AFTER

AFTER
Eps 48



(Satya & Teressa)


.


.


.


.


.


"Mas." panggil Teressa.


"Hm, kenapa sayang?"


"Eum sebelumnya Tessa mau jujur sama mas." Ucap Teressa pelan.


"Jujur? emang kamu pernah boong apa sama mas? coba sini ngomong." Balas Satya.


"Sebenernya Tessa, eum anu-


"Anu kenapa sayang? jangan bikin mas penasaran ah, tau sendiri kan mas orangnya nggak sabaran." potong Satya.


"Mas?"


"Hm, kamu malu? Tenang aja sayang, kita udah ada label halalnya. Mas nggak akan protes tentang apa yang kamu miliki, mas akan terima apa adanya nggak usah malu okey." seru Satya.


Aish, kenapa suaminya berpikir demikian? pikir Teressa.


"Tessa takut." cicit Teressa pelan dengan menundukkan kepalanya sambil meremat kain terusan yang ia kenakan.


"Kenapa musti takut sayang, ini bukan yang pertama buat kamu. Nggak usah takut dan sungkan-sungkan okey." balas Satya sambil mengusap permukaan wajah Teressa yang terasa dingin ditangan nya.


"Tessa belum pernah itu mas." seru Teressa sambil mendongak menatap wajah suaminya.


"Itu? itu apa sih yang?" decak Satya mulai sewot karna tak mengerti maksud istrinya.


"Yaa..itu." ucap Teressa menggantung kalimatnya. Jujur saja, ia bingung bagaimana mengatakan hal ini kepada suaminya. Ia tau suaminya pasti tak akan percaya dengan ucapannya nanti.


"Mas lagi nggak mood maen tebak-tebakan loh yang, udah ngomong apa adanya aja jujur sama mas." ucap Satya.


"Ya itu mas, Tessa belum pernah itu. Masa mas nggak tau sih?!" seru Teressa ikut menyengit.


Sejenak Satya terdiam guna menelaah maksud dari ucapan istrinya, pertama takut? kedua belum pernah melakukannya? apa pikirnya.


Dilihat dari wajah istrinya yang terlihat gugup dan gelisah, membuat Satya terus berpikir keras untuk menemukan sebuah petunjuk.


"Malam pertama?" tanya Satya dengan ragu karna tak yakin dengan pertanyaan yang ia lontarkan tersebut. Namun tak disangka Teressa malah menganggukkan kepalanya sambil mendongak menatap wajah Satya .


"Eh? serius malem pertama maksud kamu?" tanya Satya reflek.


"Eum.." balas Teressa dengan gumanan kecil.


"Hah? lah terus Noah udah segede gitu siapa yang ngadon sayang? nggak nemu di pinggir kali kan? yang bener aja! Jangan becanda ah."


Sudah Teressa dugong kalo suaminya tak akan percaya dengan ucapannya.


"Tessa serius, tapi kalo mas nggak percaya ya udah. Tessa nggak maksa mas buat percaya sama omongan Tessa." lirih wanita itu dengan suara teramat pelan.


"Bentar-bentar, bukannya mas nggak percaya sayang. Coba kamu jelasin ke mas pelan-pelan, maksudnya gimana. Kalo kamu belum disentuh sama almarhum suami kamu, terus Noah yang bikin siapa? Astagfirullah mas bingung tau nggak." ucap Satya dengan bingung.


"Mas jangan bingung dong, dengerin penjelasan Tessa dulu." ucap Teressa.


"Sekarang jelasin sedetail-detailnya tentang masa lalu kamu, Noah, dan ayahnya Noah. Jangan lagi ada yang ditutup-tutupin." tegas Satya


Plasbek On


*Ehemm


Jadi gini, dulu saat Teressa masih gadis dan belum dipersunting ayahnya Noah (Faiz) ada sedikit cerita tentang kisah cinta Teressa dan suaminya (Faiz) sebelum mereka disatukan oleh sebuah ikatan suci dan dipisahkan oleh maut, atau kematian suaminya (Faiz)


Saat mereka berdua masih mengenyam pendidikan di satu universitas yang sama, Faiz memang terkenal play boy dan suka gonta-ganti pacar ditambah lagi dengan kegiatan geng nya yang suka rusuh di kampus . Dan saat itu Teressa tetap menjadi gadis pendiam yang tak tersentuh.


