
(Satya & Teressa.)
.
.
.
.
.
Beberapa hari setelah kejadian Satya numpang pipis dirumah Teressa, kini sajauh ini hubungan mereka agak rapet. Entahlah, Teressa juga sudah tak sedingin dulu lagi kepada Satya, namun juga tidak terlalu yang berlebihan, sewajarnya saja. Sedangkan Noah, anak itu masih biasa saja belum ada reaksi tanda-tanda yang menunjukan perubahan yang drastis.
"Nanti makan siang diruangan saya ya?" pinta Satya, jangan lupakan jemari berurat nya sudah menggenggam erat tangan mungil Teressa.
"Heum, tapi saya bawa bekal?" balas Teressa sembari mendongakkan kepalanya menatap Satya yang jauh lebih tinggi darinya.
Nih bukannya apa ye, Teressa nggak ngelepasin genggaman tangan Satya bukan tanpa alasan. Satya kan orangnya ngototan, ntar bukannya apa takut kesinggung. Lagian kalo dilepas, tuh jamari laknat bang Sat juga replek nyari-nyari tangan Teressa sendiri.
"Nggak papa, ntar gabung aja biar Marvin cari makan buat saya sama dia. Tenang, kita nggak berdua ada marvin kan." ucap Satya.
Saat lift terbuka dan menampakkan beberapa karyawan yang ingin ikut bergabung, Teressa buru-buru menghempas tangan Satya membuat Satya melotot tajam padanya.
"Ish lift laen kan bisa." gerutu Satya mendegus kesal.
Biasanya kan Bang Sat pake lift khusus direktur, nah kebetulan lift nya ada masalah jadi terpaksa pake punya karyawan biasa.
"Maaf." cicit Teressa pelan, bahkan suaranya sangat kecil dan terdengar lirih namun Bang Sat masih bisa mendengarnya. Wanita itu tak berani menatap Satya dan senantiasa menunduk, takut dimakan bang Sat mungkin?
Eh nggak dong, kan bang Sat bukan sumanto.
Sampai lantai 5, kedua karyawan Satya berpamitan untuk keluar terlebih dahulu.
"Kita duluan Pak, Bu." ucap salah satu dari mereka dengan sopan.
"Hm iya-iya sana buruan keluar." balas Satya.
Hush Hush Hush
Satya mengibaskan tangannya seolah tengah mengusir seekor anak kucing.
Dosa yang tanggung Bang Sat.
Kini lift menuju lantai paling atas dimana letak ruangan Satya berada, dan juga kini hanya ada Satya dan Teressa didalam lift itu. Dan lagi-lagi Satya meraih tangan Teressa dan menggenggam nya.
"Awas kalo dilepas!" tegas Satya mengancam.
Ting!
Lift terbuka dan Satya keluar sambil menggandeng tangan Teressa. Nggak takut karyawan laen liat, soalnya lantai itu khusus ruangan Satya sama sekertaris dan asistennya aja.
Bang Marvin? Aman lah kalo disogok pake gembok mah.
"Semangat." seru Satya, dengan wajah tersipu Teressa menganggukkan kepalanya.
Usai mengantar Teressa ke ruangannya, Satya baru beranjak menuju ruangannya sendiri.
"Widih tumben Si Tepung Sasa nurut sama lo, lo kasih makan apa tuh anak? kecebong ya?" celetuk Marvin saat Satya masuk ke ruangannya.
Mpin sekarang rajin ya orangnya .
"Maksud lu?" tanya Satya mengeryitkan dahinya.
"Ya itu kecebong lu yang kecil-kecil tuh, barang kali kan udah kebablasan terus nurut ama lu." balas Marvin sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
Sedetik kemudian Satya langsung paham dengan arah pembicaraan asistennya itu. Si Mpin bener-bener minta dijitak emang.
"Jasa gorok temen ada nggak sih?" Tanya Satya sambil menatap tajam Marvin, yang ditatap langsung bergidik ngeri.
"Yaelah Canda boss, baperan elah." balas Marvin.
"Btw Btw, lu udah pegang dia belom?" Tanya Marvin dengan sejuta khayalan mesum yang berputar-putar dalam benaknya.
"Pegang apalagi setan!" Seru Satya jengkel.
