
(After pt 2)
.
.
.
.
.
Sebenarnya pertunangan Noah dan Alice dilaksanakan beberapa bulan yang lalu. Tapi karena keluarga masih dilanda duka karena kepergian sang oma, Noah memutuskan akan menunda rencananya sampai seratus hari setelah kepergian oma nya.
Rencananya mereka akan melangsungkan pertunangan terlebih dahulu, tapi setelah dipikir-pikir kali ini Noah akan langsung menghalalkan Alice dengan sebuah ikatan pernikahan.
Anjay kulkas dua belas pintu mau indehoy. Nggak deh canda, nikah dulu ya. Keep halal broder.
"Ganteng banget anak bunda." Puji Teressa saat melihat putra sulungnya mengenakan setelan jas berwarna hitam. Sebenarnya Teressa juga sering melihat Noah mengatakan pakaian formal seperti ini, tapi entah kenapa khusus hari ini aura anak sulungnya terlihat lebih bersinar dari biasanya.
"Bunda juga cantik." Balas Noah.
Tiba-tiba muncul lah Satya dibalik pintu kamar itu, "Buset No lama amat, itu kamu ditungguin sama pak penghulu dibawah. Udah ganteng kamu, mau dirombak kayak apapun juga masih cakep. Buruan turun sini!"
"Mas Satya jangan bikin panik dong, kasian Noah jadi gugup " Ucap Teressa.
"Ntar kalo pak penghulunya pergi ke acara lain jangan salahin ayah ya. Awas loh, awas aja kalo nyalahin ayah, awas pokoknya!!" Seru Satya menakut-nakuti.
"Udah ya, sekarang Noah ikut ayah." Teressa menenangkan Noah agar laki-laki itu tidak panik mendengar gertakan dari ayahnya yang luknut itu. Noah menganggukkan kepalanya paham, laki-laki segera mengikuti ayahnya turun ke bawah.
Selepas menemani putra sulungnya bersiap, kini Teressa beralih menemani calon mantunya dikamar sebelah untuk melakukan persiapan.
Acara ini memang diselenggarakan dikediaman Satya. Hanya sebuah acara pernikahan sederhana saja, karena Alice dan Noah memang sama-sama sepakat untuk melangsungkan acara pernikahan secara tertutup dan tak mengundang banyak orang. Untuk resepsi, acara itu akan diselenggarakan siang itu juga, sehingga malamnya mereka bisa langsung beristirahat.
"Sudah siap semuanya?" Tanya Pak penghulu mematikan.
"Sudah, langsung aja dimulai pak."
"Mempelai wanita nya mana ya?"
"Masih dirias pak, astaga. Ini dulu aja disah-in, nanti baru mempelai wanita nya keluar." Jawab Satya menahan kesal setengah mati.
"Saya cuma mau memastikan jika pernikahan ini berlangsung tanpa ada paksakan, baik dari pihak pria maupun wanita." Jelas Pak penghulu.
Sebenarnya pak penghulu juga tak ada salahnya bertanya demikian. Mungkin beliau hanya ingin memastikan, jika pernikahan ini tidak ada pelaksanaan dari pihak manapun.
Satya memasang senyum paling manis sambil menahan rasa kesal. "Anak saya ini nikah didasari oleh cinta, oleh CINTA, bapak. Mana ada paksa paksaan segala, plis deh." Seru Satya.
"Ya santai dong, saya kan cuma memastikan. Gitu aja kok sewot sih."
Satya membelalakan matanya menatap tak percaya pria tua itu. "Maksudnya apa ya, pak? Mau by one sama saya? Serlok sini serlok, gelut kita!"
"Ya abisnya ngeselin banget, nggak percayaan banget jadi manusia." Gerutu Satya.
Bukannya takut atau cemas, para tamu undangan malah terkekeh geli menyaksikan adu bacot antara Pak penghulu dengan Satya. Keduanya sama-sama tak ada yang mau mengalah.
"Ayah diem dong, jangan marah-marah terus. Nanti kak Noah nggak jadi nikah lagi." Kata Luna yang saat ini sudah duduk anteng dipangkuan ayahnya.
"Anak ayah cantik banget sih, ini siapa tadi yang ngasih kembang-kembang gini." Puji Satya sambil mengamati penjepit rambut berbentuk bunga yang tersemat diatas kepala Luna.
"Dikasih aunty Ghea, kita kembaran sama kak Glory juga." Jawab Luna.
"Bunda nggak dikasih? ish ish, tak patut." Tanya Satya. Luna menggeleng, "Kan bunda pake jilbab, nggak bisa dipasang dirambut kayak lala."
"Oke oke, sekarang Lala temenin Ayah disini. Kita dengerin kakak mau ijab kabul. " Ucap Satya. Luna menganggukan kepalanya dengan patuh. Gadis kecil itu anteng ditempatinya dengan sang ayah yang senantiasa memeluknya.
Noah menghela nafas lega, keberadaan Luna lumayan membantu. Dengan begini Satya akan damai dan tidak akan beradu mulut dengan pak penghulu lagi.
"Kita mulai ya."
Dengan tangan sedikit gemetar, Noah menjabat tangan Adi, kakak dari Alice.
"Semangat Nono!" bisik Luna tepat ditelinga Noah.
Noah mengangguk samar, kemudian menghela nafas panjang untuk menetralkan kegugupannya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan, engkau saudara Noah Darel Abdilla bin Almarhum bapak Almas Faiz Arrahman dengan adik kandungku, Alice Gracia Halim binti Almarhum Albert Johanes Halim dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawin nya, Alice Gracia Halim binti Almarhum bapak Albert Johanes Halim dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana para saksi? Sah?" Seru Pak penghulu.
"SAH!!!" Jawab para tamu undangan yang menjadi saksi ijab kabul tersebut.
"Alhamdulillah,,,"
Mereka melanjutkan acara dengan berdoa bersama yang dipimpin oleh pak penghulu.
Noah merasa lebih lega setelah melewati sesi ini. Dengan begini ia bisa memiliki Alice seutuhnya tanpa takut ada saingan dari pihak ketiga. Percayalah, yang halal pasti lebih asoy.
"mempelai wanita nya mana?" Tanya Pak penghulu.
"Astaghfirullah bapak!!! Bapak kayaknya ngebet banget pengen liat wajah mantu saya. Situ naksir huh?!"
"Nggak lah istri saya dirumah dua." Jawab Pak penghulu dengan santainya.
_____________
TBC.
Nite: kalau ada kesalahan info, silahkan koment biar saya revisi. Makasih.