Namun sikap Teressa itu malah membuat tantangan tersendiri bagi Faiz untuk mendapatkan hati gadis lugu itu.


Semua Faiz lakukan untuk mendapatkan hati Teressa, bahkan pria itu rela mempelajari ilmu agama demi bisa mendekati Teressa. Ia tak ingin meluluhkan gadis itu dengan cara kotor, ia harus menunjukkan bahwa dirinya juga layak mendapatkan Tessa.


Semakin lama terlihat jelas perubahan yang Faiz alami, menjadi pria lebih baik tentunya. Namun Teressa tetaplah Teressa yang kaku dan keras kepala, ia tetap tak ingin berhubungan dengan Faiz. Karna baginya, Faiz masih sama saja yaitu pria 'brengsek'


"Tessa, tolong sekali ini saja. Tolong jangan tolak saya, saya sudah berusaha merubah perilaku buruk saya agar bisa mendapatkan kamu. Jujur saya lelah Tessa, apa saya harus berhenti ditengah jalan? Rasa nya itu tak adil, bukankah manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua? tolong pikirkan lagi."


Itu adalah kalimat terakhir yang Teressa abaikan, setelah Itu ia tak pernah berjumpa lagi dengan sosok Faiz.


Lambat laun ia sudah tak mendapat gangguan dari Faiz, namun bukannya merasa lega dan tenang pikiran Teressa malah melayang kemana-mana. Saat sudah terasa kehilangannya, wanita itu baru menyadari jika ia merasa kehilangan sosok itu.


Sosok yang selalu mengejarnya.


Sosok yang selalu mengganggunya.


Sosok yang selalu berusaha lebih baik untuknya.


Ia sudah menghilang, dan Teressa merindukannya.


Saat pintu hatinya hendak ia buka untuk Faiz, pria itu malah hilang entah kemana. Hanya meninggalkan sebuah kenangan singkat yang tak akan terlupakan dalam benaknya dan tak akan pernah ia lupakan.


Hingga suatu ketika, setelah ia berusaha melupakan semua kenangan sesaat bersama Faiz, kedua nya malah kembali dipertemukan dengan keadaaan yang sudah berbeda jauh dengan awal perkenalan mereka.


Disebuah pemakaman yang dipenuhi pohon rindang, Teressa baru saja selesai melayat makam rekan kerjanya yang meninggal dunia dan dimakamkan di pemakaman itu.


Saat menuju perjalanan pulang, Teressa turut melewati beberapa makam orang lain di pemakaman itu. Sayup-sayup telinganya mendengar tangis seorang bayi disekitar sana, penglihatannya segera menyapu ke penjuru arah. Hingga tatapannya terhenti pada seorang pria yang tengah berjongkok disamping sebuah makam sambil menggendong bayi mungil dalam kain bedong biru itu.


"Mas bayi nya kenapa nangis terus dari tadi?" tanya Teressa memberanikan diri bertanya dibelakang pria itu.


Sesaat memang tak ada balasan dari pria itu, namun tak lama terdengar pria itu buka suara.


"Mungkin bayi saya merindukan ibunya."


"Maaf, ibunya dimana mas biar saya panggilkan kalo disekitar sini. Kayaknya bayi mas haus, pengen minum asi. " timpal Teressa.


"Ibunya ada dihadapan kami." jawab pria itu.


Setau Teressa dihadapan pria itu tak ada siapapun, kecuali sebuah gundukan tanah yang nampak ditaburi bunga-bunga yang aromanya khas.


"Maaf mas, maksudnya?"


"Istri saya meninggal tiga hari lalu, dan dia meninggalkan jagoan kecilnya sendiri bersama- ." pria itu tak melanjutkan kalimatnya karna isak tangis sudah terlanjur menghampirinya. Pria itu tak sanggup membendung air mata nya dihadapan makam sang istri, hatinya sangat rapuh saat ini.


"Saya turut berduka cita atas musibah yang menimpa keluarga anda, semoga istri mas ditempatkan di sisinya." ucap Teressa setulus hati.


Oekk.. Oekk...Oekk


Bayi dalam gendongan pria itu menangis cukup keras, sepertinya ia tau jika ayahnya tengah bersedih makanya bayi itu ikut menangis.


