AFTER

AFTER
Eps 27



(Satya & Teressa.)


.


.


.


.


.


"Gimana udah enakan badannya? ada yang sakit nggak?" Tanya Bunda Citra penuh perhatian pada Teressa. Rasanya seperti memiliki anak gadis saja.


"Udah mendingan bu, makasih udah nolong saya." balas Teressa.


Bunda hanya menganggukkan kepala nya sambil tersenyum menatap Teressa, sedangkan Teressa yang ditatap intens oleh Bunda hanya bisa menelan saliva karna gugup.


Diamnya Teressa membuat ia berpikir, siapa yang membawanya keruangan pribadi Satya? Apakah Satya sendiri? Aish jika benar itu membuatnya malu.


"Oh iya kata Satya kamu belum makan siang ya, makan dulu gih. Kasian perutnya dibiarin kosong, ntar sakit lagi malah." ucap Bunda.


"Eum saya nggak ***** makan bu, saya minum obat aja kalo gitu. " Balas Teressa.


"Eh mana boleh gitu, aturannya makan dulu baru minum obat biar cepet sembuh. Udah ayo makan, biar bunda suapin." seru Bunda Citra, wanita itu sudah mengambil kotak makanan milik Teressa dan berniat menyuapi Teressa.


"Biar saya sendiri aja bu." tolak Teressa dengan halus.


"Udah biar bunda aja, bunda tau kamu masih lemes kan, jadi biar bunda aja yang suapin kamu. Abis ini langsung pulang aja dianterin sama Satya, biar bisa langsung istirahat dirumah. Cuaca emang gitu suka bawa penyakit." seru Bunda panjang lebar, sepertinya bunda telah mendapatkan teman ngobrol baru saat ini.


"Bentar biar bunda bantuin iket rambutnya." sambung Bunda. Dengan telaten Bunda Citra mengikat rambut Teressa agar memudahkan Teressa saat makan nanti.


Teressa diam dan menikmati moment-moment itu, jujur ia juga sangat merindukan keberadaan sosok ibu di sisinya. Namun apalah daya, kini ia hanya punya Noah didunia. Tugasnya kini adalah mendoakan kedua orang tuanya agar selalu berada di dekat sisi-Nya.


"Kenapa sedih, hm? sini cerita sama bunda." ucap Bunda Citra sambil membelai wajah Teressa.


"Diapain sama Si abang tadi, nggak diapa-apain kan?" sambung Bunda lagi. Teressa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Kangen ibu saya." lirih Teressa.


"Uhh cup cup jangan sedih ya, kan masih ada bunda disini. Anggep aja bunda ini ibu kamu sendiri." ucap Bunda Citra yang kemudian langsung memeluk tubuh Teressa. Gimana pun juga bunda juga pernah ngerasain berada diposisi Teressa, dimana bunda merasa rindu dengan orang tuanya. Tapi syukurlah sekarang kan ada anak-anak jadi bisa sedikit mengalihkan rasa rindu itu.


Entah kenapa hari ini Teressa merasa sangat rapuh, butuh bahu untuk bersandar, dan dukungan untuk semangat.


"Kamu mau nggak jadi mantu bunda?"


Gercep sekali epribdeh!!! Ini nih yang saya suka!! emak ngelamar cewek buat anaknya, bukan maen.


"Tapi Saya?"


"Udah bunda udah tau semuanya, status nggak jadi masalah, yang penting kalian sama-sama suka. Tya suka sama kamu udah dari lama, kamu juga sama kan?" ujar Bunda.


"Gimana, mau yah jadi mantu bunda?" sambung Bunda lagi.


Dan tak disangka mbak Teressa memberikan jawaban yang mencengangkan. Dengan malu-malu mbak Teressa menganggukkan kepalanya perlahan.


Ahhhhh so sweet sekali epribdeh, lebih so sweet kalo yang ngomong langsung Bang Sat. Ya nggak?


