
(Satya & Teressa.)
.
.
.
.
.
"Uncle Satya, Uncle Satya cry?" Tanya Si bocil sambil memeluk kaki jenjang pamannya. Satya masih diam menyembunyikan rasa sedihnya dibalik pelukan ayahnya.
Satya rapuh banget:(
"Opaaa, Uncle kenapa?" Tanya Gathan beralih menatap kakeknya.
"Uncle mu nggak papa kok, cuma kelilipan kerikil aja tadi matanya, makanya nangis." jawab Ayah Juan asal. Tentu hal itu membuat Satya yang tengah sedih menjadi sedih bercampur kesal atas ucapan ayahnya.
"Uncle LAKIKK ndak boleh nangis Uncle, Uncle seetrong!!" Seru Gathan mencoba menghibur pamannya.
Sweet banget ya si bocil.
"Uncle ayo gendong Athan!" rengek Gathan sambil menarik-narik ujung Jas milik Satya.
Srooottt
Usai menyedot ingusnya, Satya kembali menegakkan tubuhnya seperti biasa, kemudian segera mengangkat tubuh Gathan dan menggendongnya didepan seperti koala.
"Ngantuk kan lu, makanya dirumah aja tadi nggak usah ikut!" omel Satya pada keponakan kecilnya itu.
"Ndak, sapa bilang Athan ngantuk. Uncle jangan marah-marah terus, nanti cepet tua loh." balas Gathan.
Cup
"Hei! ngapain kiss kiss Uncle coba, katanya boy sama boy nggak boleh kiss!" seru Satya sok marah sambil memelototkan matanya didepan Gathan.
"Kata mommy boleh, kan keluarga. Ya kan mommy?" balas Gathan.
"Ngeles mulu heran!" dumel Satya.
"Uncle ganteng jangan marah-marah terus ya, nanti cepet tua." seru Gathan sambil menepuk-nepuk kedua pipi satya menggunakan tangannya.
"Bang bawa nih." seru Bunda Citra sambil memberikan sebuah kotak bludru kecil berwarna merah kepada Satya.
"Apaan nih? hadiah buat Tessa?" Tanya Satya.
"Yaps betul, itu hadiah dari keluarga kita. Ntar kamu yang kasih ya." balas Bunda.
'''O-oke ntar Satya yang kasih, lagian siapa takut!" Seru Satya.
"Gathan sama daddy aja sini boy, kasian Uncle Satya gendong kamu terus. Kamu berat loh sekarang.'' Ucap Gavin.
Bukannya turun dari gendongan Satya, si bocil malah memeluk erat leher pamannya itu seolah tak ingin lepas dari Satya.
"Udah biar sama gua aja si bocil." Seru Satya .
_______________
"Katanya ada acara lamaran, kok sepi?" oceh Satya yang tak bisa diam mengamati kediaman Teressa yang nampak sepi.
"Udah diem deh!" Balas Bunda.
Gusrak Gusrak
"Uncle itu suara apa?" bisik Gathan pelan sambil mencengkram kuat leher Satya.
"Meneketehe." balas Satya.
GUBRAKK
"Aaaaaaa!!!!!" teriak Satya dan Gathan terkejut.
"Astaga kalian ini kenapa heboh banget sih, nggak bisa tenang kali ya! Gathan sini sama mommy." omel Ghea.
Gathan menggelengkan kepalanya seraya menutup mulut mungilnya itu dengan rapat-rapat menggunakan tangannya. Sedangkan Satya hanya mampu mengelus dada sambil mengucap istighfar.
"Bund kenapa nggak langsung masuk sih, diluar serem bund ada setannya, ya kan Cil." seru Satya yang mendapat persetujuan dari Gathan.
"Bentar ih, nunggu rombongan dulu kita. Masih kurang 2 orang nih." balas Bunda.
"Uncle...." rengek Gathan ketakutan.
"Santai Cil, LAKIK nggak boleh takut. Eh tapi bapak lu ama aki lu kok kaga takut ya?" Guman Satya.
"Uncle mau sama mommy." ucap Gathan.
"Jangan dong Cil, kalo lu ikut emak lu yang ngasih semangat buat Uncle siapa? Uncle lagi sad loh ini." ujar Satya membujuk sang bocil. Gathan memilih diam sambil memeluk leher Satya dengan menyadarkan kepalanya dibahu sang paman.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Pak RT bu RT."
"Maaf Bu kami datang sedikit telat, ada sedikit urusan tadi." Ucap Pria yang menjabat sebagai Pak RT itu dengan sungkan-sungkan.