"Ohh cup cup cup sayang, tenang lah kita bersama mama mu sekarang, jangan menangis oke." bujuk pria itu sambil terus menimang-nimang putra kecilnya. Namun apa daya, timangannya tak berhasil membujuk putranya agar lebih tenang. Bayi kecil itu masih menangis meraung-raung*.


"Mas, boleh saya bantu buat nenangin anaknya? kasian bayi mas nangis terus ."ucap Teressa memberanikan diri.


"Tolong, buat dia lebih tenang. Saya kasian melihatnya terus menangis setiap hari." ucap pria itu sambil membalikkan badannya kebelakang.


"Insyaallah mas, Tessa bantuin."


Deg.


Teressa mengambil alih tubuh mungil bayi itu dari pria dihadapannya. pandangan mereka tidak bertemu karna tatapan mata mereka berdua tertuju pada bayi mungil itu.


"Tessa?" guman pria itu.


"Oh iya mas, kenalin nama saya Teressa, panggil Tess-


Teressa tak melanjutkan kalimatnya, ia terpaku menatap seseorang dihadapannya itu. Lidahnya terasa kelu untuk bergerak, tubuhnya mendadak lemas hampir saja ambruk jika pria itu tak menahannya.


"Mas Faiz?" guman Teressa lirih.


Wanita itu tak menyangka jika akan dipertemukan lagi dengan sosok yang ia rindukan selama ini.


"Mas Faiz kemana aja? Kenapa ninggalin Tessa sendirian, mas Faiz tega sama Tessa." seru Teressa dengan tatapan sendu ia lemparkan kepada sosok 'Faiz' tersebut.


"**-Tessa mas bisa jelasin." ucap Faiz tak kalah terkejut dengan pertemuan ini.


Dan kini disini lah mereka duduk bersama dipinggir danau dibawah pohon rindang.


Teressa masih diam mendengarkan semua penjelasan Faiz dari a hingga z.


Pria itu menceritakan semua kejadian yang ia alami selama menghilang dari Teressa.


"Dengerin mas, Tessa. "


Faiz mulai menceritakan kisah peristiwa yang menimpanya itu. Dulu saat ungkapan perasaan nya diabaikan oleh Teressa, laki-laki itu nekat mengonsumsi minuman keras yang berlebih dan berdampak lah hingga mabuk berat.


Tak sampai disana, ia yang dalam keadaan tak sadar pun juga memperkosa seorang gadis belia yang masih lugu dan polos.


Ketahuilah, gadis itu hanya bekerja sebagai pelayan di bar itu, tak lebih. Mungkin ia membutuhkan uang untuk menyambung kehidupannya. Namun malang nasibnya karna dipertemukan dengan Faiz yang saat itu tengah kerasukan setan.


Dan gadis yang ia perkos* itu pun hanya bisa menangis semalaman saat Faiz terus menyerangnya tanpa ampun, Faiz masih dalam pengaruh obat.


Dan saat malam telah berganti pagi, Faiz tak menemukan siapa pun dalam kamar yang ia sewa tersebut. Tapi ia ingat betul tangisan gadis yang ia gagahi semalam itu.


"Arghhh ." Faiz mengacak rambutnya frustasi. Ini semua salah, salahnya! Seorang yang tak tau apa-apa harus menjadi korban pelampiasan nya.


Keputusannya sudah bulat, ia akan mencari gadis itu dan memastikan bahwa benih yang ia sebar tak tumbuh didalam rahim gadis itu, ia takut gadis itu akan kesusahan sendiri karna ulahnya.


Hingga suatu hari tepat di satu bulan proses pencariannya terhadap gadis yang ia perkosa, ada seorang gadis berambut pendek dengan seragam SMA yang melekat pada tubuhnya berkunjung ke rumah Faiz.


Saat itu ayah Faiz dan istri mudanya yang ada dirumah dan sedang bersantai diruang tengah, sedangkan ibu Faiz? beliau sudah lama meninggal dunia. Dan Faiz merupakan anak tunggal disana karna ibu tirinya tak mampu memberikan keturunan lagi untuk ayahnya.


"Assalamualaikum, permisi."


Ting


Tong


"Mah ada tamu tuh, bukain pintu sana." seru Ayah Faiz pada istrinya.


