
(Satya &Teressa)
.
.
.
.
.
Tahun sudah berganti untuk kesekian kali, namun Satya dan istrinya masih setia menanti hadirnya malaikat kecil diantara mereka.
6 tahun sudah berlalu begitu cepat, Noah sudah tumbuh menjadi sosok remaja tampan dan juga pintar. Anak kulkas itu masih sama, yaitu kebanggan keluarganya. Selalu menjadi pelindung kedua orang tuanya, dan keluarganya.
Berarti itungannya Satya sama Teressa nikah udah 7 tahunan ya, soalnya sebelumnya udah diskip setaun.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Bukan bundanya yang menyambut, namun sang oma. Tak biasanya seperti ini, lantas kemana bundanya pergi?
Seperti biasa saat pulang ke rumah, Noah selalu menyalami siapapun yang menyambutnya.
"Bunda kemana oma?" tanya Noah. Wajah letihnya jelas ketara, remaja itu harus melanjutkan pendidikan sambil merangkap menjadi seorang pemimpin perusahaan.
"Bunda mu masih ada dikamar, dari tadi siang nggak keluar-keluar. Oma udah tanyain katanya nggak papa, Noah tolong tengokin ya?" Ucap Bunda Citra.
"Iya oma." balas Noah.
Saat ini Noah mengalami sedikit perubahan, saat dilingkungan luar mungkin ia masih terkesan dingin dan datar, namun saat berkumpul dengan keluarganya remaja itu menjelma menjadi sosok yang hangat, terutama pada adik-adik sepupunya.
Remember Gathan, Ghavi, dan Gheva? Hm mereka akan memiliki adik lagi. Benar, sekarang Bu Ghea tengah mengandung seorang princess kecil untuk mereka.
"Ayah belum pulang, oma?" tanya Noah.
"Belum nak." jawab Bunda Citra.
"Opa dimana?" tanya Noah lagi.
"Opa lagi nguras kolam dibelakang."
Bunda Citra ikut senang jika Noah selalu perduli terhadap semua anggota keluarganya.
"Kalo gitu Noah pamit keatas dulu ya, sekalian nengok bunda." ucap Noah.
"Iya, kalo capek jangan lupa istirahat ya." balas Bunda sambil mengusap bahu cucunya itu. Noah pun menganggukkan kepalanya 'mengiyakan' ucapan neneknya.
Tok
Tok
Tok
"Bunda, ini Noah." suara lembut itu mampu mengusik lamunan Teressa.
Wanita itu kini tengah duduk melamun diatas balkon, kegiatan itu yang sekarang sering mengisi hari-harinya.
Sangat membosankan bukan? Benar.
Kadang dalam benaknya terpikir, jika ia memiliki anak mungkin hidupnya tak sesepi ini bukan? Noah tetap anaknya, tapi yang ia maksud adalah bayinya sendiri bersama Satya.
Sabar.
"Bunda, Noah masuk ya?"
Karna masih tak ada sautan dari dalam, Noah memutuskan untuk masuk. Tak ada balasan dari bundanya membuat anak itu khawatir.
"Bunda?" panggil Noah.
Wanita yang dipanggil 'bunda' itu menolehkan kepalanya pada sumber suara lembut yang memanggilnya itu.
"Noah udah pulang?" Wanita itu bangkit dari tempat duduknya, berjalan menghampiri putranya sambil merentangkan tangan.
Grep
"Iya Noah pulang, Noah kangen sama bunda." ucap Noah sambil memeluk erat tubuh ibunya itu.
Sudah hampir 3 hari anak kulkas itu tidak kembali ke rumah, alasan apalagi kalo Bukan masalah pekerjaan? Tentunya menyisakan rindu yang teramat dalam bagi Teressa. Seumur-umur ia tak pernah berpisah dengan Noah lebih dari sehari atau 12 jam, namun kini ia harus membiasakan diri untuk ditinggal putranya berhari-hari.
"Bunda kenapa nangis, bunda ada masalah?" tanya Noah yang merasakan kemejanya basah terkena air mata sang bunda. Tak ada jawaban disana, hanya terdengar isak tangis Teressa yang semakin keras.
"Bunda nggak tau lagi No, bunda juga pengen kayak istri-istri orang lain. Mereka bahagia punya banyak anak, hidup mereka penuh warna. Sedangkan bunda, bunda satupun nggak dikasih sama Allah. Bunda musti gimana? Bunda nggak bisa diandelin No."
