AFTER

AFTER
Eps 81



(Satya &Teressa)


.


.


.


.


.




...Jangan baper ya, Bang Sat udah ahli kok....


Tangan Satya begitu lihai memijat punggung kecil milik putranya itu. Kegiatan bapak dan anak itu hanya diketahui oleh mereka berdua saja karena Teressa mengerjakan suatu hal lain di bawah.


"Yaaa-yah nii nii." (Ayah, disini.)


Baby Allister menunjuk salah satu bagian tubuhnya yang juga ingin dipijat seperti punggungnya.


"Nggeh Raden kanjeng ndoro cah bagus. Tapi ntar buruan tidur, sama nggak udah nen bunda ya. Ayah ada urusan sama bunda mu soalnya." Ucap Satya lirih dikalimat terakhirnya.


"Yaa yaah."


Tangan Satya semakin beremangat memijat semua anggota tubuh Allister yang masih empuk-empuk itu.


"Balik badan yuk." Satya membalikkan tubuh baby Allister yang awalnya tengkurap menjadi terlentang.


"Hiii kecil syekaleee itunya kamu!'' Secara reflek dan spontan Satya menunjuk aset pribadi milik putranya yang masih mini itu.


"Tapi nggak papa sih, ntar kalo udah tumbuh juga gede." Guman Satya kemudian.


Ditengah-tengah kegiatan pijat plus-plus tersebut, akhirnya datanglah sosok kesayangan mereka yang tak lain adalah Teressa. Wanita itu menghampiri anak dan suaminya, kemudian ikut bergabung duduk diatas kasur.


"Ini adek kamu apain lagi sih mas." Seru Teressa yang kembali dibuat jengkel oleh suaminya. Teressa begitu prihatin melihat penampakan tubuh putranya yang mengkilap karena efek minyak pijat bayi yang Satya berikan ke seluruh tubuh Allister.


"Ini tuh metode biar bocil cepet tidur, udah kamu tenang aja. Serahin sama mas, dijamin manjur."


Teressa menghela nafas, Satya selalu saja menjadikan anak mereka sebagai bahan eksperimen. "Tessa ke kamar mandi dulu, bajunya adek jangan lupa dipakein biar nggak dingin." Katanya.


"Undaa ium. " Allister bersusah payah untuk bangun dari posisi rebahannya, ia mendekati sang bunda kemudian mencium seluruh permukaan wajah Teressa tanpa sisa.


"Al au bobok." Ucap batita itu. Setelah itu baby Allister langsung menempatkan tubuhnya ditengah-tengah kasur sambil meringkuk memeluk boneka bus berwarna biru, yang merupakan warisan dari ayahnya.


"Baddah." Satya menatap takjub pada putranya. Batita itu benar-benar menuruti ucapannya tadi. Benar-benar bisa diajak kerja sama. Satya suka itu!


Teressa juga heran melihat hal itu. Wanita itu memincingkan matanya menatap tajam sang suami, "Kamu kasih iming-iming apa anak ku, mas!"


"Aku nggak ikutan loh ya." Elak Satya.


"Ish pakein baju dulu sana anaknya, selimutnya jangan lupa." Setelah itu tubuh Teressa langsung menghilang di balik pintu kamar mandi.


Bocil sudah ready. Sebenarnya Satya bisa memanfaatkan kesempatan ini, bukan. Tapi tidak mungkin Satya membiarkan Allister tidur sendirian, kasian masih bayi.


Sayup-sayup indera pendengarnya mendengar suara mesin mobil yang terdengar sangat familiar pada gendang telinga nya.


Dengan segera Satya menyibak tirai yang ada didalam kamarnya. Sosok pemuda tampan yang tak lain adalah Noah baru saja turun dari dalam mobil.


"Bocil kakak mu pulang, malem ini sleep sama brother kamu ya!"


Entah alasan apa yang dikatakan kepada sang istri, yang pasti malam ini Allister tidak tidur bersama ayah dan bundanya, melainkan bersama sang kakak.


Semangat nyetaknya bang!


Ketika mentari mulai terbit dari ujung timur, dan burung mulai berkicauan, Satya mengerjapkan matanya beberapa kali guna menyesuaikan sinar matahari yang menembus kamar melalui celah ventilasi.


