AFTER

AFTER
06



Baru beberapa jam aku menunggangi Orias, tak terasa arlojiku menunjukkan jam dua siang. Benar-benar perjalanan yang cukup membosankan bagiku, bahkan mungkin Orias juga bosan. Yang kulihat hanyalah padang rumput, hutan, dan pepohonan saja.


Seperti bola waktu, terus berputar dan terulang. Semua yang kulihat seperti sudah diulang saja. Meski bisa melihat sebuah rumah, namun sepertinya rumah itu sudah ditelantarkan atau mungkin menjadi korban pemberontakan.


Aku ingat jelas apa yang diucapkan oleh Derris. Negara timur dan barat ya, sesuatu yang mungkin memakan banyak korban. Sementara kuda ini berpacu, sambil melihat pemandangan pun aku memikirkan hal itu.


"Benar-benar ... sepanjang perjalanan aku hanya disambut pohon dan padang rumput, benar kan Orias?" tanyaku pada seekor kuda yang sudah pasti jawabannya adalah ringkikan tak jelas.


Aku mengetahui satu hal yang mungkin berguna. Negara timur, dan barat sudah lama menyerang satu sama lain, entah apa penyebabnya namun ada berita bahwa mereka akan segera berdamai. Damai ya ... apakah mungkin tidak ada yang keberatan? Lebih baik aku fokus saja dulu untuk menunggangi kuda ini.


Benar ya ... pemandangan yang asri, tenang melihatnya seperti masuk ke dalam imajinasi. Aku berhenti untuk melihat keindahan alam itu. Suara alam memanggil, ketenangan yang menyatu dalam keharmonisan, tak bertahan namun menjadi memori.


Aku melihat sekeliling padang rumput itu, seperti lukisan yang sangat menawan. Angin yang menerpa seolah memberi isyarat untuk menikmatinya, yang kulihat disekitar padang ini hanyalah rasa sejuk dan sebuah memori yang akan selalu kuingat. Setelah beberapa kali mengedarkan pandangan, aku melihat seseorang yang sepertinya sedang dikepung oleh perampok.


Aku segera menaiki Orias, menungganginya dan menuju ke arah orang itu. Padahal baru saja beberapa menit aku menikmatinya tapi itu diganggu oleh perampok. Aku melihat seorang wanita yang dikerumuni oleh orang-orang bersenjata yang sudah pastinya itu adalah perampok.


"Permisi ... bisa kah saya meminjam dia?" tanyaku yang sebenarnya ragu untuk bertanya hal bodoh seperti itu.


"Wah wah, ada pahlawan kesiangan yang mampir ya. Hey Nona, lebih baik kau pulang dan minum teh saja sana," remeh salah satu perampok sambil tertawa puas karena sudah mengejekku.


Sebuah batu yang dibungkus dan diikat kain pun menghantam wajahnya, pria itu terpental oleh mainanku, akhirnya aku bisa menceritakan kegunaan benda ini pada bibi." empat orang lagi silahkan mendaftar untuk dihantam sebuah batu jika ingin pingsan seperti orang itu," ucapku sambil tersenyum kepada para perampok itu.


"Ka ... kau dasar brengsek! Ayo yang lain kita serbu wanita bodoh itu!" seru salah satu pemuda itu.


mereka langsung menyerbu kearah ku yang sudah bersiap daritadi. Ku ayunkan morning star (menurutku karena cara mengunakannya sama) sederhana itu, hantaman dari benda itu tepat mengenai wajah salah satu perampok itu dan dia langsung jatuh tersungkur dengan hidung berdarah. Satu, sisa tiga orang lagi untuk diurus untung saja Orias itu tipe pendiam aku hanya bersiap untuk itu.


"Dasar kau brengs ...."


Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, aku sudah menghantamnya dengan senjataku ini."lebih baik kalian pergi, bukankah kalian punya masa depan?" Aku yang memperingatkan mereka.


Dua orang itu langsung saja gemetar, mereka berdua membopong temannya dan langsung pergi entah kemana. Sementara itu, aku segera menolong wanita itu dengan memberikannya minum. Untung saja aku datang, mengapa jadi seperti petualangan fantasy saja? Benar-benar membingungkan untuk seorang wanita.