Hati nya seperti teriris, tenyata bundanya selama ini memendam semua itu sendiri? selama itu bayangkan.
"Bunda udah ngerawat kamu dengan baik dari kecil sampe sekarang No, kamu jadi anak baik, anak pinter, sholeh, kebanggaan bunda. Tapi kenapa Allah masih nggak percaya kalo bunda mampu buat jaga titipannya? Bunda salah apa, No?"
"Bunda nggak salah, bunda udah bener. Bunda jangan sedih, semua ada jalannya."
Remaja itu terus berusaha menenangkan ibunya yang masih menangis didalam dekapannya itu.
Walau bukan ibu kandung, tentu ia paham dengan apa yang dirasakan Teressa itu. Karna bagaimanapun juga, Teressa lah yang telah merawatnya dari kecil.
"Sayang."
Sepertinya Satya sudah pulang, dan kini mungkin tengah mencari istrinya.
"Aku cariin nggak nemu-nemu padahal pintunya kebuka, ternyata disini." seru Satya.
Satya gimana kabarnya? Bapaknya Noah makin ganteng dong, makin LAKIK juga.
"Mas?"
"Wih udah pulang No? Gimana kerjaan kantor?" tanya Satya sambil menepuk bahu putranya.
"Iya yah, alhamdulilah lancar."
"Yah?" seru Satya dan Teressa bersamaan. Agak nggak nyangka sih, setelah sekian purnama akhirnya Noah manggil Satya 'Ayah'
"Kenapa? ada yang salah?" seru anak itu.
"Enggak sayang." seru Teressa sambil memeluk erat tubuh tegap putranya.
Wait, wait...
Tiba-tiba Satya menarik tubuh Teressa dengan lembut, kemudian ganti menaruh tubuh Teressa kedalam dekapannya.
Sepertinya bapak ini cemburu:)
"Mas ih." seru Teressa berdecak kesal.
"Maap ya No, ayah kangen sama bundamu." ucap Satya beralasan.
"Mau bilang cemburu gengsi nya segede gaban ya, yah?" guman Noah.
Whattt?????!!! N-Noah bisa ngelawak!!!!
"Ada apa gerangan nih, pulang-pulang romannya es batu di kulkas mulai cair ya No?!" seru Satya.
"Masih beku kok yah di kulkas." balas Noah.
Nah kan balik lagi.
"Awas ah, aku mau peluk Noah lagi." seru Teressa yang berusaha melepas belitan tangan Satya dipinggang nya, namun tak ada guna karna Satya malah semakin erat memeluknya.
"Aku masih kangen sama kamu sayang." rengek Satya yang sebenarnya enggan melepas istrinya.
"Tapi aku kangennya sama Noah." seru Teressa.
"Nggak usah ngambek!" seru Teressa saat melihat suaminya sudah menekuk wajah cemberut.
"Kamu habis nangis yang?" tanya Satya. Mata nya menelisik wajah ayu Teressa, ada bekas air mata disana.
"Enggak." jawab Teressa.
"Bundamu habis nangis, No?" tanya Satya beralih pada putra sulungnya. Noah malah mengedikkan bahunya seolah tak ingin ikut campur.
"Kenapa lagi?" tanya Satya. Pria itu menuntun istrinya untuk duduk sofa yang terletak dibalkon.
"Kamu jujur sama mas, atau mas cari tau sendiri?" seru Satya.
"Emang kalo Tessa nggak jujur mas bisa tau?" tanya Teressa.
"Oh ya tentu." jawab Satya.
"Gimana caranya?" tanya Teressa.
"Disana, disana, terus disana, dan disana juga ada." ucap Satya sambil menunjuk beberapa titik sudut yang tenyata ia pasang sisitipi.
"Mas Satya pasang Cctv?" tanya Teressa.
"Iya."
"Ih mas kok nggak bilang-bilang sama Tessa." seru Teressa sambil merengut.
"Ya habisnya kamu suka nggak jujur sama mas, kata bunda kamu sering ngelamun disini. Mikirin apa sih?" tanya Satya.
"Nggak ada." jawab Teressa sambil menggelengkan kepalanya.
__________
Obrolan kini berlanjut, bukan hanya Satya dan Teressa namun juga putra sulung mereka.
"Ayah sama bunda udah pernah periksa ke dokter?"