"Ahhhh alhamdulilah! Nih Si abang harus dipanggil nih!" Seru Bunda Citra dengan antusias. Namun dengan cepat Teressa menahannya.


"Jangan kasih tau pak Satya bu, Tessa malu." rajuknya sambil menundukkan kepala.


"Astaga kalian ini yah, bener-bener aneh. Gemes bunda lama-lama sama kalian berdua, yang satu banyak tingkah yang pendiem banget." balas Bunda.


Dibalik obrolan antara ciwi-ciwi itu ada sosok jin Mpin yang sengaja menguping pembicaraan itu. Kan tempat kerjanya mojok, nah kebetulan mepet ama ruang pribadi Satya. Jadi ya begitulah, nggak kepo nggak apdol.


"Eh Boss, lu mau kawin ye?" Tanya Marvin pelan.


"Tadi gua denger bunda ngelamar si tepung sasa buat lu, kek nya di iyain ama si sasa dah." balas Marvin.


"Kuping lu korek pake linggis dah, yakali mereka bahas begituan." kekeh Satya yang tak percaya.


"Awas lu kena karma lu ntar ngatain gua lu." ucap Marvin kesal.


"Bodo amat dah pusing gua dengerin ocehan lu!" Seru Satya.


______________


"Dianterin sampe depan loh ya, jangan dipinggir jalan." seru Bunda Citra mengingatkan. Kini bunda tengah mengantar Satya yang ingin mengantar Tessa pulang.


"Iya bund, bunda nggak sekalian pulang? Satya anterin." ucap Satya.


"Ish kan bunda belum ngobrol sama kamu, bunda mau ngobrol bentar sama kamu." balas Bunda.


"Tessa sampe rumah langsung istirahat ya, obatnya jangan lupa diminum. Ntar kita kontek-kontekan di chat." ucap Bunda.


"Iya bu." balas Teressa.


"Hati-hati dijalan."


"Okee, Tya duluan bayy."


Tak lama mobil Satya pun melesat membelah jalanan kota, Bunda dan Marvin pun kembali masuk kedalam kantor.


"Bund, bunda tadi beneran ngelamar Teressa jadi mantu bunda kan? Marvin nggak salah denger kan, masalahnya tuh jelas banget Mpin dengernya." seru Mpin sambil bergelayut pada sebelah lengan bunda Citra.


Nih anak ga ada akhlak emang.


"Kamu denger?"


"Hooh, Mpin denger tapi Satya dikasih tau malah ngeyel nggak percaya." dumel Marvin.


"Udah biarin aja, biar bunda yang ngomong." balas Bunda Citra.


"Ngomong-ngomong Mpin udah ada calon belum nih?"


"Ada dong."


"Siapa, kok nggak pernah cerita."


"Masih bocil hehe." cengir Marvin.


"Astaga kamu jangan jadi pedofil ya, jangan sama anak kecil ganteng. Cari yang dewasa aja lah, anak kecil kamu incar juga." ucap Bunda.


"Ini bukannya apa ya bund, yang kecil tuh malah gemes-gemes gituloh. Aduh gimana ya aku menjelaskannya, pokoknya tuh lebih gemoy gitu bund." jelas Marvin yang malah menjadi gemas sendiri mengingat tingkah laku Maura saat bersamanya.


"Aish kangen bocil."


"Insap ya Vin, mommy sama daddy kamu pasti sedih kalo kamu nakal. Keluar dari sana dan mulai hidup baru, kalo emang pengen dimiliki seutuhnya ya diseriusin, jangan pake langsung buang nggak baik kaya gitu."


Otaknya yang selama ini diisi dengan hal-hal yang berbau ngeres dan mesum mendadak lebih suci setelah mendapat siraman rohani dari bunda.


Kamu pasti bisa Mpin!!!


Mbak Tessa sudah didapatkan, kini lanjut proyek mengambil hati si kulkas 12 pintu.


Lanjut besok ngantuk.


____________


Babay