"Gue ama lu beda ya, gue nggak bakal berbuat diluar batas, paling cuma gandeng tangan Teressa itupun nggak terus. Beda ama lu, gua nggak yakin kalo Si Maura masih polos sama elu, udah lu ***** kan?!" seru Satya dengan tatapan mengintimidasi, dan hal itu sukses membuat marvin kesusahan menelan salivanya sendiri.
"Mana ada!" elak Marvin.
Setiap malam ia disuguhkan dengan penampilan kelinci kecil yang menggiurkan untuk diterkam, tapi tenang sejauh ini Mpin masih bisa nahan. Nggak tau kalo malem-malem selanjutnya.
Bukannya apa nih ye, Si Maura kalo di apartement suka pake baju-baju kawai yang lucu-lucu dan minim bahan dibagian tertentu gitu. Kalian tau kan gimana bentuknya. Ya emang lucu, saking lucunya bikin Mpin gemes pengen gigit. Apalagi tubuh Maura kan masih tergolong sedang dan imut-imut gitu, jadi ingin rasanya Mpin memahat bentuk tubuh Maura agar lebih wow dimatanya.
Baru niat sih, Mpin belom praktek.
Flasback~
"Kak Marvinnnn."
"Kak Marvin bantuin Raraaa."
Sedari tadi gadis baru gede itu memanggil manggil Marvin yang masih dikamar mandi. Gadis itu suka sekali berbuat seenaknya, namanya juga baru gede.
Baru kelas 1 SMA.
Dan yang tak perlu dikagetkan lagi adalah, gadis itu sering menyelinap masuk dan menjadi penyusup kecil dikamar Marvin. Setelah berhasil menyelinap masuk, Maura akan ikut bergabung tidur di kasur Marvin, bukan cuma itu tubuh Marvin juga dikuasai olehnya.
Disini Mpin sungguh diuji.
"Apa sih Cil, dari tadi tereak-tereak mulu heran." dumel Marvin.
"Bantuin bikin video." pinta Maura menampilkan puppy eyes nya.
"Yaudah sini mana hp nya." balas Marvin, dengan senang Maura pun menyerahkan ponselnya pada Marvin.
Setelah mempersiapkan diri sedemikian rupa, kini Maura hanya tinggal berjoget didepan kamera. Namun tunggu....
"Mau joged-joged kan?" tanya Marvin, Maura mengangguk dengan antusias.
"Pake baju itu?" tunjuk Marvin pada pakaian yang dikenakan Maura.
"Iya." jawab Maura.
"Nih bocah lama-lama gue telanjangin beneran sumpah." batin Marvin.
"Nggak ada pake begituan, buruan ganti!" ketus Marvin.
"Nggak mau, Rara mau pake baju ini!" kekeh Maura menggelengkan kepalanya.
"Ganti atau Kakak robek Maura!" tegas Marvin.
Eh astagfirullah, kok dirobek ya?
"Nggak mau hiks, mau pake baju ini hiks."
Sial gadis itu menangis!
Marvin mendekati Maura mencoba meraih tangan mungil gadis itu, namun apalah daya tangannya malah dihempas kasar dan gadis itu kembali menangis.
"Jangan nangis Maura." ucap Marvin melembut.
"Nggak mau ganti baju hiks."
Dan pada akhirnya Marvin yang menang, pria itu meraih tubuh mungil Maura kedalam dekapannya. Kali Ini Maura tak menolaknya, malahan melingkarkan kedua kakinya dipinggang Marvin dan kedua tangan nya memeluk erat leher Marvin.
Seperti anak koala.
Dan tugas Bang Mpin selanjutnya adalah menidurkan anak koala. Pria itu berkeliling didalam apartemennya sambil menggendong Maura didepan seperti koala.
"Padahal Mpin mau tobat loh Ya Allah, kok banyak cobaan gini ya?" keluh Marvin sambil menepuk-nepuk punggung Maura, eh malah kebablasan ke pantat Maura.
Flasback Off ~
"Kenape lu senyum-senyum? kesambet?" Tanya Satya heran menatap ekspresi menjijikan sahabatnya tersebut.
" Pengen nyoba Maura." Jawab Marvin tanpa sadar.
"Wah wah parah lu, pedofil lu!" Seru Satya.
"Hah apa? siapa yang pedofil?"
___________