AFTER

AFTER
Eps 34



(Satya & Teressa.)


.


.


.


.


.


"Satpam buruan sini, ck. lama bener ah!" omel Marvin. Pria blasteran itu masih memegangi tubuh Alexa agar wanita itu tak kabur, dan salah satu teman Alexa juga dipegangi oleh anak buah Marvin.


"Permisi pak."


"Nih ambil nih usir dari sini!" Seru Marvin yang langsung menghempas tubuh Alexa pada Satpam kantor Satya tersebut. Kemudian menghempas kan Jas nya seolah membuang membuang debu yang menempel.


"Lepasin gue!!" Seru Alexa berteriak histeris.


"Yang itu sekalian usir dari sini!" tunjuk Marvin pada teman Alexa.


"Inget ya kalian berdua dipecat dengan rasa tidak hormat, nggak ada pesangon. Dan buat kalian semua yang ada disini dan melihat kejadian tadi tapi nggak ada yang nolong Teressa, gaji kalian dipotong 50%." Seru Marvin.


Pintar sekali Jin Mpin ini.


Tapi tunggu, semua itu tentunya atas izin dan titah dari Satya. Kalo punya asisten, ngapain musti ngomong sendiri ? udah diwakilkan juga.


"PAK JANGAN PECAT SAYA PAKK!!" teriak Alexa tak terima.


"LO JANDA MURAHAN!!! INI SEMUA GARA-GARA LO!" teriak Alexa menunjuk-nunjuk Teressa dengan kakinya.


"Buruan bawa pergiiii!!!" seru Marvin tak sabaran, dan malah ikut kesal sendiri dengan tingkah wanita ular itu.


"TERESSA HIDUP LO NGGAK BAKAL TENANG SETELAH INI!"


"HEI JAGA BICARA KAMU, JANGAN SAMPE MULUT KAMU SAYA ROBEK YA!!!" Teriak Satya penuh amarah.


Buru-buru Pak Satpam tadi menarik Alexa keluar dari ruangan itu, disusul teman Alexa yang dibawa oleh anak buah Marvin.


Fyuhhh....


Selesai juga!


"Kelar bos." ujar Marvin.


"Huhhh...kelakuan betina emang ya!" Gerutu Satya.


Beralih pada Mbak Teressa, wanita itu terlihat tengah membenahi pakaiannya. Jilbabnya sedikit berantakan karna ulah Si Lampir tadi.


Setelah itu tak ada sepatah kata yang ia ucapkan, wanita itu langsung keluar dari ruangan tersebut.


"Bentar-bentar, kok dia yang marah? seharusnya gua dong, kan yang pegang-pegangan ama Si Jojon tadi dia?" guman Satya bingung.


Sebenarnya yang lebih parah dari pegang-pegangan adalah mau disosor sama Mak lampir tadi.


Ya jelas ngambek lah, orang adegannya didepan mata, ya walau nggak kena juga tadi.


"Lah iya yak, buset betina emang suka ngadi-ngadi dah." balas Marvin.


"Lu urusin dah, gua mau nyusul Tessa." ucap Satya yang kemudian segera menyusul Teressa.


"Balik Kerja lagi, jangan pada ngerumpi! Ketauan ngerumpi gua denda cepek lu pada. Paham?!'' seru Marvin.


"Paham Pak."


__________________


Cielah calon istri!


Namun Teressa tak menghiraukannya, wanita itu tetap melanjutkan langkah kakinya menuju lift. Tapi langkahnya masih bisa didahului oleh Satya, pria itu buru-buru mencekal pergelangan tangan Teressa.


"Kamu kenapa hei." tanya Satya.


"Nggak papa." balas Teressa sambil mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar begitu saja.


"Hei bilang sama saya, kamu ini kenapa ha? jangan kekanak-kanakan kayak gini. " Tanya Satya sekali lagi.


Dan akhirnya Teressa berhenti, Satya menghela napas lega.


"Bapak bilang saya yang kekanak-kanakan? bapak nggak nyadar sama yang bapak lakuin tadi? Kemaren bapak dateng kerumah saya dan ngelamar saya buat jadi istri bapak, tapi nyatanya apa? bapak nggak bisa ngelak kan dari sentuhan wanita lain!" sungut Teressa berapi-api.


Wow, apa ini bisa disebut cembokor? alias cemburu?


"Wait, kamu cemburu? seharusnya saya yang cemburu, kamu tadi juga pegang-pegangan sama Jojon kan, saya diem saya nggak protes." seru Satya.


"Itu artinya bapak cuma main-main sama saya!" tekan Teressa menatap tajam Satya.


"Hei mana ada begitu!!" Seru Satya, lagi-lagi ia harus mengejar Teressa yang sengaja menghindar darinya.


"Dengerin dulu penjelasan saya, asal kamu tau saya lebih cemburu pas liat kamu pegangan sama Jonathan, saya nggak rela kalo orang lain yang malah selalu ada buat kamu. Saya mau kamu selalu dideket saya supaya kalo kamu kenapa-napa saya orang pertama yang nolong kamu."


"Dan satu lagi, saya nggak ngelakuin hal yang ada didalam pikiran kamu. Kamu mikir saya ciuman kan sama orang tadi? No Tessa, saya nggak ngelakuin itu, saya udah berhasil ngelak asal kau tau."


"Sekarang saya tanya sama kamu, apa yang kamu rasain pas liat saya mau dicium orang lain? sakit kan?" tanya Satya sembari membingkai wajah cantik Teressa.


Dan dugaan Satya pun benar adanya, Teressa menganggukkan kepalanya pelan untuk menjawab pertanyaan Satya barusan.


Tanpa basa-basi Satya langsung menarik tubuh Teressa kedalam dekapannya. Ia tau jika wanitanya itu cemburu, namun gengsinya untuk mengakui lebih besar.


"Saya tau kamu cemburu kan?" tanya Satya masih setia mendekap tubuh Teressa.


"Nggak, saya nggak cemburu." elak Teressa sambil menangis didalam dekapan Satya.


Rasanya sangat memalukan jika Satya tau kebenarannya, apalagi ditambah Teressa sudah salah sangka dengan Satya tadi.


"Ayo lah jujur sama saya, Kamu cemburu kan." desak Satya lagi.


"Enggak!"


"Kamu cemburu Tessa."


"Enggak cemburu!"


"Cemburu."


"Enggak hiks...hiks....Pak Satya jahatt hiksss ......


Nah loh emaknya Noah nangis loh, nggak jadi dapet restu ntar loh Bang.


"Oke-oke kamu nggak cemburu, tapi jealous dikit."


"Pak Satya huaaaa..!!!!"


"Astaga calon ibu dari anak-anak kita ternyata cengeng juga ya." Ujar Satya sambil mengusap puncak kepala Teressa yang dibalut jilbab.


Astaga kalian nih gemes sekali sih, pengen tak untal tau nggak.


_____________________


Babay!