Mau tak mau Noah harus menanyakan hal itu.
"Pernah sih No." jawab Satya.
"Terus hasilnya?"
"Kalo hasil pemeriksaan dari dokter, sebenernya ayah sama bunda nggak ada masalah apa-apa. Tapi mungkin Allah belum ngasih ridho aja sih, ayah juga belum tua-tua banget kan kalo buatin adik buat kamu." jelas Satya.
"Hm mungkin sih Yah, tapi ayah nggak ada konsumsi minuman alkohol atau make rokok kan? biasanya itu yang bikin kualitas sperrrma laki-laki turun." jelas Noah.
"Nggak ah, ayah nggak minum gituan. Orang tiap hari ayah minum susu bunda-
"Eh susu buatan bunda maksudnya!" ralat Satya.
Sabar ya kalian punya suami sama ayah modelan Satya.
"Bunda sendiri gimana?" tanya Noah.
"Sejauh ini bunda nggak ada apa-apa No, setiap periksa ke dokter jawabannya sama aja nggak kenapa-napa. Tapi mungkin nggak sih ini faktor keturunan? soalnya Bunda anak tunggal, dan dulu orang tua bunda juga susah dapet momongan." jawab Teressa.
Kalo punya anak macem Noah mah enak ya, bisa sharing-sharing gitu. Mana Noah udah kayak dokter profesional lagi.
"Mungkin, mungkin sebentar lagi Noah bakal punya adek." ucap Noah tiba-tiba.
"Eh, kamu bisa ngeramal No?" tanya Satya.
"Nggak lah yah, Noah nggak percaya kayak gituan." jawab Noah.
"Ya intinya mah ikhtiar aja sama tawakal, insyaallah bakal dikabulin kok sama Allah." sambung Noah lagi.
Noah yang duduk diantara kedua orang tuanya itu pun langsung mendapat pelukan hangat dari Satya dan Teressa. Betapa bangga nya mereka memiliki anak seperti Noah. Selalu mendukung, dan mendoakan yang terbaik untuk keluarnya.
"Oh iya, nanti Marvin sama istrinya mau main ke sini yang." ucap Satya memberitahu.
"Nanti malem mas?" tanya Teressa.
"Kayaknya sih, tapi kalo nggak nanti malem paling besok siang." ucap Satya.
"Iya nanti Teressa siapin makanannya." ucap Teressa.
__________
Marvin dan keluarga kecilnya datang berkunjung kerumah sahabatnya itu. Usia pernikahan mereka hampir sama dengan usia pernikahan Satya, dan kini tahun ini mereka bru dikaruniai seorang bayi perempuan yang cantik.
Mungkin karna dulunya Marvin masih suka aneh-aneh diluar, makanya benihnya nggak tumbuh subur saat pertama kali ngadon sama Rara.
And finally, sekarang dia menjadi seorang dedih.
''Hey what's up bro." seru Marvin.
Seperti para sohib yang lainnya, mereka melakukan tos dan berpelukan saat bertemu.
"Gimana, gimana kabar baik?" seru Satya.
"Yoi dong, lu sendiri gimana? anak udah selusin belom?" seru Marvin.
Satya terdiam sejenak untuk berpikir memilih jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Masih proses lah, doain aja." jawab Satya.
"Mas minumnya." seru Teressa. Wanitaitu membawa nampan berisikan minuman segar yang siap disajikan untuk tamu suaminya itu.
"Makasih sayang." seru Satya.
"Ayo silahkan masuk, duduk dulu." seru Satya mempersilahkan.
Pandangan Teressa langsung tertuju pada bayi cantik yang ada dalam gendongan Maura. Gadis manis itu sekarang sudah menjadi mamah muda.
"Cantik banget ya baby nya, namanya siapa dek?" tanya Teressa.
...Princess nya Pak Marvin~...
"Namanya Aurora kak." jawab Maura.
"Baby Aura nya cantik banget sih, kayak Mommy nya nih pasti." seru Teressa yang membuat Maura tersipu malu.
"Yuk duduk dulu sini." ajak Teressa, Maura pun menurut dan duduk diruang tamu bersama Teressa dan lainnya.
"Om." sapa Noah. Anak itu baru saja keluar dari tempat persembunyiannya, dimana lagi kalo bukan kamar.
"Widih ini kulkas dua belas pintu kan? makin cakep aja kamu No." seru Marvin.
Noah seganteng apa sih?