"Oh nggak papa pak bu, yang penting kan dateng ya kan." Balas Bunda.
"Oh tentu lanjut dong, ini udah siap semuanya." jawab Bunda.
Pak RT dan Bu RT nampak memperhatikan anggota keluarga yang Bunda Citra bawa, tapi anehnya yang nggak bawa gandengan kan Satya, tapi Satya gendong bocil. Apakah itu anaknya? pikir mereka.
"Oh kecil ini anaknya putri saya, kalo yang gendong ini anak saya yang cowo." jelas bunda.
"Oh begitu."
"Kita langsung aja gimana? mumpung sudah kumpul semua." usul Pak RT.
"Lebih cepat lebih baik. " Ucap Ayah menimpali.
Mereka pun berjalan beriringan menuju rumah Teressa.
Disini Satya masih belum konek ke titik pembahasan dan maksud dari pertemuan emaknya dengan 'pak RT' itu. Yang ia tau dia dateng ke sini untuk menghadiri acara lamaran Teressa, udah itu aja.
Tok
Tok
Tok
"Assalamualaikum. "
"Permisi nak Teressa ini pak RT sama ibuk."
Ceklek
"Waalaikumsalam."
Bukan Teressa yang menjawab, tapi Noah. Anak itu masih mengenakan setelah baju koko dan sarung, sepertinya usai shalat isya.
"Emm ada apa ya Pak RT?" Tanya Noah bingung.
"Bunda mu ada dirumah ndak?" Tanya Bu RT.
"Ada-ada, bunda lagi cuci piring dibelakang." jawab Noah.
Kini yang diotak Bang Sat adalah, ada acara lamaran sempat-sempatnya cuci piring? Dan ditambah lagi, sepertinya tak ada persiapan-persiapan yang dilakukan Teressa. Otaknya mulai bekerjasama untuk berpikir logis dan mencerna semua kejadian dan ucapan bundanya.
"Tolong panggilin ya, bilang ada bapak sama bu RT dateng."
"Emm iya, Noah panggil dulu. Oh iya silahkan masuk dulu."
Alasan kenapa bunda ngajak Pak/bu RT kerumah Tessa ya karna..ya karna Mbak Tessa kan udah nggak ada family atau kerabat, sedangkan orang yang deket kebetulan cuma Pak/Bu RT doang. Jadi Pak/Bu RT itu nggak punya anak, makanya mbak Tessa dianggap anak sendiri.
yaudah gitu Lah intinya.
"Tamunya udah disuruh masuk belum, disuruh masuk dong bang."
"Udah kok bund, udah Noah suruh masuk."
"Eh Pak RT, bu RT, tumben malem-malem mampir? Ada apa ya?"
Wanita itu keluar dengan penampilan rumahan, tanpa make up atau embel-embel lainnya. Pure natural.
"Ini loh, bapak sama ibu cuma nganter aja sih. Yang ada urusan bu Citra sama keluarga nya." jelas bu RT.
Teressa menatap bingung orang-orang yang ada dihadapannya itu. Yang ada di pikirannya ada apa gitu.
Setelah mempersilahkan mereka untuk duduk, Teressa berpamitan ke belakang untuk membuat minuman. Sebenarnya juga untuk mengganti pakaiannya agar lebih baik dipandang, ditemani Bu RT tentunya.
"Duh kok mendadak gerah ya?" Guman Satya.
"Bund, Tya ambil kipas dimobil dulu kali ya?" izin Satya.
"Nggak ada! udah duduk diem!" Seru Bunda dengan tegas.
"Bund, Ghea gerah nih. Ghe nyari angin diluar ya?" pinta Ghea sembari mengusap-usap perut nya yang membuncit.
"Iya sayang, kamu cari angin diluar sana nggak papa. Ditemenin sama suamimu ya, jangan sendirian." balas Bunda dengan nada lembut dan penuh kasih sayang.
"Iya bund, ayo dad. Gathan ikut mommy nggak, jalan-jalan keluar?"
"Ikutttt." seru Gathan, bocah itu langsung turun dari pangkuan pamannya dan melompat kedalam gendongan daddy nya.
Entah kenapa Satya menjadi gelisah tak tenang, keringat dingin membanjiri tubuhnya. Ditambah lagi tiba-tiba rasa gemetar menyeruak menyerang tubuhnya.
Panik?
Tentu!
"Nggak usah gemeter gitu, yang relax aja." ujar Ayah Juan.
"Ini acara apa sih yah?" seru Satya.
"Lamaranmu."
"HAA?!"
____________________
bayyy