"Kau tidak apa-apa kan?"


"Te ... terimakasih," jawabnya terbata-bata.


Aku yang melihatnya masih sedikit gemetaran karena kejadian tadi langsung mengusap rambutnya. "kamu tenang saja, mereka sudah pergi," ucapku yang masih mengusap kepalanya.


"Ka ... kakak sangat hebat, darimana kakak belajar seperti itu?" tanyanya yang sudah mulai tenang.


"Jadi kau lebih penasaran pada keahlianku daripada aku ya ...." ejekku sambil tersenyum.


"Namaku Isabella," katanya memperkenalkan diri. "Nama kakak?"


"Lina."


"Kak Lina, nama kakak aneh," celetuknya yang sangat menusuk bagiku.


"Ya begitulah, nama kakak mungkin jarang sekali ditemukan di sini," balasku yang sedang meratapi nasib.


"Rumahmu dimana?" tanyaku sambil mengelus Orias yang duduk di sampingku.


"Desa kecil di sana," jawabnya sambil menunjuk ke desa di seberang padang rumput itu.


"Eh ... jadi di sana? Kukira kau tersesat jauh," ucapku yang tiba-tiba menjadi malu sendiri.


Aku menaiki Orias, dan juga membawa Isabella. Mungkin dia sedang mengambil sesuatu di sini sampai bisa bertemu para perampok seperti tadi. Menurutku, itu hanyalah sekelompok pemuda bersenjata saja, faktanya mereka tidak punya keahlian sama sekali.


Akhirnya sampai juga di desa ini. Terlihat jelas di gerbang desa ini bertuliskan 'Cruchell', nama yang aneh dan aku tak mengerti maknanya. Desa yang cukup sepi apakah ada penginapan? Aku lelah karena berhadapan dengan mereka tadi. Isabella masih melihat sekeliling, mungkin ia mencari rumahnya. Kemudian, ia menunjuk ke sebuah rumah tua yang cukup bersih.


"Apa memang sesepi inikah Isabella?" tanyaku karena melihat desa ini sangat sepi dan sunyi, malah terlihat seperti kuburan.


"Benar, memang sepi. Apa kakak mau menginap di rumahku?" tanyanya dengan wajah berbinar-binar seolah memintaku masuk ke rumahnya.


"Eum ... baiklah jika itu yang kau inginkan," jawabku yang membuat anak berambut dikepang dua itu kegirangan.


Sementara aku mengikat Orias di pagar. Isabella membawa sebagian barang-barangku. Rumah yang tidak terlalu besar, dan juga cukup banyak debu di sini. Aku malah menjadi seperti pembantu di sini karena harus membersihkan banyak tempat termasuk kamarku.


Entah mengapa, menurutku daripada menjadi perjalanan ini malah menjadi kisah seorang pembantu yang menginap di rumah anak kecil. Sekarang arlojiku menunjukkan pukul lima sore, taknterlihat banyak orang yang lewat ya ... benar-benar seperti kuburan saja. Aku memakai kemeja berwarna hijau tua(entah tapi memang hijau), rok ini pun sama hanya saja lebih tua dari hijau kemejaku.


Dengan sarung lengan dan juga sarung tangan ini benar-benar gaya yang sederhana menurutku. Sementara isabella menggunakan gaun berwarna merah seperti buah strowberry. Dia seperti tak ada beban dalam hidupnya, syukurlah meski aku tahu orang tuanya belum pulang hingga saat ini.


"Apa kau lapar?" tanyaku yang juga sudah mulai sedikit lapar.


"Be ... benar ...." jawabnya malu-malu karena suara perutnya terdengar.


"Sebelum itu, dimana orang tuamu?" tanyaku kembali padanya.


"Ayah dan ibuku pergi ke tempat yang jauh, dan mereka belum kembali hingga sekarang. Kata warga desa, suatu saat mereka akan kembali jadi aku selalu berharap pada mereka," jawabnya dengan wajah sedih.


Aku memeluk anak itu, ia langsung menangis karena kerinduannya. Sementara ia berharap seolah semua akan kembali seperti biasa. Aku hanya bisa mengetahui yang mungkin terjadi....