"Ih yah, orang ada bibik juga. BIBIKK DILUAR ADA TAMU, BURUAN BUKAIN!!"


"Iya nyah."


CEKLEK


"Permisi neng, ada yang bisa bibik bantu?"


"Ah iya bi, ini rumahnya mas Faiz bukan?" tanya gadis itu dengan lembut.


"Iya neng, ini rumahnya den Faiz. Kenapa ya neng, ada perlu sama aden ya?"


"Eum..


________________


Buset banyak bener dah:"/ (othor ngeluh:)


"FAIZ SINI KAMU!!" teriak ayah Faiz saat mengetahui putra kandungnya baru saja pulang ke rumah.


"Kenapa yah?" tanya Faiz terheran.


"LIHAT GADIS ITU, DIA MENGAKU HAMIL ANAKMU!!! SURUH DIA MENGGUGURKAN KANDUNGANNYA SEKARANG JUGA!!" bentak Ayah Faiz.


Faiz pun menoleh pada orang yang ditunjuk ayahnya itu, terdapat seorang gadis menangis dengan tubuh bergetar hebat.


"K-kamu?" guman Faiz.


Ia ingat, itu adalah gadis yang selama ini ia cari! Akhirnya!


"Apa ayah gila? dia sedang mengandung anakku, dan itu juga cucu mu bukan? untuk apa menyuruhnya untuk menggugurkan kandungannya! Aku akan bertanggung jawab padanya!" tegas Faiz.


"Aku tak sudi mempunyai cucu dari wanita murahan sepertinya!"


"Aku yang memakainya!" balas Faiz.


"Aku tak peduli, berikan uang sebanyak yang ia minta, setelah itu suruh dia untuk menggugurkan kandungannya. Aku akan mencarikan gadis yang lebih baik darinya, dan tentunya dari orang terpandang!" seru Ayah Faiz.


"****!" umpat Faiz.


"Faiz, turuni saja ucapan ayahmu, berikan yang ia minta." timpal ibu tiri Faiz menambahkan.


"Diam, aku tak butuh pendapatmu!"


"Turunkan nada bicara mu!! dia ibumu!" tekan Ayahnya Faiz.


"Ibuku sudah mati, dan dia yang membunuhnya!" seru Faiz menunjuk ibu tirinya dengan penuh rasa kebencian.


Faiz tak lagi menghiraukan ucapan kedua orang tuanya itu, ia segera menghampiri 'gadisnya' dan hendak mengajaknya keluar dari kediaman ayahnya itu.


"Kau maju selangkah akan benar-benar ku tendang dari rumah ini!" ancam Ayahnya Faiz.


"Aku tak peduli!" balas Faiz dengan acuh, ia tetap melangkah menuju pintu utama sambil menggandeng tangan 'gadisnya'


"Berhenti dan serahkan semua fasilitas yang ku berikan!"


Deg


Tak disangka, Faiz segera mengeluarkan dompetnya dan mengeluarkan semua kartu debit yang ada dan juga kunci mobil yang ia punya, kini hanya menyisakan sebuah kartu identitas miliknya dan juga kartu atm dari uang hasil balapnya sendiri.


"Ambillah aku tak butuh, dan semua masih utuh." serunya sambil melayangkan semua benda itu dihadapan ayahnya.


Setelah itu ia kembali meraih jemari mungil 'gadisnya' dan kembali mengandengnya, kali ini ia benar-benar meninggalkan rumah.


"Hikss. hiks...maafin ody kak."


"Hei sudahlah jangan menangis, ini salahku bukan salahmu. Jangan bersedih lagi oke. "


Namun nyatanya gadis bernama melody itu tetap menangis, Faiz yang tak tega melihatnya pun segera menarik melody kedalam dekapannya.


"Berhenti menangis, bayi mu akan ikut menangis."


"Bayi Ody doang hikss....?"


"Oh apakah itu juga bayiku?" tanya Faiz menggoda nya.


"Huaaa...bayi nya berdua hiks....hiks ..


"Hahaha, tenang lah itu bayi kita." seru Faiz menenangkan melody.


"Maaf, maafkan aku." bisiknya Faiz lirih.


"Kamu tau alamat rumahku dari mana?" tanya Faiz menatap Melody.


"Dari mas-mas bar. "


"Syukurlah ada yang memberi tahu dirimu, aku sudah lelah mencarimu kemana-mana, rasanya kau pergi bagai ditelan bumi. Sengaja menghindar dari ku bukan?"


