian bayy.