"Sayang." panggil Satya dengan suara serak khas bangun tidur. Pria itu meraba-raba bagian sisi samping kasur nya guna mencari dimana keberadaan sosok istri tercintanya. Saat dirasa ia tidak menemukan Teressa, ia pun menoleh ke sisi lainnya.


Satya menghela nafas lega, istrinya ternyata tengah telelap disampingnya dengan tubuh meringkuk memunggunginya seperti bayi.


Semalam memang keduanya melakukan kegiatan bercocok tanam, makanya pagi ini Teressa bangun sedikit telat tak seperti biasanya yang bangun lebih awal.


Satya bergerak meringsek memeluk tubuh polos istrinya dari belakang, pria itu menyembunyikan wajahnya diantara helaian rambut Teressa yang terurai tak beraturan.


"Sayang, bangun." Bisik Satya dengan suara serak-serak basah.


Kecupan bertubi-tubi Satya daratkan pada permukaan bahu polos istrinya.


"Yang, mas nggak usah ke kantor lagi ya hari ini?"


Teressa sebenarnya sudah terjaga, namun dirinya masih malas bangkit dari tempat tidur nya. Saat mendengar laporan seperti itu dari suaminya segera membuka mata dan membalik tubuh nya menghadap Satya. "Ke kantor ya, aku bantuin siap-siap. Kamu udah keseringan bolos, mas." Kata Teressa dengan nada lemas.


"Tapi kamu-?" Satya tak lagi melanjutkan ucapannya karena mulutnya terlebih dahulu dibungkam Teressa dengan tangannya.


"Tessa bersih-bersih dulu." Wanita itu lantas menarik selimut dan membungkus tubuhnya rapat-rapat. Setelah itu segera turun dari ranjang dan berjalan dengan langkah tertatih-tatih menuju kamar mandi.


Satya yang melihatnya ikut merasa ngilu, apakah semalam ia bermain brutal? Seingatnya tidak.


Definisi suami puas, istri tewas🙏


RIP Tessa.


Saat Teressa keluar dari kamar mandi, didalam kamarnya sudah ada kedua putra kesayangannya. Satya dan Allister sibuk tarik menarik boneka tayo, sedangkan Noah memangku laptop nya sambil sesekali memastikan jika adiknya tidak terjungkal ke lantai.


Bukannya menjaga sang buah hati, Satya malah tengah berperang sengit dengan putra kecilnya itu.


"Yah udah lah, ntar Al nangis lagi." Seru Noah melerai. Sebenarnya Ia was-was jika adiknya nanti akan jatuh. Namun Satya justru malah makin semangat menjahili Allister hingga membuat batita itu menjerit-jerit histeris.


"Aaaaaaaaaa!!!!!" Teriakan penuh kekesalan Allister keluarkan dari bibir mungilnya itu. Bibirnya mungilnya mengerucut ke depan, dan alisnya menukik tajam menggambarkan jika adik dari Noah itu benar-benar emosi.


"Ndaa,,," Allister memanggil bundanya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Baby Allister mencoba untuk bangkit namun kakinya ditahan oleh Satya sehingga membuat baby Allister kembali menjerit.


Plak


Pukulan keras mendarat tepat diwajah tampan Satya, dan pelakunya adalah Allister sendiri.


"Aww,,,,, sakit."


"Udah Noah ingetin loh yah." Ujar Noah seolah tau musibah akan menimpa ayahnya.


"Ndongg ndaa." Rengek baby Allister sambil merentangkan kedua tangan kecilnya minta digendong oleh Teressa.


"Mas." Satya yang tak paham kode apa yang dimaksud istrinya, hanya bisa mangap dengan tampang bingung.


Teressa semakin memperjelas apa yang ia maksud melalui lirikan mata.


"Kenapa sih sayang?" Tanya Satya menyerah.


Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Teressa segera memungut benda keramat miliknya yang tersampir diatas nakas dengan gerakan kilat. Ia ingat betul bahwa suaminya yang telah membuangnya sembarang arah semalam.


"Eh, itu ya?" guman Satya baru sadar.


Istrinya saat ini pasti tengah mengumpatnya dengan berbagai macam sumpah serapah. Satya melirik sekilas Noah yang nampak sibuk dengan laptop nya, untung saja kulkas dua belas pintu itu tidak melihatnya. Bisa-bisa rasa malu Teressa bertambah berkali-kali lipat, dan Satya juga yang akan kena imbasnya.


______________


TBC.