"Ody takut, Ody nggak ada siapa-siapa lagi soalnya." jawab Melody pelan.


"Tenang, sekarang ada aku dan bayi kita. Kita akan menghadapi semuanya bersama."


"Makasih ya kak, udah mau tanggung jawab ke melody."


"Itu sudah kewajibanku. "


"Oh iya, Ody bawa surat keterangan dari rumah sakit, kakak mau liat nggak?"


"Hm mana?"


"ini."


Tak perlu diragukan, itu memang benar anaknya. Ia ingat betul bahwa malam itu ia telah membobol keperawanan melody, dan ia juga mengeluarkannya didalam.


Hmm kisahnya dimulai dari sini, ia harus bertanggung jawab pada gadis malang itu dan membimbingnya ke masa depan dan melupakan serpihan masa lalu keinginan bersama dengan gadis pujaannya yang tak lain adalah Teressa.


Senakal-nakalnya Faiz, ia belum pernah berbuat kelewat batas seperti ini. Mungkin ini teguran dari sang pencipta agar Faiz tak lagi memainkan perasaan wanita-wanita lain seenak udel nya.


Namun takdir berkata lain, keduanya diuji kembali saat Melody akan melahirkan putranya. Tubuh Melody mengalami pendarahan hebat dan membuat ibu muda itu kehilangan banyak dan darah dan dinyatakan meninggal setelah 10 jam sebelumnya melahirkan putranya.


Disitulah titik terendah Faiz, ia sudah berusaha sebisa mungkin untuk membahagiakan istrinya itu. Namun sepertinya tuhan lebih menyayangi istrinya hingga memanggilnya terlebih dahulu.


Cerita Mas Faiz dan emaknya Noah kelar sampe disini aja, lanjutin cerita Mas Faiz ama Mbak Teressa.


________________________


Kembali ke flash back Mbak Teressa dan Mas Faiz sampe bisa nikah dan dipisahkan oleh maut.


Sejak pertemuan mereka DI pemakaman itu, keduanya kembali dekat walau dengan adanya si kecil Noah. Tessa malah senang jika Faiz membawa Noah saat bertamu kerumah nya, ia bisa dengan puas bermain-main dengan anak kulkas itu.


Dan Noah pun sepertinya juga nyaman saat bersama Teressa.


Dan hingga suatu saat keduanya memutuskan untuk hidup bersama dalam sebuah ikatan, pernikahan. Benar, Teressa menjadi istri seorang duda, dan ia tak mempermasalahkan hal itu. Ia harus bisa menerima Faiz apa adanya.


Namun kebahagiaan mereka berdua tak bertahan lama, karna tepat dimana malam yang seharusnya menjadi malam pertama mereka malah menjadi malam perpisahan terkahir mereka.


Saat itu Faiz yang sudah resmi diangkat menjadi abdi negara harus siap setiap saat untuk negara, ia mendapat tugas dadakan dari atasannya untuk segera pergi ke perbatasan negara untuk menjaga keamanan.


Dan dengan berat hati Tessa pun memberikan izin kepada suaminya itu untuk menjalankan tugas. Atas izin istrinya, Faiz bertekad untuk segera pulang dengan keadaaan selamat.


Dan apa yang tejadi? saat hendak berangkat menuju daerah, kendaraan yang ditumpangi rombongan Faiz mengalami kecelakaan.


Selesai, semuanya tewas ditempat.


Kini hanya menyisakan Teressa dan bayi kecilnya yang menanti kepulangan jenazah Faiz.


Selesai ~


Dan jika dihitung dari silsilah keluarga, berarti Noah adalah cucu tunggal kaya raya.


Wow siapa yang minat jodohin anak gadisnya ama Noah nih? kulkas dua belas pintu nih senggol dong


plesbek opp


_________________


Kembali ke Satya dan Teressa.


"Udah nggak usah sedih, lebih baik kamu ceritain semua dari awal supaya aku nggak langsung trobos aja, ntar kamu kaget malah desah lagi." ucap Satya menghibur Teressa.


Plis, kaget mah tereak bukan desah Om!


"Mas!"


(Maaf terlalu longkek2 kek tokek)🙂


Sorry bestie 🙂