"Hm om juga." balas Noah menimpali.
"Badan lu makin isi ya Sat, gimana susunya tawar?" tanya Marvin yang memperhatikan bentuk tubuh Satya yang memang nampak lebih berisi dari taun-taun sebelumnya.
"Tawar lah." Ucap Satya membalas candaan sahabatnya.
"Lu semenjak kelar merrid langsung pindah ke Amri kan, tu gimana ceritanya bisa sampe kebobolan? buset anak orang masih sekolah lu slebew juga Mpin." seru Satya.
"Ya gimana, orang kepancing Sat." seru Marvin.
"Bunda sama ayah kemana Sat?" tanya Marvin.
"Lagi jengukin cucu nya, kerumah Ghea." jawab Satya.
Obrolan para laki-laki itu masih berlanjut, namun bukan diruang tamu ntar kedengeran sama Maura bisa-bisa Marvin kagak dikasih jatah lagi. Mereka memilih naik ke ruang kerja Satya yang terletak di lantai atas.
Flasback (Marvin&Maura)~
Masih ingat pernikahan Satya? Saat itu Maura masih numpang di apartement Marvin karna jadwal kepulangan kedua orang tuanya diundur lagi, sehingga ia harus lebih lama tinggal bersama Marvin.
Sedangkan orang tua marvin baru saja melakukan perjalanan pulang, dan saat itu belum ada ditanah air.
Intinya Mpin di apartement cuma berdua sama Maura.
Malam itu setelah pulang dari acara Satya, mereka memutuskan untuk langsung pulang. Karna memang keduanya sama-sama lelah.
"Kak Marvin." panggil Maura sedikit berteriak.
"Hah??" balas Marvin dalam kamar mandi. Pria itu masih menyibukkan diri menggosok tubuhnya dengan sabun cair.
"Buruan, Rara mau tidur!!!!" seru Maura.
"Yaudah tidur aja sono, gua masih lama Cil." seru Marvin.
"Nggak bisaa, mau dipeluk sama Kak Marvin dulu!!! Ayo buruan, kalo lama Rara dobrak yaa!!" teriakan gadis itu semakin menjadi karna Marvin tak kunjung keluar dari kamar mandi.
Brugghhh
Brakkkkk
Maura melempari pintu kamar mandi yang ada didalam kamar Marvin menggunakan barang-barang yang ada disekitarnya.
CEKLEK
"Istigpar Cil, ya lorddd. Gua lagi mandi elah!" seru Marvin yang baru keluar dari kamar mandi. Tubuh bugilnya hanya dibalut oleh jubah mandi, garis bawahi pria itu tidak memakai pakaian apa-apa didalam jubah mandinya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Maura langsung menghambur memeluk tubuh Marvin.
Mancing nih, bocil mancing nih.
"Ayo tidur, Rara ngantuk." ajak Gadis itu. Mulutnya menguap lebar dan matanya menyipit menahan rasa kantuk.
"Bentar pake baju dulu, masih bugil ini gua." seru Marvin.
"Nggak bolee, maunya tidur sekarang!" rengek Maura.
"Cil."
"Sekarang!"
"Gua mau pake semvak dulu hiiih!" geram Marvin.
"Nggak boleh!"
Marvin kalah, lagi-lagi ia harus menuruti permintaan gadis kecil itu. Ia pikir setelah bocil tidur, ia akan bisa untuk memakai baju. Namun nyatanya tak bisa, Maura terus menguasai tubuhnya. Gadis itu bergerak dengan sangat bar-bar.
"Ra." panggil Marvin.
"Hm."
"Tidur yang bener coba, jangan kayak cicak gini ." seru Marvin. Saat itu Maura tidur diatas tubuh Marvin.
Bukannya menurut, Maura malah menyusupkan wajahnya pada ceruk leher Marvin. Bagi Maura mungkin itu terasa nyaman, namun bagi Marvin itu sangat 'menyiksa'
"Cobaan apa lagi Ya Allah." batin Marvin.
"Ntar kalo gua kelepasan, dosa kita kongsi ya Cil." guman Marvin.
"Shittt bangun kan." guman Marvin.
Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba, juniornya kini sudah berdiri tegak dibawah sana. Namun tiba-tiba Maura menggulingkan tubuhnya ke sisi samping Marvin, dan meringkuk sambil memeluk boneka babi nya.
"Lah anjir, ni anak ngadi-ngadi udah bikin adek gua berdiri bukannya tanggung jawab malah pergi gitu aja!" gerutu Marvin.
Alhasil dipijat lah juniornya itu menggunakan tangannya sendiri.
Sabar ya.
Saat menoleh kearah Maura, mata jelalatan Marvin tak sengaja melihat rok pendek Maura yang menyingkap ke atas, mana tu anak kaga pake daleman lagi ah.
"Arghhh ni anak bener-bener ya!" seru Marvin. Karna sudah tak tahan lagi, mau tak mau ia harus menyelesaikan urusan juniornya dikamar mandi.
Hampir setengah jam Marvin bersemedi dikamar mandi, saat keluar wajahnya masih memerah. Hanya bermain dengan sabun tak membuat juniornya kembali tidur, nyatanya malah semakin menyiksa dirinya.
"Cil bangun."
"Bocil bangun."
"Maura bangun." rengek Marvin mulai prustasi.
"Apasih kak!" ketus Maura.
"Bantuin bentar." seru Marvin.
"Kakak ngapain!" teriak Maura saat baru menyadari jika Marvin sudah diatas tubuhnya.
"Bantuin Cil." pinta Marvin dengan suara berat.
"B-bantuin apa?" tanya Maura sedikit terbata.
"Adek gua tegang nih." seru Marvin.
"Adek yang mana? emang kak Marvin punya adek?"
"Yang dibawah udel gua Cil!" seru Marvin.
"Nggak usah diliat, ntar lu kagum. Sekarang gua mau minta tolong, lu ikhlas bantuin kan?" seru Marvin. Karna bingung menjawab apa, Maura hanya menganggukkan kepala nya pelan.
"Bilang ikhlas Cil."
"M-Maura ikhlas kok." guman Maura pelan.
"Good girl, abis ini gua langsung nikahi lo."
"AKHHHHHH S-SAKITTT.....
Dan malam itu Marvin mÄ—nggagahi seorang gadis belia berusia 16 tahun, sebutlah ia pedofil karna memang kenyataannya seperti itu.
Bahkan Marvin malah lebih dahulu belah duren daripada Satya dengan Teressa.
Nggak saya jelasin secara rinci karna takut kalian pada tegang, untuk adegan selanjutnya silahkan khayalkan sendiri.
__________
"Vin, bukain pintunya ini mommy." suara cempreng itu menggema di seluruh penjuru ruangan apartement Marvin. Namun Marvin masih belum menyadari hal itu. Ia masih betah tidur sambil mendekap tubuh telanjang Maura.
Anget ya Mpin?
BRAKK
"MARVINN BANGUN!!!!"
"Eh? rame bener, masih pagi juga." guman Marvin. Pria itu meregangkan otot-otot lengannya yang terasa lumayan pegal.
"Eumh...Maura Masih ngantuk kak." guman Maura dengan suara serak, gadis itu kembali mencari kehangatan dibalik dada bidang Marvin.
"Tidur Cil, tidur lagi." balas Marvin yang kembali menarik tubuh Maura kedalam dekapannya.
"Jeng, ini Maura kok nggak ada ya dikamar sebelah? Marvin sama Maura tidurnya pisah kan?"
"Hah?"
Kedua orang tua Marvin dan Maura langsung menengok kearah tempat tidur Marvin, disana hanya menampakkan tubuh Marvin yang telanjang dada. Maura Tak terlihat karna gadis itu bersembunyi didalam selimut tebal itu.
Enyak Marvin langsung narik selimut itu dan, jeng jeng jeng ada harta karun disana.
Kisah Marvin dan Maura dimulai sejak kejadian pagi itu, setelah disidang oleh kedua belah pihak keluarga. Siangnya mereka langsung dinikahkan oleh Pak Ustadz. Mereka melangsungkan pernikahan secara siri, karna bagaiamana pun Maura masih dibawah umur dan data pasti akan ditolak oleh kantor agama bukan.
Keluarga Marvin bukan tipikal yang suka sabotase dokumen ya, jadi ngikutin aturan aja.
Kemudian setelah beberapa tahun kemudian, mereka kembali melaksanakan pernikahan secara hukum negara.
selesai~
Flasback Off~
part ini 2,5 rebu kata njir panjang bet, yang penting kalian ga penasaran lagi sama proses pembobolan Marvin dan Maura.
Ditunggu apresiasi nya:)
Babay.